Kamis, 10 Januari 2013

Perempuan dan Luka



Adakah istri yang tidak pernah terlukai? Hampir bisa dipastikan tidak ada. Tapi apakah itu berarti terluka adalah takdir yang harus diterima oleh setiap perempuan yang bersuami? Inginnya saya menjawab tidak, akan tetapi beberapa peristiwa yang saya lihat dan saya dengar –baik di masa lampau maupun di usia saya yang sekarang- membawa saya pada satu kesimpulan bahwa kenyataannya luka memang begitu dekat dengan perempuan.

Wanita dengan tatap mata luka -yang pertama kali saya lihat di usia saya yang belum genap 15 tahun- adalah orang yang dekat dengan saya, sebut saja namanya mbak Mary. Entah apa yang membuatnya rela menceritakan dengan runtut luka hatinya di siang yang terik itu. Pada saya, ABG yang boro-boro mengerti luka, memahami cinta saja bahkan belum mampu. Barangkali karena perih yang tak tertahankan, yang ingin ia bagi, tapi tak tahu kepada siapa.

Dan saya hanya bisa terdiam. Bahkan ketika sesekali dia menyusut airmata, saya tak mampu berbuat apa-apa. Jujur, saya di usia itu belum tahu bagaimana rasanya dihianati. Yang saya tahu, dia terluka dan sangat mengkhawatirkan anak-anak yang dibawa suaminya sesaat setelah pertengkaran yang terjadi di antara mereka.

Saya pikir setelah itu dia tidak akan pernah memaafkan suaminya, yang dengan sengaja memberikan sebagian hatinya kepada perempuan yang secara fisik -maaf- sangat jauh bila dibandingkan dengan istrinya. Mbak Mary cantik, putih, supel, pandai mencari uang, menerima kondisi suami apa adanya, tapi ternyata itu semua tak cukup. Tak cukup untuk tak membuat hatinya berpaling. Saya bayangkan setelah itu rumah tangga mereka tidak akan bertahan lama lagi. Kalau pun bertahan, pasti tidak bahagia.

Ajaib, tak ada satupun dari perkiraan saya waktu itu yang terjadi. Bahkan hingga saya di usia 35, rumah tangga mereka masih baik-baik saja. Tidak bahagia? rasanya tidak juga, karena saya kerap melihat wanita itu tertawa lepas ketika bersama suami yang telah menorehkan luka di hatinya. Tak saya lihat lagi wajah mendungnya 20 tahun yang lalu. Berbagai tanya singgah di hati saya. Apa gerangan yang membuatnya bisa berdamai dengan luka hatinya?

Wanita kedua yang menceritakan perih hatinya, datang di usia saya yang ke-30. Sebutlah namanya ibu Suka. Tidak seperti mbak Mary, saya tidak lagi melihat mendung di wajah perempuan paruh baya itu. Mungkin karena beliau menceritakan hal yang sudah berlalu. Tentang suaminya yang memesona begitu banyak wanita, tentang perempuan yang tak malu-malu mengungkapkan rasa hatinya pada suaminya dengan berbagai cara -dari memberi oleh-oleh untuk anaknya yang lebih dari lima, menumpang motor suaminya hampir setiap hari,  hingga menitip kunci kios tempat perempuan itu berjualan demi bisa melihat suaminya setiap membuka dan menutup kios- Dan itu semua dilakukan di depan matanya.

Sedih? pasti. Terluka? ya iyalah. Tapi apa yang dilakukan Ibu Suka sungguh membuat saya menggeleng tak mengerti. Beliau tidak pernah mengucap sepatah kata ketika suaminya mengatakan bahwa semua yang terjadi atas nama persaudaraan, tidak lebih. Ini yang saya sangat tidak setuju. Kalo mau menjalin persaudaraan kenapa tidak dengan sesama jenisnya saja, biar tidak terjangkit virus merah jambu. Tak layak rasanya seorang laki-laki menjalin komunikasi intens dengan perempuan yang sudah menjadi istri orang, pun sebaliknya, hanya dengan mengatasnamakan mengeratkan persaudaraan, ini menurut saya ya….

Sendiri beliau telan pahitnya ledekan orang atas suaminya yang kerap terlihat membonceng seorang perempuan. Dan semua itu tak lantas membuatnya abai terhadap kebutuhan suaminya, lahir dan batin. Satu2nya hal nekat yang dilakukannya adalah mendatangi perempuan yang menurutnya sudah di luar batas kewajaran. Apakah beliau datang dengan memaki? Tidak. Bahkan beliau datangi perempuan itu dengan santun, dengan menggendong anak keenamnya yang belum genap satu tahun. Beliau berpura-pura menceritakan adanya seorang perempuan yang terus menerus mendekati seorang laki-laki yang sudah berkeluarga, padahal lelaki sudah beristri dan beranak banyak. Tenang beliau menyindir perempuan itu. Dan menutupnya dengan sebuah kalimat yang cukup membuat perempuan penggoda itu mati gaya dengan kalimat, “Kok tega ya jeng, padahal laki-laki itu anaknya banyak, dan perempuan itu juga sudah punya suami dan anak-anak juga. Kalaupun dia tidak memikirkan istri dari laki-laki yang disukainya itu, eh mbok ya dia pikirin perasaan suami dan anak-anaknya.“

Beliau mengakhiri ceritanya dengan senyum getir, barangkali luka hatinya kembali terasa, perih. Lagi, yang membuat saya tak habis pikir adalah, beliau memilih bertahan untuk menemani suaminya hingga ajal memisahkan mereka. Barangkali nasihat beliau yang tidak saya lupa adalah, “Laki-laki itu mungkin sudah takdirnya bisa membagi hati. Tapi kita jangan pernah menyerah. Ketika Allah takdirkan dia menjadi suamimu, maka pertahankan ia dengan sekuat tenaga yang kamu bisa, karena dia adalah jodohmu.”

Wanita dengan luka yang ketiga datang di penghujung usia saya yang ke-35. Sebut namanya Astri. Dibanding mbak Mary dan Ibu Suka, Astri lebih ekspresif. Dia ungkapkan kekecewaan hatinya apa adanya. Sesekali dalam ceritanya dia rutuki suaminya. Kali ini saya cukup bisa berempati. Bukan hal yang mudah bagi Astri menghadapi kenyataan itu. Mereka berdua adalah pasangan suami istri yang romantis - setahu saya - .

“Apa rasamu ketika tiba-tiba suamimu dekat dengan perempuan seusia anakmu? Menikahinya diam-diam? Sementara disetiap malam dia tidur bersamamu? memperlakukanmu layaknya satu-satunya ratu di hatinya?”

Pertanyaan yang sungguh membuat lidah saya kelu. Rasanya saya sudah mulai mengerti bagaimana rasanya mempunyai suami yang menebar rasa kepada perempuan lain, diam-diam di belakang kita. Loh kok? emangnya sudah pernah mengalami? kok bisa tahu rasanya? Haha,sebuah pertanyaan wajar yang tidak perlu dijawab, biarlah itu menjadi rahasia saya.

Kembali ke Astri, dia lebih berani. Berkali-kali saya memintanya untuk memikir ulang niatnya meminta cerai. Sungguh saya tidak rela melihat anak-anaknya kehilangan bapak mereka, hanya karena kekhilafan suaminya bermain-main dengan takdir.

Lagi-lagi ajaib, hingga saat ini, kurang lebih dua bulan sejak peristiwa itu terjadi, keluarga Astri masih tetap utuh. Bahkan dalam sebuah acara gathering, mereka tampak semakin mesra dan kompak bersama ketiga anaknya. Bagaimana dengan perempuan ketiganya? Astri bilang, suaminya sudah menceraikan secara agama.

Duhai, apa gerangan yang membuat mereka, wanita-wanita dengan luka -yang dengan sadar telah ditorehkan di hati mereka oleh orang yang mereka cintai- sanggup bertahan dengan menanggung perih. Apakah mereka mahfum bahwa terluka memang sudah menjadi takdir setiap wanita. Ataukah mereka memang tidak mempunyai pilihan lain kecuali memaafkan. Ya, memaafkan demi beragam alasan. Bagaiamana dengan goresan luka yang selamanya akan terlihat bekasnya? Mungkin  benar kata orang bijak  bahwa waktu adalah obat yang paling mujarab untuk menyembuhkan luka. Entahlah...

Malam ini saya teringat pada tulisan mbak Asma Nadia yang ditujukan kepada mereka yang pernah terluka. Buat apa terus menerus menenggelamkan diri dalam luka jika masih ada kesempatan untuk mencicipi bahagia.

Apakah ada istri yang tidak terlukai? Meski hampir bisa dipastikan tidak ada, saya ingin itu tidak menimpa siapapun secara sengaja. Tidak pada saya, dan tidak juga pada kalian, sobat. Semoga tak ada lagi cerita perempuan yang tertatih menyusun kepingan hatinya yang terserak, hanya karena laku yang tak terkontrol. Apa yang menimpa mbak Mary, Ibu Suka, dan Astri, tidak akan pernah terjadi jika tidak ada andil dari seorang perempuan yang menjadi pihak ketiga. Semabuk apapun seorang laki-laki kepada kita, kalo kita tidak pernah menanggapi, maka tidak akan pernah terjadi merah jambu antara kita dengan dia kan sobat?

Haqqul yakin, tak ada seorang perempuan pun di dunia ini yang ingin suaminya punya Teman Tapi Mesra atau apapun namanya. Apakah kita bisa urun andil agar tak lagi banyak perempuan yang terluka? Bisa!!!!! Dengan apa? Dengan menjaga tutur dan laku kita. Jerat iblis telah dipasang di mana-mana, jadi tak perlu lagi kan kita memasang jerat sendiri, he…. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menjadi perempuan yang mampu menjaga perempuan lain dari kemungkinan terluka karena kita. Semoga….



Pabuaran, 9 Januari 2013

Dini hari, dengan dingin yg menggigit

2 komentar:

  1. Aku suka gaya menulis mbak, menikmati tiap tuturnya dan seru membaca kisah ini sampai selesai ^_^

    Wanita itu memang makhluk yang sangat tangguh kok mbak :)

    BalasHapus
  2. makasih mbak fatika, ini semua masih dalam proses belajar. belajar untuk mengungkap apa yg saya lihat, saya dengar, dan saya rasa. semoga kita termasuk yg tangguh ya.... :)

    BalasHapus