Rabu, 27 November 2013

Rindu Untuknya


“Pantang menyerah meskipun nilai kecil. Terus berusaha qhaqhak…..”
Jlebb….tulisan itu membuatku diam sesaat. Ada panas memenuhi rongga dada seketika. Segera kugamit mas Daun untuk turut melihatnya. Berdua kami saling menatap dan  sama-sama tersenyum, haru.
Tulisan yang tak panjang itu kutemukan di balik lemari pakaian mas Haqi, sulung kami yang saat ini sedang mencoba mandiri di sebuah pesantren terpadu di daerah Lido. Kami yang sedianya ingin membicarakan masalah akademisnya yang sedikit memprihatinkan, urung melakukannya.
Dari apa yang ia tulis, tak tega rasanya kalau aku harus membebaninya dengan pertanyaan mengapa nilainya begini dan begitu. Dari apa yang ia tulis, cukup rasanya bagiku dan suami mengetahui, bahwa sulungku sadar dengan kondisi dirinya, bahwa ia tahu harus ada yang ia lakukan untuk memperbaikinya, bahwa ia terus berusaha menyemangati dirinya sendiri, agar lebih baik ke depannya.
Berawal dari sms wali kelas di Jumat siang, aku dan suami sepakat untuk segera meluncur ke ponpes mas Haqi, sesegera mungkin yang kami bisa. Tujuan kami satu, berkonsultasi dengan dua orang ustadz yang bertanggung jawab atas anak kami, yaitu wali kelas dan wali asrama. Mencoba mencari tahu perkembangan sulungku berikut mencari jalan keluar atas permasalahan yang dihadapinya, baik masalah akademis maupun kepesantrenan.
Sedianya Sabtu pagi kami niatkan berangkat ke pesantren itu. Tapi beberapa amanah yang dibebankan kepadaku di hari itu, membuatku  harus merayu Mas Daun agar bersedia menjadwal  ulang agenda berkunjung ke pesantren.  Satu sisi, aku tidak ingin ia menganggapku menomorduakan anaknya dibanding dengan kegiatan rutinku  di hari Sabtu. Tapi di sisi lain, aku juga  tidak ingin mengecewakan beberapa ibu muda yang sudah menyisihkan waktunya di akhir pekan untuk  mengkaji ilmu-ilmu Allah bersamaku. Alhamdulillah, setelah berbagai strategi kubuat, abinya Haqi setuju kami berangkat ba’da Ashar, setelah semua kegiatan rutinku di hari itu selesai.
Kami memberinya nama Maulvi Izhharulhaq Almanfaluthi. Sabtu kemarin, 13 april 2013, tepat 13 tahun ia menghirup udara bumi. Kami sekeluarga memanggilnya Haqi, yang berarti kebenaran. Berharap ia menjadi anak yang selalu cenderung kepada kebenaran, menyukai kebenaran, dan mampu menjelaskan kebenaran di manapun dia berada. Ini adalah tahun pertama ia berpisah dari kami, orangtuanya. Seumur hidupnya tak pernah sekalipun ia pergi dan bermalam hingga berhari-hari tanpa kami. Itulah sebabnya saat awal di pesantren menjadi sesuatu yang tidak mudah baginya. Tidak mudah juga bagiku sebetulnya, tapi demi keinginan menjadikannya sebagai anak yang sholeh, kepedihan itu kami tahan.
Kami memberinya nama Maulvi Izhharulhaq Almanfaluthi. Teman-teman sekolahnya acapkali memanggilnya Maulvi atau Maul. Parasnya plek banget wajah abinya.  Kata orang Jawa, anak laki-laki yang mirip bapaknya membawa dampak kurang bagus dalam hidupnya. Selain nggak hoki, mereka meyakini bahwa anak dan bapak akan sering cek cok alias tidak akur. Percaya? Enggak mau. Kami berusahan untuk tidak percaya dengan keyakinan itu, meski kadang abinya lebih terlihat pro ke Yahya Ayyasy yang wajahnya mirip aku, dan lebih sering bersitegang dengan Haqi, kami tetap (berusaha) tidak percaya. Karena kami meyakini, prasangka seorang hamba adalah ketentuan Allah untuknya. Karenanya kami berprasangka yang baik-baik saja atas kehidupan kami dan anak-anak.
Dibanding dengan adiknya, Yahya Ayyasy, Haqi memang lebih terlihat laki-laki sedari kecil. Tidak bisa diam dan selalu ingin tahu hal-hal yang baru. Hal inilah yang seringkali membuatku sport jantung. Pernah seorang tetangga tergopoh-gopoh mencariku di masjid di Sabtu pagi, waktu di mana aku sedang bersama ibu-ibu di sekitar rumah untuk belajar tahsin al-Qur’an.  Beliau mengabarkan bahwa Haqi kejatuhan balok dan saat ini sudah dibawa di praktek bidan terdekat. Dueng….jantungku serasa lepas. Bergegas kuikuti langkah tetanggaku menuju bidan dimaksud. Tangisnya pecah begitu melihat aku datang dan memeluknya. Jilbab kremku pun tak butuh waktu lama untuk berubah menjadi merah.  Kukuatkan hati untuk tetap memeluknya ketika bu bidan hendak menjahit luka di kepalanya. Tapi rupanya alam bawah sadarku menolak, pandanganku mendadak gelap mencium anyir darah. Beruntung tetangga sebelah sigap dan segera menarikku untuk kemudian mendudukkanku di bangku. Alhamdulillah, segelas teh hangat manis membuatku berangsur membaik.
Menjadi pendiamkah Haqi setelah peristiwa itu? Ternyata tidak, esok hari paska kejadian berdarah itu, tetanggaku setengah berteriak memanggilku.
“Umi……itu Haqi…. Aduhhh..”
Olala, ternyata sulungku yang saat itu belum genap 5 tahun sudah nangkring di atas tembok pembatas antara rumahku dengan rumah sebelah. Masih dengan perban yang memperlihatkan bercak darah di kepalanya.Perlahan kudekati dia, dan membujuknya untuk segera turun, berusaha sekuat mungkin untuk tidak meneriakinya, semata supaya dia tidak terkejut dan malah fatal akibatnya. Hufh….that is you, my son :D
Berbeda dengan adiknya, Haqi juga ekspresif. Apa yang dia rasa, itulah yang dia ungkap. Mungkin karena sifat inilah yang membuat kami harus ekstra menghela nafas. Ada saja pertanyaan dan pernyataannya yang membuat lidah kami kelu untuk menjawab. Seperti pertanyaannya di suatu hari ketika dia mendapatiku pulang ba’da Isya
“Mi, emangnya kenapa sih umi harus kerja? Memangnya kalau umi nggak kerja, gaji abi nggak cukup ya Mi?” berondongnya saat itu. Gubrak, sebuah pukulan telak. Aku tak mampu berkata kata, sementara di sudut sana lelaki berparas sama dengan beda usia tersenyum penuh kemenangan. Ya, siapa lagi kalau bukan abinya.
Itulah Maulvi Izhharulhaq Almanfaluthi. Tentu masih banyak cerita tentangnya. Biarlah suatu saat kutuliskan lagi untuknya. Dua pekan lalu, ketika abinya berkesempatan pulang ke bogor, kami sempatkan untuk menengoknya. Tak seperti  biasanya, ba’da sholat maghrib di masjid Ponpes Al-Kahfi, Haqi-ku yang sudah 160 cm itu mendekatiku. Dia bercerita tentang aktivitas terbarunya. Tentang amanah yang didapatnya untuk menjadi ketua eskul angklung. Tentang amanah menjadi ketua pengawasan bahasa di asramanya. Tentang rencananya untuk membawa teman-teman angklungnya menjadi lebih baik. Ah, sore itu kebersamaan kami memang tak lama. Tapi di antara gerimis yang menyiram bumi Al-Kahfi, aku merasakan bahagia menjadi  tempat curahan hatinya.  Alhamdulillah, meski kumis tipis sudah mulai tampak di raut mukanya, aku masih bisa menghuni kamar hatinya. Dan sore ini aku kembali merindunya.

Wahidin, 27 Nov 2013
 menjelang 1/2 6

Senin, 25 November 2013

Napak Tilas-1


Selalu begitu. Senantiasa terulang. Ingin tak selalu beriringan dengan takdir. Tapi tak apalah, terlambat selalu lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?

Jauh hari sebelum 24 Juli kemarin, banyak rencana bersliweran di kepala. Dari mulai membuat tulisan untuknya, hunting  gadget yang diimpikannya hingga memesan kue dengan beberapa lilin pengganti jumlah usianya yang bertambah. Terbayang malam yang riuh ba’da tarawih ketika kue itu mulai dipotong seiring dengan senyum yang terkembang ketika melihat gadget impian yang tiba-tiba ada di genggamannya. Waaa…..pasti seru. Sayangnya hingga hari itu tiba, tak satupun dari sekian rencana itu yang mewujud. Hanya ada ucapan selamat di pagi ba’da shubuh, masih dengan balutan daster teman tidur dan senyum yang seadanya. Maaf ya abi….
Selau begitu. Senantiasa terulang. Ingin tak selalu berkarib dengan takdir. Tapi tak apalah, terlambat selalu lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?
Tahun ini usianya genap 37 tahun. Itu berarti 14 tahun sudah ia lewatkan usianya bersamaku. Waktu yang tidak sebentar untuk saling mengenal memang. Tapi, 14 tahun bukan pula waktu yang cukup untuk mengatakan “aku telah mengenalmu sepenuhnya”  Karena aku meyakini bahwa manusia akan senantiasa berubah hingga ajal yg akan menghentikan perubahan itu sendiri. Begitupun adanya dengan diriku dan dirinya. Ada saja hal-hal yang membuat kami  harus terus beradaptasi dengan gerak perubahan kami. Kadang hanya diperlukan senyuman , terkadang juga perlu ditambah dengan helaan nafas, pun sesekali perubahannya perlu disikapi dengan “bertapa” sejenak demi menenangkan dan meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.
Ah, mengingat perjalanan hidup kami yang penuh warna membuatku tak bisa tidak membuka lembar demi lembar episode kehidupan yang telah terlewati. Manis, pahit, asam, menangis dan tertawa hanyalah bagian dari coretan warna dalam album kebersamaan kami. Mengutip nasihat seorang teman, semua akan terasa manis pada saatnya ketika kita mampu bersabar di dalamnya.
Bertemu pada akhir 1998, tanpa tatap muka dan bincang kata, di sebuah rumah petak sederhana yang dihuni jiwa-jiwa yang luar biasa. Ya, rumah kontrakan sepasang suami istri yang tidak hanya menyentuh hati kami lewat lisannya agar kami kembali kepada Allah, tapi juga berupaya agar kami bersatu dalam satu ikatan bernama pernikahan.  Ada hati yang bergejolak saat harus memutuskan menerima atau tidak proposalnya, sementara istikhoroh yang dilalui tak jua memberi jawaban selayaknya orang-orang bilang. Tak sekalipun wajahnya muncul dalam mimpi, he…he…
“Sudah, tidak usah berlama lama, terima saja Dek. Jangan membuat Riza patah hati,” sebuah kalimat meluncur dari seseorang yang sangat dicintai oleh orang yang kuhormati. Suami guru ngajiku.  Tak bisa kulihat mimik muka beliau ketika kalimat itu terucap, karena kami terbatasi oleh selembar tirai yang memisahkan ruang tamu mereka yang tak seberapa besar. Sementara sang istri hanya tersenyum. Sebuah tepukan menguatkan mampir di pundakku.
“Insya Allah berkah. Mudahnya proses ke arah pernikahan adalah jawaban dari istikhoroh yang anti lakukan. Tidak usah menunggu wajahnya muncul dalam mimpi,” ungkap perempuan itu. Lagi lagi dengan senyum.
“Bismillah, niatkan karena Allah,” nasihat terakhir  dari Bu Khuri, orang yang selama ini sabar membimbing ku menuju pribadi yang lebih baik itulah yang pada akhirnya membuatku menyatakan persetujuanku.
“Alhamdulillah, perlu lihat wajah aslinya dulu gak nih?” lagi-lagi suami guru ngajiku yang tak lain adalah juga guru ngajinya itu menggoda kami
“Tidak usah, ustadz. Insya Allah sudah mantap,” jawab laki-laki yang belum genap 23 tahun yang akan menjadi suamiku kelak.
Dus, akhirnya serangkaian proses ta’aruf yang sudah kami lewati mengantar kami pada sebuah keputusan besar, bahwa kami akan menikah. Tanpa melihat wajah, tanpa mengenal perilaku. Modal kami hanya satu. Kepercayaan kepada guru ngaji yang kami hormati. Percaya bahwa mereka tidak akan salah memilihkan orang yang tepat untuk kami. Jika Rosulullah mengatakan bahwa wanita dinikahi karena empat hal. Maka asbab yang terbaik yang disarankan Rosulullah dalam memilih pasangan adalah karena agamanya. Dan kami percaya guru ngaji kami sudah mempertimbangkan itu dengan baik. Selain juga karena kami meyakini bahwa dalam ke”tsiqohan” ada keberkahan.

Bismillah, 27 Maret 1999 kami pun menikah.
Bertepatan dengan tanggal  9 Dzulhijah versi kalender pemerintah, tapi tanggal 10 versi pemerintah Arab Saudi karena sehari sebelum menikah ternyata para jamaah haji sudah melakukan wukuf di Arofah, kami menikah di sebuah KUA di sebuah kecamatan di Semarang. Dihadiri beberapa kerabat dan teman-teman dekat dari pihak kami berdua. Tak semua bisa ikut menyaksikan proses sakral itu karena keterbatasan kendaraan yang membawa kami dari rumah menuju KUA. Beberapa teman dekat lainnya terpaksa hanya bisa menunggu di rumah.
Apa yang terkenang pada hari itu? Tentu banyak. Komitmen kami untuk menikah secara sederhana ternyata tak tertanggapi oleh keluarga. Pengennya setelah ijab, tidak perlu ramai-ramai, termasuk acara di pajang pajang segala, malu… he… tapi karena keluarga saya adalah keluarga besar, jadi tanpa rame rame pun rumah tetap terlihat rame. Kebanyakan undangan yang hadir adalah teman-teman dan tetangga kakak, karena memang saya dinikahkan oleh kakak. Selebihnya teman-teman lama di Semarang. Teman di Jurang Mangu? Alhamdulillah yang belum penempatan atau yang penempatannya tidak jauh dari kota Semarang menyempatkan datang. Beberapa yang sangat dekat dengan saya malah memprotes dandanan yang membuat saya berbeda dengan Ria Dewi yang mereka kenal. Adalah Ira Melati dan  Kwatri Sumiyati, dua sahabat dekat saya  inilah yang paling sibuk menghapus lipstick dari bibir saya, tentunya tanpa sepengetahuan tukang rias ya…
Alhamdulillah proses ijab Kabul berjalan dengan lancar. Seperangkat alat sholat dan hafalan surat Al-Muzammil menjadi mahar dalam pernikahan kami. Kenapa maharnya cuma itu? Karena dulu semangatnya adalah mempermudah calon suami, terilhami dengan yang disampaikan Rosulullah bahwa Wanita yang baik adalah yang paling murah maharnya.  Tapi setelah saya belajar agama lebih jauh lagi, saya tidak menyarankan ini untuk diikuti sama akhwat yang lain ya,,,karena ternyata mahar itu sebaiknya yang bernilai uang, maksudnya, jika suatu saat ada kebutuhan mendesak, mahar itu bisa dijual. Jadi menyesal dong dulu tidak minta mahar emas atau uang? Tidak juga sih…Alhamdulillah, kalaupun sekarang saya minta dibelikan emas juga insya Allah dibelikan ya bi…, he..he…Kenapa hafalannya harus Muzammil? Karena kalau Ar-rahman nanti abi ngapalinnya kepanjangan dan kelamaan, hayah….. Jawaban seriusnya sih sebenarnya karena saya ingin mengingatkan diri dan suami bahwa kami bertemu di jalan dakwah, dipertemukan oleh orang-orang yang mencintai dakwah, dan dikelilingi oleh teman-teman yang jatuh bangun di jalan dakwah. Jadi tidak ada alasan bagi kami untuk menjauh dari jalan dakwah setelah kami menikah nanti. Dalam surat Al-Muzammil Allah berikan bekalan yang cukup untuk kami agar tetap bisa bertahan menapaki jalan yang tak mulus ini. Tuh kan, jadi pengen nangis kalau inget komitmen dulu dengan realitas yang kami hadapi sekarang. Betapa memang tak mudah untuk istiqomah.
 Akhirnya, tak ada yang bisa terucap selain syukur yang tak terkira kepada Allah yang sedemikian baiknya memberi kami jodoh di usia muda, kepada orang tua yang langsung mengiyakan begitu saya sodorkan foto dan bio data tanpa bertanya ini itu lagi. Penghargaan dan doa terbaik juga untuk Pak Hasan dan mbak Khuri, yang telah repot memperkenalkan dan berusaha mempersatukan kami, termasuk melayani komplain saya ba’da nikah he… semoga Allah berikan keberkahan hidup pada antum berdua. Kepada mereka yang telah menebar banyak kebaikan demi bersatunya kami dalam sebuah ikatan bernama pernikahan , saya ucapkan  Jazakumullah khoiron jaza.  Adalah Pak Lukman Bisri Hidayat, yang telah bersedia direpotin dari proses ta’aruf hingga menjadi saksi pernikahan kami.  Pak Bin Nahadi, Pak Ujang Sobari, Pak Ramli, Henjang Prasetyawan yang sudah menemani Pak Riza dan menjadi panitia dadakan di hari “H". Kwatri Sumiyati, yang setia mendampingi dari proses ta’aruf sampai hari H, Ira Melati, Dini, mbak Lestari, Maelawati, yang rajin mengkritisi dandanan dan pakaian nikah saya. Adek-adek alumni SMEAN 2 Semarang yang berbaik hati hendak mendekor kamar pengantin dan menyarikan gaun pengantin yang syar’i untuk saya (sayangnya semua sudah dihandle keluarga besar), sahabat terbaik saya Hartyastuti yang datang siang hari dalam kondisi ngos-ngosan setelah nge”bis” dari Pati, he… (Alhamdulillah sekarang sudah enak ya jeng), serta sahabat lainnya yang tidak bisa tersebut namanya satu persatu.  Subhanallah, benar-benar saya merasakan nikmat dan indahnya berjamaah bersama mereka semua.
Kepada abi, semoga ini menjadi pengingat kita, bahwa Allah sudah memberi banyak hal kepada kita. Anak- anak yang sehat, pekerjaan yang layak, rumah dan kendaraan yang nyaman, apa lagi yang hendak kita cari selain bersyukur kepada Allah dengan cara memelihara dan menjaga apa yang sudah diberiNya dengan sekuat tenaga kita. 
numpang foto di rumah kakak, tempat resepsi pernikahan kami
     Bahwa pernikahan tak selamanya mawar,tak lantas menjadi alasan bagi kita untuk keluar dari jalur yang telah digariskanNya. Semoga Allah berikan keberkahan pada pernikahan kita, pernikahan yang tak menimbang rupa, apalagi harta. Semoga Allah jadikan keluarga kita sakinah mawadah wa rohmah, bahagia di dunia dan di surga.

Wahidin, 25 Nov 2013
Jelang sebulan abi di Tapak Tuan

Senin, 07 Oktober 2013

Tentang Kita






Kita hanyalah  titik
Di antara semesta raya
Tak layak memaksa kehendak
Apatah lagi merasa berdaya
Atas masa depan yang tak kasat mata


Kita hanyalah satu dua  titik
Di antara semesta luar biasa
Tak ada daya kita
Selain bersandar kepadaNya
Atas  semua yang tak mampu kita rasa
bahagia di dalamnya

Kita hanyalah kumpulan titik
Di antara semesta tak berbilang adanya
Apalah upaya kita
Selain berlari kepadaNya
maka lihatlah cahaya
Ia kan kembali menghangatkan kita


Wahidin, 7 Oktober 2013
di antara detik yang tak akan pernah berhenti

Senin, 24 Juni 2013

Do'a Yang Mana

Selalu ada yang berbeda setiap aku menginjakkan kaki di kota Lumpia ini. Meski hampir tiap tahun pulang, selalu saja ada rasa yang lain di setiap waktunya. Baru memasuki gerbang kotanya saja rasanya sudah seperti melihat sosok ibu yang membentang kedua tangannya lebar-lebar demi menyambut kami pulang. Rasanya "Nyess"...adem..., meski kondisi yang ada justru mungkin sebaliknya. Siapa yang tak kenal dengan teriknya kota Semarang, he...he.... Namun seberapa pun panasnya, bagiku Semarang tetaplah "sejuk" (maksa.com, wkkk..kkk). "Kesejukan" yang tak dimengerti orang inilah yang membuatku selalu ingin pulang, pulang, dan pulang. Tak hirau komentar beberapa teman yang mengatakan, "Semarang panas dan banjir gitu kok dikangeni." Wes, pokoknya ben banjir, ben panas, tetep ia membuatku rindu. Kerinduan yang pada akhirnya mematri ingin dalam hatiku untuk menjadikannya sebagai home base pada suatu saat nanti.
Mengenang Semarang sudah pasti tak lepas dari mengenang masa lalu. Sebagai orang yang lahir dan besar di Kota Semarang, aku memang menabung banyak peristiwa di sana. Hampir tidak ada yang bisa kulupakan (kecuali hal-hal yang memang harus kulupakan ya.... :).

Masa Putih Merah
Kebetulan pada kepulangan kali ini aku bertemu dengan salah seorang teman SD-ku, langsung deh, tuingg....ingatanku melayang pada masa di mana aku berseragam putih-merah dengan rambut kepang satu di kepalaku he...Banyak kenangan yang berloncatan di memoriku, semuanya berebut ingin keluar. Tapi tak akan kutuliskan semua di sini, karena pasti akan membutuhkan berlembar-lembar halaman untuk menuangkannya. Barangkali satu hal yang tak mungkin ku lupa adalah saat aku harus berpura-pura pamit untuk belajar kelompok dengan teman-teman kecilku, padahal akhirnya justru sepeda kami kayuh ke arah pantai Tanjung Masuntuk bermain air dan pasir di sana. Hi...hi...mudah-mudahan kenakalan ini tidak ditiru anak-anakku ya....
Enam tahun di Sekolah Dasar memang bukan waktu yang sebentar untuk melupakan yang pernah terjadi. Semua menyenangkan, tidak ada beban, semua terasa ringan. Hari hari hanya terisi dengan bermain dan belajar (di sekolah maksudnya ya...belajar di rumah sih kalau ada PR dan mau ulangan saja he...) Rasanya satu-satunya bebanku saat SD hanyalah bertemu dengan satu guru yang pernah memukul kakiku dengan tiang bendera kecil yang menjadi pajangan di mejanya. Tahu kenapa? hanya sebab sebelah kakiku keluar dari bangku (inget bangku sekolah zaman dulu? gabung antara meja dengan bangku panjang. Biasanya di SD Negri, bangku seperti ini dihuni oleh 3 orang siswa siswi). Alhamdulillah, apa pun yang sudah beliau lakukan, tak ada dendam di hatiku, paling hanya berusaha menghindar supaya tidak berjumpa saja dengan dia he...he...Cara ini tanpa kusadari terbawa hingga aku dewasa, Menghindar sementara dari orang yang membuatku tak nyaman.

Keluarga Super Besar
Alhamdulillah, aku dibesarkan dalam keluarga yang Super Besar. Kenapa Super Besar? Karena bagiku, Keluarga Besar saja tidak cukup untuk menggambarkan banyaknya anggota keluarga yang ada di sekelilingku. Aku terbiasa hidup tidak hanya sekedar dengan keluarga inti yang terdiri dari ayah-ibu-anak saja. Tapi sejak aku kecil, ada banyak saudara yang tinggal bersama kami. Jadi tinggal di dalam satu rumah dengan banyak kepala sudah biasa kurasakan. Ada plus minus tentunya. Satu sisi, aku tidak pernah merasa takut di rumahku sendiri (gimana mau takut, wong buanyak orang di rumah), sisi yang lain hampir bisa dibilang tak ada yang namanya privacy bagi kami. Berbagi kamar dengan banyak saudara sudah menjadi bagian dari hidup kami. Apapun yang ada di rumah, maka itu akan menjadi konsumsi bersama. Maka jangan ditanya bagaimana ributnya kami mencari sisir ketika jam berangkat sekolah tiba. Terganggu? alhamdulillah tidak. Bersyukur malah, dari kecil orang tua sudah mencontohkan jiwa sosialnya dengan menampung banyak orang di rumah. Berbagi apa yang kami punya dengan saudara-saudara meski bukan sekandung. "Pelajaran" yang tak pernah terucap dari orang tua inilah yang membuatku pada akhirnya tak  menjadi pribadi yang melulu memikirkan diri sendiri. Belajar berbagi.

Di antara sekian banyak orang yang datang dan pergi dari rumah kami, ada beberapa orang yang membekaskan ingatanku kepadanya. Kenapa? karena aku meyakini bahwa apa yang kucapai hari ini sedikit banyak karena andil doa-doa mereka. Meski mungkin doa itu terucap dalam kondisi yang tak semestinya dan tak disadari.

Adalah mbahku, orang yang mendampingi hari-hariku ketika kecil. Bagaimana keseharianku, beliaulah yang lebih tahu daripada kedua orangtuaku yang sibuk dengan perniagaannya (hayah, bahasanya hi,,,). Dus, beliau juga yang pada akhirnya sering mengelus dada melihat polah tingkahku masa itu. Tak hanya itu, dari melek mata hingga mataku terpejam lagi, ada saja hal-hal yang membuat mbahku ini "bernyanyi" Mungkin beda generasi ya, jadi hal-hal yang menurutku biasa, bagi mbahku itu tidak lazim. Apa pun adanya beliau, aku mencintainya, sebagaimana beliau juga mencintaiku insya' Allah. Satu hal yang membuatnya marah adalah jika aku menumpuk pakaian kotor dan tidak segera mencucinya (sedari kelas 4 SD aku dibiasakan mencuci dan menyetrika baju sendiri). Kalau sudah begitu, beliau pasti akan langsung bilang, "Oalah nduk...piye kuwi mengko nek wes omah-omah. Wes mugo-mugo mengko rewangmu loro." ( Oalah nduk, bagaimana itu nanti kalau sudah rumah tangga. Mudah-mudahan nanti pembantumu dua) Jangan membayangkan beliau mengucapkan itu sambil tersenyum apatah lagi sambil mengelus-elus rambutku. Tidak, beliau ucapkan itu sambil marah, he...he... Jauh hari kemudian ketika aku berumah tangga dan beliau sudah mendahuluiku menghadapNya (semoga Allah menyayanginya sebagaimana beliau menyayangiku dengan caranya), aku baru tersadar. Ternyata Allah ijabah doa beliau. Aku ditakdirkan menghire dua orang asisten untuk menangani urusan anak dan rumah tangga. Subhanallah, doa yang awalnya mungkin tak pernah kuamini karena terucap dengan nada dan wajah tak enak, ternyata justru dijawab oleh Allah.

Ada lagi kakak perempuan ibuku. Kami memanggilnya Wak Mun. Berbeda dengan mbahku, wanita ini lebih lembut. Dia seringkali melihatku dengan wajah cerah. Memarahiku seingatku hampir tak pernah. Kalaupun hendak mengingatkanku tentang pekerjaan yang lalai kukerjakan, biasanya ia lakukan sambil berbisik. Ketika Allah takdirkan aku belajar di kampus gratisan milik pemerintah, beliaulah yang rajin membuatkan orek tempe kering setiap aku pulang kampung dan hendak kembali ke Jurang Mangu. Suatu saat dia melepas kepulanganku dengan tatapan yang lama. Dia bilang,"Ati-ati, ojo kakean ngguyu, mengko ndak ono sing salah tompo. Sinau tenanan, mengko nek wes sukses, aku dijak nginep, ndelok omahmu sek tingkat," (Hati-hati, jangan kebanyakan tertawa, nanti takut ada yang salah terima. Belajar yang bener, nanti kalau sudah sukses, ajak saya bermalam, lihat rumahmu yang tingkat)
Bertahun terlewati. Hampir tak ingat dengan apa pun yang pernah dibicarakan perempuan yang telah berpulang itu. Kebutuhan kamar lebih di atas lahan yang tak terlalu luas memang membuatku pada akhirnya memutuskan untuk menambah lantai. Pada saat itulah aku teringat Wak Mun dan ucapannya yang dulu tak terasa seperti doa. Padahal waktu itu hampir tak ada dalam bayanganku bisa mempunyai rumah dengan mudah.

Dua peristiwa di atas pada akhirnya membawaku pada satu kesimpulan bahwa apa yang terjadi pada diri kita boleh jadi akibat doa yang terlantun dari lisan orang-orang di sekitar kita. Bahwa kita tidak tidak pernah mengerti pada doa yang mana Allah akan memberikan jawaban dan mengabulkannya. Maka sejak saat itu aku berusaha untuk tidak membuat orang di sekitarku merasa terdzolimi sehingga keluar dari lisannya ucapan yang buruk atas diri dan kehidupanku. Beruntung pada saat mbah marah, yang muncul adalah doa untuk kebaikanku. Tak bisa kubayangkan jika pada saat itu yang muncul adalah ucapan yang buruk. Naudzubillah.
Pun saat ini aku jadi lebih bisa menghargai setiap doa yang terlantun untukku, dari siapapun. Dulu, ketika ada pengemis yang mendoakan sesaat setelah aku bersedekah untuknya, aku seringkali abai dan mengecilkannya tanpa sadar.  Begitupun ketika adek, kakak, saudara mendoakan keberkahan atas hidupku,  seringkali aku hanya terkekeh kekeh dan menganggapnya tak lebih dari sekedar basa basi (semoga Allah ampunkan aku atas hal ini). Aku waktu itu lupa bahwa bisa jadi doa yang mereka ucapkanlah yang  lebih mampu menggetarkan arsy-Nya daripada doaku sendiri, sehingga takdirku berubah lantaran doa mereka yang tak pernah  kuanggap.
"Matur nuwun, semoga rizkimu bertambah berlipet-lipet, berkah hidupmu, anakmu sholih dan sholihah,....." sederet doa meluncur dari lisan adek perempuanku sesaat setelah dua lembar kertas lima puluh ribuan berpindah dari dompetku ke tangannya. Dan aku mengaminkannya dengan khidmat di tengah hingar bingar pesta pernikahan keponakanku di Semarang hari ahad itu. Berharap dari lisannyalah Arsy Allah bergetar dan  Ia berkenan mengubah takdirku menjadi baik sebagaimana doa adikku. Karena sekali lagi aku tidak tahu pada doa yang mana Ia berkenan menjawab dan mengijabah.


Wahidin, 24 Juni 2013
Tiga minggu setelah kepulanganku ke kampung halaman. Alhamdulillah, selalu ada hikmah yang bisa dibawa pulang setelahnya.



Jumat, 17 Mei 2013

Kado Kecil Untuknya



13 April 2000

Kamu tahu sayang, hari yang paling membahagiakan kami adalah hari itu. Hari di mana Allah takdirkan kamu lahir di dunia. Ya, 13 April tahun 2000, jam 11 malam, di sebuah rumah sakit bersalin di Semarang, yaitu RSB Panti Siwi. Kalau tidak salah, waktu itu malam Jumat.
Kamu lahir setelah beberapa jam lamanya umi menahan sakit yang luar biasa. Ah, sudahlah. Tak perlu diceritakan bagaimana rasanya detik-detik kamu dilahirkan. Karena betapapun sakit yang umi rasa, tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan karunia Allah yang diberikan kepada umi yaitu kamu. Meski harus melalui proses yang agak lama, alhamdulillah kamu lahir dengan semangat.
Oh, iya. Waktu itu umi tidak didampingi abi, karena abimu masih ada jadwal kuliah. Jadilah mbah ibu yang menerimamu dari dokter dan para perawat untuk kemudian beliau kumandangkan adzan di telingamu. Esok harinya, sekitar jam 4 pagi, seorang perawat membangunkan umi. Ada seseorang yang ingin bertemu.
Olala…ternyata abimu datang dari Jakarta.  Kamu tahu? Langkah tertatih umi yang menahan sakit karena jahitan, ternyata  membuat wajah abimu memucat pasi. Beruntung ada suster jaga di sekitar kami waktu itu, sehingga sebelum abimu benar-benar pingsan, suster berhasil menangkap tubuh kurusnya (waktu itu ya…, kalau sekarang mah bukan kurus, tapi kuru alias kurugan daging, he…he…) dan mendudukkannya di samping umi. Secangkir teh manis hangat membuat abimu berangsur membaik. Ah, abimu memang tidak bisa melihat umimu ini kesakitan rupanya. 

 Boyongan ke rumah kontrakan

 Setelah masa cuti umi habis, kami memboyongmu kembali ke Jakarta. Tiga bulan begitu cepat berlalu rasanya. Kamu tahu gak mas? Banyak sekali yang ingin mengantarmu ke tempat kontrakan kita. Setelah berdiskusi panjang, akhirnya diputuskan kami memboyongmu dengan menggunakan moda Kereta Api, karena kalau naik mobil, khawatir kamu tidak nyaman. Akhirnya berangkatlah umi, mbah ibu, budhe Mar, pakdhe Sam, dan satu orang pengasuhmu menuju Jakarta. Loh abi mana? Abi tinggal di Jakarta, menyiapkan segala sesuatunya di sana.
Tak ada ruangan khusus yang kami siapkan untukmu laiknya para artis itu menyambut buah hati mereka. Tak ada, karena memang waktu itu kondisi ekonomi kita seperti itu adanya. Tapi percayalah sayang, ruangan khususmu ada di dalam diri umi dan abi. Bahkan tak hanya sebatas ketika kamu bayi, tapi insya Allah sampai akhir hayatmu nanti.
Di rumah kontrakan yang tak berkamar itu, kamu tidur bersama umi dan abi di sebuah ruangan yang akhirnya kami sekat dengan sehelai  kain gordyn yang memanjang. Yah, minimal mbak yang ngasuh kamu gak langsung melihat aktivitas kita di “kamar” kita. Mbak Eti, pengasuhmu, alhamdulillah mau ditempatkan di ruangan belakang dekat dapur, lagi-lagi abimu mengakalinya dengan menjadikan lemari baju dan lemari piring sebagai sekat antara tempat tidur pengasuh dengan dapur. 
Wah….seru , itulah kondisi kita di awal-awal kelahiranmu. Kita berdesakan di rumah kontrakan yang mungil itu. Tapi alhamdulillah, umi bahagia. Meski beberapa teman abi mengerut kening, begitupun dengan teman-teman dan saudara umi. Mereka bilang abimu kan orang pajak, masak tinggal di kontrakan petak seperti ini. Aha, itulah yang ada di pikiran mereka sayang, bahwa abi dan umimu pegawai Departemen Keuangan, apalagi abimu ditempatkan di Direktorat yang terkenal dengan banjir duit pada saat itu, aneh bagi mereka melihat kita masih bertahan tinggal di kontrakan yang hanya berukuran 3 kali 10 meter itu. Tapi sekali lagi, umi bahagia. Karena abimu tidak sembarangan membawa rizki yang tidak jelas untukmu dan umi. Praktis, kita hidup dengan gaji dan tunjangan saja. Tapi alhamdulillah, Allah beri kecukupan sehingga pada akhirnya umi dan abi mampu mencicil sebuah rumah di bilangan Citayam, Kabupaten Bogor.

 Kenangan di rumah kontrakan

Masih lekat di benak umi waktu umi membawamu ke puskesmas untuk imunisasi. Sedikit tergopoh karena umi juga harus bersiap untuk berangkat kerja. Mbak Eti, pengasuhmu waktu itu ikut tergopoh mengikuti langkah cepat  umi. Sesampainya di puskesmas Rawajati , umi langsung mendaftar dan menunggu tak terlalu lama karena kamu adalah pasien pertama ^_^.  Seorang bidan segera menghampiri kita begitu umi menggendongmu masuk ruang periksa. Kamu tahu apa yang dikatakan bidan itu?
“Ini ibunya mana? Duh, urusan penting begini kok diserahin ke kakaknya. Besok-besok kalo mau imunisasi  harus sama ibunya ya Dek,”tuturnya sambil menjentik-jentikkan jemarinya pada jarum suntik.
“Saya ibunya, Bu,” jawab umi setengah bingung waktu itu. Bidan itu terperangah, melihat umi dari atas sampai ke bawah. Umi nyengir serba salah.
“Oh… jadi kamu ibunya….kirain kakaknya.  Kecil-kecil udah punya anak kecil ya,” tuturnya polos, tanpa dosa, tanpa melihat muka umi yang tersenyum malu-malu. Padahal perasaan umi, waktu itu umur umi gak muda-muda amat, sudah 23 tahun.  Tapi sudahlah, yang penting pagi itu kamu sukses dibuatnya menangis karena jarum suntik yang menembus kulit halusmu.
Oh, ya. Ada lagi kenangan yang umi juga tak akan lupa. Waktu itu tengah malam. Kita bertiga sedang lelap-lelapnya tidur. Tiba-tiba ada bunyi yang sangat keras. "Brakkk..." Setengah merem umi terbangun. Kamu tahu apa yang terjadi? Tempat tidur yang kita tempati patah. Rupanya kayu ringkihnya tak mampu menahan bobot kita bertiga, ha...ha...Untungnya kamu tidak kenapa-napa. Jadilah sejak saat itu kita menggelar kasur saja di bawah, tanpa dipan alias tempat tidur. Tak mengapa, lagi-lagi umi tetep bahagia.

 Akhir September 2000

Ini  adalah saat di mana kita mulai merenda cerita di rumah baru kita. Alhamdulillah, kamu tak harus berlama-lama tinggal di rumah kontrakan sempit itu. Meskipun rumah kita mungil juga, tapi alhamdulillah sudah rumah sendiri. Di depan dan belakang bangunan rumah kita juga masih tersisa tanah yang bisa didirikan lagi bangunan di atasnya. Dan yang penting, rumah type 36 ini ada 2 kamar.  Umi tidak harus memasang tirai lagi supaya mbak Eti tidak melihat aktivitas kita di kamar, he...he…Begitupun mbak Eti, dia bisa tidur di kamar sendiri dan tidak bersebelahan dengan dapur.  Lucu ya waktu kamu kecil. Masih putih, bersih. Umi dan abi juga masih kurus, he…he…. Masih kliatan imutnya ya….ea…. Secara umi wktu itu masih 23 tahun, abi? Ya 24 tahun lah. Kan umi sama abi Cuma beda 1 tahun, siapa juga yang nanya ya…
                                            
 
Di sinilah sejarah hidupmu banyak tertulis. Termasuk nasibmu yang harus berganti-ganti pengasuh setelah mbak Ety pulang pada saat lebaran dan tidak kembali lagi. Saat itu usiamu 9 bulan, alhamdulillah setelah mbak Ety, ada pengganti yang juga tak kalah sayangnya sama kamu. Namanya mbak Siti. Dengan mbak Siti inilah kakimu terkena setrikaan yang hingga kini bekasnya masih ada. Duh, maafkan umi ya Mas.
Setelah Mbak Siti menikah, kamu sempat mengalami 3 kali ganti pengasuh. Dan tiga-tiganya eror alias galak. Mungkin itu sebabnya diantara anak-anak umi, kamu yang agak mudah marah, sebab kamu ditemani pengasuh yang juga tidak sabaran.
Pada masa kecilmu juga umi sempat terpikir untuk resign, karena tidak tega melihatmu tiap pagi menangis dan menarik-narik rok umi setiap umi mau berangkat kerja.  Kamu inget nyanyian (baca tangisan) wajib kamu setiap pagi? “ummiii….jangan kerjaaaaa….ummiii jangan kerjaaaa…..” Hfh, jadilah umi setiap pagi meninggalkan rumah dengan perasaan yang tak karu-karuan. Rupanya itu pertanda ada yang tidak beres dengan pengasuhmu. Alhamdulillah satu tahun setelah adekmu M. Yahya Ayyasy lahir, kondisimu mulai stabil. Bulikmu bersedia menemani kalian untuk mengawasi pengasuhmu. Seiring dengan stabilnya keadaan, keinginan umi untuk resign pun mulai melemah ( dasarrr… ya…)

Saat-saat sekolah


Saat umurmu 4 tahun, kami mendaftarkanmu ke sebuah TK Islam Terpadu. Namanya TKIT Adilla. Meski sedikit jauh dari rumah,tak apalah. Karena kami ingin mendapat guru dan lingkungan yang tepat.  Hari pertama sekolah, hampir semua isi rumah antusias. Umi, abi, Bulik Endah, termasuk Mbak Nur pengasuh adekmu. Lucunya, kamu sendiri malah kurang semangat. Jadilah umimu ini cuti 3 hari untuk menemani hari-hari pertamamu di sekolah. Alhamdulillah dua tahun berlalu, dan kamu bisa melalui semuanya dengan baik. Bahkan pada tahun pertama di TK A, kamu mendapat peringkat II. Terharu dan bangga. Di TK A kamu juga sudah sangat lancar membaca, alhamdulillah. Perilakumu juga mendapat apresiasi dari para guru. Kata mereka kamu santun dan mengayomi temanmu, terutama teman putrimu (ehem,,,,ada turunan abimu rupanya  ^_^)

Berlanjut ke Sekolah Dasar, kami kembali mendaftarkanmu ke SDIT  Al-Hikmah, Cipayung, Depok. Pertimbangannya lagi-lagi sama. Kami ingin kelak kamu tidak bersebrangan pemikiran dengan kami. Apalagi beberapa teman dan guru ngaji umi mengajar di sana. Lumayan kan, bisa sering-sering konsultasi tanpa sungkan ke mereka. Jazakillah ustdzh Rani, Ustdzh Lillah, Ustdzh Lisa, yang sering digangguin umi, he…he…

Awal masuk hingga kelas 3 SD semua berjalan lancar. Bahkan hingga kelas IV semester I, kamu tidak pernah beranjak dari ranking II, alhamdulillah. Kelas IV semester II, seorang ustdzah pernah bercerita kalau kamu mulai sering menjadi bahan pembicaraan teman-teman perempuanmu. Sampai-sampai guru ngaji umi yang juga mengajar di sekolahmu, mengungkapkan keheranannya kepada umi.  
 “Perasaan Haqi tuh gak ganteng-ganteng amat, tapi kenapa akhwat-akhwat kecil itu pada ngomongin Haqi melulu ya…”

Ha…ha… umi cuma tertawa mendengar itu. Pun ketika walasmu bilang, bahwa kamu tak segan membantu guru dan temanmu. Padahal kalau di rumah, hadehhh…. ^_^

Kelas V kamu sudah mulai berubah. Nilaimu tak lagi secemerlang dulu lagi. Meski masih di bilangan 10 besar.  Tak apa, buat umi tak menjadi masalah. Yang menjadi pemikiran umi justru perubahan akhlakmu. Mungkin karena kamu sudah besar  ya Mas. Jadi umi sering terkaget-kaget ketika melihatmu berbicara dengan teman-temanmu. Terlebih ketika pembinamu di sebuah lembaga pendidikan luar sekolah bercerita ke umi.

“Maulvi itu jiwa leadershipnya kuat, BU.” Seperti halnya abimu, umi pun tersenyum, tapi agak was-was.

“ Perlu dipupuk dan diarahkan,” lanjut lelaki paruh baya itu..

“Maksud bapak bagaimana?” tanya Umi  deg-degan.

“Pada saat pelajaran di mulai, kalau Maulvi bilang ayo keluar, maka semua teman sekelasnya akan ikut dia semua,” tuturnya sambil tertawa. Sementara umi tersenyum kecut.  Tapi untunglah tidak ada kenakalan lain yang kamu buat ketika umi menanyakan kepada beliau. Berterimakasih kepada beliau yang dengan sabar mau memahamimu.


Kamu sekarang



Saat ini kamu sudah semakin besar sayang. Tahun ini usiamu sudah masuk angka 13 seperti tanggal lahirmu. Maaf jika tak ada kado spesial dari umi dan abi. Lagi-lagi hanya doa yang bisa umi dan abi berikan agar hidupmu selalu dalam bimbingan dan perlindungan-Nya. Agar hidupmu selamat dunia dan akhirat.

Kamu sekarang bukan anak SD lagi sayang. Saat ini kamu sudah tercatat sebagai santri di Pesantren Terpadu Al-Kahfi. Bersyukur kepada Allah, karena tidak semua anak seusiamu mendapat kesempatan yang sama. Tak apa umi dan abi harus bersakit-sakit dan mengabaikan keinginan pribadi kami demi membiayai sekolahmu. Tak apa. Karena lagi-lagi kami ingin memberikan yang terbaik untukmu, meski pada awalnya kamu mungkin sulit untuk mengerti.
Kamu sekarang bukan lagi anak-anak yang dosanya ada dalam tanggunan kami orang tuamu. Karena kamu sudah baligh, sayang.  Beberapa sms dan chat yang menunjukkan bahwa kamu mulai tertarik dengan lawan jenis membuat umi tersadar bahwa kamu memang sudah besar. Umi bisa memaklumi meskipun umi tidak ingin kamu terlibat hubungan yang lebih jauh.  Umi yakin kamu tahu hukum dari setiap perbuatan yang kamu lakukan. Dan umi akan dengan sabar menunggumu berproses menjadi pribadi yang sholeh seperti harapan umi dan abi. Karena umi yakin, dengan kesabaran dan doa kami, kamu mampu menjadi anak sholeh yang bisa kami banggakan di dunia dan di hadapan Allah nantinya. Amiin

Anak umi, Maulvi Izhharulhaq Almanfaluthi, terimalah kado kecil ini dari umi yang selalu mencintaimu.


Wahidin, 17 Mei 2013
Insya Allah besok sore kita bertemu, boy