“Pantang menyerah meskipun nilai kecil. Terus berusaha qhaqhak…..”
Jlebb….tulisan itu
membuatku diam sesaat. Ada panas memenuhi rongga dada seketika. Segera kugamit
mas Daun untuk turut melihatnya. Berdua kami saling menatap dan sama-sama tersenyum, haru.
Tulisan yang tak
panjang itu kutemukan di balik lemari pakaian mas Haqi, sulung kami yang saat
ini sedang mencoba mandiri di sebuah pesantren terpadu di daerah Lido. Kami
yang sedianya ingin membicarakan masalah akademisnya yang sedikit memprihatinkan,
urung melakukannya.
Dari apa yang ia
tulis, tak tega rasanya kalau aku harus membebaninya dengan pertanyaan mengapa
nilainya begini dan begitu. Dari apa yang ia tulis, cukup rasanya bagiku dan
suami mengetahui, bahwa sulungku sadar dengan kondisi dirinya, bahwa ia tahu
harus ada yang ia lakukan untuk memperbaikinya, bahwa ia terus berusaha menyemangati
dirinya sendiri, agar lebih baik ke depannya.
Berawal dari sms
wali kelas di Jumat siang, aku dan suami sepakat untuk segera meluncur ke
ponpes mas Haqi, sesegera mungkin yang kami bisa. Tujuan kami satu,
berkonsultasi dengan dua orang ustadz yang bertanggung jawab atas anak kami,
yaitu wali kelas dan wali asrama. Mencoba mencari tahu perkembangan sulungku
berikut mencari jalan keluar atas permasalahan yang dihadapinya, baik masalah
akademis maupun kepesantrenan.
Sedianya Sabtu
pagi kami niatkan berangkat ke pesantren itu. Tapi beberapa amanah yang
dibebankan kepadaku di hari itu, membuatku
harus merayu Mas Daun agar bersedia menjadwal ulang agenda berkunjung ke pesantren. Satu sisi, aku tidak ingin ia menganggapku menomorduakan
anaknya dibanding dengan kegiatan rutinku
di hari Sabtu. Tapi di sisi lain, aku juga tidak ingin mengecewakan beberapa ibu muda
yang sudah menyisihkan waktunya di akhir pekan untuk mengkaji ilmu-ilmu Allah bersamaku.
Alhamdulillah, setelah berbagai strategi kubuat, abinya Haqi setuju kami
berangkat ba’da Ashar, setelah semua kegiatan rutinku di hari itu selesai.
Kami memberinya
nama Maulvi Izhharulhaq Almanfaluthi. Sabtu kemarin, 13 april 2013, tepat 13
tahun ia menghirup udara bumi. Kami sekeluarga memanggilnya Haqi, yang berarti
kebenaran. Berharap ia menjadi anak yang selalu cenderung kepada kebenaran,
menyukai kebenaran, dan mampu menjelaskan kebenaran di manapun dia berada. Ini
adalah tahun pertama ia berpisah dari kami, orangtuanya. Seumur hidupnya tak
pernah sekalipun ia pergi dan bermalam hingga berhari-hari tanpa kami. Itulah
sebabnya saat awal di pesantren menjadi sesuatu yang tidak mudah baginya. Tidak
mudah juga bagiku sebetulnya, tapi demi keinginan menjadikannya sebagai anak
yang sholeh, kepedihan itu kami tahan.
Kami memberinya
nama Maulvi Izhharulhaq Almanfaluthi. Teman-teman sekolahnya acapkali
memanggilnya Maulvi atau Maul. Parasnya plek banget wajah abinya. Kata orang Jawa, anak laki-laki yang mirip
bapaknya membawa dampak kurang bagus dalam hidupnya. Selain nggak hoki, mereka
meyakini bahwa anak dan bapak akan sering cek cok alias tidak akur. Percaya? Enggak
mau. Kami berusahan untuk tidak percaya dengan keyakinan itu, meski kadang
abinya lebih terlihat pro ke Yahya Ayyasy yang wajahnya mirip aku, dan lebih
sering bersitegang dengan Haqi, kami tetap (berusaha) tidak percaya. Karena
kami meyakini, prasangka seorang hamba adalah ketentuan Allah untuknya. Karenanya
kami berprasangka yang baik-baik saja atas kehidupan kami dan anak-anak.
Dibanding dengan
adiknya, Yahya Ayyasy, Haqi memang lebih terlihat laki-laki sedari kecil. Tidak
bisa diam dan selalu ingin tahu hal-hal yang baru. Hal inilah yang seringkali
membuatku sport jantung. Pernah seorang tetangga tergopoh-gopoh mencariku di
masjid di Sabtu pagi, waktu di mana aku sedang bersama ibu-ibu di sekitar rumah
untuk belajar tahsin al-Qur’an. Beliau
mengabarkan bahwa Haqi kejatuhan balok dan saat ini sudah dibawa di praktek
bidan terdekat. Dueng….jantungku serasa lepas. Bergegas kuikuti langkah
tetanggaku menuju bidan dimaksud. Tangisnya pecah begitu melihat aku datang dan
memeluknya. Jilbab kremku pun tak butuh waktu lama untuk berubah menjadi
merah. Kukuatkan hati untuk tetap
memeluknya ketika bu bidan hendak menjahit luka di kepalanya. Tapi rupanya alam
bawah sadarku menolak, pandanganku mendadak gelap mencium anyir darah.
Beruntung tetangga sebelah sigap dan segera menarikku untuk kemudian
mendudukkanku di bangku. Alhamdulillah, segelas teh hangat manis membuatku
berangsur membaik.
Menjadi pendiamkah
Haqi setelah peristiwa itu? Ternyata tidak, esok hari paska kejadian berdarah
itu, tetanggaku setengah berteriak memanggilku.
“Umi……itu Haqi…. Aduhhh..”
Olala, ternyata
sulungku yang saat itu belum genap 5 tahun sudah nangkring di atas tembok
pembatas antara rumahku dengan rumah sebelah. Masih dengan perban yang memperlihatkan
bercak darah di kepalanya.Perlahan kudekati dia, dan membujuknya untuk segera
turun, berusaha sekuat mungkin untuk tidak meneriakinya, semata supaya dia
tidak terkejut dan malah fatal akibatnya. Hufh….that is you, my son :D
Berbeda dengan
adiknya, Haqi juga ekspresif. Apa yang dia rasa, itulah yang dia ungkap.
Mungkin karena sifat inilah yang membuat kami harus ekstra menghela nafas. Ada
saja pertanyaan dan pernyataannya yang membuat lidah kami kelu untuk menjawab.
Seperti pertanyaannya di suatu hari ketika dia mendapatiku pulang ba’da Isya
“Mi, emangnya
kenapa sih umi harus kerja? Memangnya kalau umi nggak kerja, gaji abi nggak
cukup ya Mi?” berondongnya saat itu. Gubrak, sebuah pukulan telak. Aku tak
mampu berkata kata, sementara di sudut sana lelaki berparas sama dengan beda
usia tersenyum penuh kemenangan. Ya, siapa lagi kalau bukan abinya.
Itulah Maulvi
Izhharulhaq Almanfaluthi. Tentu masih banyak cerita tentangnya. Biarlah suatu
saat kutuliskan lagi untuknya. Dua pekan lalu, ketika abinya berkesempatan
pulang ke bogor, kami sempatkan untuk menengoknya. Tak seperti biasanya, ba’da sholat maghrib di masjid
Ponpes Al-Kahfi, Haqi-ku yang sudah 160 cm itu mendekatiku. Dia bercerita
tentang aktivitas terbarunya. Tentang amanah yang didapatnya untuk menjadi
ketua eskul angklung. Tentang amanah menjadi ketua pengawasan bahasa di
asramanya. Tentang rencananya untuk membawa teman-teman angklungnya menjadi
lebih baik. Ah, sore itu kebersamaan kami memang tak lama. Tapi di antara
gerimis yang menyiram bumi Al-Kahfi, aku merasakan bahagia menjadi tempat curahan hatinya. Alhamdulillah, meski kumis tipis sudah mulai
tampak di raut mukanya, aku masih bisa menghuni kamar hatinya. Dan sore ini aku
kembali merindunya.
Wahidin, 27 Nov 2013
menjelang 1/2 6
