Senin, 25 November 2013

Napak Tilas-1


Selalu begitu. Senantiasa terulang. Ingin tak selalu beriringan dengan takdir. Tapi tak apalah, terlambat selalu lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?

Jauh hari sebelum 24 Juli kemarin, banyak rencana bersliweran di kepala. Dari mulai membuat tulisan untuknya, hunting  gadget yang diimpikannya hingga memesan kue dengan beberapa lilin pengganti jumlah usianya yang bertambah. Terbayang malam yang riuh ba’da tarawih ketika kue itu mulai dipotong seiring dengan senyum yang terkembang ketika melihat gadget impian yang tiba-tiba ada di genggamannya. Waaa…..pasti seru. Sayangnya hingga hari itu tiba, tak satupun dari sekian rencana itu yang mewujud. Hanya ada ucapan selamat di pagi ba’da shubuh, masih dengan balutan daster teman tidur dan senyum yang seadanya. Maaf ya abi….
Selau begitu. Senantiasa terulang. Ingin tak selalu berkarib dengan takdir. Tapi tak apalah, terlambat selalu lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?
Tahun ini usianya genap 37 tahun. Itu berarti 14 tahun sudah ia lewatkan usianya bersamaku. Waktu yang tidak sebentar untuk saling mengenal memang. Tapi, 14 tahun bukan pula waktu yang cukup untuk mengatakan “aku telah mengenalmu sepenuhnya”  Karena aku meyakini bahwa manusia akan senantiasa berubah hingga ajal yg akan menghentikan perubahan itu sendiri. Begitupun adanya dengan diriku dan dirinya. Ada saja hal-hal yang membuat kami  harus terus beradaptasi dengan gerak perubahan kami. Kadang hanya diperlukan senyuman , terkadang juga perlu ditambah dengan helaan nafas, pun sesekali perubahannya perlu disikapi dengan “bertapa” sejenak demi menenangkan dan meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.
Ah, mengingat perjalanan hidup kami yang penuh warna membuatku tak bisa tidak membuka lembar demi lembar episode kehidupan yang telah terlewati. Manis, pahit, asam, menangis dan tertawa hanyalah bagian dari coretan warna dalam album kebersamaan kami. Mengutip nasihat seorang teman, semua akan terasa manis pada saatnya ketika kita mampu bersabar di dalamnya.
Bertemu pada akhir 1998, tanpa tatap muka dan bincang kata, di sebuah rumah petak sederhana yang dihuni jiwa-jiwa yang luar biasa. Ya, rumah kontrakan sepasang suami istri yang tidak hanya menyentuh hati kami lewat lisannya agar kami kembali kepada Allah, tapi juga berupaya agar kami bersatu dalam satu ikatan bernama pernikahan.  Ada hati yang bergejolak saat harus memutuskan menerima atau tidak proposalnya, sementara istikhoroh yang dilalui tak jua memberi jawaban selayaknya orang-orang bilang. Tak sekalipun wajahnya muncul dalam mimpi, he…he…
“Sudah, tidak usah berlama lama, terima saja Dek. Jangan membuat Riza patah hati,” sebuah kalimat meluncur dari seseorang yang sangat dicintai oleh orang yang kuhormati. Suami guru ngajiku.  Tak bisa kulihat mimik muka beliau ketika kalimat itu terucap, karena kami terbatasi oleh selembar tirai yang memisahkan ruang tamu mereka yang tak seberapa besar. Sementara sang istri hanya tersenyum. Sebuah tepukan menguatkan mampir di pundakku.
“Insya Allah berkah. Mudahnya proses ke arah pernikahan adalah jawaban dari istikhoroh yang anti lakukan. Tidak usah menunggu wajahnya muncul dalam mimpi,” ungkap perempuan itu. Lagi lagi dengan senyum.
“Bismillah, niatkan karena Allah,” nasihat terakhir  dari Bu Khuri, orang yang selama ini sabar membimbing ku menuju pribadi yang lebih baik itulah yang pada akhirnya membuatku menyatakan persetujuanku.
“Alhamdulillah, perlu lihat wajah aslinya dulu gak nih?” lagi-lagi suami guru ngajiku yang tak lain adalah juga guru ngajinya itu menggoda kami
“Tidak usah, ustadz. Insya Allah sudah mantap,” jawab laki-laki yang belum genap 23 tahun yang akan menjadi suamiku kelak.
Dus, akhirnya serangkaian proses ta’aruf yang sudah kami lewati mengantar kami pada sebuah keputusan besar, bahwa kami akan menikah. Tanpa melihat wajah, tanpa mengenal perilaku. Modal kami hanya satu. Kepercayaan kepada guru ngaji yang kami hormati. Percaya bahwa mereka tidak akan salah memilihkan orang yang tepat untuk kami. Jika Rosulullah mengatakan bahwa wanita dinikahi karena empat hal. Maka asbab yang terbaik yang disarankan Rosulullah dalam memilih pasangan adalah karena agamanya. Dan kami percaya guru ngaji kami sudah mempertimbangkan itu dengan baik. Selain juga karena kami meyakini bahwa dalam ke”tsiqohan” ada keberkahan.

Bismillah, 27 Maret 1999 kami pun menikah.
Bertepatan dengan tanggal  9 Dzulhijah versi kalender pemerintah, tapi tanggal 10 versi pemerintah Arab Saudi karena sehari sebelum menikah ternyata para jamaah haji sudah melakukan wukuf di Arofah, kami menikah di sebuah KUA di sebuah kecamatan di Semarang. Dihadiri beberapa kerabat dan teman-teman dekat dari pihak kami berdua. Tak semua bisa ikut menyaksikan proses sakral itu karena keterbatasan kendaraan yang membawa kami dari rumah menuju KUA. Beberapa teman dekat lainnya terpaksa hanya bisa menunggu di rumah.
Apa yang terkenang pada hari itu? Tentu banyak. Komitmen kami untuk menikah secara sederhana ternyata tak tertanggapi oleh keluarga. Pengennya setelah ijab, tidak perlu ramai-ramai, termasuk acara di pajang pajang segala, malu… he… tapi karena keluarga saya adalah keluarga besar, jadi tanpa rame rame pun rumah tetap terlihat rame. Kebanyakan undangan yang hadir adalah teman-teman dan tetangga kakak, karena memang saya dinikahkan oleh kakak. Selebihnya teman-teman lama di Semarang. Teman di Jurang Mangu? Alhamdulillah yang belum penempatan atau yang penempatannya tidak jauh dari kota Semarang menyempatkan datang. Beberapa yang sangat dekat dengan saya malah memprotes dandanan yang membuat saya berbeda dengan Ria Dewi yang mereka kenal. Adalah Ira Melati dan  Kwatri Sumiyati, dua sahabat dekat saya  inilah yang paling sibuk menghapus lipstick dari bibir saya, tentunya tanpa sepengetahuan tukang rias ya…
Alhamdulillah proses ijab Kabul berjalan dengan lancar. Seperangkat alat sholat dan hafalan surat Al-Muzammil menjadi mahar dalam pernikahan kami. Kenapa maharnya cuma itu? Karena dulu semangatnya adalah mempermudah calon suami, terilhami dengan yang disampaikan Rosulullah bahwa Wanita yang baik adalah yang paling murah maharnya.  Tapi setelah saya belajar agama lebih jauh lagi, saya tidak menyarankan ini untuk diikuti sama akhwat yang lain ya,,,karena ternyata mahar itu sebaiknya yang bernilai uang, maksudnya, jika suatu saat ada kebutuhan mendesak, mahar itu bisa dijual. Jadi menyesal dong dulu tidak minta mahar emas atau uang? Tidak juga sih…Alhamdulillah, kalaupun sekarang saya minta dibelikan emas juga insya Allah dibelikan ya bi…, he..he…Kenapa hafalannya harus Muzammil? Karena kalau Ar-rahman nanti abi ngapalinnya kepanjangan dan kelamaan, hayah….. Jawaban seriusnya sih sebenarnya karena saya ingin mengingatkan diri dan suami bahwa kami bertemu di jalan dakwah, dipertemukan oleh orang-orang yang mencintai dakwah, dan dikelilingi oleh teman-teman yang jatuh bangun di jalan dakwah. Jadi tidak ada alasan bagi kami untuk menjauh dari jalan dakwah setelah kami menikah nanti. Dalam surat Al-Muzammil Allah berikan bekalan yang cukup untuk kami agar tetap bisa bertahan menapaki jalan yang tak mulus ini. Tuh kan, jadi pengen nangis kalau inget komitmen dulu dengan realitas yang kami hadapi sekarang. Betapa memang tak mudah untuk istiqomah.
 Akhirnya, tak ada yang bisa terucap selain syukur yang tak terkira kepada Allah yang sedemikian baiknya memberi kami jodoh di usia muda, kepada orang tua yang langsung mengiyakan begitu saya sodorkan foto dan bio data tanpa bertanya ini itu lagi. Penghargaan dan doa terbaik juga untuk Pak Hasan dan mbak Khuri, yang telah repot memperkenalkan dan berusaha mempersatukan kami, termasuk melayani komplain saya ba’da nikah he… semoga Allah berikan keberkahan hidup pada antum berdua. Kepada mereka yang telah menebar banyak kebaikan demi bersatunya kami dalam sebuah ikatan bernama pernikahan , saya ucapkan  Jazakumullah khoiron jaza.  Adalah Pak Lukman Bisri Hidayat, yang telah bersedia direpotin dari proses ta’aruf hingga menjadi saksi pernikahan kami.  Pak Bin Nahadi, Pak Ujang Sobari, Pak Ramli, Henjang Prasetyawan yang sudah menemani Pak Riza dan menjadi panitia dadakan di hari “H". Kwatri Sumiyati, yang setia mendampingi dari proses ta’aruf sampai hari H, Ira Melati, Dini, mbak Lestari, Maelawati, yang rajin mengkritisi dandanan dan pakaian nikah saya. Adek-adek alumni SMEAN 2 Semarang yang berbaik hati hendak mendekor kamar pengantin dan menyarikan gaun pengantin yang syar’i untuk saya (sayangnya semua sudah dihandle keluarga besar), sahabat terbaik saya Hartyastuti yang datang siang hari dalam kondisi ngos-ngosan setelah nge”bis” dari Pati, he… (Alhamdulillah sekarang sudah enak ya jeng), serta sahabat lainnya yang tidak bisa tersebut namanya satu persatu.  Subhanallah, benar-benar saya merasakan nikmat dan indahnya berjamaah bersama mereka semua.
Kepada abi, semoga ini menjadi pengingat kita, bahwa Allah sudah memberi banyak hal kepada kita. Anak- anak yang sehat, pekerjaan yang layak, rumah dan kendaraan yang nyaman, apa lagi yang hendak kita cari selain bersyukur kepada Allah dengan cara memelihara dan menjaga apa yang sudah diberiNya dengan sekuat tenaga kita. 
numpang foto di rumah kakak, tempat resepsi pernikahan kami
     Bahwa pernikahan tak selamanya mawar,tak lantas menjadi alasan bagi kita untuk keluar dari jalur yang telah digariskanNya. Semoga Allah berikan keberkahan pada pernikahan kita, pernikahan yang tak menimbang rupa, apalagi harta. Semoga Allah jadikan keluarga kita sakinah mawadah wa rohmah, bahagia di dunia dan di surga.

Wahidin, 25 Nov 2013
Jelang sebulan abi di Tapak Tuan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar