Adakah
istri yang tidak pernah terlukai? Hampir bisa dipastikan tidak ada. Tapi apakah
itu berarti terluka adalah takdir yang harus diterima oleh setiap perempuan yang bersuami? Inginnya saya
menjawab tidak, akan tetapi beberapa peristiwa yang saya lihat dan saya dengar
–baik di masa lampau maupun di usia saya yang sekarang- membawa saya pada satu
kesimpulan bahwa kenyataannya luka memang begitu dekat dengan perempuan.
Wanita
dengan tatap mata luka -yang pertama kali saya lihat di usia saya
yang belum genap 15 tahun- adalah orang yang dekat dengan saya,
sebut saja namanya mbak Mary. Entah apa yang membuatnya rela menceritakan
dengan runtut luka hatinya di siang yang terik itu. Pada saya, ABG yang
boro-boro mengerti luka, memahami cinta saja bahkan belum mampu. Barangkali
karena perih yang tak tertahankan, yang ingin ia bagi,
tapi tak tahu kepada siapa.
Dan
saya hanya bisa terdiam. Bahkan ketika sesekali dia menyusut airmata, saya tak
mampu berbuat apa-apa. Jujur, saya di usia itu belum tahu bagaimana rasanya
dihianati. Yang saya tahu, dia terluka dan sangat mengkhawatirkan anak-anak
yang dibawa suaminya sesaat setelah pertengkaran yang terjadi di antara mereka.
Saya
pikir setelah itu dia tidak akan pernah memaafkan suaminya,
yang dengan sengaja memberikan sebagian hatinya kepada perempuan yang secara
fisik -maaf- sangat jauh bila dibandingkan dengan istrinya. Mbak Mary cantik,
putih, supel, pandai mencari uang, menerima kondisi suami apa adanya, tapi
ternyata itu semua tak cukup. Tak cukup untuk tak membuat hatinya berpaling. Saya bayangkan
setelah itu rumah tangga mereka tidak akan bertahan lama lagi. Kalau pun
bertahan, pasti tidak bahagia.
Ajaib,
tak ada satupun dari perkiraan saya waktu itu yang terjadi. Bahkan hingga saya
di usia 35, rumah tangga mereka masih baik-baik saja. Tidak bahagia? rasanya
tidak juga, karena saya kerap melihat wanita itu tertawa lepas ketika bersama
suami yang telah menorehkan luka di hatinya. Tak saya lihat lagi wajah
mendungnya 20 tahun yang lalu. Berbagai tanya singgah di hati saya. Apa
gerangan yang membuatnya bisa berdamai dengan luka hatinya?
Wanita
kedua yang menceritakan perih hatinya, datang di usia saya yang ke-30. Sebutlah
namanya ibu Suka. Tidak seperti mbak Mary, saya tidak lagi melihat mendung di
wajah perempuan paruh baya itu. Mungkin karena beliau menceritakan hal yang
sudah berlalu. Tentang suaminya yang memesona begitu banyak wanita, tentang
perempuan yang tak malu-malu mengungkapkan rasa hatinya pada suaminya dengan
berbagai cara -dari memberi oleh-oleh
untuk anaknya yang lebih dari lima, menumpang motor suaminya hampir setiap
hari, hingga menitip kunci kios tempat
perempuan itu berjualan demi bisa melihat suaminya setiap membuka dan menutup
kios- Dan itu semua dilakukan di depan matanya.
Sedih?
pasti. Terluka? ya iyalah. Tapi apa yang dilakukan Ibu Suka sungguh membuat
saya menggeleng tak mengerti. Beliau tidak pernah mengucap sepatah kata ketika
suaminya mengatakan bahwa semua yang terjadi atas
nama persaudaraan, tidak lebih. Ini yang saya sangat
tidak setuju. Kalo mau menjalin persaudaraan kenapa tidak dengan sesama jenisnya
saja, biar tidak terjangkit virus merah jambu. Tak layak rasanya
seorang laki-laki menjalin komunikasi intens dengan perempuan yang sudah
menjadi istri orang, pun sebaliknya, hanya dengan mengatasnamakan mengeratkan
persaudaraan, ini menurut saya ya….
Sendiri
beliau telan pahitnya ledekan orang atas suaminya yang kerap terlihat
membonceng seorang perempuan. Dan semua itu tak lantas membuatnya abai terhadap
kebutuhan suaminya, lahir dan batin. Satu2nya hal nekat yang dilakukannya
adalah mendatangi perempuan yang menurutnya sudah di luar batas kewajaran.
Apakah beliau datang dengan memaki? Tidak. Bahkan beliau datangi perempuan itu
dengan santun, dengan menggendong anak keenamnya yang belum genap satu tahun.
Beliau berpura-pura menceritakan adanya seorang perempuan yang terus menerus
mendekati seorang laki-laki yang sudah berkeluarga, padahal lelaki sudah beristri
dan beranak banyak. Tenang beliau menyindir perempuan itu. Dan menutupnya
dengan sebuah kalimat yang cukup membuat perempuan penggoda itu mati gaya dengan kalimat, “Kok tega ya jeng,
padahal laki-laki itu anaknya banyak, dan perempuan itu juga sudah punya suami
dan anak-anak juga. Kalaupun dia tidak memikirkan istri dari laki-laki yang
disukainya itu, eh mbok ya dia pikirin perasaan suami dan anak-anaknya.“
Beliau
mengakhiri ceritanya dengan senyum getir, barangkali luka hatinya
kembali terasa, perih. Lagi, yang membuat saya tak habis pikir adalah, beliau
memilih bertahan untuk menemani suaminya hingga ajal memisahkan
mereka. Barangkali nasihat beliau yang tidak saya lupa adalah, “Laki-laki itu
mungkin sudah takdirnya bisa membagi hati. Tapi kita jangan pernah menyerah.
Ketika Allah takdirkan dia menjadi suamimu, maka pertahankan ia dengan sekuat
tenaga yang kamu bisa, karena dia adalah jodohmu.”
Wanita
dengan luka yang ketiga datang di penghujung usia saya yang ke-35. Sebut namanya
Astri. Dibanding mbak Mary dan Ibu Suka, Astri lebih ekspresif. Dia ungkapkan
kekecewaan hatinya apa adanya. Sesekali dalam ceritanya dia rutuki suaminya.
Kali ini saya cukup bisa berempati. Bukan hal yang mudah bagi Astri menghadapi
kenyataan itu. Mereka berdua adalah pasangan suami istri yang romantis - setahu saya - .
“Apa rasamu ketika tiba-tiba suamimu dekat
dengan perempuan seusia anakmu? Menikahinya diam-diam? Sementara disetiap malam
dia tidur bersamamu? memperlakukanmu layaknya satu-satunya ratu di hatinya?”
Pertanyaan
yang sungguh membuat lidah saya kelu. Rasanya saya sudah mulai mengerti
bagaimana rasanya mempunyai suami yang menebar rasa kepada perempuan lain,
diam-diam di belakang kita. Loh kok? emangnya sudah pernah mengalami? kok bisa
tahu rasanya? Haha,sebuah pertanyaan wajar yang tidak perlu dijawab, biarlah
itu menjadi rahasia saya.
Kembali
ke Astri, dia lebih berani. Berkali-kali saya memintanya untuk memikir ulang
niatnya meminta cerai. Sungguh saya tidak rela melihat anak-anaknya kehilangan
bapak mereka, hanya karena kekhilafan suaminya bermain-main dengan takdir.
Lagi-lagi
ajaib, hingga saat ini, kurang lebih dua bulan sejak peristiwa itu terjadi,
keluarga Astri masih tetap utuh. Bahkan dalam sebuah acara gathering, mereka
tampak semakin mesra dan kompak bersama ketiga anaknya.
Bagaimana dengan perempuan ketiganya? Astri bilang, suaminya sudah menceraikan
secara agama.
Duhai,
apa gerangan yang membuat mereka, wanita-wanita dengan luka -yang dengan sadar
telah ditorehkan di hati mereka oleh orang yang mereka cintai- sanggup bertahan
dengan menanggung perih. Apakah mereka mahfum bahwa terluka memang
sudah menjadi takdir setiap wanita.
Ataukah mereka memang tidak mempunyai pilihan lain kecuali memaafkan. Ya,
memaafkan demi beragam alasan. Bagaiamana dengan goresan luka yang
selamanya akan terlihat bekasnya? Mungkin benar kata orang bijak bahwa waktu adalah obat yang paling mujarab
untuk menyembuhkan luka. Entahlah...
Malam
ini saya teringat pada tulisan mbak Asma Nadia yang ditujukan kepada mereka
yang pernah terluka. Buat apa terus menerus menenggelamkan diri
dalam luka jika masih ada kesempatan untuk mencicipi bahagia.
Apakah
ada istri yang tidak terlukai? Meski hampir bisa dipastikan tidak ada, saya
ingin itu tidak menimpa siapapun secara sengaja. Tidak pada saya, dan tidak
juga pada kalian, sobat. Semoga tak ada lagi cerita
perempuan yang tertatih menyusun kepingan hatinya yang terserak, hanya karena
laku yang tak terkontrol. Apa yang menimpa mbak Mary, Ibu Suka, dan Astri,
tidak akan pernah terjadi jika tidak ada andil dari seorang perempuan yang
menjadi pihak ketiga. Semabuk apapun seorang laki-laki kepada kita, kalo kita
tidak pernah menanggapi, maka tidak akan pernah terjadi merah jambu antara kita
dengan dia kan sobat?
Haqqul yakin, tak ada seorang perempuan pun di dunia ini yang ingin
suaminya punya Teman Tapi Mesra atau apapun namanya. Apakah kita bisa urun
andil agar tak lagi banyak perempuan yang terluka? Bisa!!!!! Dengan apa? Dengan
menjaga tutur dan laku kita. Jerat iblis telah dipasang di mana-mana, jadi tak perlu
lagi kan kita memasang jerat sendiri, he…. Semoga Allah memberi kita kekuatan
untuk menjadi perempuan yang mampu menjaga perempuan lain dari kemungkinan
terluka karena kita. Semoga….
Pabuaran, 9
Januari 2013
Dini
hari, dengan
dingin yg menggigit
Aku suka gaya menulis mbak, menikmati tiap tuturnya dan seru membaca kisah ini sampai selesai ^_^
BalasHapusWanita itu memang makhluk yang sangat tangguh kok mbak :)
makasih mbak fatika, ini semua masih dalam proses belajar. belajar untuk mengungkap apa yg saya lihat, saya dengar, dan saya rasa. semoga kita termasuk yg tangguh ya.... :)
BalasHapus