Senin, 11 Agustus 2014

Bahagia itu sederhana

Moment Idul Fitri selalu memberikan bahagia. Bukan hanya karena Allah janjikan kemenangan kepada hamba beriman-Nya yang telah melaksanakan shoum dan ibadah lainnya di Bulan Romadhon. Tapi lebih dari itu, sebagai manusia, ada kebahagiaan lain yang mengisi hari-hari kami di awal bulan Syawal itu. Apalagi kalau bukan kebersamaan. Ya, kebersamaan

Tak ada yang lebih bernilai dari kebersamaan bagi kami yang terpisah jarak di hari-hari lain. Maka, akhir Romadhon hingga awal Syawal bagi kami  adalah hari hari indah yang Allah hadiahkan untuk kami sekeluarga. Duduk satu meja menjelang berbuka di penghujung Romadhon, mudik, bersilaturahim dengan keluarga besar kami di Semarang maupun Indramayu, hingga kembali ke rumah menghabiskan sisa liburan yang kami punya. Sungguh karunia Allah yang tak boleh tidak kami syukuri. 

Kemarin, Ahad, 10 Agustus 2014, kami harus mengakhiri kebersamaan itu. Satu persatu harus kembali ke medan tugas. Diawali oleh abu Kinan di siang hari, bersiap menuju kota Naga u menunaikan tugas negara di sana. Sore hari, menjelang petang, harus kurelakan dua remajaku kembali ke tempatnya menuntut ilmu di sebuah pesantren di perbatasan Bogor Sukabumi. Alhamdulillah masih ada si bungsu Kinan yang menemani. Kembali sepi, tapi hidup harus terus berjalan, karena kami meyakini ini tak lama. Berpisah sementara untuk masa depan yang lebih baik insya Allah


Sehari menjelang keberangkatan abi dan anak-anak ke medan juang masing-masing

Merajut bahagia di sore yang tak lama-Masjid Al-Ihsan, Cibinong

Momen Idul Fitri selalu menyisakan cerita. Tentang bahagia bernama bersama. Meski kali ini tak lama, terselip asa semoga kebersamaan kami abadi hingga di akhirat kelak. Di sebaik baik tempat yang Allah sediakan untuk hamba-hamba yang dicintaiNya. Ya, bersama di dalam surga-Nya, di mana kami tak akan lagi terpisah untuk selamanya. Aamiin.



Bahagia kami yang sederhana, semoga Allah segera kumpulkan kami selamanya