Selalu
begitu. Senantiasa terulang. Ingin tak selalu beriringan dengan takdir. Tapi
tak apalah, terlambat selalu lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?
Jauh
hari sebelum 24 Juli kemarin, banyak rencana bersliweran di kepala. Dari mulai
membuat tulisan untuknya, hunting gadget
yang diimpikannya hingga memesan kue dengan beberapa lilin pengganti jumlah
usianya yang bertambah. Terbayang malam yang riuh ba’da tarawih ketika kue itu
mulai dipotong seiring dengan senyum yang terkembang ketika melihat gadget
impian yang tiba-tiba ada di genggamannya. Waaa…..pasti seru. Sayangnya hingga
hari itu tiba, tak satupun dari sekian rencana itu yang mewujud. Hanya ada
ucapan selamat di pagi ba’da shubuh, masih dengan balutan daster teman tidur
dan senyum yang seadanya. Maaf ya abi….
Selau
begitu. Senantiasa terulang. Ingin tak selalu berkarib dengan takdir. Tapi tak
apalah, terlambat selalu lebih baik daripada tidak sama sekali, kan?
Tahun
ini usianya genap 37 tahun. Itu berarti 14 tahun sudah ia lewatkan usianya
bersamaku. Waktu yang tidak sebentar untuk saling mengenal memang. Tapi, 14
tahun bukan pula waktu yang cukup untuk mengatakan “aku telah mengenalmu
sepenuhnya” Karena aku meyakini bahwa
manusia akan senantiasa berubah hingga ajal yg akan menghentikan perubahan itu
sendiri. Begitupun adanya dengan diriku dan dirinya. Ada saja hal-hal yang
membuat kami harus terus beradaptasi
dengan gerak perubahan kami. Kadang hanya diperlukan senyuman , terkadang juga
perlu ditambah dengan helaan nafas, pun sesekali perubahannya perlu disikapi
dengan “bertapa” sejenak demi menenangkan dan meyakinkan diri bahwa semua akan
baik-baik saja.
Ah,
mengingat perjalanan hidup kami yang penuh warna membuatku tak bisa tidak
membuka lembar demi lembar episode kehidupan yang telah terlewati. Manis,
pahit, asam, menangis dan tertawa hanyalah bagian dari coretan warna dalam
album kebersamaan kami. Mengutip nasihat seorang teman, semua akan terasa manis
pada saatnya ketika kita mampu bersabar di dalamnya.
Bertemu
pada akhir 1998, tanpa tatap muka dan bincang kata, di sebuah rumah petak
sederhana yang dihuni jiwa-jiwa yang luar biasa. Ya, rumah kontrakan sepasang
suami istri yang tidak hanya menyentuh hati kami lewat lisannya agar kami
kembali kepada Allah, tapi juga berupaya agar kami bersatu dalam satu ikatan
bernama pernikahan. Ada hati yang
bergejolak saat harus memutuskan menerima atau tidak proposalnya, sementara
istikhoroh yang dilalui tak jua memberi jawaban selayaknya orang-orang bilang.
Tak sekalipun wajahnya muncul dalam mimpi, he…he…
“Sudah,
tidak usah berlama lama, terima saja Dek. Jangan membuat Riza patah hati,”
sebuah kalimat meluncur dari seseorang yang sangat dicintai oleh orang yang
kuhormati. Suami guru ngajiku. Tak bisa
kulihat mimik muka beliau ketika kalimat itu terucap, karena kami terbatasi
oleh selembar tirai yang memisahkan ruang tamu mereka yang tak seberapa besar.
Sementara sang istri hanya tersenyum. Sebuah tepukan menguatkan mampir di
pundakku.
“Insya
Allah berkah. Mudahnya proses ke arah pernikahan adalah jawaban dari istikhoroh
yang anti lakukan. Tidak usah menunggu wajahnya muncul dalam mimpi,” ungkap
perempuan itu. Lagi lagi dengan senyum.
“Bismillah,
niatkan karena Allah,” nasihat terakhir
dari Bu Khuri, orang yang selama ini sabar membimbing ku menuju pribadi
yang lebih baik itulah yang pada akhirnya membuatku menyatakan persetujuanku.
“Alhamdulillah,
perlu lihat wajah aslinya dulu gak nih?” lagi-lagi suami guru ngajiku yang tak
lain adalah juga guru ngajinya itu menggoda kami
“Tidak
usah, ustadz. Insya Allah sudah mantap,” jawab laki-laki yang belum genap 23 tahun
yang akan menjadi suamiku kelak.
Dus,
akhirnya serangkaian proses ta’aruf yang sudah kami lewati mengantar kami pada
sebuah keputusan besar, bahwa kami akan menikah. Tanpa melihat wajah, tanpa
mengenal perilaku. Modal kami hanya satu. Kepercayaan kepada guru ngaji yang
kami hormati. Percaya bahwa mereka tidak akan salah memilihkan orang yang tepat
untuk kami. Jika Rosulullah mengatakan bahwa wanita dinikahi karena empat hal.
Maka asbab yang terbaik yang disarankan Rosulullah dalam memilih pasangan
adalah karena agamanya. Dan kami percaya guru ngaji kami sudah mempertimbangkan
itu dengan baik. Selain juga karena kami meyakini bahwa dalam ke”tsiqohan” ada
keberkahan.
Bertepatan
dengan tanggal 9 Dzulhijah versi
kalender pemerintah, tapi tanggal 10 versi pemerintah Arab Saudi karena sehari
sebelum menikah ternyata para jamaah haji sudah melakukan wukuf di Arofah, kami
menikah di sebuah KUA di sebuah kecamatan di Semarang. Dihadiri beberapa
kerabat dan teman-teman dekat dari pihak kami berdua. Tak semua bisa ikut
menyaksikan proses sakral itu karena keterbatasan kendaraan yang membawa kami
dari rumah menuju KUA. Beberapa teman dekat lainnya terpaksa hanya bisa
menunggu di rumah.
Apa
yang terkenang pada hari itu? Tentu banyak. Komitmen kami untuk menikah secara
sederhana ternyata tak tertanggapi oleh keluarga. Pengennya setelah ijab, tidak
perlu ramai-ramai, termasuk acara di pajang pajang segala, malu… he… tapi
karena keluarga saya adalah keluarga besar, jadi tanpa rame rame pun rumah
tetap terlihat rame. Kebanyakan undangan yang hadir adalah teman-teman dan
tetangga kakak, karena memang saya dinikahkan oleh kakak. Selebihnya
teman-teman lama di Semarang. Teman di Jurang Mangu? Alhamdulillah yang belum
penempatan atau yang penempatannya tidak jauh dari kota Semarang menyempatkan datang.
Beberapa yang sangat dekat dengan saya malah memprotes dandanan yang membuat
saya berbeda dengan Ria Dewi yang mereka kenal. Adalah Ira Melati dan Kwatri Sumiyati, dua sahabat dekat saya inilah yang paling sibuk menghapus lipstick dari
bibir saya, tentunya tanpa sepengetahuan tukang rias ya…
Alhamdulillah
proses ijab Kabul berjalan dengan lancar. Seperangkat alat sholat dan hafalan
surat Al-Muzammil menjadi mahar dalam pernikahan kami. Kenapa maharnya cuma itu?
Karena dulu semangatnya adalah mempermudah calon suami, terilhami dengan yang
disampaikan Rosulullah bahwa Wanita yang baik adalah yang paling murah
maharnya. Tapi setelah saya belajar
agama lebih jauh lagi, saya tidak menyarankan ini untuk diikuti sama akhwat
yang lain ya,,,karena ternyata mahar itu sebaiknya yang bernilai uang,
maksudnya, jika suatu saat ada kebutuhan mendesak, mahar itu bisa dijual. Jadi
menyesal dong dulu tidak minta mahar emas atau uang? Tidak juga sih…Alhamdulillah,
kalaupun sekarang saya minta dibelikan emas juga insya Allah dibelikan ya bi…,
he..he…Kenapa hafalannya harus Muzammil? Karena kalau Ar-rahman nanti abi ngapalinnya
kepanjangan dan kelamaan, hayah….. Jawaban seriusnya sih sebenarnya karena saya
ingin mengingatkan diri dan suami bahwa kami bertemu di jalan dakwah,
dipertemukan oleh orang-orang yang mencintai dakwah, dan dikelilingi oleh
teman-teman yang jatuh bangun di jalan dakwah. Jadi tidak ada alasan bagi kami
untuk menjauh dari jalan dakwah setelah kami menikah nanti. Dalam surat
Al-Muzammil Allah berikan bekalan yang cukup untuk kami agar tetap bisa
bertahan menapaki jalan yang tak mulus ini. Tuh kan, jadi pengen nangis kalau
inget komitmen dulu dengan realitas yang kami hadapi sekarang. Betapa memang
tak mudah untuk istiqomah.
Akhirnya, tak ada yang bisa terucap selain syukur
yang tak terkira kepada Allah yang sedemikian baiknya memberi kami jodoh di
usia muda, kepada orang tua yang langsung mengiyakan begitu saya sodorkan foto
dan bio data tanpa bertanya ini itu lagi. Penghargaan dan doa terbaik juga
untuk Pak Hasan dan mbak Khuri, yang telah repot memperkenalkan dan berusaha
mempersatukan kami, termasuk melayani komplain saya ba’da nikah he… semoga
Allah berikan keberkahan hidup pada antum berdua. Kepada mereka yang telah
menebar banyak kebaikan demi bersatunya kami dalam sebuah ikatan bernama
pernikahan , saya ucapkan Jazakumullah
khoiron jaza. Adalah Pak Lukman Bisri
Hidayat, yang telah bersedia direpotin dari proses ta’aruf hingga menjadi saksi
pernikahan kami. Pak Bin Nahadi, Pak
Ujang Sobari, Pak Ramli, Henjang Prasetyawan yang sudah menemani Pak Riza dan
menjadi panitia dadakan di hari “H". Kwatri Sumiyati, yang setia
mendampingi dari proses ta’aruf sampai hari H, Ira Melati, Dini, mbak Lestari,
Maelawati, yang rajin mengkritisi dandanan dan pakaian nikah saya. Adek-adek
alumni SMEAN 2 Semarang yang berbaik hati hendak mendekor kamar pengantin dan
menyarikan gaun pengantin yang syar’i untuk saya (sayangnya semua sudah
dihandle keluarga besar), sahabat terbaik saya Hartyastuti yang datang siang
hari dalam kondisi ngos-ngosan setelah nge”bis” dari Pati, he… (Alhamdulillah sekarang
sudah enak ya jeng), serta sahabat lainnya yang tidak bisa tersebut namanya
satu persatu. Subhanallah, benar-benar
saya merasakan nikmat dan indahnya berjamaah bersama mereka semua.
Kepada
abi, semoga ini menjadi pengingat kita, bahwa Allah sudah memberi banyak hal kepada
kita. Anak- anak yang sehat, pekerjaan yang layak, rumah dan kendaraan yang
nyaman, apa lagi yang hendak kita cari selain bersyukur kepada Allah dengan
cara memelihara dan menjaga apa yang sudah diberiNya dengan sekuat tenaga kita.
![]() |
| numpang foto di rumah kakak, tempat resepsi pernikahan kami |
Jelang
sebulan abi di Tapak Tuan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar