Selasa, 29 Januari 2013

Jika ini yang kau rasa.....



Jika kau merasa

Kecil diantara mereka yang besar

Besar karena jabatan

Besar karena kekayaan

Besar karena kecantikan dan ketampanan

Besar karena kemapanan status sosial

Maka kemarilah

Biar kubisikkan padamu

Ada Ia yang tak pernah menganggapmu kecil

Ada Ia yang tak pernah menggapmu hina

Karena bagiNya

Yang  terpenting  apa yang ada di dalam hatimu

                Taqwa……..

                Tak ada selainnya

Jika kau merasa

Tak berharga di hadapan orang yang kau cinta

Tak berharga karena ada selainmu di hatinya

Tak berharga karena ada rindu yang lain di benaknya

Tak berharga karena ada sapa manja dari yang tak seharusnya

Tak berharga karena dirimu seperti tak ada

Maka kemarilah

Biar kukabarkan padamu

Ada Ia yang tak pernah lekang kasih dan cintanya

Ada Ia yang tak pernah bosan menatapmu mesra

                Karena bagiNya

      Yang  terpenting ada cinta di dalam hatimu

                UntukNya dan untuknya yang kau cinta atas restuNya

                Tidak untuk selainnya.

Kamis, 24 Januari 2013

Yang Tersisa dari Banjir: Ojek Gendong Vs Ojek Avanza

17 Januari 2012
Seperti biasa saya berangkat dengan langkah tergesa. Maklumlah emak-emak, ada saja yang dikerjakan menjelang berangkat kantor. Menyiapkan segala sesuatu untuk anak-anak yang ditinggalkan sampai dengan menyiapkan bekal untuk dibawa sang tuan (suami maksudnya, he...). Demi itu semua terkadang saya harus berlari kecil mengejar kereta di stasiun citayam. Sesampainya di stasiun tujuan, teteppp.... lari lagee.....berebut ojek bersama ratusan penumpang yang lain, demi mengejar 7.30 atau minimal TL 1 alias sebelum jam 8 pas. Anehnya, meski harus ngos-ngosan hampir setiap harinya, saya tetap belum (bisa) berangkat kalau belum mepet waktu, he....he...
Mendung masih sangat menggantung. Biasanya berdua mbaknya saya naik sepeda motor. Setelah sampai stasiun, dibawanya Supra Fit  semata wayang itu pulang, karena Kinan sudah menunggu untuk diantar ke sekolah. Akan tetapi pagi ini saya tidak ingin merepotkannya, ojek menjadi pilihan untuk mengantar hingga stasiun.

Banjir Penumpang  di Manggarai
Menumpang kereta jurusan Tanah Abang, saya memilih bersandar di pintu sebelah kiri gerbong pertama. Tak seperti biasanya, kali ini kereta terasa berjalan lambat. Untunglah saya ditemani “Serial Cinta”-nya Anis Matta, sehingga perjalanan yang lama ini tak terlalu membosankan. Keasyikan saya membaca terhenti ketika seorang penumpang di samping saya menghentakkan kakinya kesal. Rupanya kereta berhenti sedari tadi tanpa saya sadari, he...he....
Sepuluh,dua puluh, hingga tiga puluh menit, kereta tak juga bergerak. Dan seperti biasa, penumpang dibiarkan sibuk dengan prasangkanya sendiri, tak ada pemberitahuan apa pun. Tepat menit yang keempat puluh kereta mulai berjalan menuju Stasiun Manggarai.  
Wuih....sempat terkejut melihat begitu banyak orang di sepanjang peron . Ah, barangkali karena kereta tanah abang yang saya naiki ini terlambat, batin saya. Tak terfikir sedikit pun bahwa telah terjadi sesuatu di sini. Hingga akhirnya telinga dikejutkan dengan berita bahwa semua KRL hanya mengantar penumpang hingga stasiun manggarai dan tidak dapat melanjutkan perjalanan ke pemberhentian terakhir, baik Stasiun Kota maupun Stasiun Tanah Abang. Nyengir, ternyata ini yang menyebabkan penumpang berjubel di sepanjang peron yang tidak bisa dibilang sempit itu.

Di Mana Teman-temanku?

Bingung, antara melanjutkan perjalanan atau pulang. Clingak clinguk di antara ratusan orang yang berdesakan agar terbebas dari tampias hujan yang tak juga mereda, berharap ada wajah-wajah orang  yang saya kenal sehingga bisa bersama sama menuju kantor. Nihil. Saya tidak menemukan siapa-siapa. Akhirnya saya coba mengirim sms ke beberapa teman yang searah dan biasanya satu rombongan dengan saya. Rombongan  mefet waktu kalau absen, he...he...he... Dua sms saya kirim, tak ada jawaban, sementara hp sudah berkali mewarning saya, baterai tinggal 5 %.
 Hujan deras, payung ketinggalan, tidak pakai jaket, hp low bat, walah.... lengkap sudah. Tak berapa lama saya baru teringat dengan Galaksi Tab II pemberian suami sebulan yang lalu.. Alhamdulillah benda itu ada di tas saya saat ini. Meski baterai tinggal separuh dan di dalamnya tidak ada satu pun nomor kontak teman-teman,  setidaknya saya masih bisa menghubungi suami, meminta pendapat apakah harus pulang atau jalan terus. Masih bisa juga  membuat status di FB (halah, sempet-sempetnya ya...) yang langsung disambut dengan beberapa komentar  yang intinya sama:
 “Pulang ajaaa.......”
Hati semakin gelisah, sementara jarum jam terus merangkak, mengantarnya menuju angka sembilan. Satu jam sudah saya duduk di peron Stasiun Manggarai. Hfh...akhirnya saya harus mengambil keputusan. Seiring hujan yang mulai reda, saya langkahkan kaki menuju pintu keluar stasiun. Bukan, bukan untuk melangkah ke kantor pada awalnya. Niat saya adalah membeli tiket untuk kembali lagi ke Citayam, meskipun beberapa orang di sekitar saya menyarankan untuk tidak membelinya. Namun pertemuan saya dengan beberapa orang yang berkantor di sekitar Lapangan Banteng mengurungkan langkah saya kembali ke peron. Wah, hati saya kembali bimbang. Pulang atau lanjut. Hingga pada akhirnya ajakan mereka untuk melanjutkan perjalanan ke kantor  mengalahkan niat saya untuk pulang. Ya sudahlah, bismillah saya ikuti langkah mereka.

Banjir Yang Mengepung

Perjalanan saya awali dengan metromini (nomornya saya lupa, he..he...) menuju gang kelor. Menurut supirnya, dari sana kami bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mikrolet 01 menuju lapangan banteng. Ketika melewati jalan yang sudah mulai digenangi air yang tidak bisa dibilang rendah itu, saya bersyukur tidak menggunakan jasa ojek ataupun bajaj, karena beberapa ruas jalan memang tidak bisa dilalui dengan dua moda angkutan itu.
Sesampai di gang kelor, hujan kembali turun. Bress.....waduh, kami mulai berlarian menuju sebuah pohon rindang. Meski ada seorang ibu yang berbaik hati untuk berbagi payung, tak urung basah juga sebagian jilbab dan blazer yang saya pakai. Tak apalah, ini resiko yang harus saya tanggung karena kecerobohan saya mengabaikan arti penting payung dan jaket di saat-saat seperti ini. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya kebagian juga naik Mikrolet 01. Alhamdulillah, setidaknya saya tidak kehujanan lagi. Tidak seperti yang saya duga sebelumnya, rupanya banjir kali ini benar-benar serius. Beberapa ruas jalan yang biasanya lancar, mulai terkepung banjir sehingga menimbulkan kemacetan yang luar biasa. Dari dalam mikrolet inilah saya kemudian menaruh harap diantara rasa cemas (jadi ingat materi khouf dan roja’).
Satu demi satu simpul kemacetan berhasil saya lalui. Sholawat ternyata cukup ampuh mengantarkan saya pada kepasrahan yang sangat kepadaNya.  Mikrolet terus merayap hingga akhirnya benar-benar  tak bisa bergerak di atas fly over  Senen. Saya putuskan untuk turun bersama rombongan. Beriringan kami berjalan menuju gedung Dhanapala. Saya yang seringkali gagap jalan, mengikuti saja langkah kaki mereka. Yang penting sampai Dhanapala. Kalau sudah di situ insya Allah sendiripun saya berani. Langkah saya mulai gamang ketika di depan sebuah apartemen yang akan kami lewati terlihat air setinggi lutut orang dewasa. Waduh... bagaimana ini? Beberapa orang bapak sempat meneriaki kami, “Angkat celananya, Bu.”
Lah, bagaimana dengan saya yang mengenakan rok? beruntung ada seorang bapak yang mencarikan jalan yang cukup ramah untuk saya. Alhamdulillah, akhirnya terlewati juga genangan air itu tanpa harus membasahi rok saya, hanya merelakan ujung  celana panjang yang sering saya pakai sebagai dalaman saja.

Ojek Gendong vs Ojek Avanza

Gedung Dhanapala terlewati sudah. Sampai di sini saya berpisah dengan rombongan. Sendiri saya susuri gedung Bapepam, DJKN, Kantor Pusat DJPBN, hingga sampai pada sebuah tangga penyebrangan. Bergegas saya naiki tangga yang menghubungkan lokasi ini dengan kantor saya. KPPN.... I’m coming....sorak hati saya. Tapi apa lacur. KPPN Jakarta II yang sedianya bisa ditempuh dengan sedikit hitungan langkah itu  ternyata tak bisa saya sambangi  begitu saja. Urung saya turun tangga melihat tingginya air yang menggenangi halaman kantor tercinta ini. Kembali nyengir, he....he....tidak mungkin saya nekat. Dari atas gedung beberapa teman tertawa dan meneriaki saya.
“Pakai getek, RI....”
“Pakai tali .....”
“Ojek gendong mbak Ri.....”
Saya hanya cengar cengir saja menanggapi teriakan mereka. Masalahnya harus sampai kapan saya cengok di tangga ini ???? Lagi-lagi saya ingat suami.
“Baca sholawat di saat sulit, mudah-mudahan Allah mudahkan urusan kita,” begitu pesan yang kerap diulangnya.
Oh iya, tentang ojek gendong, ini beneran ada, bukan sekedar dongeng (jyah, apa coba). Di tengah kegalauan orang yang hendak menyebrangi genangan air menuju kantor, teman saya ini termasuk yang beruntung. Melihat raut keraguan atau lebih tepatnya ketakutan diwajahnya demi melihat air setinggi lutut orang dewasa, suaminya sigap menggendong dan mengantarkannya hingga teras kantor kami. O...so sweet.... (cerita ini saya dengar sesaat setelah saya sampai di kantor) Semoga Allah melanggengkan mereka hingga akhirat.
Bagaimana dengan saya? Alhamdulillah, Allah Maha Baik. Di saat yang lain menggunakan gerobak dorong untuk menerjang banjir, Allah justru mengirimkan gerobak mewah untuk menyebrangkan saya ke tempat tujuan. Sebuah Avanza Veloz direlakan pemiliknya untuk mengangkut kami yang terjebak di tangga penyebrangan. Semoga Allah berikan keberkahan kepada pemiliknya.
Memasuki kantor, sorak sorai yang diiringi tepuk tangan teman-teman di ruang front office menyambut kedatangan saya laiknya menyambut seorang pahlawan. Ha...ha... ada-ada saja teman-teman saya ini. Suasana bertambah riuh ketika saya menanggapi mereka dengan lambaian tangan.
Maklum, dari sekian roker (rombongan kereta) di kantor saya yang terjebak di stasiun Manggarai, sepertinya cuma saya yang nekat menerobos banjir hingga sampai ke kantor. Yang lainnya memilih balik kanan alias pulang ke rumah.

Man Jadda Wa Jadda
Ah, tak ada yang perlu dibanggakan atas itu semua, karena hakikatnya segala puji hanya bagi Allah. Allah lah yang berkehendak menyampaikan saya ke kantor dengan selamat. Bagaimana halnya dengan teman-teman yang tidak sampai ke kantor? Saya yakin mereka semua sudah berusaha semaksimal mungkin yang mereka mampu usahakan. Dan pada akhirnya Allah juga yang menentukan apakah mereka akan disampaikan ke kantor  masing-masing atau tidak. Yang jelas Allah tidak pernah melihat hasil akhir, akan tetapi Dia melihat sejauh mana usaha kita dalam mengerjakan  sesuatu. Yang pasti tidak akan sama mereka yang duduk-duduk dengan mereka yang berjuang bukan? Loh kok? Jadi inget materi  tentang berjuang di jalan Allah yang baru saja dibahas di lingkaran kecil saya.
 Selalu ada ibroh atau pelajaran di setiap peristiwa. Begitupun dengan apa yang saya alami hari ini. Bagi saya, perjalanan panjang dan penuh liku dari rumah menuju kantor kali ini mengingatkan saya bahwa ketika kita sudah mempunyai satu tujuan, maka ikhtiar dan tawakallah yang akan mengantar kita untuk mencapai tujuan tersebut. Masalah hasil, lagi-lagi itu adalah hak  prerogatifNya. Dan tidak ada satu pun dari kita yang mampu mengubah kehendakNya.

Pabuaran, 24 Januari 2013.
Cukup banjir ini di sini, semoga tidak di matamu 



Selasa, 22 Januari 2013

ENTAH,,,,,,



berjuta tatap
hadir
tanpa kata
      sepi

beribu cahaya
datang
tak terasa  
hangatnya
     dingin

nun di  sana
tak ada tatap
tapi penuh kata
hanya remang
tapi hangat
    entah
    apa sebab



Sabtu, 12 Januari 2013

8 Tahun Perjalanan


Delapan tahun bukan waktu yang singkat untuk mengurai sebuah perjalanan. Jika kita lihat pada anak2 kita, delapan tahun adalah waktu yang telah memberi banyak hal luar biasa sejak pertama mereka diahirkan. Mereka tidak hanya bisa berjalan, tapi mereka juga bisa berlari, bermain, bersekolah, dan masih banyak lagi hal lain yang bisa mereka lakukan. Pada beberapa anak bahkan usia delapan tahun mampu "diamanahkan" menjaga adiknya. Intinya delapan tahun adalah waktu yang tidak sebentar untuk berubah dari satu fase ke fase lainnya.

Kawan, berbicara tentang delapan, tahun ini adalah tahun kedelapan dari awal berkecimpungnya saya dengan sebuah aktivitas yang berhubungan dengan pengembangan SDM (bahasa kerennya gitu, he...). Sebuah aktivitas yang awalnya saya ragu untuk memulainya, karena saya sadar, ini bukan sembarang pengembangan SDM. Tidak hanya dibutuhkan orang yang pandai bicara dan memotivasi saja dalam kegiatan ini, tapi lebih dari itu, dibutuhkan orang yang mampu berbuat. Ya, berbuat sesuai dngan apa yang telah disampaikan. Karena bagi mereka yang hanya mampu bicara tapi tidak mampu melakukan, ancamannya sungguh berat. Seringkali lidah terasa kelu ketika mengingat ayat ke 2 dan 3 dari surat As-shoff ini. Mampukah saya? Tapi berbekal semangat dari guru spiritual saya ( bahasa selebnya guru ngaji gitu, he..), dan berbekal semangat dari yang menggenggam jiwa saya: "kuntum khoiru ummati, ukhrijat linnaas, ta'muruna bil ma'ruf watanhauna 'anil munkar, wa tu'minuna billaah", bismillahirohmanirrohiim, saya memberanikan diri memulai aktivitas ini.

Bersama teman seperjuangan yang saya cintai karena Allah, saya mulai aktivitas ini dari lingkup kecil, dari lingkungan yang terdekat yaitu warga satu RT. Setahun dua tahun perjalanan, Allah memberikan karunia yang luar biasa. Ia gerakkan hati ibu2 untuk mulai menutup aurat, Ia gerakan hati ibu2 untuk hadir dan aktif menyemarakkan ta'lim. subhanallah, benar2 Allah ingin membahagiakan kami berdua dgn caraNya. Tapi sebagaimana laiknya aktivitas akhirat lainnya, ta'lim kami pun mulai menyusut seiring dengan waktu. Ada yang memang benar2 tidak datang tanpa alasan, ada yang membentuk ta'lim sendiri di lingkungan terdekatnya (untuk yang ini saya acungi jempol, karena ternyata mampu menyebar kebaikan di lingkungan sekitar), ada yang (mungkin) merasa berat dengan program yang ada,ada juga yang (mungkin) bosen sama saya, he.... Ala kulli hal, alhamdulillah ta'lim ini masih berjalan, walau mungkin tidak sesemarak dulu, walau saya tidak lagi bisa membersamai mereka di ta'lim itu, karena sejak 5 tahun yang lalu, aturan kantor yang ketat tidak memungkinkan saya untuk hadir bersama mereka di setiap jumat. hal ini jugalah yang pada akhirnya membawa saya pada aktivitas pembinaan lainnya hingga saat ini, di sela waktu libur saya bersama keluarga.

Delapan tahun sudah saya membersamai mereka, orang2 yang saya cintai karena Allah. Orang2 yang diberi kesempatan oleh Allah untuk berubah menjadi lebih baik, tidak hanya sampai pada batas faham, tapi sebagian dari mereka sudah sampai pada batas bergerak untuk memahamkan orang lain. Kawan, tidak ada yang lebih membahagiakan hati selain melihat mereka bersemangat untuk menebar nilai2 kebaikan di mana pun mereka berada. Tidak ada yang lebih membahagiakan hati selain melihat mereka istiqomah menghadiri kelompok kecilnya, meski saya tahu, tidak mudah untuk melakukan itu. Masalah keluarga, beban hidup, bosan, jemu, dan berbagai gangguan lainnya setia setiap saat membayangi langkah mereka (seperti saya juga :) Jika sudah mulai melemah, tidak ada lain yang bisa dilakukan kecuali menyerahkan mereka kepada Allah yang menggenggam hati mereka. Karena Allah lah yang mampu menggerakkan hati dan langkah mereka. doa robithoh terlantun di sela malam yang terburu buru.

Delapan tahun sudah saya membersamai mereka, orang2 yang saya cintai karena Allah. Meski beberapa diantaranya  pada akhirnnya Allah takdirkan tak lagi bersama saya, orang2 yang allah takdirkan memilih jalan yang menurutnya lebih pas untuk mereka. Jika sudah demikian, tak ada lagi yang bisa saya lakukan kecuali mengadu kepada Allah yang menjadi sumber motivasi. Memohon ampunanNya, barangkali kelalaian, kekurangfahaman, dan kekurangsungguhan saya membersamai mereka yang membuat mereka pada akhirnya memilih pergi dan menempuh jalan bersama yang lainnya. Sedih? pasti. Tersayat? iya (tanpa bermaksud lebay, sungguh ini yang saya rasakan) Pada akhirnya saya hanya bisa memohon kepada Allah, agar Ia berkenan menjaga mereka dimanapun mereka berada, dan bersama siapapun mereka saat ini.Satu yang saya yakini, mereka pasti tak akan pernah lupa, bahwa mereka pernah bersama saya (GR ya....) mencoba mengenal Allah lebih dekat.

Delapan tahun sudah aktivitas ini saya jalani.Seiring waktu selalu ada yang datang dan ada yang pergi. Ada tawa, ada tangis. Banyak pelajaran yang bisa saya dapat.Setidaknya di jalan ini Allah mengajarkan saya mengenal berbagai macam karakter untuk selanjutnya mencoba memahaminya. Tak ada kuasa saya untuk terus mendekap mereka agar terus bersama2 saya. Karena Allah  lebih tahu yang terbaik untuk saya, untuk mereka, dan untuk kelangsungan dakwah di jalanNya.Karena baik menurut saya, belum tentu baik menurutNya. Semoga Allah ampunkan saya atas hal 2 yang tidak diperkenankanNya.


Pabuaran, 28 September 2012
Kilas balik 8tahun perjalanan, disela kepedihan "kehilangan" orang2 terbaik yang saya cintai karena Allah
Beribu terimakasih kepada mereka yang memberi saya kepercayaan untuk mengajak, menemani, sesekali memerintah (he..he..), dalam upaya menjadi hamba Allah yang lebih baik dan bermanfaat untuk yng lainnya.

Kamis, 10 Januari 2013

Perempuan dan Luka



Adakah istri yang tidak pernah terlukai? Hampir bisa dipastikan tidak ada. Tapi apakah itu berarti terluka adalah takdir yang harus diterima oleh setiap perempuan yang bersuami? Inginnya saya menjawab tidak, akan tetapi beberapa peristiwa yang saya lihat dan saya dengar –baik di masa lampau maupun di usia saya yang sekarang- membawa saya pada satu kesimpulan bahwa kenyataannya luka memang begitu dekat dengan perempuan.

Wanita dengan tatap mata luka -yang pertama kali saya lihat di usia saya yang belum genap 15 tahun- adalah orang yang dekat dengan saya, sebut saja namanya mbak Mary. Entah apa yang membuatnya rela menceritakan dengan runtut luka hatinya di siang yang terik itu. Pada saya, ABG yang boro-boro mengerti luka, memahami cinta saja bahkan belum mampu. Barangkali karena perih yang tak tertahankan, yang ingin ia bagi, tapi tak tahu kepada siapa.

Dan saya hanya bisa terdiam. Bahkan ketika sesekali dia menyusut airmata, saya tak mampu berbuat apa-apa. Jujur, saya di usia itu belum tahu bagaimana rasanya dihianati. Yang saya tahu, dia terluka dan sangat mengkhawatirkan anak-anak yang dibawa suaminya sesaat setelah pertengkaran yang terjadi di antara mereka.

Saya pikir setelah itu dia tidak akan pernah memaafkan suaminya, yang dengan sengaja memberikan sebagian hatinya kepada perempuan yang secara fisik -maaf- sangat jauh bila dibandingkan dengan istrinya. Mbak Mary cantik, putih, supel, pandai mencari uang, menerima kondisi suami apa adanya, tapi ternyata itu semua tak cukup. Tak cukup untuk tak membuat hatinya berpaling. Saya bayangkan setelah itu rumah tangga mereka tidak akan bertahan lama lagi. Kalau pun bertahan, pasti tidak bahagia.

Ajaib, tak ada satupun dari perkiraan saya waktu itu yang terjadi. Bahkan hingga saya di usia 35, rumah tangga mereka masih baik-baik saja. Tidak bahagia? rasanya tidak juga, karena saya kerap melihat wanita itu tertawa lepas ketika bersama suami yang telah menorehkan luka di hatinya. Tak saya lihat lagi wajah mendungnya 20 tahun yang lalu. Berbagai tanya singgah di hati saya. Apa gerangan yang membuatnya bisa berdamai dengan luka hatinya?

Wanita kedua yang menceritakan perih hatinya, datang di usia saya yang ke-30. Sebutlah namanya ibu Suka. Tidak seperti mbak Mary, saya tidak lagi melihat mendung di wajah perempuan paruh baya itu. Mungkin karena beliau menceritakan hal yang sudah berlalu. Tentang suaminya yang memesona begitu banyak wanita, tentang perempuan yang tak malu-malu mengungkapkan rasa hatinya pada suaminya dengan berbagai cara -dari memberi oleh-oleh untuk anaknya yang lebih dari lima, menumpang motor suaminya hampir setiap hari,  hingga menitip kunci kios tempat perempuan itu berjualan demi bisa melihat suaminya setiap membuka dan menutup kios- Dan itu semua dilakukan di depan matanya.

Sedih? pasti. Terluka? ya iyalah. Tapi apa yang dilakukan Ibu Suka sungguh membuat saya menggeleng tak mengerti. Beliau tidak pernah mengucap sepatah kata ketika suaminya mengatakan bahwa semua yang terjadi atas nama persaudaraan, tidak lebih. Ini yang saya sangat tidak setuju. Kalo mau menjalin persaudaraan kenapa tidak dengan sesama jenisnya saja, biar tidak terjangkit virus merah jambu. Tak layak rasanya seorang laki-laki menjalin komunikasi intens dengan perempuan yang sudah menjadi istri orang, pun sebaliknya, hanya dengan mengatasnamakan mengeratkan persaudaraan, ini menurut saya ya….

Sendiri beliau telan pahitnya ledekan orang atas suaminya yang kerap terlihat membonceng seorang perempuan. Dan semua itu tak lantas membuatnya abai terhadap kebutuhan suaminya, lahir dan batin. Satu2nya hal nekat yang dilakukannya adalah mendatangi perempuan yang menurutnya sudah di luar batas kewajaran. Apakah beliau datang dengan memaki? Tidak. Bahkan beliau datangi perempuan itu dengan santun, dengan menggendong anak keenamnya yang belum genap satu tahun. Beliau berpura-pura menceritakan adanya seorang perempuan yang terus menerus mendekati seorang laki-laki yang sudah berkeluarga, padahal lelaki sudah beristri dan beranak banyak. Tenang beliau menyindir perempuan itu. Dan menutupnya dengan sebuah kalimat yang cukup membuat perempuan penggoda itu mati gaya dengan kalimat, “Kok tega ya jeng, padahal laki-laki itu anaknya banyak, dan perempuan itu juga sudah punya suami dan anak-anak juga. Kalaupun dia tidak memikirkan istri dari laki-laki yang disukainya itu, eh mbok ya dia pikirin perasaan suami dan anak-anaknya.“

Beliau mengakhiri ceritanya dengan senyum getir, barangkali luka hatinya kembali terasa, perih. Lagi, yang membuat saya tak habis pikir adalah, beliau memilih bertahan untuk menemani suaminya hingga ajal memisahkan mereka. Barangkali nasihat beliau yang tidak saya lupa adalah, “Laki-laki itu mungkin sudah takdirnya bisa membagi hati. Tapi kita jangan pernah menyerah. Ketika Allah takdirkan dia menjadi suamimu, maka pertahankan ia dengan sekuat tenaga yang kamu bisa, karena dia adalah jodohmu.”

Wanita dengan luka yang ketiga datang di penghujung usia saya yang ke-35. Sebut namanya Astri. Dibanding mbak Mary dan Ibu Suka, Astri lebih ekspresif. Dia ungkapkan kekecewaan hatinya apa adanya. Sesekali dalam ceritanya dia rutuki suaminya. Kali ini saya cukup bisa berempati. Bukan hal yang mudah bagi Astri menghadapi kenyataan itu. Mereka berdua adalah pasangan suami istri yang romantis - setahu saya - .

“Apa rasamu ketika tiba-tiba suamimu dekat dengan perempuan seusia anakmu? Menikahinya diam-diam? Sementara disetiap malam dia tidur bersamamu? memperlakukanmu layaknya satu-satunya ratu di hatinya?”

Pertanyaan yang sungguh membuat lidah saya kelu. Rasanya saya sudah mulai mengerti bagaimana rasanya mempunyai suami yang menebar rasa kepada perempuan lain, diam-diam di belakang kita. Loh kok? emangnya sudah pernah mengalami? kok bisa tahu rasanya? Haha,sebuah pertanyaan wajar yang tidak perlu dijawab, biarlah itu menjadi rahasia saya.

Kembali ke Astri, dia lebih berani. Berkali-kali saya memintanya untuk memikir ulang niatnya meminta cerai. Sungguh saya tidak rela melihat anak-anaknya kehilangan bapak mereka, hanya karena kekhilafan suaminya bermain-main dengan takdir.

Lagi-lagi ajaib, hingga saat ini, kurang lebih dua bulan sejak peristiwa itu terjadi, keluarga Astri masih tetap utuh. Bahkan dalam sebuah acara gathering, mereka tampak semakin mesra dan kompak bersama ketiga anaknya. Bagaimana dengan perempuan ketiganya? Astri bilang, suaminya sudah menceraikan secara agama.

Duhai, apa gerangan yang membuat mereka, wanita-wanita dengan luka -yang dengan sadar telah ditorehkan di hati mereka oleh orang yang mereka cintai- sanggup bertahan dengan menanggung perih. Apakah mereka mahfum bahwa terluka memang sudah menjadi takdir setiap wanita. Ataukah mereka memang tidak mempunyai pilihan lain kecuali memaafkan. Ya, memaafkan demi beragam alasan. Bagaiamana dengan goresan luka yang selamanya akan terlihat bekasnya? Mungkin  benar kata orang bijak  bahwa waktu adalah obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan luka. Entahlah...

Malam ini saya teringat pada tulisan mbak Asma Nadia yang ditujukan kepada mereka yang pernah terluka. Buat apa terus menerus menenggelamkan diri dalam luka jika masih ada kesempatan untuk mencicipi bahagia.

Apakah ada istri yang tidak terlukai? Meski hampir bisa dipastikan tidak ada, saya ingin itu tidak menimpa siapapun secara sengaja. Tidak pada saya, dan tidak juga pada kalian, sobat. Semoga tak ada lagi cerita perempuan yang tertatih menyusun kepingan hatinya yang terserak, hanya karena laku yang tak terkontrol. Apa yang menimpa mbak Mary, Ibu Suka, dan Astri, tidak akan pernah terjadi jika tidak ada andil dari seorang perempuan yang menjadi pihak ketiga. Semabuk apapun seorang laki-laki kepada kita, kalo kita tidak pernah menanggapi, maka tidak akan pernah terjadi merah jambu antara kita dengan dia kan sobat?

Haqqul yakin, tak ada seorang perempuan pun di dunia ini yang ingin suaminya punya Teman Tapi Mesra atau apapun namanya. Apakah kita bisa urun andil agar tak lagi banyak perempuan yang terluka? Bisa!!!!! Dengan apa? Dengan menjaga tutur dan laku kita. Jerat iblis telah dipasang di mana-mana, jadi tak perlu lagi kan kita memasang jerat sendiri, he…. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menjadi perempuan yang mampu menjaga perempuan lain dari kemungkinan terluka karena kita. Semoga….



Pabuaran, 9 Januari 2013

Dini hari, dengan dingin yg menggigit

Jumat, 04 Januari 2013

Telaga sebenarnya......

Jika ada yang menginginkan dirinya
menjadi telaga bagimu
maka kemarilah
karena telagamu 
adalah aku
meski adanya
tak selalu membuatmu 
lepas dari dahaga

Jika ada yang merasa dirinya
menjadi matahari bagimu
maka lihatlah
bahwa sejatinya 
mataharimu adalah aku
meski sinarnya
tak selalu menghangatkanmu

Jika ada yang menginginkan dirinya
menjadi telaga dan matahari untukmu 
maka biarlah kubisikkan padamu
bahwa itu semu
karena telaga dan mataharimu
adalah aku       











Re: Takdir Adanya Ia



tak perlu kau genggam takdir adanya ia

karena takdir itu adalah takdir kita

di atas semilir bambu

di atas harum bunga di taman

di atas gelora hasrat pada sepi

di atas semua yang kau rasa

bangkitlah wahai hati yang tercabik

biarkan kusembuhkan segala luka

dengan juta cinta membara

tanpa takdir adanya ia

sudikah kiranya aku bertanya pada malam

"Aih...berilah aku sejumput cium dan canda agar aku bisa bersembunyi dalam riangmu."

bisakah?

dan siang ini hanya bisa menjelma menjadi nadi-nadi yang terbakar pada jurang cinta untukmu.

hanya untukmu....



Kamis, 03 Januari 2013

Nikmat yang mana.....?

Alhamdulillah, hari yang penuh dengan kesyukuran.
Atas nikmat untuk tetap menghirup udaranya meski dengan jatah yang semakin berkurang.
Atas nikmat sehat Dan berbagai kemudahan yang telah Ia berikan di sepanjang angka 35 yang telah berlalu.
Atas nikmat suami yang terus berusaha untuk selalu menggelorakan cintanya, meskinterkadang dengan cara yang tidak saya mengerti, he...he... (terimakasih untuk ucapan di pagi bakda shubuh. Atas nikmat anak-anak yang senantiasa antusias menanti Dan menyambut di setiap petang menjelang malam, dengan pertanyaan yg kerap membuat hati teriris,"umi besok pulang malam lagi ya.....?" (Hu....u...jadi pengen nangis deh).
Atas nikmat keluarga besar ysng menunjukkan cinta dan kepeduliannya dengan cara Dan melalui media yg berbeda.
Atas nikmat sahabat yang luar biasa supportnya demi menjadikan saya sbg istri yang menyerahkan seluruh cinta hanya kepada Allah.
Atas nikmat teman-teman dan guru kehidupan baik yg pernah bertatap muka ataupun belum, yang telah merelakan sebagian kamar hatinya saya isi, sehingga mereka relakan waktunya hanya untuk memberikan doa yang luar biasa untuk saya.
Subhanalloh...,, sebuah kado yang tak ternilai yang sudah Allah berikan, yang membuat saya kelu demi mengingat penggalan ayatnya, "Maka nikmat Tuhanmu yg mana yg hendak kamu dustakan?"
Terimakasih atas semuanya yaa Robb....
Semoga Engkau berkenan mengumpulkan Kami semua di surga firdausMu...

Pabuaran, 2 Januari 2013
Di awal 36 tahun usia