Sabtu, 04 April 2020

Praktis Vs Ekonomis - sebuah cerita perjalanan

Ini hari kedua saya memulai sebuah petualangan baru dengan pekerjaan dan tempat kerja yang baru. Kata orang bijak, selalu ada yang pertama bukan?

Pertama agak bingung karena lokasi kerja yg sekarang lebih jauh dari sebelumnya. Harus merancang ulang jadwal keberangkatan kalau tidak mau terlambat😊. Repot? Hmm...tergantung dari sisi mana kita memandang si ya. Alhamdulillah sejak awal saya sudah mempersiapkan mental hehe, bahwa setiap perubahan pasti akan diikuti dengan perubahan yang lainnya juga. Sebab diam dan kekeuh tidak mau berubah dalam sebuah perubahan rasanya konyol.

Baiklah sebelum memulai petualangan baru saya sudah mencoba bertanya kepada beberapa orang bagaimana cara tercepat dan ter-enak yg bisa mengantarkan saya ke tujuan. Ada banyak jalan menuju Roma bukan? Pun demikian dengan ini, ada banyak jalan menuju PKN STAN, Bintaro. Tetapi dari semua alternatif yang ada, pilihannya ternyata mengerucut pada 2 hal. Mau praktis atau ekonomis huhu😘

Seorang teman abinya yg sdh menjadi dosen tetap dan masih mukim di Depok menunjukkan kepada saya bagaimana cara tercepat menuju JurangMangu. Di antaranya dengan naik krl menuju stasiun Tanjung Barat, untuk selanjutnya nyambung naik taksi dari sana menuju kampus. Ini yg saya sebut cara praktis tapi mungkin kurang ekonomis karena butuh merogoh kocek yg tidak sedikit untuk itu hehe.

Cara kedua mengikuti jalur si roda besi aja. Dari Citayam menuju Tanah abang, setelahnya nyambung kereta lagi menuju Stasiun Pondok Ranji. Ini yg saya sebut ekonomis, sebab ga butuh banyak mengeluarkan ongkos untuk itu😅. E tapiii, cara ini sama sekali nggak praktis sebab saya harus keliling sepanjang jalur kereta dan memakan waktu kurang lebih 2 jam untuk itu.

Jadi? Pada akhirnya, semua memang ada plus dan minusnya. Mau cepet tapi mahal atau mau irit tapi luama. Dan rasanya saya tidak akan ekstrim memilih satu diantara keduanya. Rasa rasanya lebih asik kalau di combine saja.
Tergantung kebutuhan saja, ada kalanya asik juga memilih alternatif pertama. Nah kalau lagi pengen irit atau menghindari kemacetan kota, ya pilih alternatif kedua hehe. Meski, saya pernah mendengar ungkapan ini, " Orang "kaya" merelakan uangnya demi menghemat waktunya, sementara orang "miskin" merelakan waktunya demi menghemat uangnya."
Kesimpulannya?😁

***Dua Puluh Empat Tahun yang Lalu

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih

Waktu itu, saya ada dalam posisi mereka, sebagai cami alias calon mahasiswi Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Pagi tadi, di depan mereka, saya mencoba berempati atas apa yg mereka rasakan. Campur aduk pasti. Apalagi yg berasal dari luar jakarta. Kudu setrong mentalnya.

Tidak hanya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, teman baru, atau membiasakan diri jauh dari keluarga. Tapi ada hal penting lainnya yg harus mereka hadapi dengan optimisme dan usaha yg keras, yaitu ancaman DO jika mereka tidak mencapai IP minimal yg dipersyaratkan.

Maka dalam sebuah perkenalan singkat, saya menyampaikan kepada mereka untuk meluruskan niat, menguatkan tekad, dan memperbesar usaha agar apa yg mereka cita citakan tercapai.

Ah, melihat mereka serasa melihat anak saya. Maka sebagaimana ibu mereka, saya pun berdoa, semoga mereka semua bisa menyelesaikan study dengan baik. Bismillah ya anak-anak, calon-calon ahli keuangan negara, masuk bersama, keluar bersama. Aamiin

Tentang Nafkah



Pagi selepas subuh, lelaki yg pertama saya kenal di awal tahun 1999 itu menghampiri saya seraya menyodorkan sebuah amplop. Dia bilang, " Abi mau kasih ini. Rasanya sudah lama sekali abi nggak ngasih duit ke ummi."
Saya tak hanya tersenyum, melainkan tertawa. Kata Kinan yang pagi tadi tiduran di samping saya, "Asik, buat beli pizza".😄😄😄

Saya yakin dia tidak lupa bahwa setiap awal bulan salah satu agenda rutinnya adalah mentransfer sejumlah uang ke rekening saya sebagai bentuk tanggung jawabnya memberi nafkah bulanan. Dan karena sdh diberi nafkah bulanan itu lah saya hampir tidak pernah meminta untuk dibelikan ini atau itu. Sebisa bisanya saya belajar untuk merasa cukup dan ridho dengan pemberiannya.

Kawan, tentang nafkah, barangkali tak semua mempunyai pemahaman yang sama. Suatu hari seorang teman pernah bercerita bahwa ia tidak pernah diberi uang bulanan oleh suaminya. Alasannya? Karena ia bekerja dan sudah mempunyai penghasilan sendiri. Bahkan sebagian dari gajinya malah terpakai untuk keperluan rumah tangga. Sudah kesepakatan katanya.

Hmm.... saya jadi teringat apa yang Allah sampaikan tentang kewajiban suami untuk menafkahi istrinya:
"Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf." (Al Baqoroh: 233)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Artinya menjadi kewajiban bagi bapak si anak untuk menafkahi dan memberi pakaian kepada ibu-ibu yang menyusui dengan cara yang baik-baik. Maksudnya sesuai dengan kebiasaan yang berlaku untuk wanita seperti mereka di negeri mereka. Tanpa berlebihan atau terlalu sedikit menurut kemampuan si bapak: kaya, sedang, atu kurang mampu.

Dari sini si saya belajar, bahwa kewajiban memberi nafkah ada pada laki-laki. Tidak ada kewajiban perempuan untuk turut menanggung kebutuhan rumah tangganya. Ada pun jika perempuan memberikan hartanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya, maka itu sifatnya sukarela. Bukan kewajiban. Terus sebagai perempuan yang menerima nafkah, kita sebaiknya memang belajar untuk menerima seberapapun nafkah yang diberikan suami. Sebab Allah tidak membebankan kepada suami untuk memberi nafkah di luar batas kesanggupannya.

Terus? Saya tak hendak membandingkan apa yg saya alami dengan apa yang teman saya alami ya. Alhamdulillah pemahaman saya dan suami tentang nafkah sama. Sejak menikah, suami hampir tidak pernah bertanya gaji saya berapa. Dulu, seluruh penghasilannya bahkan dipercayakan kepada saya. Enam tahun terakhir ini saja saya memintanya untuk memberi saya sebagiannya saja. Pengeluaran bulanan bagaimana? Kami tetap berbagi, ada pengeluaran yg ia bayar, ada yang saya bayar dari uang bulanan yang ia beri. Alhamdulillah saya merasa ini cara yang paling ideal hehe. Saya jadi merasa digaji 2 kali tiap tanggal 1. Dari suami dan dari kantor😄😄😄.

Pernah nanya nggak take home pay suami berapa? Rasanya beberapa tahun ini saya jarang bertanya. Paling sesekali kami saling berkabar sisa uang yang kami punya. Suami punya tabungan berapa, saya punya tabungan berapa. Dan, pada akhirnya kami sepakat, bahwa tabungan yang kami punya adalah milik kami bersama, milik saya, suami, dan anak-anak.

Balik lagi tentang nafkah. Tiap rumah tangga mungkin punya cara berbeda. Tapi satu hal yang harus sama menurut saya adalah pemahaman tentang kewajiban memberi nafkah. Bahwa kewajiban memberi nafkah itu ada pada suami. Bukan sebaliknya. Cmiw😊

Sabtu, 12 Oktober 2019

5 Trik Jitu untuk Memaksimalkan Maskara

5 Trik Jitu untuk Memaksimalkan Maskara:
Haiiii teman-teman. Ada yang bingung bagaimana cara memakai maskara kayak aku? hehe. Belajar bareng yuk gimana si tip dan trik memaksimalkan maskara yang kita punya. Kononkatanya, helaian bulu mata yang tampak optimal akan mempercantik tampilan kita dengan segera serta memberi efek dramatis. Naahhh.... buat teman teman yang  butuh cara praktis untuk memaksimalkan maskara, cukup ikuti trik berikut. Kali ini, dijamin tak perlu memakai bulu mata palsu! Klik linknya yaaak. Selamat belajar.... :)
https://id.oriflame.com/beautyedit/how-to/five-tricks-to-upgrade-your-mascara-game?code=573332&store=tokonyakinan

Selasa, 28 Agustus 2018

Hijab antara Langit dan Bumi

"Doa seorang hamba selalu akan terkabul, selama ia tidak berdoa untuk sebuah dosa, memutuskan tali silaturahmi, dan tidak tergesa-gesa" (H.R Muslim dari Abu Hurairah)

Terkadang, kita merasa telah memanjatkan banyak doa kepada Allah. Tak hanya meminta, bahkan kita juga telah berdoa pada waktu, tempat, dan momentum yang tepat sesuai dengan ajaran Rosulullah SAW tentang doa. Akan tetapi, apa yang kita minta, belum juga dikabulkan oleh Allah SWT. Padahal, bukankah Allah sendiri yang mengatakan, berdoalah kepadaKu, maka Aku akan kabulkan doamu? Jadi, apa yang salah?

Kawan, ketika kita berada dalam situasi tersebut, alih-alih menggugat Allah, maka bersegera untuk menengok diri kita sendiri adalah pilihan terbaik. Ada apa dengan diri kita? Berusahalah untuk menemukan apakah gerangan yang menjadi hijab yang menghalangi, sehingga doa kita tidak sampai ke langit.

Dosa. Ya, barangkali ada dosa yang kita lakukan sehingga dosa itulah yang kemudian menjadi sebab tidak dikabulkannya doa kita. Beberapa di antara dosa itu bisa jadi berasal dari pakaian yang kita pakai atau makanan dan minuman yang kita konsumsi. Ustadz Anis Matta dalam buku kecilnya "Setiap saat bersama Allah" mengutip apa yang Rosulullah sampaikan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.

"Tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut masai, wajahnya berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit, sambil berseru, 'Ya, Tuhan, ya Tuhan.....' tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, bagaimana mungkin doanya akan terkabul?" (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Selanjutnya dalam buku yang sama Anis Matta mengatakan bahwa dosa memang harus dibalas dengan hukuman, dan hukuman dari dosa adalah penolakan.

Jadi begitu ya, saat kita terus berdoa, tapi belum juga terlihat tanda-tanda doa kita dikabulkan oleh Allah, boleh jadi salah satu penyebabnya adalah karena ada hijab yang menghalangi antara doa kita dengan Allah. Dan salah satu hijab itu boleh jadi adalah dosa-dosa kita sendiri.
Wallahu a'lam.

Maroji': Setiap Saat Bersama Allah by Anis Matta, Penerbit Al-I'tishom,

Selasa, 29 November 2016

BULAN REDUP

 Jarum jam terus beranjak meninggalkan detik. Kepakan si Jago yang disusul kokok lantangnya menggantikan suara jengkerik dan katak yang sebelumnya asyik bersimphoni, menandakan subuh mulai menjelang. Di antara sunyi, ada sepasang mata yang sedetik pun tak mampu terpejam. Sesekali terdengar helaan nafas panjang, berat..

“Ass. Boleh diganggu nggak? Kalau boleh saya mau telepon. Minta nomor telepon kantor dong. Kalau sudah nggak sibuk, kasih tahu ya, jam berapa bisa diganggu, Terimakasih.”

Sebuah sms dari seseorang yang sangat ia kenal, untuk yang kesekian kalinya mampir di inbox ponsel Bima, suaminya. Ya, sejak pemilik wajah bulat telur itu menemukan kembali sosok yang pernah begitu dekat dengannya melalui sebuah buku yang ia baca. Luapan kegembiraan membuat hobi lamanya menjahili orang kumat, ia ekspresikan kebahagiannya dengan menyapa sahabat yang turut membidani pernikahannya itu melalui ponsel suaminya. Sengaja, biar penasaran.
Tapi siapa yang menyangka jika pada akhirnya apa yang dulu digagasnya justru membuatnya resah akhir-akhir ini. Padahal awalnya ia terkekeh-kekeh ketika Bima menceritakan betapa sahabat yang kini menjadi seorang penulis ternama itu begitu penasaran dengan sms yang ia kirim (bekerja sama dengan Bima tentunya).

“Ass. Hari ini di harian Sindanglaya ada info buku menarik...bla...bla...Kalau ada waktu mampir ya.” 

Lagi, masih dari sosok yang sama, di hari yang sama pula. Ada sesak yang kembali menghimpit dadanya. Bagaimana mungkin seorang Alia, penulis muda produktif yang punya seabrek kegiatan dengan sangat “murah” melewatkan waktunya hanya untuk mengirim beberapa sms dalam sehari dengan isi pesan yang....ah tidak masuk di akal Kinanti. Alia gitu lho, aktivis dakwah kampus mau berhalo-halo dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Atau karena sekarang dia sudah menjadi seorang penulis popular sehingga dia merasa sah-sah saja menyapa Bima yang kebetulan menjadi salah satu pengagum tulisannya? Dengan melupakan apa yang pernah ia nasihatkan dulu kepada penghuni kos untuk senantiasa menjaga jarak dengan siapa pun yang bukan mahram?
Seandainya saat ini permainan belum selesai, mungkin Kinanti akan kembali terbahak-bahak membaca sederet sms yang isinya lebih mirip curhat Alia kepada suaminya. Tapi, bukankah permainan yang digagasnya telah usai beberapa minggu yang lalu ketika Bima memutuskan untuk membuka identitasnya sehingga akhirnya Alia pun tahu bahwa yang selama ini menjadi mistery guest dalam hari-harinya adalah suami Kinanti, sahabat lamanya. Waktu itu ia terbahak dan meminta Kinanti untuk mentraktrirnya atas permainan yang hampir saja membuat hatinya biru.
“Dek, sudah bangun? Kok nggak bangunin Mas?” suara Bima memutus lamunannya. “Jam berapa sekarang? Masih ada waktu untuk lail kan?” Kinanti diam memandang sosok suaminya yang beranjak ke kamar mandi. Ah. Ada kemarahan yang tiba-tiba menyeruak di dalam hatinya. Ya, kemarahan atas sikap diam suaminya, atas ketidak terusterangan lelaki berperawakan tinggi kurus itu bahwa ternyata ia masih saling berkirim sms  bahkan bertelepon dengan sahabatnya, Alia, setelah semua permainan dianggapnya selesai. Kenapa? Tidakkah dia bisa mengatakan “Maaf Alia, sebaiknya kamu telepon saja ke rumah, pasti Kinanti akan lebih senang, dan kamu bisa tanyakan perkembangan anak-anak kami kepadanya bla....bla...bla...” Atau setidaknya dia juga bisa mengatakan, “Maaf Alia, sebaiknya kamu tidak kirim sms lagi ke saya. Kalau kamu ingin berkirim kabar, kamu bisa hubungi Kinanti di rumah atau kamu bisa sms dia di nomor xxxxx....Bagaimanapun kita bukan mahram, kurang ahsan. Saya tidak ingin menyakiti perasaannya.”
Sebuah penolakan yang bagus dan cukup beralasan bukan? Dan ia rasa Alia akan mengerti karena Alia bukanlah sembarang gadis. Kinanti tahu betul bagaimana komitmen ke-Islaman sahabatnya. Selama kurang lebih tiga tahun mereka berdua berkutat dengan dakwah kampus dengan beragam permasalahannya. Tapi kenapa Bima tidak melakukan itu, tidak enak hati, atau...hei, apakah diam-diam dia menikmatinya? Argh...kemarahan semakin menyelimuti Kinanti. Dibekapnya bantal menutup dua telinganya demi menghindari panggilan suaminya yang mengajaknya sholat malam.
“Lho kok malah tidur lagi. Bangun dong sayang, bentar lagi adzan tuh. Nggak mau jadi tamu pertamanya Allah?” Huh, sayang....gombal, batin Kinanti sebel dan bergeming.
“Dek, ayo tho. Sudah adzan itu lho. Ada apa sih, kamu sakit?” kali ini Bima merenggut bantal yang menutup wajah istrinya. Dipegangnya dahi wanita yang telah dinikahinya jelang enam tahun itu lembut. Satu hal yang biasa ia lakukan sebenarnya, tapi kali ini sikapnya membuat Kinanti jengah dan memutuskan untuk bangkit. Tanpa banyak kata wanita itu membentuk huruf ”M” dari tiga jarinya sekadar memberitahu suaminya bahwa ia sedang haid.
“Oh... lagi cuti tho. Yo wis bobok lagi kalau gitu.” Masih dengan senyum Bima beranjak meninggalkan Kinanti dengan gondok di hati.
‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’
Langit mendung tak menyisakan awan.
Semendung hati yang terus bertanya.
Bila asa kan menjelma?
(Alia, sore ditengah asa yang meredup)

Hmh... Kinanti menghempas ponsel suaminya gemas. Puisi (atau curhat?) dari Alia entah untuk yang keberapa kalinya. Yang pasti sejak ia mendapati sms sahabatnya bertebaran di inbox Bima, wanita itu selalu mencuri-curi waktu untuk membaca ponsel suaminya. Dan yang membuat hatinya berdarah-darah, tiada hari tanpa kiriman sms Alia di sana plus reply dari belahan jiwanya.
Biarkan mendung menutup awan
Karena ia hanya sekedar turuti kehendak-Nya
Pasti kan ada pelangi sepeninggalnya
Agar insan tak senantiasa berduka
(Sabar ya ukhti, tak ada alasan meredupkan asa, karena Dia Maha Pengabul segala doa)

“Huek....sempurna sekali kedengarannya, Islami but nggilani,” batin Kinanti sebal. Tiba-tiba ia seperti tak mengenali sahabat yang sudah seperti saudara kandungnya sendiri. Sahabat yang selalu menemani hari-harinya dulu, bersama-sama jatuh bangun membenahi keimanan yang seringkali porak poranda. Sahabat yang wajahnya selalu menghiasi benaknya saat wirid robithoh.Ya Robbi mengapa rasa sayang itu kini berubah menjadi benci yang amat sangat? Tidakkah rasa cinta dan benci hendaknya ditempatkan pada timbangan keimanan kepada-Mu? Mungkin tidak pada tempatnya hamba membencinya Ya, Robb. Tapi setidaknya tidak bolehkah hamba cemburu?
Kinanti tersungkur dalam tangis. Segala rasa yang coba ia pendam tumpah sudah. Ini pekan kedua ia memendam semua rasa yang berkecamuk di hatinya, sendiri, tanpa sedikitpun Bima tahu gundah yang melanda dirinya. Malam melarut, sunyi, tanpa iringan serangga malam yang biasanya berkonser bersama komunitasnya. Tak ada niat Kinanti untuk mengakhiri sujud panjangnya. Tertumpah tangis dan kesah yang selama ini menyesak dadanya dan membuat hari-harinya tak lagi seindah purnama. Ya Robb, rengkuh hamba yang  ringkih ini, berikan jalan keluar yang terbaik bagi kami, pintanya sungguh.
Jam dinding berdentang tepat tiga kali ketika ponsel Bima berbunyi. Kinanti tergeragap dari munajatnya. Diraihnya ponsel keluaran Korea di sampingnya, 1 message received, gumamnya. Pelan jarinya menekan keypad.
Al-Muzzammil 1-3
Bangun Saudaraku waktunya menyapa Allah lewat lail.
(Alia before munajat)
Duh Gusti, sabar, batin Kinanti ngenes. Tapi kali ini wajahnya tidak lagi bersungut seperti hari-hari ketika ia membaca sms Alia sebelumnya. Munajat panjang yang baru saja dilaluinya, telah   membawanya pada sebuah kesadaran bahwa ia harus menyelesaikan masalah ini segera, dengan lapang dada. Tidak dengan amarah Kin, karena amarah adalah hembusan setan, bisiknya pada dirinya sendiri. Perlahan ia bangunkan Bima yang memang tengah berselimut.
“Mas, ada sms masuk, nih. Bangun,” sapanya selembut mungkin. Ia sadari dua pekan ini mukanya tak enak dipandang bila bertatap dengan Bima. Belum lagi sikap acuh tak acuhnya yang membuat kening suaminya berkerut heran. Hari ini Kinanti bertekad untuk mengakhiri semuanya. Setidaknya dia ingin penjelasan Bima. Sekali lagi digoyangnya bahu Bima yang bergeming.
“Dari siapa?” tanyanya sambil mengucak mata.
“Dari Alia,” jawab Kinanti tertahan.Ya, Robb, please....jangan biarkan air mata ini mendulu jatuh.
“Oh...eh... ada apa dia sms jam tiga malam begini,”
“Membangunkan mas supaya sholat lail.”
“Oh...” Menit berikutnya Bima beranjak meninggalkan istrinya. Ada perasaan tidak enak diam-diam menyusupi hatinya.
“Mas tidak ingin membalasnya?” seru Kinanti begitu melihat bapak kedua anaknya itu ngeloyor ke kamar mandi. “Boleh Kinan yang membalasnya?” tanyanya begitu tidak ada jawaban dari Bima.
“Jawab aja, Dek. Terima kasih sudah dibangunin,” kali ini Bima setengah berteriak dari kamar mandi. Saat yang tepat, batin Kinanti.
“Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membangunkan Mas Bima, Alia.
Tapi tidakkah kau ingin membangunkan aku pula, agar aku pun bisa menyapa Allah lewat lail bersama suamiku tercinta?Ini nomor hpku, Non. Sori, mas Bima lagi nggak punya pulsa, jadi dia nyuruh aku yang balas.”
Kinanti memandang sederet tulisan di layar sebelum memutuskan untuk mengirimkannya kepada Alia. Dia hanya ingin tahu apakah sahabatnya itu sudah benar-benar mati rasa atau memang benar-benar lupa bahwa sahabatnya adalah Kinan, bukan Bima.
“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””
masih ada tepi pantai
yang tergores indah di pasirnya
suatu kata tentang cinta
antara nyala hatiku dengannya

namun sapuan ombak sore
selalu bergegas untuk menghapusnya
hingga tak ada sedikitpun tersisa
menjadi serpihan mimpi penghias malam

sungguh tak tahukah engkau?
sedang aku masih terduduk di sini
memandang cakrawala di ufuk barat
dengan percikan air laut yang meratap
di ujung jemari kakiku
dengan tangan yang menggenggam takdir adanya ia

tersadar engkau masih di sana
bersama sekelebat warna yang lain
atau memang kau belum temukan pula
hati penuh rajah cinta yang terlahir
hanya untukmu?
*)

Gerimis turun satu-satu, mengganti mendung yang sedari pagi menggantung. Sepasang mata luka menerawang di sudut jendela. Sesekali jemari lentiknya menghampiri kelopak yang belakangan sering tergenang. Ada bermacam rasa menyesak hatinya saat ini, mencoret moret bening angan yang telah dibangunnya dari tahun ke tahun tentang sebuah bahtera. Dan wanita itu masih mematung di sudut jendela, tak hirau dengan petir yang mulai saling menyapa, dengan angin yang terus menampar-nampar wajah ayunya. Ia tak tahu lagi apa yang mesti diperbuat atas bahteranya.
Jawaban atas 1001 pertanyaan yang mengganggu syaraf berpikirnya belakangan ini terjawab sudah. Sebuah kenyataan yang tidak pernah ia sangka terhampar tiba-tiba tanpa mampu dihindarinya. Ya, sebuah pengakuan dari sahabatnya bahwa ia memendam hasrat terhadap Bima, suaminya. Kinanti limbung. Hatinya tak henti bertanya, mengapa?
“Maaf  kalau ini ternyata menyakiti perasaanmu, Dek. Tidak ada niatan apa pun pada awalnya. Mas hanya ingin menemaninya bertukar kata, mencoba membuka matanya bahwa ia tak harus bersedih dengan kesendiriannya sampai saat ini, dengan kegagalan demi kegagalan yang menghampirinya menuju penyempurnaan setengah din.” Bima menarik nafas berat. Nuraninya menghentak, ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. Pada awalnya memang tidak ada niatan apa pun selain sekadar menghormati teman kental istrinya. Tapi siapa yang menyangka jika akhirnya timbul perasan lain di hatinya. Perasaan ingin melindungi yang membuahkan rasa. Ya, sebuah rasa yang dulu hanya menjadi milik Kinanti, istrinya. Sebenarnya ia hanya tengah menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan gejolak hatinya. Tapi setiap melihat tulus pengabdian Kinan, lidahnya menjadi kelu untuk berkata-kata.
“Pada awalnya…., bagaimana dengan akhirnya?” mata Kinanti lurus menerobos malam. Sedikit pun tak ada keinginan untuk melihat bagaimana ekspresi Bima ketika menutur kata. Rasanya dia mulai tahu muara dari semua. Hati kecilnya bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang dipendam Bima, lelaki yang pernah memintanya untuk menggenapkan separuh jiwanya.
“Mas mencintainya?” lagi-lagi pertanyaan Kinan menohok rasa hati Bima yang paling dalam. Bagaimana pun ia paham ketegaran istrinya, tapi mendengar cinta di hati suaminya telah terbagi dengan sahabatnya sendiri, masihkah ia mampu tegar? Bima menghela nafas, sejurus kemudian dihembusnya kuat-kuat. Ya, Robb sungguh aku tak ingin membuat noda di bening matanya, tapi terus menyembunyikan gejolak yang terpendam, tidakkah justru menjurus kepada zina? batinnya perih.
“Jika adek ikhlas……..,” kalimat Bima menggantung. “Ya Robb ampuni hamba atas terlukanya sepotong hati,” batinnya.
“………Mas ingin membawanya ke dalam bahtera kita, menyandingkannya di sampingmu, di antara buah hati kita,” lanjut Bima berat.. Memang ada yang tersakiti, tapi setidaknya dia tidak ingin terus mengotori hatinya dengan bayangan Alia yang belum halal untuknya. Bagaimanapun ia ingin semuanya tetap di dalam jalur yang di ridhoi-Nya walaupun mungkin terlambat.
“Prang…” pecah sudah cermin bernama cinta di hati Kinanti. Sesak yang tak terbendung memaksa bening di matanya turun disusul lainnya, tanpa suara. Ketegaran yang telah dibangunnya ternyata runtuh juga. Bukan karena keinginan Bima untuk menjadikan Alia madunya, karena sejak awal menikah ia memang sudah mempersiapkan dirinya untuk berbagi dengan wanita lain. Tapi kenyataan bahwa ada cinta antara Bima dan Alia tanpa sepengetahuannya, itu yang mencabik perasaannya. Dan rasanya luka yang ditinggalkan tak mampu lagi membuatnya bertahan dalam bahtera.
“Saya ikhlas, Mas,” jawab Kinan setelah sesaat hening. Bima terperangah. Diburunya tubuh mungil Kinan dan menjatuhkannya dalam pelukan. Matanya basah, sungguh di antara luka, Kinan masih menomorsatukan dirinya.
“Tidak ada hak saya untuk menghalangi niat Mas, karena Allah memang membolehkan. Tapi………..,” Kinan terdiam sejenak, mencoba mengumpulkan kekuatan hatinya yang tersisa. Bagaimanapun ia harus memutuskan.
“Izinkan saya untuk pergi dari bahtera kita,” lanjutnya lirih. Sontak Bima melepas pelukannya. Kepalanya menggeleng lemah. Tidak mungkin ia menjalankan bahteranya tanpa Kinanti.
“Adek tidak ikhlas,” ucap Bima dalam. Batinnya kembali bergejolak.
“Saya ikhlas Mas. Tetapi saya juga tidak mau membohongi diri sendiri bahwa luka di hati saya terlalu dalam untuk bertahan di bahtera itu. Seandainya Mas mengungkapkan keinginan untuk menikahi Alia sejak awal, tanpa menebar hasrat secara diam-diam di belakang saya, mungkin saya akan lapang dada bahkan bahagia bersanding dengan sahabat saya sendiri. Tapi...apa yang terjadi membuat saya merasa tertikam, oleh orang-orang yang selama ini saya sayangi.”
“Tidakkah adek bisa memaafkan kami?” Bima menghiba.
“Jika Allah saja memberi ampunan, kenapa saya tidak? Tapi maaf, Mas. Jangan paksa saya untuk bertahan karena luka ini telah melenyapkan sebagian besar rasa hormat saya kepada Mas. Dan bagaimana mungkin saya mampu memberikan yang terbaik untuk bahtera ini jika hati saya untuk Mas perlahan beku. Tolong, Mas, jangan biarkan saya menjadi istri durhaka.”
“Bagaimana dengan anak-anak? Apakah kamu tidak memikirkan perasaan mereka?” Bima masih mencoba meraih celah iba di hati istrinya.
“Apakah Mas juga memikirkan perasaan mereka ketika Mas membagi bunga kepada penghuni lain di luar taman kita? Apakah Mas juga menyiapkan jawab atas sejumlah tanya kenapa tiba-tiba ‘Tante Al’ menjadi bagian dari mereka?” Hmh, Kinanti mendengus kesal namun bergegas beristighfar. Bagaimanapun ia sudah bertekad untuk mengakhiri pengabdiannya tidak dengan amarah agar ia masih tetap bisa merasai manisnya bahtera yang pernah dikemudikannya.
Sementara Bima tergugu. Tak terbayang di benaknya bagaimana ia akan melewati hari-harinya tanpa gelak Kinan dan anak-anaknya, tanpa rengkuhan lembut yang siap menyambutnya berbagi keresahan. Teringat olehnya kata-kata Kinan di awal mengayuh biduk,”Kalau Mas mau menikah lagi bilang ya. Biar jangan sampai zina hati. Kinan bahagia bisa menjadi istri pertama Mas. Tapi ingat, Kinan tidak pernah bercita-cita menjadi istri satu-satunya meskipun itu sebenarnya membuat Kinan lebih berbahagia,” ungkapnya diselingi tawa. Sebegitu baiknya, tapi apa yang yang telah dilakukannya? Oh tidak, betapa kini ia menyadari kebodohannya telah menyakiti hati bening pelipur laranya. Dan hei, ada ragu yang tiba-tiba menggantung di hatinya, mampukah kehadiran Alia menggantikan semuanya.....
 “Maafkan saya, Kin. Beri saya kesempatan untuk menebus segala kekhilafan dan memulai semuanya dari awal, membangun bahtera kita berdua, tanpa Alia. Please........” pinta Bima tiba-tiba. Tapi Kinan bergeming.
“Tidak mas, luka itu sudah terlanjur menganga. Tebuslah kekhilafan dengan menikahi Alia. Bantu dia menggenapkan setengah din-nya seperti niat Mas semula. Dan beri saya kesempatan untuk menyembuhkan luka yang tidak akan saya biarkan terus mendera, karena ada dua Bima yang akan selalu memberikan cintanya kepada saya.  Maafkan Kinan, Mas.”
Malam melarut. Bulan redup menjadi saksi menerbangnya separuh hati dua manusia yang terluka. Kinanti meraih tangan Bima, menciumnya dengan sisa cinta yang dimilikinya. Bila ia akan melakukan hal yang sama? tak ada yang bisa menjawab karena wanita itu telah meyakini bahwa esok Bima bukan lagi miliknya.

Juli 2005 dengan sedikit revisi
----hanya sebuah coretan-----

*)Rajah Cinta by Riza.A

Tak bisa berduaaaaa