Selalu ada yang berbeda setiap aku menginjakkan kaki di kota Lumpia ini. Meski hampir tiap tahun pulang, selalu saja ada rasa yang lain di setiap waktunya. Baru memasuki gerbang kotanya saja rasanya sudah seperti melihat sosok ibu yang membentang kedua tangannya lebar-lebar demi menyambut kami pulang. Rasanya "Nyess"...adem..., meski kondisi yang ada justru mungkin sebaliknya. Siapa yang tak kenal dengan teriknya kota Semarang, he...he.... Namun seberapa pun panasnya, bagiku Semarang tetaplah "sejuk" (maksa.com, wkkk..kkk). "Kesejukan" yang tak dimengerti orang inilah yang membuatku selalu ingin pulang, pulang, dan pulang. Tak hirau komentar beberapa teman yang mengatakan, "Semarang panas dan banjir gitu kok dikangeni." Wes, pokoknya ben banjir, ben panas, tetep ia membuatku rindu. Kerinduan yang pada akhirnya mematri ingin dalam hatiku untuk menjadikannya sebagai home base pada suatu saat nanti.
Mengenang Semarang sudah pasti tak lepas dari mengenang masa lalu. Sebagai orang yang lahir dan besar di Kota Semarang, aku memang menabung banyak peristiwa di sana. Hampir tidak ada yang bisa kulupakan (kecuali hal-hal yang memang harus kulupakan ya.... :).
Masa Putih Merah
Kebetulan pada kepulangan kali ini aku bertemu dengan salah seorang teman SD-ku, langsung deh, tuingg....ingatanku melayang pada masa di mana aku berseragam putih-merah dengan rambut kepang satu di kepalaku he...Banyak kenangan yang berloncatan di memoriku, semuanya berebut ingin keluar. Tapi tak akan kutuliskan semua di sini, karena pasti akan membutuhkan berlembar-lembar halaman untuk menuangkannya. Barangkali satu hal yang tak mungkin ku lupa adalah saat aku harus berpura-pura pamit untuk belajar kelompok dengan teman-teman kecilku, padahal akhirnya justru sepeda kami kayuh ke arah pantai Tanjung Masuntuk bermain air dan pasir di sana. Hi...hi...mudah-mudahan kenakalan ini tidak ditiru anak-anakku ya....
Enam tahun di Sekolah Dasar memang bukan waktu yang sebentar untuk melupakan yang pernah terjadi. Semua menyenangkan, tidak ada beban, semua terasa ringan. Hari hari hanya terisi dengan bermain dan belajar (di sekolah maksudnya ya...belajar di rumah sih kalau ada PR dan mau ulangan saja he...) Rasanya satu-satunya bebanku saat SD hanyalah bertemu dengan satu guru yang pernah memukul kakiku dengan tiang bendera kecil yang menjadi pajangan di mejanya. Tahu kenapa? hanya sebab sebelah kakiku keluar dari bangku (inget bangku sekolah zaman dulu? gabung antara meja dengan bangku panjang. Biasanya di SD Negri, bangku seperti ini dihuni oleh 3 orang siswa siswi). Alhamdulillah, apa pun yang sudah beliau lakukan, tak ada dendam di hatiku, paling hanya berusaha menghindar supaya tidak berjumpa saja dengan dia he...he...Cara ini tanpa kusadari terbawa hingga aku dewasa, Menghindar sementara dari orang yang membuatku tak nyaman.
Keluarga Super Besar
Alhamdulillah, aku dibesarkan dalam keluarga yang Super Besar. Kenapa Super Besar? Karena bagiku, Keluarga Besar saja tidak cukup untuk menggambarkan banyaknya anggota keluarga yang ada di sekelilingku. Aku terbiasa hidup tidak hanya sekedar dengan keluarga inti yang terdiri dari ayah-ibu-anak saja. Tapi sejak aku kecil, ada banyak saudara yang tinggal bersama kami. Jadi tinggal di dalam satu rumah dengan banyak kepala sudah biasa kurasakan. Ada plus minus tentunya. Satu sisi, aku tidak pernah merasa takut di rumahku sendiri (gimana mau takut, wong buanyak orang di rumah), sisi yang lain hampir bisa dibilang tak ada yang namanya privacy bagi kami. Berbagi kamar dengan banyak saudara sudah menjadi bagian dari hidup kami. Apapun yang ada di rumah, maka itu akan menjadi konsumsi bersama. Maka jangan ditanya bagaimana ributnya kami mencari sisir ketika jam berangkat sekolah tiba. Terganggu? alhamdulillah tidak. Bersyukur malah, dari kecil orang tua sudah mencontohkan jiwa sosialnya dengan menampung banyak orang di rumah. Berbagi apa yang kami punya dengan saudara-saudara meski bukan sekandung. "Pelajaran" yang tak pernah terucap dari orang tua inilah yang membuatku pada akhirnya tak menjadi pribadi yang melulu memikirkan diri sendiri. Belajar berbagi.
Di antara sekian banyak orang yang datang dan pergi dari rumah kami, ada beberapa orang yang membekaskan ingatanku kepadanya. Kenapa? karena aku meyakini bahwa apa yang kucapai hari ini sedikit banyak karena andil doa-doa mereka. Meski mungkin doa itu terucap dalam kondisi yang tak semestinya dan tak disadari.
Adalah mbahku, orang yang mendampingi hari-hariku ketika kecil. Bagaimana keseharianku, beliaulah yang lebih tahu daripada kedua orangtuaku yang sibuk dengan perniagaannya (hayah, bahasanya hi,,,). Dus, beliau juga yang pada akhirnya sering mengelus dada melihat polah tingkahku masa itu. Tak hanya itu, dari melek mata hingga mataku terpejam lagi, ada saja hal-hal yang membuat mbahku ini "bernyanyi" Mungkin beda generasi ya, jadi hal-hal yang menurutku biasa, bagi mbahku itu tidak lazim. Apa pun adanya beliau, aku mencintainya, sebagaimana beliau juga mencintaiku insya' Allah. Satu hal yang membuatnya marah adalah jika aku menumpuk pakaian kotor dan tidak segera mencucinya (sedari kelas 4 SD aku dibiasakan mencuci dan menyetrika baju sendiri). Kalau sudah begitu, beliau pasti akan langsung bilang, "Oalah nduk...piye kuwi mengko nek wes omah-omah. Wes mugo-mugo mengko rewangmu loro." ( Oalah nduk, bagaimana itu nanti kalau sudah rumah tangga. Mudah-mudahan nanti pembantumu dua) Jangan membayangkan beliau mengucapkan itu sambil tersenyum apatah lagi sambil mengelus-elus rambutku. Tidak, beliau ucapkan itu sambil marah, he...he... Jauh hari kemudian ketika aku berumah tangga dan beliau sudah mendahuluiku menghadapNya (semoga Allah menyayanginya sebagaimana beliau menyayangiku dengan caranya), aku baru tersadar. Ternyata Allah ijabah doa beliau. Aku ditakdirkan menghire dua orang asisten untuk menangani urusan anak dan rumah tangga. Subhanallah, doa yang awalnya mungkin tak pernah kuamini karena terucap dengan nada dan wajah tak enak, ternyata justru dijawab oleh Allah.
Ada lagi kakak perempuan ibuku. Kami memanggilnya Wak Mun. Berbeda dengan mbahku, wanita ini lebih lembut. Dia seringkali melihatku dengan wajah cerah. Memarahiku seingatku hampir tak pernah. Kalaupun hendak mengingatkanku tentang pekerjaan yang lalai kukerjakan, biasanya ia lakukan sambil berbisik. Ketika Allah takdirkan aku belajar di kampus gratisan milik pemerintah, beliaulah yang rajin membuatkan orek tempe kering setiap aku pulang kampung dan hendak kembali ke Jurang Mangu. Suatu saat dia melepas kepulanganku dengan tatapan yang lama. Dia bilang,"Ati-ati, ojo kakean ngguyu, mengko ndak ono sing salah tompo. Sinau tenanan, mengko nek wes sukses, aku dijak nginep, ndelok omahmu sek tingkat," (Hati-hati, jangan kebanyakan tertawa, nanti takut ada yang salah terima. Belajar yang bener, nanti kalau sudah sukses, ajak saya bermalam, lihat rumahmu yang tingkat)
Bertahun terlewati. Hampir tak ingat dengan apa pun yang pernah dibicarakan perempuan yang telah berpulang itu. Kebutuhan kamar lebih di atas lahan yang tak terlalu luas memang membuatku pada akhirnya memutuskan untuk menambah lantai. Pada saat itulah aku teringat Wak Mun dan ucapannya yang dulu tak terasa seperti doa. Padahal waktu itu hampir tak ada dalam bayanganku bisa mempunyai rumah dengan mudah.
Dua peristiwa di atas pada akhirnya membawaku pada satu kesimpulan bahwa apa yang terjadi pada diri kita boleh jadi akibat doa yang terlantun dari lisan orang-orang di sekitar kita. Bahwa kita tidak tidak pernah mengerti pada doa yang mana Allah akan memberikan jawaban dan mengabulkannya. Maka sejak saat itu aku berusaha untuk tidak membuat orang di sekitarku merasa terdzolimi sehingga keluar dari lisannya ucapan yang buruk atas diri dan kehidupanku. Beruntung pada saat mbah marah, yang muncul adalah doa untuk kebaikanku. Tak bisa kubayangkan jika pada saat itu yang muncul adalah ucapan yang buruk. Naudzubillah.
Pun saat ini aku jadi lebih bisa menghargai setiap doa yang terlantun untukku, dari siapapun. Dulu, ketika ada pengemis yang mendoakan sesaat setelah aku bersedekah untuknya, aku seringkali abai dan mengecilkannya tanpa sadar. Begitupun ketika adek, kakak, saudara mendoakan keberkahan atas hidupku, seringkali aku hanya terkekeh kekeh dan menganggapnya tak lebih dari sekedar basa basi (semoga Allah ampunkan aku atas hal ini). Aku waktu itu lupa bahwa bisa jadi doa yang mereka ucapkanlah yang lebih mampu menggetarkan arsy-Nya daripada doaku sendiri, sehingga takdirku berubah lantaran doa mereka yang tak pernah kuanggap.
"Matur nuwun, semoga rizkimu bertambah berlipet-lipet, berkah hidupmu, anakmu sholih dan sholihah,....." sederet doa meluncur dari lisan adek perempuanku sesaat setelah dua lembar kertas lima puluh ribuan berpindah dari dompetku ke tangannya. Dan aku mengaminkannya dengan khidmat di tengah hingar bingar pesta pernikahan keponakanku di Semarang hari ahad itu. Berharap dari lisannyalah Arsy Allah bergetar dan Ia berkenan mengubah takdirku menjadi baik sebagaimana doa adikku. Karena sekali lagi aku tidak tahu pada doa yang mana Ia berkenan menjawab dan mengijabah.
Wahidin, 24 Juni 2013
Tiga minggu setelah kepulanganku ke kampung halaman. Alhamdulillah, selalu ada hikmah yang bisa dibawa pulang setelahnya.
Mengenang Semarang sudah pasti tak lepas dari mengenang masa lalu. Sebagai orang yang lahir dan besar di Kota Semarang, aku memang menabung banyak peristiwa di sana. Hampir tidak ada yang bisa kulupakan (kecuali hal-hal yang memang harus kulupakan ya.... :).
Masa Putih Merah
Kebetulan pada kepulangan kali ini aku bertemu dengan salah seorang teman SD-ku, langsung deh, tuingg....ingatanku melayang pada masa di mana aku berseragam putih-merah dengan rambut kepang satu di kepalaku he...Banyak kenangan yang berloncatan di memoriku, semuanya berebut ingin keluar. Tapi tak akan kutuliskan semua di sini, karena pasti akan membutuhkan berlembar-lembar halaman untuk menuangkannya. Barangkali satu hal yang tak mungkin ku lupa adalah saat aku harus berpura-pura pamit untuk belajar kelompok dengan teman-teman kecilku, padahal akhirnya justru sepeda kami kayuh ke arah pantai Tanjung Masuntuk bermain air dan pasir di sana. Hi...hi...mudah-mudahan kenakalan ini tidak ditiru anak-anakku ya....
Enam tahun di Sekolah Dasar memang bukan waktu yang sebentar untuk melupakan yang pernah terjadi. Semua menyenangkan, tidak ada beban, semua terasa ringan. Hari hari hanya terisi dengan bermain dan belajar (di sekolah maksudnya ya...belajar di rumah sih kalau ada PR dan mau ulangan saja he...) Rasanya satu-satunya bebanku saat SD hanyalah bertemu dengan satu guru yang pernah memukul kakiku dengan tiang bendera kecil yang menjadi pajangan di mejanya. Tahu kenapa? hanya sebab sebelah kakiku keluar dari bangku (inget bangku sekolah zaman dulu? gabung antara meja dengan bangku panjang. Biasanya di SD Negri, bangku seperti ini dihuni oleh 3 orang siswa siswi). Alhamdulillah, apa pun yang sudah beliau lakukan, tak ada dendam di hatiku, paling hanya berusaha menghindar supaya tidak berjumpa saja dengan dia he...he...Cara ini tanpa kusadari terbawa hingga aku dewasa, Menghindar sementara dari orang yang membuatku tak nyaman.
Keluarga Super Besar
Alhamdulillah, aku dibesarkan dalam keluarga yang Super Besar. Kenapa Super Besar? Karena bagiku, Keluarga Besar saja tidak cukup untuk menggambarkan banyaknya anggota keluarga yang ada di sekelilingku. Aku terbiasa hidup tidak hanya sekedar dengan keluarga inti yang terdiri dari ayah-ibu-anak saja. Tapi sejak aku kecil, ada banyak saudara yang tinggal bersama kami. Jadi tinggal di dalam satu rumah dengan banyak kepala sudah biasa kurasakan. Ada plus minus tentunya. Satu sisi, aku tidak pernah merasa takut di rumahku sendiri (gimana mau takut, wong buanyak orang di rumah), sisi yang lain hampir bisa dibilang tak ada yang namanya privacy bagi kami. Berbagi kamar dengan banyak saudara sudah menjadi bagian dari hidup kami. Apapun yang ada di rumah, maka itu akan menjadi konsumsi bersama. Maka jangan ditanya bagaimana ributnya kami mencari sisir ketika jam berangkat sekolah tiba. Terganggu? alhamdulillah tidak. Bersyukur malah, dari kecil orang tua sudah mencontohkan jiwa sosialnya dengan menampung banyak orang di rumah. Berbagi apa yang kami punya dengan saudara-saudara meski bukan sekandung. "Pelajaran" yang tak pernah terucap dari orang tua inilah yang membuatku pada akhirnya tak menjadi pribadi yang melulu memikirkan diri sendiri. Belajar berbagi.
Di antara sekian banyak orang yang datang dan pergi dari rumah kami, ada beberapa orang yang membekaskan ingatanku kepadanya. Kenapa? karena aku meyakini bahwa apa yang kucapai hari ini sedikit banyak karena andil doa-doa mereka. Meski mungkin doa itu terucap dalam kondisi yang tak semestinya dan tak disadari.
Adalah mbahku, orang yang mendampingi hari-hariku ketika kecil. Bagaimana keseharianku, beliaulah yang lebih tahu daripada kedua orangtuaku yang sibuk dengan perniagaannya (hayah, bahasanya hi,,,). Dus, beliau juga yang pada akhirnya sering mengelus dada melihat polah tingkahku masa itu. Tak hanya itu, dari melek mata hingga mataku terpejam lagi, ada saja hal-hal yang membuat mbahku ini "bernyanyi" Mungkin beda generasi ya, jadi hal-hal yang menurutku biasa, bagi mbahku itu tidak lazim. Apa pun adanya beliau, aku mencintainya, sebagaimana beliau juga mencintaiku insya' Allah. Satu hal yang membuatnya marah adalah jika aku menumpuk pakaian kotor dan tidak segera mencucinya (sedari kelas 4 SD aku dibiasakan mencuci dan menyetrika baju sendiri). Kalau sudah begitu, beliau pasti akan langsung bilang, "Oalah nduk...piye kuwi mengko nek wes omah-omah. Wes mugo-mugo mengko rewangmu loro." ( Oalah nduk, bagaimana itu nanti kalau sudah rumah tangga. Mudah-mudahan nanti pembantumu dua) Jangan membayangkan beliau mengucapkan itu sambil tersenyum apatah lagi sambil mengelus-elus rambutku. Tidak, beliau ucapkan itu sambil marah, he...he... Jauh hari kemudian ketika aku berumah tangga dan beliau sudah mendahuluiku menghadapNya (semoga Allah menyayanginya sebagaimana beliau menyayangiku dengan caranya), aku baru tersadar. Ternyata Allah ijabah doa beliau. Aku ditakdirkan menghire dua orang asisten untuk menangani urusan anak dan rumah tangga. Subhanallah, doa yang awalnya mungkin tak pernah kuamini karena terucap dengan nada dan wajah tak enak, ternyata justru dijawab oleh Allah.
Ada lagi kakak perempuan ibuku. Kami memanggilnya Wak Mun. Berbeda dengan mbahku, wanita ini lebih lembut. Dia seringkali melihatku dengan wajah cerah. Memarahiku seingatku hampir tak pernah. Kalaupun hendak mengingatkanku tentang pekerjaan yang lalai kukerjakan, biasanya ia lakukan sambil berbisik. Ketika Allah takdirkan aku belajar di kampus gratisan milik pemerintah, beliaulah yang rajin membuatkan orek tempe kering setiap aku pulang kampung dan hendak kembali ke Jurang Mangu. Suatu saat dia melepas kepulanganku dengan tatapan yang lama. Dia bilang,"Ati-ati, ojo kakean ngguyu, mengko ndak ono sing salah tompo. Sinau tenanan, mengko nek wes sukses, aku dijak nginep, ndelok omahmu sek tingkat," (Hati-hati, jangan kebanyakan tertawa, nanti takut ada yang salah terima. Belajar yang bener, nanti kalau sudah sukses, ajak saya bermalam, lihat rumahmu yang tingkat)
Bertahun terlewati. Hampir tak ingat dengan apa pun yang pernah dibicarakan perempuan yang telah berpulang itu. Kebutuhan kamar lebih di atas lahan yang tak terlalu luas memang membuatku pada akhirnya memutuskan untuk menambah lantai. Pada saat itulah aku teringat Wak Mun dan ucapannya yang dulu tak terasa seperti doa. Padahal waktu itu hampir tak ada dalam bayanganku bisa mempunyai rumah dengan mudah.
Dua peristiwa di atas pada akhirnya membawaku pada satu kesimpulan bahwa apa yang terjadi pada diri kita boleh jadi akibat doa yang terlantun dari lisan orang-orang di sekitar kita. Bahwa kita tidak tidak pernah mengerti pada doa yang mana Allah akan memberikan jawaban dan mengabulkannya. Maka sejak saat itu aku berusaha untuk tidak membuat orang di sekitarku merasa terdzolimi sehingga keluar dari lisannya ucapan yang buruk atas diri dan kehidupanku. Beruntung pada saat mbah marah, yang muncul adalah doa untuk kebaikanku. Tak bisa kubayangkan jika pada saat itu yang muncul adalah ucapan yang buruk. Naudzubillah.
Pun saat ini aku jadi lebih bisa menghargai setiap doa yang terlantun untukku, dari siapapun. Dulu, ketika ada pengemis yang mendoakan sesaat setelah aku bersedekah untuknya, aku seringkali abai dan mengecilkannya tanpa sadar. Begitupun ketika adek, kakak, saudara mendoakan keberkahan atas hidupku, seringkali aku hanya terkekeh kekeh dan menganggapnya tak lebih dari sekedar basa basi (semoga Allah ampunkan aku atas hal ini). Aku waktu itu lupa bahwa bisa jadi doa yang mereka ucapkanlah yang lebih mampu menggetarkan arsy-Nya daripada doaku sendiri, sehingga takdirku berubah lantaran doa mereka yang tak pernah kuanggap.
"Matur nuwun, semoga rizkimu bertambah berlipet-lipet, berkah hidupmu, anakmu sholih dan sholihah,....." sederet doa meluncur dari lisan adek perempuanku sesaat setelah dua lembar kertas lima puluh ribuan berpindah dari dompetku ke tangannya. Dan aku mengaminkannya dengan khidmat di tengah hingar bingar pesta pernikahan keponakanku di Semarang hari ahad itu. Berharap dari lisannyalah Arsy Allah bergetar dan Ia berkenan mengubah takdirku menjadi baik sebagaimana doa adikku. Karena sekali lagi aku tidak tahu pada doa yang mana Ia berkenan menjawab dan mengijabah.
Wahidin, 24 Juni 2013
Tiga minggu setelah kepulanganku ke kampung halaman. Alhamdulillah, selalu ada hikmah yang bisa dibawa pulang setelahnya.