Rabu, 27 November 2013

Rindu Untuknya


“Pantang menyerah meskipun nilai kecil. Terus berusaha qhaqhak…..”
Jlebb….tulisan itu membuatku diam sesaat. Ada panas memenuhi rongga dada seketika. Segera kugamit mas Daun untuk turut melihatnya. Berdua kami saling menatap dan  sama-sama tersenyum, haru.
Tulisan yang tak panjang itu kutemukan di balik lemari pakaian mas Haqi, sulung kami yang saat ini sedang mencoba mandiri di sebuah pesantren terpadu di daerah Lido. Kami yang sedianya ingin membicarakan masalah akademisnya yang sedikit memprihatinkan, urung melakukannya.
Dari apa yang ia tulis, tak tega rasanya kalau aku harus membebaninya dengan pertanyaan mengapa nilainya begini dan begitu. Dari apa yang ia tulis, cukup rasanya bagiku dan suami mengetahui, bahwa sulungku sadar dengan kondisi dirinya, bahwa ia tahu harus ada yang ia lakukan untuk memperbaikinya, bahwa ia terus berusaha menyemangati dirinya sendiri, agar lebih baik ke depannya.
Berawal dari sms wali kelas di Jumat siang, aku dan suami sepakat untuk segera meluncur ke ponpes mas Haqi, sesegera mungkin yang kami bisa. Tujuan kami satu, berkonsultasi dengan dua orang ustadz yang bertanggung jawab atas anak kami, yaitu wali kelas dan wali asrama. Mencoba mencari tahu perkembangan sulungku berikut mencari jalan keluar atas permasalahan yang dihadapinya, baik masalah akademis maupun kepesantrenan.
Sedianya Sabtu pagi kami niatkan berangkat ke pesantren itu. Tapi beberapa amanah yang dibebankan kepadaku di hari itu, membuatku  harus merayu Mas Daun agar bersedia menjadwal  ulang agenda berkunjung ke pesantren.  Satu sisi, aku tidak ingin ia menganggapku menomorduakan anaknya dibanding dengan kegiatan rutinku  di hari Sabtu. Tapi di sisi lain, aku juga  tidak ingin mengecewakan beberapa ibu muda yang sudah menyisihkan waktunya di akhir pekan untuk  mengkaji ilmu-ilmu Allah bersamaku. Alhamdulillah, setelah berbagai strategi kubuat, abinya Haqi setuju kami berangkat ba’da Ashar, setelah semua kegiatan rutinku di hari itu selesai.
Kami memberinya nama Maulvi Izhharulhaq Almanfaluthi. Sabtu kemarin, 13 april 2013, tepat 13 tahun ia menghirup udara bumi. Kami sekeluarga memanggilnya Haqi, yang berarti kebenaran. Berharap ia menjadi anak yang selalu cenderung kepada kebenaran, menyukai kebenaran, dan mampu menjelaskan kebenaran di manapun dia berada. Ini adalah tahun pertama ia berpisah dari kami, orangtuanya. Seumur hidupnya tak pernah sekalipun ia pergi dan bermalam hingga berhari-hari tanpa kami. Itulah sebabnya saat awal di pesantren menjadi sesuatu yang tidak mudah baginya. Tidak mudah juga bagiku sebetulnya, tapi demi keinginan menjadikannya sebagai anak yang sholeh, kepedihan itu kami tahan.
Kami memberinya nama Maulvi Izhharulhaq Almanfaluthi. Teman-teman sekolahnya acapkali memanggilnya Maulvi atau Maul. Parasnya plek banget wajah abinya.  Kata orang Jawa, anak laki-laki yang mirip bapaknya membawa dampak kurang bagus dalam hidupnya. Selain nggak hoki, mereka meyakini bahwa anak dan bapak akan sering cek cok alias tidak akur. Percaya? Enggak mau. Kami berusahan untuk tidak percaya dengan keyakinan itu, meski kadang abinya lebih terlihat pro ke Yahya Ayyasy yang wajahnya mirip aku, dan lebih sering bersitegang dengan Haqi, kami tetap (berusaha) tidak percaya. Karena kami meyakini, prasangka seorang hamba adalah ketentuan Allah untuknya. Karenanya kami berprasangka yang baik-baik saja atas kehidupan kami dan anak-anak.
Dibanding dengan adiknya, Yahya Ayyasy, Haqi memang lebih terlihat laki-laki sedari kecil. Tidak bisa diam dan selalu ingin tahu hal-hal yang baru. Hal inilah yang seringkali membuatku sport jantung. Pernah seorang tetangga tergopoh-gopoh mencariku di masjid di Sabtu pagi, waktu di mana aku sedang bersama ibu-ibu di sekitar rumah untuk belajar tahsin al-Qur’an.  Beliau mengabarkan bahwa Haqi kejatuhan balok dan saat ini sudah dibawa di praktek bidan terdekat. Dueng….jantungku serasa lepas. Bergegas kuikuti langkah tetanggaku menuju bidan dimaksud. Tangisnya pecah begitu melihat aku datang dan memeluknya. Jilbab kremku pun tak butuh waktu lama untuk berubah menjadi merah.  Kukuatkan hati untuk tetap memeluknya ketika bu bidan hendak menjahit luka di kepalanya. Tapi rupanya alam bawah sadarku menolak, pandanganku mendadak gelap mencium anyir darah. Beruntung tetangga sebelah sigap dan segera menarikku untuk kemudian mendudukkanku di bangku. Alhamdulillah, segelas teh hangat manis membuatku berangsur membaik.
Menjadi pendiamkah Haqi setelah peristiwa itu? Ternyata tidak, esok hari paska kejadian berdarah itu, tetanggaku setengah berteriak memanggilku.
“Umi……itu Haqi…. Aduhhh..”
Olala, ternyata sulungku yang saat itu belum genap 5 tahun sudah nangkring di atas tembok pembatas antara rumahku dengan rumah sebelah. Masih dengan perban yang memperlihatkan bercak darah di kepalanya.Perlahan kudekati dia, dan membujuknya untuk segera turun, berusaha sekuat mungkin untuk tidak meneriakinya, semata supaya dia tidak terkejut dan malah fatal akibatnya. Hufh….that is you, my son :D
Berbeda dengan adiknya, Haqi juga ekspresif. Apa yang dia rasa, itulah yang dia ungkap. Mungkin karena sifat inilah yang membuat kami harus ekstra menghela nafas. Ada saja pertanyaan dan pernyataannya yang membuat lidah kami kelu untuk menjawab. Seperti pertanyaannya di suatu hari ketika dia mendapatiku pulang ba’da Isya
“Mi, emangnya kenapa sih umi harus kerja? Memangnya kalau umi nggak kerja, gaji abi nggak cukup ya Mi?” berondongnya saat itu. Gubrak, sebuah pukulan telak. Aku tak mampu berkata kata, sementara di sudut sana lelaki berparas sama dengan beda usia tersenyum penuh kemenangan. Ya, siapa lagi kalau bukan abinya.
Itulah Maulvi Izhharulhaq Almanfaluthi. Tentu masih banyak cerita tentangnya. Biarlah suatu saat kutuliskan lagi untuknya. Dua pekan lalu, ketika abinya berkesempatan pulang ke bogor, kami sempatkan untuk menengoknya. Tak seperti  biasanya, ba’da sholat maghrib di masjid Ponpes Al-Kahfi, Haqi-ku yang sudah 160 cm itu mendekatiku. Dia bercerita tentang aktivitas terbarunya. Tentang amanah yang didapatnya untuk menjadi ketua eskul angklung. Tentang amanah menjadi ketua pengawasan bahasa di asramanya. Tentang rencananya untuk membawa teman-teman angklungnya menjadi lebih baik. Ah, sore itu kebersamaan kami memang tak lama. Tapi di antara gerimis yang menyiram bumi Al-Kahfi, aku merasakan bahagia menjadi  tempat curahan hatinya.  Alhamdulillah, meski kumis tipis sudah mulai tampak di raut mukanya, aku masih bisa menghuni kamar hatinya. Dan sore ini aku kembali merindunya.

Wahidin, 27 Nov 2013
 menjelang 1/2 6

Senin, 25 November 2013

Napak Tilas-1


Selalu begitu. Senantiasa terulang. Ingin tak selalu beriringan dengan takdir. Tapi tak apalah, terlambat selalu lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?

Jauh hari sebelum 24 Juli kemarin, banyak rencana bersliweran di kepala. Dari mulai membuat tulisan untuknya, hunting  gadget yang diimpikannya hingga memesan kue dengan beberapa lilin pengganti jumlah usianya yang bertambah. Terbayang malam yang riuh ba’da tarawih ketika kue itu mulai dipotong seiring dengan senyum yang terkembang ketika melihat gadget impian yang tiba-tiba ada di genggamannya. Waaa…..pasti seru. Sayangnya hingga hari itu tiba, tak satupun dari sekian rencana itu yang mewujud. Hanya ada ucapan selamat di pagi ba’da shubuh, masih dengan balutan daster teman tidur dan senyum yang seadanya. Maaf ya abi….
Selau begitu. Senantiasa terulang. Ingin tak selalu berkarib dengan takdir. Tapi tak apalah, terlambat selalu lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?
Tahun ini usianya genap 37 tahun. Itu berarti 14 tahun sudah ia lewatkan usianya bersamaku. Waktu yang tidak sebentar untuk saling mengenal memang. Tapi, 14 tahun bukan pula waktu yang cukup untuk mengatakan “aku telah mengenalmu sepenuhnya”  Karena aku meyakini bahwa manusia akan senantiasa berubah hingga ajal yg akan menghentikan perubahan itu sendiri. Begitupun adanya dengan diriku dan dirinya. Ada saja hal-hal yang membuat kami  harus terus beradaptasi dengan gerak perubahan kami. Kadang hanya diperlukan senyuman , terkadang juga perlu ditambah dengan helaan nafas, pun sesekali perubahannya perlu disikapi dengan “bertapa” sejenak demi menenangkan dan meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.
Ah, mengingat perjalanan hidup kami yang penuh warna membuatku tak bisa tidak membuka lembar demi lembar episode kehidupan yang telah terlewati. Manis, pahit, asam, menangis dan tertawa hanyalah bagian dari coretan warna dalam album kebersamaan kami. Mengutip nasihat seorang teman, semua akan terasa manis pada saatnya ketika kita mampu bersabar di dalamnya.
Bertemu pada akhir 1998, tanpa tatap muka dan bincang kata, di sebuah rumah petak sederhana yang dihuni jiwa-jiwa yang luar biasa. Ya, rumah kontrakan sepasang suami istri yang tidak hanya menyentuh hati kami lewat lisannya agar kami kembali kepada Allah, tapi juga berupaya agar kami bersatu dalam satu ikatan bernama pernikahan.  Ada hati yang bergejolak saat harus memutuskan menerima atau tidak proposalnya, sementara istikhoroh yang dilalui tak jua memberi jawaban selayaknya orang-orang bilang. Tak sekalipun wajahnya muncul dalam mimpi, he…he…
“Sudah, tidak usah berlama lama, terima saja Dek. Jangan membuat Riza patah hati,” sebuah kalimat meluncur dari seseorang yang sangat dicintai oleh orang yang kuhormati. Suami guru ngajiku.  Tak bisa kulihat mimik muka beliau ketika kalimat itu terucap, karena kami terbatasi oleh selembar tirai yang memisahkan ruang tamu mereka yang tak seberapa besar. Sementara sang istri hanya tersenyum. Sebuah tepukan menguatkan mampir di pundakku.
“Insya Allah berkah. Mudahnya proses ke arah pernikahan adalah jawaban dari istikhoroh yang anti lakukan. Tidak usah menunggu wajahnya muncul dalam mimpi,” ungkap perempuan itu. Lagi lagi dengan senyum.
“Bismillah, niatkan karena Allah,” nasihat terakhir  dari Bu Khuri, orang yang selama ini sabar membimbing ku menuju pribadi yang lebih baik itulah yang pada akhirnya membuatku menyatakan persetujuanku.
“Alhamdulillah, perlu lihat wajah aslinya dulu gak nih?” lagi-lagi suami guru ngajiku yang tak lain adalah juga guru ngajinya itu menggoda kami
“Tidak usah, ustadz. Insya Allah sudah mantap,” jawab laki-laki yang belum genap 23 tahun yang akan menjadi suamiku kelak.
Dus, akhirnya serangkaian proses ta’aruf yang sudah kami lewati mengantar kami pada sebuah keputusan besar, bahwa kami akan menikah. Tanpa melihat wajah, tanpa mengenal perilaku. Modal kami hanya satu. Kepercayaan kepada guru ngaji yang kami hormati. Percaya bahwa mereka tidak akan salah memilihkan orang yang tepat untuk kami. Jika Rosulullah mengatakan bahwa wanita dinikahi karena empat hal. Maka asbab yang terbaik yang disarankan Rosulullah dalam memilih pasangan adalah karena agamanya. Dan kami percaya guru ngaji kami sudah mempertimbangkan itu dengan baik. Selain juga karena kami meyakini bahwa dalam ke”tsiqohan” ada keberkahan.

Bismillah, 27 Maret 1999 kami pun menikah.
Bertepatan dengan tanggal  9 Dzulhijah versi kalender pemerintah, tapi tanggal 10 versi pemerintah Arab Saudi karena sehari sebelum menikah ternyata para jamaah haji sudah melakukan wukuf di Arofah, kami menikah di sebuah KUA di sebuah kecamatan di Semarang. Dihadiri beberapa kerabat dan teman-teman dekat dari pihak kami berdua. Tak semua bisa ikut menyaksikan proses sakral itu karena keterbatasan kendaraan yang membawa kami dari rumah menuju KUA. Beberapa teman dekat lainnya terpaksa hanya bisa menunggu di rumah.
Apa yang terkenang pada hari itu? Tentu banyak. Komitmen kami untuk menikah secara sederhana ternyata tak tertanggapi oleh keluarga. Pengennya setelah ijab, tidak perlu ramai-ramai, termasuk acara di pajang pajang segala, malu… he… tapi karena keluarga saya adalah keluarga besar, jadi tanpa rame rame pun rumah tetap terlihat rame. Kebanyakan undangan yang hadir adalah teman-teman dan tetangga kakak, karena memang saya dinikahkan oleh kakak. Selebihnya teman-teman lama di Semarang. Teman di Jurang Mangu? Alhamdulillah yang belum penempatan atau yang penempatannya tidak jauh dari kota Semarang menyempatkan datang. Beberapa yang sangat dekat dengan saya malah memprotes dandanan yang membuat saya berbeda dengan Ria Dewi yang mereka kenal. Adalah Ira Melati dan  Kwatri Sumiyati, dua sahabat dekat saya  inilah yang paling sibuk menghapus lipstick dari bibir saya, tentunya tanpa sepengetahuan tukang rias ya…
Alhamdulillah proses ijab Kabul berjalan dengan lancar. Seperangkat alat sholat dan hafalan surat Al-Muzammil menjadi mahar dalam pernikahan kami. Kenapa maharnya cuma itu? Karena dulu semangatnya adalah mempermudah calon suami, terilhami dengan yang disampaikan Rosulullah bahwa Wanita yang baik adalah yang paling murah maharnya.  Tapi setelah saya belajar agama lebih jauh lagi, saya tidak menyarankan ini untuk diikuti sama akhwat yang lain ya,,,karena ternyata mahar itu sebaiknya yang bernilai uang, maksudnya, jika suatu saat ada kebutuhan mendesak, mahar itu bisa dijual. Jadi menyesal dong dulu tidak minta mahar emas atau uang? Tidak juga sih…Alhamdulillah, kalaupun sekarang saya minta dibelikan emas juga insya Allah dibelikan ya bi…, he..he…Kenapa hafalannya harus Muzammil? Karena kalau Ar-rahman nanti abi ngapalinnya kepanjangan dan kelamaan, hayah….. Jawaban seriusnya sih sebenarnya karena saya ingin mengingatkan diri dan suami bahwa kami bertemu di jalan dakwah, dipertemukan oleh orang-orang yang mencintai dakwah, dan dikelilingi oleh teman-teman yang jatuh bangun di jalan dakwah. Jadi tidak ada alasan bagi kami untuk menjauh dari jalan dakwah setelah kami menikah nanti. Dalam surat Al-Muzammil Allah berikan bekalan yang cukup untuk kami agar tetap bisa bertahan menapaki jalan yang tak mulus ini. Tuh kan, jadi pengen nangis kalau inget komitmen dulu dengan realitas yang kami hadapi sekarang. Betapa memang tak mudah untuk istiqomah.
 Akhirnya, tak ada yang bisa terucap selain syukur yang tak terkira kepada Allah yang sedemikian baiknya memberi kami jodoh di usia muda, kepada orang tua yang langsung mengiyakan begitu saya sodorkan foto dan bio data tanpa bertanya ini itu lagi. Penghargaan dan doa terbaik juga untuk Pak Hasan dan mbak Khuri, yang telah repot memperkenalkan dan berusaha mempersatukan kami, termasuk melayani komplain saya ba’da nikah he… semoga Allah berikan keberkahan hidup pada antum berdua. Kepada mereka yang telah menebar banyak kebaikan demi bersatunya kami dalam sebuah ikatan bernama pernikahan , saya ucapkan  Jazakumullah khoiron jaza.  Adalah Pak Lukman Bisri Hidayat, yang telah bersedia direpotin dari proses ta’aruf hingga menjadi saksi pernikahan kami.  Pak Bin Nahadi, Pak Ujang Sobari, Pak Ramli, Henjang Prasetyawan yang sudah menemani Pak Riza dan menjadi panitia dadakan di hari “H". Kwatri Sumiyati, yang setia mendampingi dari proses ta’aruf sampai hari H, Ira Melati, Dini, mbak Lestari, Maelawati, yang rajin mengkritisi dandanan dan pakaian nikah saya. Adek-adek alumni SMEAN 2 Semarang yang berbaik hati hendak mendekor kamar pengantin dan menyarikan gaun pengantin yang syar’i untuk saya (sayangnya semua sudah dihandle keluarga besar), sahabat terbaik saya Hartyastuti yang datang siang hari dalam kondisi ngos-ngosan setelah nge”bis” dari Pati, he… (Alhamdulillah sekarang sudah enak ya jeng), serta sahabat lainnya yang tidak bisa tersebut namanya satu persatu.  Subhanallah, benar-benar saya merasakan nikmat dan indahnya berjamaah bersama mereka semua.
Kepada abi, semoga ini menjadi pengingat kita, bahwa Allah sudah memberi banyak hal kepada kita. Anak- anak yang sehat, pekerjaan yang layak, rumah dan kendaraan yang nyaman, apa lagi yang hendak kita cari selain bersyukur kepada Allah dengan cara memelihara dan menjaga apa yang sudah diberiNya dengan sekuat tenaga kita. 
numpang foto di rumah kakak, tempat resepsi pernikahan kami
     Bahwa pernikahan tak selamanya mawar,tak lantas menjadi alasan bagi kita untuk keluar dari jalur yang telah digariskanNya. Semoga Allah berikan keberkahan pada pernikahan kita, pernikahan yang tak menimbang rupa, apalagi harta. Semoga Allah jadikan keluarga kita sakinah mawadah wa rohmah, bahagia di dunia dan di surga.

Wahidin, 25 Nov 2013
Jelang sebulan abi di Tapak Tuan