Rabu, 23 April 2014

Unpredictable Moment

Dulu, setahu saya Paledang hanyalah nama sebuah lembaga pemasyarakatan di Kota Bogor. Tak pernah terbayang, bahwa suatu hari saya akan berada di suatu tempat dengan nama yang sama. Jangankan bercita-cita menyambanginya, berniat untuk itu pun tidak.

Tepatnya sebulan yang lalu, saya menginjakkan kaki di Paledang. Bukan, bukan Paledang tempat orang-orang yang diputus bersalah oleh hakim menginap. Paledang yang saya maksud adalah nama sebuah stasiun di Kota Bogor. Emang ada ya? Bukannya di Bogor cuma ada satu stasiun saja yaitu Stasiun Bogor, tempat dimana KRL Jabodetabek bermula dan berakhir?

Beberapa waktu lalu, saya pun berfikir demikian. Sampai suatu hari, seorang teman menyarankan saya untuk menyambanginya.Ya, ketika saya mulai dipusingkan dengan antar jemput Mas Haqi yang nyantri di al Kahfi, Sukabumi, sejak abinya dipindah tugas di ujung barat Pulau Sumatra. Nyetir mobil sendiri tidak bisa, menghire supir terus menerus rasanya tak nyaman dan tak bebas karena bukan mahrom. Mau tak mau saya harus memikirkan moda transportasi lain sebagai alternatif. Saat itulah teman menyarankan agar kami memanfaatkan jasa kereta api saja.

Hunting tiket pun dimulai. Setelahnya, barulah saya mulai mencari di mana letak stasiun yang akan memberangkatkan kereta yang dinamai Pangrango oleh PT KAI itu. Tepat pukul 11.30 berdua Mas Haqi kami naik motor menuju Stasiun Citayam. Rencananya mas Haqi akan menumpang kereta Pangrango dengan jadwal keberangkatan pukul 12.55.Cukuplah waktu yang kami punya insya Allah. O ya, Kereta Bogor-Sukabumi ini beroperasi 3 kali dalam sehari. Pemberangkatan paling pagi adalah pukul 07.55, selanjutnya pukul 12.55, dan yang terakhir adalah pukul 18.35 (kalau tidak salah ya ). Harga tiket yang ditawarkan cukup terjangkau menurut saya. Rp 20.000,- untuk kelas ekonomi, dan Rp 50.000,- untuk kelas eksekutif. Hari itu, Mas Haqi memilih kelas ekonomi dengan dalih irit, alhamdulillah, he..

Tak lebih dari 15 menit kami tiba di Stasiun Bogor. Kutengok kiri kanan, mencari cari di mana gerangan tulisan Stasiun Paledang berada. Setelah beberapa kali bertanya karena takut nyasar, akhirnya sampailah kami di Stasiun dimaksud. Letaknya tak jauh dari Stasiun Bogor. Ternyata hanya dengan menyebrang dan menyusuri Taman Topi Square, kami sudah sampai ke Stasiun Paledang. 

Ah, membaca Paledang membuat saya tidak bisa tidak memutar pandangan. Kenapa namanya Stasiun Paledang ya? Apakah ada hubungannya dengan LP Paledang yang saya tahu itu? Aha, sampai sekarang saya belum menemukan jawabnya.
Masih cukup waktu bagi saya dan mas Haqi untuk berbincang bincang sebelum kereta diberangkatkan. Beberapa nasihat khas orangtua mulai mengalir dari mulut saya. Jujur saja, baru kali ini saya melepasnya naik kereta sendiri. Di usia yang baru genap 14 tahun April ini. Sedikit was-was tentu, tapi saya coba untuk meyakinkan diri dan Mas Haqi  bahwa semua akan baik-baik saja. Mas Haqi tidak akan menumpang kereta sampai Stasiun Sukabumi. Dia hanya butuh melewati Stasiun Batu Tulis, Maseng, dan mengakhiri perjalanan di Stasiun Cigombong. Dari sana, ia cukup mengandalkan jasa ojek untuk sampai ke pesantren dengan ongkos kurang lebih 10-15 ribu (itu menurut pengakuan Haqi-harga pelajar kali ya- :).
Hanya butuh 3 stasiun saja, dengan waktu kurang lebih maksimal 45 menit. Jauh berbeda ketika saya harus mengantarnya dengan menggunakan mobil. Jika beruntung dan tidak macet, kami harus menempuhnya dalam waktu kurang lebih 2 jam. Kalau macet? Beu...jangan ditanya, he...

" Jangan meleng ya, Mas. Jangan tidur. Baca sholawat, baca doa perlindungan yang biasa kamu baca di al ma'tsurot, bla...bla....bla...," aku terus menghujaninya dengan petuah, lagi-lagi khas emak-emak galau.
"Aku seperti mau merantau aja ya, Mi," tuturnya polos.
"Memang kamu merantau, Nak", tuturku pelan. Kutepuk tepuk pundaknya yang membingkai bidang dadanya yang mulai terbentuk. Sebait doa terlantun, Robbana kutitip anakku selama perjalanan kepadaMu.

Tepat pukul 12.55 Pangrango membawa buah hatiku pergi. Ah, kurasa nyeri di sebagian dadaku.Beginikah rasa hati orang tuaku ketika aku pergi meninggalkan Semarang 19 tahun yang lalu. Nyesek, khawatir, bercampur menjadi satu. Padahal saat itu usiaku sdh 18 tahun.

"Alhamdulillah, Mi. Sampai Al-Kahfi jam 13.45, sebuah sms dari nomor asrama Al-Kahfi membuatku lega.

Hari ini, di siang yang sama, aku kembali mengantarnya ke tempat itu. Ke Stasiun bernama Paledang. Masih dengan nyeri  yang sama. Tapi tak bisa tidak, dan harus tega. Keadaan yang membuatku mengubur dalam-dalam kekhawatiranku. Semoga ini mendewasakannya dan membuatnya mandiri meski mungkin harus  lebih cepat dari usianya. Kucium keningnya dalam. Rasanya aku akan sering mengantarkannya ke tempat yang sama. Melepasnya bersama ratusan penumpang lainnya menuju tempatnya menuntut ilmu dan iman. An unpredictable moment that I never imagine before.

Pabuaran, 21 April 2014
Semoga senantiasa dalam lindunganNya