Rabu, 03 Desember 2014

Berprasangka baik kepada takdirmu (1)

November yang padat. Diawali dengan deadline proposal yang harus terkumpul di hari ke tujuh.Belum lega benar rasanya bernafas setelah menjalani UTS di pertengahan hingga penghujung Oktober. Diam ber jam jam di depan laptop, menunggu pangsit eh wangsit apa yang mau ditulis. Tulis, hapus, tulis hapus, hingga dua-tiga jam berlalu tanpa progress yang berarti. Galau


November yang padat, tu proposal akhirnya jadi juga. Diawali dengan begadang selama beberapa malam, sebuah judul yang membuatku tersenyum geli ketika seorang kawan berkomentar, “wuih judulnya ngeri sekali.” Dia tak tahu kalau judul itu hasil ramuan dari beberapa contoh tesis yang kutemui di perpustakaan MAKSI yang seringkali membuatku menggigil kedinginan. Tak pernah terbayang bahwa aku akan menyusun tesis seperti ini. Tak pernah terbayang, karena tak pernah ada niat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bagiku, bisa kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan selanjutnya bisa bekerja di salah satu Kementrian yang banyak diminati orang sudah cukup. Sudah lebih dari apa yang dulu kucita citakan, he..he..


Berbicara tentang cita-cita, seperti halnya anak-anak pada umumnya, aku kecil juga punya banyak cita-cita. Dari mulai perawat, guru, sampai bankir. Hal yang sama juga dengan gadis kecilku, Kinan. Di usia 6 tahun, dia sudah mengungkapkan beberapa profesi yang dia inginkan. Diawali dengan ceritaku tentang dokter yang bisa menolong banyak orang, dia kemudian bercita-cita jadi dokter. Tak lama, cita-citanya berubah menjadi guru. Terakhir, entah karena pengaruh siapa, di suatu petang selepas maghrib, dia mendekatiku dan berkata,” Kinan ingin jadi penghafal qur’an, Mi.” Masya Allah, meleleh tiba-tiba.


Lain Kinan, lain lagi  mas-masnya. Haqi si sulung sampai dengan usia 13 kemarin mengungkapkan keinginannya untuk menjadi masinis. Sebuah cita-cita yang membuatku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. “Pilot, kali,” sanggahku waktu itu. Tapi penegasan darinya membuatku tersenyum dan menghargai keputusannya. Entah apa yang membuatnya ingin jadi masinis. Sementara itu Ayyasy, si tengah bercita-cita menjadi peternak. Ternak ayam? Ternak kambing? Atau ternak sapi? Semuanya tidak. Ternyata dia ingin menjadi peternak kuda  saudara saudara, hi…hi… Dari semua yang mereka cita-citakan, aku hanya bisa mengiringi mereka dengan doa semoga jadi apa pun mereka, mereka tetap menjadi sholih dan sholihat. Menjadi dokter yang sholihat, menjadi masinis, pun menjadi peternak yang sholeh. Apa pun cita-cita mereka, sepanjang itu baik dan manfaat, tugasku sebagai orang tua adalah mendukung dan tidak mematahkannya. Aih, jadi inget saat-saat aku harus mengubur sebagian dari cita-citaku dulu.


Ya, beranjak remaja, aku nyaris tak berani bercita-cita. Kondisi keluarga membuatku tak berani bermimpi banyak. Ketika teman-teman dekat berbondong bondong mendaftar di SMA favorit, aku yang waktu itu sempat ikut mendaftar, akhirnya harus mencabut kembali daftar NEM dan ijazah SMP ku. Meski pada awalnya tak ingin, akhirnya aku mengikuti saran kakakku untuk masuk ke sekolah menengah kejuruan yang waktu itu bernama SMEA. Alasannya simple, kalau masuk SMA, belum tentu aku bisa kuliah. Sementara kalau tidak kuliah, dengan cuma lulus SMA dan tidak mempunyai ketrampilan apa pun, tidak banya peluang pekerjaan yang bisa kudapat. Hal berbeda jika aku masuk SMEA, minimal aku mempunyai ketrampilan yaitu akuntansi. Berharap dengan itu aku bisa mempunyai peluang lebih untuk bekerja. Sedih? itu pasti. Berpisah dengan teman-teman baik semasa SMP dan melupakan janji untuk melanjutkan sekolah di SMA yang sama. Tapi untunglah aku yang waktu itu belum genap 15 tahun tak mau larut dalam sedih yang berkepanjangan. Istilah anak zaman sekarang, aku bersegera untuk move on, he..he…. Berusaha menyadari realita bahwa hidupku tidak sama dengan hidup teman-teman SMP ku yang rata-rata memang “punya”


Di SMEA ini kemudian aku membangun kembali cita-cita. Tak semuluk cita-cita awal untuk kuliah di sini dan di situ. Di sekolah itu aku hanya berkeinginan untuk menambah ketrampilan sebanyak mungkin, supaya aku bisa bekerja selepasnya. Tak ada lagi cita-cita kuliah. Semua terkubur bersama takdir yang menempatkanku pada situasi yang sepertinya memang tidak memungkinkan. Tapi siapa yang menyangka bahwa di sekolah yang awalnya tak kuinginkan inilah Allah menyusun skenario luar biasa untukku. Berbagai kesempatan untuk mengikuti beberapa lomba telah mengantarkanku masuk tv lho. Kesempatan untuk mengikuti lomba ketrampilan siswa bidang akuntansi juga telah membawaku ke Jakarta dan bersaing dengan teman-teman di seluruh Indonesia di awal tahun 1995. Meski tak mampu menyabet juara 1, hadiah yang kuperoleh saat itu lumayan lah. Piagam penghargaan yang bertanda tangan Abu Rizal Bakri (ARB) masih kusimpan rapi sampai sekarang. Dulu sih gak kenal siapa tuh ARB he…


Di sekolah yang awalnya tak kusuka ini juga lah Allah mempertemukanku dengan orang-orang yang akhirnya membawaku untuk menjemput hidayah-Nya. Meski sejak kecil aku sudah terbiasa mengaji di masjid, sejak SMP sudah tahu kewajiban menutup aurot, tapi baru di sekolah ini lah Allah mantabkan hati untuk menutup aurat. Di usia ke-17, bersama adik kelas yang menjadi perantara hidayah Allah-semoga dia istiqomah-perlahan aku mulai mengkaji ilmu Allah lebih intens. Sebuah karunia yang lebih bernilai dari apa pun. Alhamdulillah, ternyata benar firman yang Allah sampaikan. “Boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal sesuatu itu tidak baik bagimu, dan boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu padahal sesuatu itu baik bagimu.” Dari semua yang telah Allah berikan, telah membuka mata hatiku bahwa banyak kebaikan yang kudapat dari sesuatu yang semula tidak kusukai. Dalam sepi, sering kubisikkan pada diriku sendiri,"Maka ni’mat Allah mana lagi yang kamu dustakan?"


Pabuaran, ba'da ashar
menikmati libur


Senin, 11 Agustus 2014

Bahagia itu sederhana

Moment Idul Fitri selalu memberikan bahagia. Bukan hanya karena Allah janjikan kemenangan kepada hamba beriman-Nya yang telah melaksanakan shoum dan ibadah lainnya di Bulan Romadhon. Tapi lebih dari itu, sebagai manusia, ada kebahagiaan lain yang mengisi hari-hari kami di awal bulan Syawal itu. Apalagi kalau bukan kebersamaan. Ya, kebersamaan

Tak ada yang lebih bernilai dari kebersamaan bagi kami yang terpisah jarak di hari-hari lain. Maka, akhir Romadhon hingga awal Syawal bagi kami  adalah hari hari indah yang Allah hadiahkan untuk kami sekeluarga. Duduk satu meja menjelang berbuka di penghujung Romadhon, mudik, bersilaturahim dengan keluarga besar kami di Semarang maupun Indramayu, hingga kembali ke rumah menghabiskan sisa liburan yang kami punya. Sungguh karunia Allah yang tak boleh tidak kami syukuri. 

Kemarin, Ahad, 10 Agustus 2014, kami harus mengakhiri kebersamaan itu. Satu persatu harus kembali ke medan tugas. Diawali oleh abu Kinan di siang hari, bersiap menuju kota Naga u menunaikan tugas negara di sana. Sore hari, menjelang petang, harus kurelakan dua remajaku kembali ke tempatnya menuntut ilmu di sebuah pesantren di perbatasan Bogor Sukabumi. Alhamdulillah masih ada si bungsu Kinan yang menemani. Kembali sepi, tapi hidup harus terus berjalan, karena kami meyakini ini tak lama. Berpisah sementara untuk masa depan yang lebih baik insya Allah


Sehari menjelang keberangkatan abi dan anak-anak ke medan juang masing-masing

Merajut bahagia di sore yang tak lama-Masjid Al-Ihsan, Cibinong

Momen Idul Fitri selalu menyisakan cerita. Tentang bahagia bernama bersama. Meski kali ini tak lama, terselip asa semoga kebersamaan kami abadi hingga di akhirat kelak. Di sebaik baik tempat yang Allah sediakan untuk hamba-hamba yang dicintaiNya. Ya, bersama di dalam surga-Nya, di mana kami tak akan lagi terpisah untuk selamanya. Aamiin.



Bahagia kami yang sederhana, semoga Allah segera kumpulkan kami selamanya

Senin, 16 Juni 2014

Jodohku dan jodohnya

Sebuah notifikasi muncul pada G-talk-ku tak lama setelah aku sign up. Ada yang ingin menjadi temanku rupanya. Sejenak kucoba untuk mengingat, barangkali aku pernah berinteraksi dengannya, tapi nihil. User Id yang dipakainya tak mengingatkanku pada siapa pun. Tanpa banyak berprasangka, kuterima saja permintaan pertemanannya. untuk menghilangkan rasa penasaranku, segera kusapa yang bersangkutan, sekedar ingin tahu siapa gerangan beliau ini. Tapi dasar belum rezeki, hingga akhir kumatikan komputerku untuk segera pulang ke rumah, si mystery guest belum juga menjawab tanyaku.

“Maaf Bu Ria, saya baru sadar kalau ada pesan masuk,” sebuah pesan muncul di layar kotak ajaibku. Aha, rupayanya dari si mystery guest yang kemarin. Sesaat kemudian dia menyebut nama dirinya, plus pertemuannya denganku. Sebegitu lengkapnya perempuan itu mendeskripsikan dirinya, sementara aku mencoba melukis gambar wajahnya di benakku.

 “Saya pernah ikut mentoring kantor bersama bu Ria waktu itu. Saya lulusan 2010,” tulisnya.
Oh, iya,” jawabku cepat sembari mencoba menebak pemilik nama itu diantara bayangan beberapa wajah gadis kisaran dua puluh tahunan yang berjejer di sana.

Waduh, yang mana ya, he...he... Agak susah juga membedakan wajah polos dengan balutan jilbab panjang mereka. Dulu waktu masih bertemu saja aku sering salah mengingat nama mereka, apalagi sekarang. Tapi tentu tidak kukatakan hal ini kepadanya.

Aha, akhirnya setelah sekian lama chatting, ingatanku tertuju pada bayangan seorang gadis hitam manis yang lebih sering berbalut jilbab panjang dengan warna putih. Teringat pada sosoknya  yang begitu bersemangat mempelajari agamanya. Teringat pada kesungguhannya ketika dia menyetor hafalan hadits arba’in ke dua yang panjangnya luar biasa dan dengan tartil ia lafalkan. Teringat pada kebersahajaannya yang membuatku-mentornya- serasa terhempas ke kedalaman bumi yang paling dalam. Maluuuuu dengan hafalannya yang luar biasa.

Ya, sebut saja namanya Lili. Saat ini dia ditugaskan di Watampone. Ketika aku menanyakan  keadaannya, lugas dia menjawab, “ Alhamdulillah, tarbiyah masih jalan Bu.” Aku menyambut jawabannya dengan syukur yang luar biasa, alhamdulillah, semoga tidak hanya Lili yang istiqomah, tapi mudah-mudahan begitu juga dengan yang lainnya.

“Sebenarnya di sini ramai, Bu. Teman juga banyak. Tapi tidak bisa seperti dulu lagi karena mereka sudah berkeluarga. Nggak enak saya, takut mengganggu,” curhatnya kemudian. Tanpa perlu bertanya rasanya aku sudah mulai bisa merasakan gundah hatinya.
“Terkadang saya merasa sedih juga....”lanjutnya.
“Insya Allah, sedang dipersiapkan seorang sholih yang luar biasa untuk Lili. Allah hanya sedang menunggu waktu yang tepat saja untuk menyandingkannya denganmu,” hiburku cepat.
“Aamiin, terimakasih Bu,” jawabnya memungkasi percakapan kami siang itu.

 Hfh, kuhembus nafas kuat, teringat perbincanganku lewat dunia maya dengan Lili. Beberapa hari sebelumnya, teman seangkatannya juga berbicara hal yang sama. Sebut saja Meta. Gadis yang ditempatkan di Jakarta ini masih lebih beruntung (menurutku) di banding Lili. Setidaknya dia masih dekat dengan keluarga besarnya dalam masa penantiannya. Berbeda dengan Lili yang harus menghadapinya seorang diri di sebuah kota kecil di luar pulau jawa, dan jauh pula dari orang tuanya.

Ah, jodoh memang tidak bisa ditebak. Datangnya tak bisa disangka, tak bisa kita rencanakan sekehendak hati kita. Terkadang ia seperti jauuuhhhh, tak kunjung datang kepada mereka yang sangat menantinya. Tetapi terkadang juga  sebaliknya,  dia begitu dekat, bahkan terasa tiba-tiba mendatangi mereka yang sebenarnya tidak terlalu siap menghadapinya, seperti aku, he...

Aku tidak pernah menyangka kalau jodohku akan datang secepat itu. Jika dibandingkan dengan teman-teman mengajiku yang lain, aku merasa paling tidak siap sebenarnya. Dibandingkan dengan mereka yang sudah mulai membaca buku-buku tentang pernikahan, mulai dari “Kupinang Kau dengan Hamdalah” yang spektakuler itu, sampai dengan “Taman Orang-orang Yang Jatuh Cinta” dari Ibnu Qoyyim Al- Jauzi, aku lebih gemar membaca “Annida” dan beberapa novel islami atau pun kumpulan cerpen. Tapi entah kenapa guru spiritualku waktu itu justru memilihku untuk menerima sebuah amplop berisi data seorang ikhwan. Alasannya, aku sudah waktunya menikah. Menikah lebih baik bagiku dan lebih menjagaku. Waduh, padahal saat itu aku sendiri sebenarnya belum terlalu ingin menikah he... Tapi karena tidak ingin mengecewakan perempuan yang sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri ini, aku hanya mengiyakan dengan catatan keluarga besarku membolehkan.

Singkat cerita, proses ta’aruf pun berjalan. Bisa dibilang proses kami begitu cepat, tak ada tatap muka antara aku dengan suami waktu itu. Aku sendiri berprinsip, yang penting keluarga besar setuju. Itu adalah modal awal. Teringat petuah guru ngaji waktu itu, kalau prosesnya dimudahkan oleh Allah, insya Allah itu sinyal bahwa Allah ridho kalian bersatu. Dan menurutku waktu itu, proses tersulit adalah pada restu keluarga besar. Kalau untuk aku sendiri, aku cukup mempercayakan semuanya pada guru ngaji. Percaya bahwa beliau tidak akan sembarangan memilih orang untukku. Maka bermodal foto dan biodata, kuperkenalkan calon suami waktu itu. Alhamdulillah hampir semua setuju. Satu proses terlampaui sudah.
Bagaimana dengan perasaan? Apakah sudah ada rasa cinta? Ah, waktu itu aku tidak terlalu memikirkan. Bismillah saja, berharap Allah akan menumbuhkan seiring dengan kebersamaan yang akan terjalin nantinya. Penghasilan? Waktu itu pun tak terpikir. Yang penting beliau bekerja, pikirku waktu itu. Entah kenapa aku berfikir semua seolah mudah saja. Apakah itu muncul tiba-tiba? Tentu tidak, Allah lah yang membuat hati kami berdua menjadi ringan menjalani semua. Tak kenal, tak pernah melihat secara langsung, tapi mantab menjalani. Semua karena Allah pasti.

Jika Allah memberiku banyak kemudahan, ternyata tidak semua memperoleh hal yang sama. Termasuk adek-adekku yang tersebut di atas. Mereka harus bersabar di sela usia yang terus bertambah, menanti bila saatnya tiba Allah kirimkan pangeran yang tepat untuk mereka.
Ah,perihal jodoh memang misteri yang disimpan rapi oleh Allah. Kita tidak pernah tahu siapa yang akan dipilihkanNya untuk menemani pahit manis hidup kita nantinya. Pun kita tidak pernah tahu bila saat pertemuan dengan orang yang dipilihkan Allah untuk kita tiba. Bahkan mereka yang melalui proses pacaran bertahun tahun pun tak bisa memastikannya. Yang ada terkadang cinta membara berujung kecewa, karena orang yang dikiranya jodohnya ternyata tak seperti itu adanya.

Aku jadi teringat masa-masa awal mengenal Islam di usia 17. Dulu, tak begitu mengerti kalau dalam Islam tidak dikenal istilah pacaran. Setahuku, pacaran itu tak mengapa sepanjang tidak melewati batas susila dan norma. Tapi perkenalanku dengan Islam dalam sebuah kajian di sekolah, membuatku mengerti bahwa yang kulakukan adalah salah. Maka bertepatan dengan saat kukenakan jilbab di medio November 1994, kuputuskan juga untuk mengakhiri hubungan yang tak seharusnya terjalin. Sakit? Iya, tapi aku remaja waktu itu tidak ingin menjadi orang yang pura pura tidak tau atas sesuatu yang sudah kutahu tidak boleh dilakukan. Yang kuingat waktu itu aku harus menyudahi semuanya walaupun setelahnya menangis di hamparan sajadah( geli juga kalau mengingat waktu itu). Mengadu kepada Allah bahwa tak mudah untuk memutuskan hubungan yang sudah terjalin dalam bilangan tahun. Tapi aku juga tidak mau mendua, mengaku mencintai Allah di satu sisi, tapi melakukan hal yang tidak disukai Allah di sisi yang lain. Tak mudah untuk seorang remaja usia 17 tahun, tapi Alhamdulillah Allah berikan kekuatan. Dan aku selalu meyakini bahwa kemudahan demi kemudahan yang Allah berikan setelah keputusan itu adalah hadiah yang Allah beri untuk menguatkanku bahwa keputusanku tak salah. Dimudahkan lulus sekolah menengah dengan nilai istimewa, kuliah tanpa biaya, dimudahkan mendapat pekerjaan, di mudahkan mendapat suami, di mudahkan mendapat anak, dan sederet kemudahan lainnya yang tak bisa disebut.

Hal inilah yang kemudian sering kusampaikan kepada anakku yang mulai ABG, semata agar ia bisa mengelola rasa cinta dengan baik dan menempatkannya dengan tepat hingga saatnya tiba. Tak ada yang bisa menolak ketika Allah sudah memberi jodoh, pun sebaliknya tak ada yang bisa meraih ketika Allah belum berikan jodoh, sekuat apa pun kita mengupayakannya.

Jodohku dekat, dan mudah mudahan Allah langgengkan hingga akhirat. Jodohmu semoga demikian juga adanya sahabat. Jodoh mereka (Lili dan Meta) sampai saat ini belum Allah beritahukan, siapa dan bila waktunya tiba. Berharap mereka bersabar dalam masa penantian dengan sebaik baik kesabaran. Beberapa kali kusampaikan, agar mereka mengisi masa penantian itu dengan sibuk memperbaiki dan menghias diri dengan akhlak dan ibadah yang baik, hingga bila tiba saatnya nanti, pangeran yang telah Allah persiapkan untuk menjemput mereka tak kecewa melihat bidadari yang dijemputnya. Bahwa mereka adalah sebaik baik perempuan yang layak dijemput oleh sebaik baik laki-laki yang masih dirahasiakan oleh Allah keberadaannya.Karena Allah telah menjanjikan, “Laki-laki baik untuk perempuan perempuan baik, dan laki-laki buruk untuk perempuan perempuan buruk.”

Teriring doa semoga Allah segerakan Lili dan Meta bertemu jodohnya.


Senin, 09 Juni 2014

Luka Hati Seorang Guru


apa yang lebih mnyedihkan bg seorang guru
selain melihat murid berbicara di belakangnya
apa yang lebih menyedihkan bagi seorang guru
selain melihat murid tak lagi mendengar
bahkan berangsur menjauh dan pergi diam diam
Dalam duka guru berkata:
"mungkin aku memang tak sempurna, tak punya semua ilmu yang mereka minta. Tapi aku punya cinta, yang mewujud dalam untaian doa untuk mereka, diminta ataupun tidak diminta.
mungkin aku memang tak sempurna, tak mampu teladankan semua kebaikan laiknya Rosulullah meneladankan semua kepada para sahabatnya. Tapi aku punya cinta, yang mewujud dalam setiap rindu untuk merengkuh mereka, agar kelak mampu bersama-sama tapaki jalan surga.
mungkin aku memang tak sempurna. tapi aku punya cinta, punya rindu, punya doa, punya harap, bahwa kelak bisa bersama di kampung surga bersama mereka"
Dalam gundah guru terpekur:
"Mungkin mereka lebih pandai dariku kini
mungin juga mereka telah menjadi guru sepertiku kini
bukankah itu yang diinginkan seorang guru?
menjadikan murid tak selamanya murid
bukankah jamak murid seringkali melompat lebih tinggi dari gurunya?"
Sang guru tersenyum di sela bening yang menetes di sudut mata
"terimakasih Robbana, aku telah berbuat sesuatu untuk mereka
tak harus kusesali apa yang telah aku lakukan untuk mereka
meski apa yang mereka lakukan tak seperti yang kuharapkan
tak ada ingin apa-apa dari mereka
tak juga ucap terima kasih
hanya sebuah harap
tutur santun dari mereka
"maaf guru, aku tak lagi bisa di sini"
itu saja"

kpd mereka yg tak mampu memetik hasil yg diinginkan: laa tahzan 

Sabtu, 03 Mei 2014

Gerbong Tak Bernama


Gerbong tak bernama

Aku bergegas mengemasi bawaanku. ''Pulang dulu ya," pamitku pada dua kawan laki-lakiku yang masih asyik menatap layar komputer. Malam ini untuk yang kesekian kalinya aku pulang agak larut. Deadline laporan yang tinggal hitungan hari memaksaku untuk  meninggalkan buah hatiku lebih lama. Tidak ada pilihan lain. Ini konsekuensiku memilih pekerjaan ini.Hff, kuhembuskan nafas kuat-kuat, mencoba menepis resah yg beberapa hari menggumpal. 
''Gambir, Bang. Ngebut ya,'' pintaku. Ini biasa kulakukan kalo aku terburu-buru mengejar kereta. Dan untungnya mereka mengerti. Setengah berlari kususuri lantai 1 Stasiun Gambir. Aku tdk ingin ketinggalan Pakuan yang terakhir, jam 9. Jam berapa lagi aku hrs pulang kalau kereta ini pun tertinggal. 
Tidak banyak orang yg terlihat menunggu di peron. Beruntung tak lama pakuan yg kumaksud datang. Bergegas kusongsong bangku kosong yg masih tersisa.
Alhamdulillah, dapat duduk. Setidaknya aku bisa memejamkan mata sampai stasiun yg kutuju. Tp entah kenapa, malam ini rasa kantukku hilang tiba-tiba. Kucoba memejamkan mata, tapi tak ingin juga. Kuedarkan pandangan ke sekeliling, hal biasa yang kulakukan. Kulihat semua diam, wajah-wajah yang kulihat asing. Jarang naik Pakuan ini barangkali, pikirku.
Kereta terus melaju,entah sampai mana aku tidak tahu, karena pemandangan di luar gelap. Kusiapkan tiket yang biasa kubeli tiap pagi, barangkali petugas siap2 memeriksa. Sekilas kulihat keterkejutan di wajah wanita paruh baya di depanku. Berulangkali dia melihat tiketku. Aku tersenyum heran. ada apa rupanya?
“Ada apa, Bu? Ada yg salah? Ini kereta jurusan Bogor kan?” tanyaku penasaran. Yang kutanya semakin memandangku heran. Sejenak kemudian dia menggeleng.
''Apa yang menyebabkanmu terbawa di gerbong ini?''. Kali ini aku yang heran. Ah, ibu ini pikun barangkali, pikirku.
''Yang menyebabkan saya terbawa di gerbong ini adalah kaki saya,'' candaku. Berharap wajah itu tersenyum. Tapi ternyata tidak. Dia malah mengulangi pertanyaan yang sama.
''Ibu, yang mnyebabkan saya terbawa di gerbong ini adalah karena saya mau pulang lebih cepat. Rumah saya di Citayam. Ci-ta-yam, jawabku geli. Ibu itu mengangguk angguk, Tapi lagi-lagi tatapannya dingin, tanpa senyum.
………………………………………………………………………………………………………………..
Kereta terus melaju, tanpa kutahu sampai di mana ia. Di luar gelap. Tak kuhiraukan lagi perempuan aneh di sampingku. Lebih baik segera kuhubungi suamiku, supaya bisa segera menjemput di stasiun yang kutuju. Segera kuambil E63-ku. Ck, mati, keluhku pelan. 
''Tak akan bisa,'' lagi-lagi suara itu, perempuan aneh di sampingku.
''iya, Bu, Hp saya mati, baterainya habis barangkali,'' jawabku. Tidak enak juga klo aku tak menanggapinya.
''Bukan. Bukan karena baterainya, tapi memang tidak bisa, tak akan bisa. Barang itu tidak berguna, tidak bisa menolongmu,'' suaranya trdengar semakin berat seolah ingin menegaskan sesuatu. Argh, kucoba untuk menahan marah, bagaimanapun aku tak boleh, dia hanya seorang perempuan paruh baya. Mungkin wanita seusianya memang gemar meracau. Meracau? tunggu, seingatku, HP ini baru saja aku charge, kenapa tidak bisa. Apa maksudnya dengan tidak akan bisa. Ah, kucoba menepis resah yang mulai merayap. Kulongok jendela kereta dibelakangku. Gelap, tak satupun titik terang kulihat. Ups, aku terperangah, perempuan itu ............ Aku semakin resah, kulihat jarum jam di tanganku seolah tak bergerak. Mati jugakah? Kenapa barang-barangku mati semua? Tak berguna? 
Sementara kereta terus melaju, tanpa kutahu sampai di mana.
……………………………………………………………………………………………………………………
Kucoba memejam mata, dan berharap semua baik-baik saja saat aku membukanya. Ya Robbi, kereta apa ini? Kenapa kereta seolah berjalan pada jalur yang tak biasa. Semalam-malamnya perjalanan, biasanya tetap terlihat ia sudah sampai di mana. Pasar Minggu kah? Depok kah? atau jangan-jangan kereta ini sudah melewati Citayam? Ah,aku tidak boleh tertidur,aku tidak mau terbawa sampai Bogor, mengerikan sekali. Segera kulongok jendela di belakangku, tapi lagi-lagi tak satu pun terang yang bisa kulihat. Mati lampu kah jalur di sepanjang Jakarta Bogor sehingga di luar begitu gelap gulita.
"Sriiiink............" derit rem kereta mengagetkanku. Kenapa tiba-tiba masinis mengerem mendadak? Ada apa lagi ini? mogokkah? kenapa tak terlihat satu pun petugas dari tadi. Mau bertanya pada siapa? Pada perempuan di sampingku? Ah, malas aku mendengar ceracaunya, hanya menambah kegelisahan. Tapi tunggu, kenapa pintu kereta dibuka. Kulihat hampir semua penumpang beranjak turun, termasuk perempuan di sampingku. Anehnya tak sedikitpun terdengar kegaduhan layaknya penumpang jika kereta bermasalah. Hampir semua diam. Atau jangan-jangan bukan mogok, tapi sudah sampai stasiun akhir, Bogor.
"Ayo," ajak perempuan itu.
" Sudah sampai mana ini, Bu?" tanyaku terpaksa. Bagaimanapun orang terdekat denganku saat ini hanya dia.
"Sudah sampai akhir," jawabnya lirih.
"Bogor, maksud Ibu?" tanyaku penasaran. Yang kutanya hanya diam sambil terus melangkah menuruni tangga kereta. Sempat kulihat perban yang membebat kepala bagian belakangnya, masih basah dengan darah. Barangkali itu yang membuat wajahnya pucat. Kasian juga ibu itu, kenapa tidak ada yang mengantarnya. Bergegas kukemasi barangku, tidak ada pilihan lain kecuali turun dan mencoba mencari informasi yang lebih jelas.
Aku berjalan dalam gelap, di antara orang-orang yang diam tak bersuara, tanpa kutahu ini di mana. Yang kutahu rombongan ini menuju ke satu titik, seperti ada yang mengarahkan. Dan aku terus berjalan, meski berjuta pertanyaaan bergelayut di benakku.Kutajamkan penglihatan, berharapa ada seorang yang kukenal. Tapi usahaku sia-sia. Tak ada satu pun.
Mataku nanar menatap sebuah layar lebar di depanku. Seperti melihat sebuah sinetron, tapi anehnya aku kenal betul pemerannya. Dingin mulai merayapi tubuhku, semakin lama semakin menusuk tulang. Aku menggigil, tapi bukan semata-mata dingin.
……………………………………………………………………………………………………………….
Sebuah layar besar terus memutar gambar demi gambar. Ada satu wajah yang sangat kukenal. Kau tahu, wajah siapa dia? Itu wajahku, ya, itu aku. layar besar itu sedang memutar perjalanan hidupku. Tapi tunggu, apa maksud semua ini? Kenapa  tiba-tiba perjalanan hidupku di putar.Untuk apa? kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Tak satupun ikut menonton layar lebar di depanku.  Masing-masing terlihat sibuk di depan layar lebar layaknya di depanku. Tak satu pun bersuara, barangkali mereka juga heran, sama sepertiku. Aku harus bertanya. Pada siapa? Perempuaun itu, ya, perempuan itu,  barangkali dia tahu. Ada sesuatu yang tidak biasa sedang menimpaku. Tapi apa? Aku harus cari tahu jawabnya.
Mataku mencari perempuan berperban di kepala yang sejak tadi bersamaku, tapi nihil, tak ada, entah di mana ia. Tubuhku  mulai berpeluh jagung,sementara layar lebar di depanku belum berhenti memutar episode kehidupanku. Tidak ada pilihan lain, selain melihatnya dengan seksama, sampai dimana akhir semuanya. apa yang membuatku terbawa gerbong tak jelas itu pasti ada di situ.
Tubuhku semakin mengigil. Rasanya aku mulai mengerti di mana aku saat ini. gerbong itu, orang-orang yang diam membisu itu, layar lebar yang membuat setiap yang melihatnya terpaku. Ya Robbana, ini kah akhir dari semua? Aku mulai tergugu. Terbayang pagi yang buru-buru karena aku harus mengejar kereta, tanpa sempat mencium si bungsu yang terlelap di sampingku. Terbayang dua lagi putraku yang belum juga rapi berpakain ketika aku meninggalkan mereka, hingga tersadar ketika si tengah berteriak,
"Umi....belum saliim..."
Ya Robb, masih adakah kesempatan untuk  mengulang semua? Jika memang ini adalah malam terakhirku, sungguh, masih banyak PR yang belum kuselesaikan. Jika memang ini adalah malam terakhirku,sungguh, aku merugi karena aku menghadapMu dengan bekal yang sangat tidak memadai.Terbayang betapa buru-burunya aku menyelesaikan 2 rokaat sholat dhuha, teringat mata yang lelap terpejam hingga subuh datang, teringat Al-Qur'an pojok yang sepekan terakhir memandangku iba di sudut ruangan karena tidak kusentuh.Ya Robbana, masihkah ada kesempatan untuk mengulang semua, pintaku sungguh di antara isak tangisku.
Rasanya aku mulai tahu muara dari semua. Gerbong yang membawaku memang bukan gerbong biasa. Gerbong ini tidak hanya mengantar kami penumpangnya hingga stasiun tujuan.Lebih dari itu ia mengantar kami pada ahir dari kehidupan kami di dunia. Dan sekarang kami sedang diperlihatkan apa saja yg sudah kami lakukan selama ini. Aku kembali tergugu. Di depanku tampak wajah suamiku, tampak ruang tamu kami yang tak luas, tampak tangannya sedang memegang tanganku. Masih terekam jelas di ingatanku, apa yang kami perbincangkan saat itu.Saat itu dia hanya memmintaku u menyajikan teh di setiap pagi dan petang, dengan tanganku sendiri, bukan lewat tangan si mbak, khodimatku. Dia juga memintaku untuk menemaninya saat dia bersantap makan. Sebuah pinta sederhana yang belum mampu sepenuhnya kupenuhi karena kesibukanku sebagai wanita pekerja.
Ya Robbana, benarkah ini malam terahirku? kenapa tak Kau beri kesempatan aku untuk bertemu dulu dengan suami dan anak-anakku. Minimal untukk meminta maaf kepada mereka atas ketidakmampuanku menjadi ibu dan istri yang baik untu mereka. Minimal untuk mengatakan kepada mereka bahwa aku mencintai mereka .
Dingin semakin terasa menusuk. Aku lunglai dalam ketidak berdayaanku. Telah datang saat di mana semua nikmat terputus. Telah datang saat di mana angan-angan untuk beramal sholeh tak berguna lagi. Kupaksa lisanku untuk terus menyebut namaNya, berharap aku menghadapNya secara baik. Tak kuhiraukan lagi lalu lalang orang di sekitarku, tak kuhiraukan lagi hiruk pikuk yang semakin lama semakin jelas terdengar di telingaku. Aku terus memejam mata hingga sebuah tepukan menyadarkanku.
Ruangan yang serba putih, inikah tempat peristirahatanku yang terakhir? tapi tunggu, ada suara yang sepertnya aku tak asing. Kucoba membuka mata, mencoba menjawab rasa penasaranku. Robbana....ada suami dan anak2ku. Apa arti semuanya? Aku terbaring di atas ranjang putih, di sebuah kamar ukuran 3x4, dengan aroma obat yang kuat menusuk. Aha, aku di rumah sakit. So? Aku tidak jadi mati? Aku tidak  jadi mati? Aku hampir berteriak kegirangan. Tapi tunggu,  siapa perempuan di sudut ruangan itu? Sepertinya aku juga kenal. Bukankah dia perempuan di gerbong itu? Ah, apa maksud semua ini? Apakah dia sedang menungguku u berpamitan dengan suami dan anak-anakku dan selanjutnya membawaku pergi lagi? Ah sudahlah, ta akan kusia-siakan kesempatan ini. Aku akan meminta maaf kepada suami dan anak-anakku. Kucium anak2ku sepenuh hati sementara perempuan itu terus memandang dan berjalan ke arahku. "Beri kesempatan padaku untuk menjawab satu pertanyaan suamiku yg belum sempat kujawab," pintaku pada perempuan itu. Aku khawatir kali ini benar-benar menjadi saat terakhirku. Kugenggam tangan suamiku, bersiap u menjawab tanyanya bahwa aku juga mencintainya. Perempuan itu semakin mendekatiku, kali ini dia tersenyum, manis.
“Belum waktunya bagimu," bisiknya pelan dan perlahan pergi. Tidak ada yang tau, hendak kemana ia. Dan entah kenapa tiba2 lidahku kembali kelu  ketika suamiku bertanya, "Apakah umi mencintai abi?"



Cerita ini pernah di upload di Fb medio 2011
sebuah upaya mengumpulkan tulisan yang tercecer :)

Rabu, 23 April 2014

Unpredictable Moment

Dulu, setahu saya Paledang hanyalah nama sebuah lembaga pemasyarakatan di Kota Bogor. Tak pernah terbayang, bahwa suatu hari saya akan berada di suatu tempat dengan nama yang sama. Jangankan bercita-cita menyambanginya, berniat untuk itu pun tidak.

Tepatnya sebulan yang lalu, saya menginjakkan kaki di Paledang. Bukan, bukan Paledang tempat orang-orang yang diputus bersalah oleh hakim menginap. Paledang yang saya maksud adalah nama sebuah stasiun di Kota Bogor. Emang ada ya? Bukannya di Bogor cuma ada satu stasiun saja yaitu Stasiun Bogor, tempat dimana KRL Jabodetabek bermula dan berakhir?

Beberapa waktu lalu, saya pun berfikir demikian. Sampai suatu hari, seorang teman menyarankan saya untuk menyambanginya.Ya, ketika saya mulai dipusingkan dengan antar jemput Mas Haqi yang nyantri di al Kahfi, Sukabumi, sejak abinya dipindah tugas di ujung barat Pulau Sumatra. Nyetir mobil sendiri tidak bisa, menghire supir terus menerus rasanya tak nyaman dan tak bebas karena bukan mahrom. Mau tak mau saya harus memikirkan moda transportasi lain sebagai alternatif. Saat itulah teman menyarankan agar kami memanfaatkan jasa kereta api saja.

Hunting tiket pun dimulai. Setelahnya, barulah saya mulai mencari di mana letak stasiun yang akan memberangkatkan kereta yang dinamai Pangrango oleh PT KAI itu. Tepat pukul 11.30 berdua Mas Haqi kami naik motor menuju Stasiun Citayam. Rencananya mas Haqi akan menumpang kereta Pangrango dengan jadwal keberangkatan pukul 12.55.Cukuplah waktu yang kami punya insya Allah. O ya, Kereta Bogor-Sukabumi ini beroperasi 3 kali dalam sehari. Pemberangkatan paling pagi adalah pukul 07.55, selanjutnya pukul 12.55, dan yang terakhir adalah pukul 18.35 (kalau tidak salah ya ). Harga tiket yang ditawarkan cukup terjangkau menurut saya. Rp 20.000,- untuk kelas ekonomi, dan Rp 50.000,- untuk kelas eksekutif. Hari itu, Mas Haqi memilih kelas ekonomi dengan dalih irit, alhamdulillah, he..

Tak lebih dari 15 menit kami tiba di Stasiun Bogor. Kutengok kiri kanan, mencari cari di mana gerangan tulisan Stasiun Paledang berada. Setelah beberapa kali bertanya karena takut nyasar, akhirnya sampailah kami di Stasiun dimaksud. Letaknya tak jauh dari Stasiun Bogor. Ternyata hanya dengan menyebrang dan menyusuri Taman Topi Square, kami sudah sampai ke Stasiun Paledang. 

Ah, membaca Paledang membuat saya tidak bisa tidak memutar pandangan. Kenapa namanya Stasiun Paledang ya? Apakah ada hubungannya dengan LP Paledang yang saya tahu itu? Aha, sampai sekarang saya belum menemukan jawabnya.
Masih cukup waktu bagi saya dan mas Haqi untuk berbincang bincang sebelum kereta diberangkatkan. Beberapa nasihat khas orangtua mulai mengalir dari mulut saya. Jujur saja, baru kali ini saya melepasnya naik kereta sendiri. Di usia yang baru genap 14 tahun April ini. Sedikit was-was tentu, tapi saya coba untuk meyakinkan diri dan Mas Haqi  bahwa semua akan baik-baik saja. Mas Haqi tidak akan menumpang kereta sampai Stasiun Sukabumi. Dia hanya butuh melewati Stasiun Batu Tulis, Maseng, dan mengakhiri perjalanan di Stasiun Cigombong. Dari sana, ia cukup mengandalkan jasa ojek untuk sampai ke pesantren dengan ongkos kurang lebih 10-15 ribu (itu menurut pengakuan Haqi-harga pelajar kali ya- :).
Hanya butuh 3 stasiun saja, dengan waktu kurang lebih maksimal 45 menit. Jauh berbeda ketika saya harus mengantarnya dengan menggunakan mobil. Jika beruntung dan tidak macet, kami harus menempuhnya dalam waktu kurang lebih 2 jam. Kalau macet? Beu...jangan ditanya, he...

" Jangan meleng ya, Mas. Jangan tidur. Baca sholawat, baca doa perlindungan yang biasa kamu baca di al ma'tsurot, bla...bla....bla...," aku terus menghujaninya dengan petuah, lagi-lagi khas emak-emak galau.
"Aku seperti mau merantau aja ya, Mi," tuturnya polos.
"Memang kamu merantau, Nak", tuturku pelan. Kutepuk tepuk pundaknya yang membingkai bidang dadanya yang mulai terbentuk. Sebait doa terlantun, Robbana kutitip anakku selama perjalanan kepadaMu.

Tepat pukul 12.55 Pangrango membawa buah hatiku pergi. Ah, kurasa nyeri di sebagian dadaku.Beginikah rasa hati orang tuaku ketika aku pergi meninggalkan Semarang 19 tahun yang lalu. Nyesek, khawatir, bercampur menjadi satu. Padahal saat itu usiaku sdh 18 tahun.

"Alhamdulillah, Mi. Sampai Al-Kahfi jam 13.45, sebuah sms dari nomor asrama Al-Kahfi membuatku lega.

Hari ini, di siang yang sama, aku kembali mengantarnya ke tempat itu. Ke Stasiun bernama Paledang. Masih dengan nyeri  yang sama. Tapi tak bisa tidak, dan harus tega. Keadaan yang membuatku mengubur dalam-dalam kekhawatiranku. Semoga ini mendewasakannya dan membuatnya mandiri meski mungkin harus  lebih cepat dari usianya. Kucium keningnya dalam. Rasanya aku akan sering mengantarkannya ke tempat yang sama. Melepasnya bersama ratusan penumpang lainnya menuju tempatnya menuntut ilmu dan iman. An unpredictable moment that I never imagine before.

Pabuaran, 21 April 2014
Semoga senantiasa dalam lindunganNya

Senin, 24 Maret 2014

Antara Rindu dan Sesal



20 Januari 2014

Barangkali inilah hari yang tidak akan pernah kulupakan dalam hidupku. Ada apakah gerangan di hari itu? Promosi? Mendapat undian? Mendapat rezeki nomplok? Bukan, bukan itu yang membuatku selalu mengingatnya. Tapi demi Allah tidak pernah aku merasakan penyesalan selayaknya penyesalanku di hari itu.

Senin, seperti biasa aku bergegas untuk berangkat ke kantor. Sejenak menghentikan langkah, terbersit niat untuk menelpon ibu dulu. Tapi niat itu tertunda demi melihat jarum jam yang menunjuk angka 6.00. Nanti deh di kantor, pikirku dalam hati. Ya, hari itu memang aku berniat menelepon ibu yang tinggal bersama kakak di Semarang. Kondisi ibu sedang kurang sehat, itu yang kutangkap dari sms beruntun yang dikirim kakak ipar sehari sebelumnya. Kabar yang membuatku resah, tapi tak mampu berbuat apa-apa. Saat itu kami terpisah jarak. Ibu di Semarang, aku sedang dalam perjalanan menuju Lido, Sukabumi untuk menengok Mas Haqi yang beberapa minggu belum sempet tertengok. Sinyal hape yang lemah menjadi kendala komunikasi antara aku dan kakak iparku siang itu. Akhirnya kusampaikan pesan bahwa aku akan menelpon ibu sesampainya di rumah.

Sejujurnya, ada yang tidak enak di hatiku ketika kakak mengabarkan ibuku pup di tempat tidur. Tak biasanya beliau begitu. Jangan-jangan, ah aku segera menepis prasangka buruk dalam hatiku. Tenang Ria, ibu’e hanya masuk angin biasa, tidak akan terjadi apa-apa, hiburku dalam hati. Namun ingatanku terhempas ke tahun 1990, tahun di mana aku mendampingi saat-saat sakaratul maut mbah putriku. Lagi, yng membuatku berpikir jauh tentang ibu adalah, detik-detik menjelang wafatnya, mbahku pun pup di ditempat tidur.  Hatiku pun melega ketika di sore itu kakak mengabarkan bahwa bu’e terkena diare. Hufh, syukurlah pikirku, tak separah yang aku bayangkan. Mungkin bu'e hanya tidak keburu ke kamar mandi.

Pekerjaan yang belum terselesaikan di pagi 20 Januari itu lagi-lagi membuatku menunda niatku untuk menelepon ibu. Begitu sibuknya hingga tak sempat kuangkat sebuah panggilan yang ternyata berasal dari kakak sulungku. Sebuah sms masuk menyusul tak lama kemudian. Sebuah “forward massage” tampak di layar smartphone lawas yang kupunya.

“Pak, kayak’e ibu’e wes ga ada nafas,”

Jantungku terasa berhenti berdetak. Nanar kubaca huruf demi huruf yang membentuk satu kalimat yang kuingin itu salah, “ga ada nafas”

Bergegas kutelpon kakak sulungku. Mencoba mengkonfirmasi kabar yang kuterima dan berharap ia akan menjawab bahwa kabar itu ternyata tidak benar. 

“Itu sms dari mbakyumu (ipar), aku belum ngecek kebenarannya. Sebentar lagi aku pulang,” hanya itu jawaban yang kuterima dari kakak sulungku yang ketiban sampur untuk mengurus ibu beberapa tahun belakangan ini.

Lagi aku menghela nafas, masih berharap berita yang kuterima salah. Masih banyak yang belum kulakukan  untuk memenuhi ingin ibuku. Dan satu hal yang pasti sangat akan aku sesali jika itu memang benar terjadi adalah, kelalaianku menemani ibu di akhir hidupnya, padahal beberapa minggu yang lalu beliau mengungkap harap bahwa ia ingin menghabiskan waktunya di rumahku. Segera kupintal doa kepada yang menguasai jiwa ibuku, Robbi,,,jangan ambil dulu, rintihku pedih. Dadaku mulai sesak, seiring setumpuk penyesalan atas abaiku padanya, termasuk menunda menelponnya sejak kemarin.

Kucoba menelpon kakak iparku, sekali lagi mencoba memastikan bahwa berita yang ia kirimkan tidak benar. Kudengar nada dingin di sana.

“Ibu’e wes ra ono,” ucapnya datar, terdengar menyimpan marah
“Sudah dibawa ke dokter?,” tanyaku. Suaraku mulai meninggi begitu kudengar ibuku belum tertangani dokter. Kenapa tak terpikir di benak iparku untuk segera menghubungi dokter, sesalku dalam hati.

 Ah, tak layak aku menyalahkan istri kakakku. Ibuku hanyalah mertuanya. Semestinya memang aku lah yang lebih wajib berada di samping ibuku di hari tuanya.
Beberapa sms kembali memenuhi layar handphone ku. Isi beritanya sama, mengabarkan bahwa ibuku memang benar telah berpulang. Lunglai, sesak, panas, bercampur jadi satu. 

Bergegas kulangkahkan kaki menuju mushola di ujung kantor. Hal pertama yang harus kulakukan tidak bisa tidak adalah menemui Sang Pemilik Jiwa ibuku. Kulakukan dua rokaat sholat di ujung dhuha. Memohon ampun kepadaNya atas ketidakmampuanku menjadi anak yang baik untuk ibuku, orang tuaku satu-satunya. Perempuan terkuat dan terhebat yang kukenal di sepanjang hidupku. Yang tak pernah mengeluh dalam puluhan tahun kesendiriannya mendidik 8 putra putri setelah ayahku mendahuluinya di pertengahan tahun 1985. 

Semarang, masih di 20 Januari 2014

Argo Sindoro menjadi pilihan untuk mengantarku melihat jasad ibuku. Kutunggu anak-anak dan keluarga adikku di Stasiun Gambir. Sengaja aku tidak pulang dan langsung berangkat dari kantor karena waktu memang tak memungkinkan. Dalam sendiri kucoba untuk menahan air mata agar tidak tumpah. Bukan waktunya lagi berandai-andai, karena semua memang sudah terjadi. Kali ini aku benar-benar merasakan bahwa Allah memang akan selalu mempergilirkan siang dan malam, sedih dan gembira secara bergantian.

Sepanjang perjalanan, tak bisa tidak kuingat kembali saat-saat terakhir perbincanganku dengan ibuku. Tak lama setelah libur lebaran, aku sempat meminta pendapatnya, apakah aku harus menandatangani surat pernyataan kesanggupan untuk mengikuti assessment eselon 4 di unit kerjaku. Ya, hal biasa yang kulalukan ketika aku hendak memutuskan sesuatu yang kuanggap penting.  Tak lama setelah itu aku mengabarkan kepindahan suamiku dan meminta doanya agar kami diberi kemudahan untuk melalui semuanya dengan mudah. 

“Bismillah, tak doakan lancar, barokah, sukses, “ itulah sedikit dari rentetan doa ibuku ketika kupinta restunya sesaat sebelum aku mengikuti assessment eselon 4. Dlm gamang kuikuti rangkaian assessment saat itu karena di hari yang sama aku harus melepas kepergian suamiku. Tapi Alhamdulillah, Allah memberi kemudahan. Dan lagi-lagi aku meyakini semua berkat doa ibu dan ridho suami.

Pun ketika kukabarkan bahwa aku akan mengikuti serangkaian tes terkait beasiswa yang akan kuikuti, ibu pun antusias menjawabnya dengan doa-doa panjangnya. Dan lagi-lagi, doanya mampu menembus langit dan menggetarkan arsy-Nya. 
Awal tahun 2014, Allah berikan kesempatan kepadaku untuk mendapat beasiswa itu. Sebuah kado indah di hari ulang tahunku. Engkau tahu ibu? Ada banyak rencana yang telah kususun dibalik inginku mendapatkan beasiswa itu. Selain berharap aku bisa lebih punya banyak waktu di rumah untuk Kinan dan Ayyasy cucumu, aku juga berharap akan berkesempatan mendampingimu lebih lama , seperti inginmu untuk menghabiskan sisa umurmu di rumahku.

Malam itu, aku hanya bisa tertunduk penuh sesal di depan jasadmu yang beku. Inginku hanya tinggal ingin yang tak sempat terwujud.  Terlalu banyak aktivitas yang membuatku menunda semua inginmu. Terlampau banyak egoku hingga abai dengan pintamu yang sederhana. Ya, pintamu yang tak pernah banyak. Hanya ingin ditemani di sisa usiamu. 

Jika saat ini dadaku sesak dan tak mampu sembunyikan tangis, maka bukan kepergianmu ibu yang menjadi sebab. Karena kematian adalah sebuah kemestian yang setiap jiwa pasti mengalaminya bukan? seperti firmanNya," Kullu nafsin da iqotul mauut."
Jika saat ini dadaku sesak dan tak mampu sembunyikan tangis, maka sungguh aku sedang menangisi hilangnya kesempatan untuk berbakti kepadamu, menyesali egoku yng lebih memperhatikan keluarga kecilku dibandingkan engkau. Dan kau tau ibu, tangisku mewujud karena tak akan ada lagi doa untukku yang akan menggetarkan arsyNya. Doa yang seperti tak terhijab karena seringnya Ia kabulkan doamu untukku. Lulus assesment, dimudahkan Allah dalam kesendirian di Citayam, dan lulus beasiswa di sebuah PTN ternama di negri ini, adalah jawaban Allah atas doa sungguh-sungguhmu untukku. Jazakillah khoiron jaza.

Bu’e, semestinya Senin ini Hendri akan menjemputmu untuk tinggal di Citayam bersamaku. Tapi rupanya Allah lebih sayang, hingga Dia lebih dulu menjemputmu. Allah lebih tahu bila saat yang tepat kau bisa rehat dari lelahmu. Selamat jalan Bu’e. Semoga kau maafkan kami yang tak ada di sampingmu saat Izroil menjemputmu. Akan kutebus abaiku, dengan menjadi amal yang tak berkeputusan untukmu dan untuk ayah. Allahummaghfirlaha, warhamha, wa afihi wa’ fuanha. Semoga bertemu dengan ayah di sebaik baik tempat di sisiNya. Semoga kelak kita kembali dikumpulkan di surganya, tanpa lelah dan air mata. Aamin.

Pabuaran, di hening malam
Masih dengan rindu dan sesal