Senin, 09 Juni 2014

Luka Hati Seorang Guru


apa yang lebih mnyedihkan bg seorang guru
selain melihat murid berbicara di belakangnya
apa yang lebih menyedihkan bagi seorang guru
selain melihat murid tak lagi mendengar
bahkan berangsur menjauh dan pergi diam diam
Dalam duka guru berkata:
"mungkin aku memang tak sempurna, tak punya semua ilmu yang mereka minta. Tapi aku punya cinta, yang mewujud dalam untaian doa untuk mereka, diminta ataupun tidak diminta.
mungkin aku memang tak sempurna, tak mampu teladankan semua kebaikan laiknya Rosulullah meneladankan semua kepada para sahabatnya. Tapi aku punya cinta, yang mewujud dalam setiap rindu untuk merengkuh mereka, agar kelak mampu bersama-sama tapaki jalan surga.
mungkin aku memang tak sempurna. tapi aku punya cinta, punya rindu, punya doa, punya harap, bahwa kelak bisa bersama di kampung surga bersama mereka"
Dalam gundah guru terpekur:
"Mungkin mereka lebih pandai dariku kini
mungin juga mereka telah menjadi guru sepertiku kini
bukankah itu yang diinginkan seorang guru?
menjadikan murid tak selamanya murid
bukankah jamak murid seringkali melompat lebih tinggi dari gurunya?"
Sang guru tersenyum di sela bening yang menetes di sudut mata
"terimakasih Robbana, aku telah berbuat sesuatu untuk mereka
tak harus kusesali apa yang telah aku lakukan untuk mereka
meski apa yang mereka lakukan tak seperti yang kuharapkan
tak ada ingin apa-apa dari mereka
tak juga ucap terima kasih
hanya sebuah harap
tutur santun dari mereka
"maaf guru, aku tak lagi bisa di sini"
itu saja"

kpd mereka yg tak mampu memetik hasil yg diinginkan: laa tahzan 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar