“Hufh, bikin galau aja,” gerutu teman seperjalananku sore itu. Aku tersenyum maklum. Ini adalah kali pertama ia naik krl bersubsidi. Awalnya ia memang enggan, tapi setelah tidak ada kabar yang pasti dari si Commuter Line, ditambah rayuanku agar ia bergabung bersamaku saja, akhirnya perempuan yang hampir dua tahun ditinggal suaminya ini naik juga. Misinya sama denganku, cepat sampai rumah meski harus bersauna di dalamnya. Maklum, krl ini memang tidak ber-AC, cukup mengandalkan angin yang menelusup lewat jendela dan pintu yang terbuka. Itu pun dengan catatan kalau penumpang tidak berjejal dan kita berdiri di barisan paling depan, pas di depan jendela. Namanya juga krl murmer alias murah meriah. Cukup mengeluarkan dua ribu rupiah saja, penumpang diantar sampai Stasiun Bogor.
Kembali pada teman seperjalananku, sebut saja namanya Ella. Hampir sepanjang perjalanan ia tampak gelisah. Usut punya usut, bukan berjubelnya penumpang yang membuat ia menggerutu galau. Bukan juga karena baju yang mulai basah oleh keringat karena angin yang sepertinya enggan menyapa kami yang sudah berdiri persis di depan jendela yang terbuka. Ternyata, dua pasang muda mudi yang sedang asyik masyuk di depan kamilah yang membuatnya galau. Muda mudi yang sepertinya sedang terkena virus merah jambu, tak hirau dengan apa yang terjadi di sekitar mereka. Muda mudi yang dari percakapan mereka bisa kusimpulkan bahwa mereka belum menikah. Ah, di mana orang tua mereka? Apa yang di rasa ibu si gadis jika melihat anak perawannya berlaku dan rela diperlakukan sedemikian? Semoga Allah melindungi calon gadis dan perjakaku dari perbuatan yang sedemikian. Naudzubillahi min dzalika.
Kawan, berbicara tentang virus merah jambu, setiap kita pasti pernah mengalaminya. Berbicara tentang virus merah jambu, pasti tidak lepas dari masalah cinta, rindu, dan hasrat memiliki. Adakah yang salah dengan virus yang satu ini? Tidak ada yang salah, karena ini adalah anugerah. Lalu apa yang membuat Ella risih? Barangkali karena virus ini dimiliki oleh mereka yang semestinya belum atau tidak berhak memiliki. Pun barangkali juga karena mereka terlalu lebay dalam mengekspresikan merah jambu yang mereka rasa di moda transportasi masal ini.
Kawan, cinta adalah anugrah terindah yang diberikan Allah kepada setiap hambaNya. Dari rasa cinta, muncul rasa rindu. Dan dari rasa rindu, muncul keinginan untuk tidak berpisah. Karena itu ekspresi akhir dari rasa cinta biasanya adalah rasa ingin memiliki. Karena itulah Allah telah memberikan jalan keluar bagi setiap hambanya untuk mewujudkan rasa ingin memiliki itu melalui jalan menikah. Tidak ada jalan lain.
Lalu bagaimana dengan ungkapan bahwa cinta tidak harus memiliki? Aha, ungkapan ini mengingatkanku pada masa-masa belasan tahun yang lampau. Saat rasa yang kita punya kepada seseorang ternyata tidak bertemu dengan takdir yang sudah Allah tulis di lauh mahfudz. Singkatnya, kita mencintai seseorang yang tidak berjodoh dengan kita. Bolehkah?
Kawan, ketika kita memaknai cinta kita kepada makhluk adalah dalam rangka kecintaan kita kepada Allah, insya Allah kita sepakat bahwa ungkapan di atas tidak akan pernah ada dalam kehidupan kita. Bagaimana mungkin kita memendam cinta kepada mereka yang tidak ditakdirkan menjadi milik kita, sementara kita sendiri sudah menjadi milik orang lain? Kalaupun kita pernah menaruh hati kepada seseorang, maka cukupkan rasa itu sampai pada masa di mana kita sudah terikat perjanjian agung bersama orang yang mendampingi kita. Apa pun alasannya, pasangan kita adalah orang yang paling layak dan paling berhak untuk mendapatkan cinta kita, selama kita memang masih ingin bersamanya.
Kawan, ada pilu ketika melihat kenyataan bahwa virus merah jambu ternyata bukan hanya milik muda-mudi di atas krl ekonomi tadi. Ya, virus merah jambu tidak hanya menjadi milik mereka yang satu sama lain memang belum menikah, tetapi ia sudah pula merasuki mereka yang sudah terikat pernikahan dengan pasangan masing-masing. Dan yang lebih menyedihkan, virus merah jambu tidak hanya menyerang mereka yang tidak tahu hukum yang mereka lakukan dalam agama, tetapi kini ia sudah pula meracuni mereka yang sangat faham bagaimana hukumnya dalam agama.
Kawan, ada gelisah ketika sebagian dari mereka yang faham agama (mudah-mudahan hanya sebagian kecil) justru terjerumus dalam hal semacam ini. Adakah kemajuan teknologi telah membuang sebagian dari rasa malu yang mereka punya, sehingga tak ada lagi rasa jengah ketika mereka berkomunikasi di dunia maya, dengan frekuensi yang sering, dan hanya berdua? Tak ingatkah mereka pada masa-masa lajang yang mereka lalui dengan menjaga hijab sedemikian rupa. Dengan mempersingkat keperluan jika ada yang perlu dibicarakan.
Ataukah itu semua karena mereka telah bersuami atau beristri? sehingga tak ada lagi yang perlu dijaga? Bukankah dengan bersuami atau beristri justru semakin berat konsekuensi yang harus kita tanggung? Bahkan hukuman bagi pezina yang sudah berkeluarga dua kali lebih berat dari pezina yang masih lajang. Bukankah ini semestinya membuat kita semakin ketat menjaga hijab. Lalu mengapa yang dilakukan justru sebaliknya.
Aneh rasanya ketika melihat mereka yang di dunia nyata sedemikian rapat menutup aurat, menundukkan pandangan, tapi di dunia maya berubah sedemikian rupa. Haha hihi, cekakak cekikik, curhat ini, curhat itu. Hingga pada akhirnya mereka tak mampu keluar dari jerat iblis yang menebar virus merah jambu. Dan yang lebih miris, alih-alih segera bertobat kepada Allah, sebagian dari mereka justru menikmati rasa itu meski mereka tahu ada tembok besar yang menghalangi. Lebih miris lagi, sebagiannya berharap perjumpaan (perjodohan) di surga. Aih....teganya. Berharap berkumpul di surga dengan orang yang bukan istri/suaminya, lalu di mana letak suami/istrinya dan anak-anaknya di hatinya? Bukankah cita-cita terbesar bagi mereka yang sudah berkeluarga adalah berkumpul bersama pasangan hidup dan anak-anaknya di surga kelak? Jika harapannya adalah berkumpul bersama orang lain, mengapa tidak disudahi saja kebersamaan dengan pasangan hidupnya saat ini.
Kawan, aku teringat pada amanah Allah di surat At tahrim:6. “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.....”
Kawan, bagaimana kita hendak menjaga keluarga dari api neraka jika menjaga diri sendiri saja belumlah sanggup? Mampukah seorang suami menjaga istri dan anak-anaknya dari api neraka jika ia sendiri sibuk berasyik masyuk dengan pasangan orang lain? Begitupun dengan seorang istri, sanggupkah ia menjadi istri yang layak dijaga dari api neraka jika menjaga hati dan cintanya agar bisa ia persembahkan hanya untuk suaminya saja ia tak mampu?
Kawan, sungguh, aku tak ingin dan tak rela, jika virus merah jambu ini menimpa siapa saja yang tidak layak mengidapnya. Tidak kepadaku, pun tidak kepadamu. Jikalau ia sempat menghampiri, mari bermohon kepada Ia yang menguasai semua hati, agar Ia berkenan untuk segera mengenyahkannya jika rasa itu muncul kepada mereka yang tidak berhak kita cintai. Jikalau ia sempat menghampiri, mari bermohon agar Ia berkenan mengabadikan merah jambu itu di hati kita dan pasangan kita, tidak untuk selainnya. Biarkan merah jambu itu milik mereka, yang telah diikatNya dalam sebuah perjanjian yang maha agung. Ya, biarkan merah jambu itu milik mereka.