Kamis, 24 Januari 2013

Yang Tersisa dari Banjir: Ojek Gendong Vs Ojek Avanza

17 Januari 2012
Seperti biasa saya berangkat dengan langkah tergesa. Maklumlah emak-emak, ada saja yang dikerjakan menjelang berangkat kantor. Menyiapkan segala sesuatu untuk anak-anak yang ditinggalkan sampai dengan menyiapkan bekal untuk dibawa sang tuan (suami maksudnya, he...). Demi itu semua terkadang saya harus berlari kecil mengejar kereta di stasiun citayam. Sesampainya di stasiun tujuan, teteppp.... lari lagee.....berebut ojek bersama ratusan penumpang yang lain, demi mengejar 7.30 atau minimal TL 1 alias sebelum jam 8 pas. Anehnya, meski harus ngos-ngosan hampir setiap harinya, saya tetap belum (bisa) berangkat kalau belum mepet waktu, he....he...
Mendung masih sangat menggantung. Biasanya berdua mbaknya saya naik sepeda motor. Setelah sampai stasiun, dibawanya Supra Fit  semata wayang itu pulang, karena Kinan sudah menunggu untuk diantar ke sekolah. Akan tetapi pagi ini saya tidak ingin merepotkannya, ojek menjadi pilihan untuk mengantar hingga stasiun.

Banjir Penumpang  di Manggarai
Menumpang kereta jurusan Tanah Abang, saya memilih bersandar di pintu sebelah kiri gerbong pertama. Tak seperti biasanya, kali ini kereta terasa berjalan lambat. Untunglah saya ditemani “Serial Cinta”-nya Anis Matta, sehingga perjalanan yang lama ini tak terlalu membosankan. Keasyikan saya membaca terhenti ketika seorang penumpang di samping saya menghentakkan kakinya kesal. Rupanya kereta berhenti sedari tadi tanpa saya sadari, he...he....
Sepuluh,dua puluh, hingga tiga puluh menit, kereta tak juga bergerak. Dan seperti biasa, penumpang dibiarkan sibuk dengan prasangkanya sendiri, tak ada pemberitahuan apa pun. Tepat menit yang keempat puluh kereta mulai berjalan menuju Stasiun Manggarai.  
Wuih....sempat terkejut melihat begitu banyak orang di sepanjang peron . Ah, barangkali karena kereta tanah abang yang saya naiki ini terlambat, batin saya. Tak terfikir sedikit pun bahwa telah terjadi sesuatu di sini. Hingga akhirnya telinga dikejutkan dengan berita bahwa semua KRL hanya mengantar penumpang hingga stasiun manggarai dan tidak dapat melanjutkan perjalanan ke pemberhentian terakhir, baik Stasiun Kota maupun Stasiun Tanah Abang. Nyengir, ternyata ini yang menyebabkan penumpang berjubel di sepanjang peron yang tidak bisa dibilang sempit itu.

Di Mana Teman-temanku?

Bingung, antara melanjutkan perjalanan atau pulang. Clingak clinguk di antara ratusan orang yang berdesakan agar terbebas dari tampias hujan yang tak juga mereda, berharap ada wajah-wajah orang  yang saya kenal sehingga bisa bersama sama menuju kantor. Nihil. Saya tidak menemukan siapa-siapa. Akhirnya saya coba mengirim sms ke beberapa teman yang searah dan biasanya satu rombongan dengan saya. Rombongan  mefet waktu kalau absen, he...he...he... Dua sms saya kirim, tak ada jawaban, sementara hp sudah berkali mewarning saya, baterai tinggal 5 %.
 Hujan deras, payung ketinggalan, tidak pakai jaket, hp low bat, walah.... lengkap sudah. Tak berapa lama saya baru teringat dengan Galaksi Tab II pemberian suami sebulan yang lalu.. Alhamdulillah benda itu ada di tas saya saat ini. Meski baterai tinggal separuh dan di dalamnya tidak ada satu pun nomor kontak teman-teman,  setidaknya saya masih bisa menghubungi suami, meminta pendapat apakah harus pulang atau jalan terus. Masih bisa juga  membuat status di FB (halah, sempet-sempetnya ya...) yang langsung disambut dengan beberapa komentar  yang intinya sama:
 “Pulang ajaaa.......”
Hati semakin gelisah, sementara jarum jam terus merangkak, mengantarnya menuju angka sembilan. Satu jam sudah saya duduk di peron Stasiun Manggarai. Hfh...akhirnya saya harus mengambil keputusan. Seiring hujan yang mulai reda, saya langkahkan kaki menuju pintu keluar stasiun. Bukan, bukan untuk melangkah ke kantor pada awalnya. Niat saya adalah membeli tiket untuk kembali lagi ke Citayam, meskipun beberapa orang di sekitar saya menyarankan untuk tidak membelinya. Namun pertemuan saya dengan beberapa orang yang berkantor di sekitar Lapangan Banteng mengurungkan langkah saya kembali ke peron. Wah, hati saya kembali bimbang. Pulang atau lanjut. Hingga pada akhirnya ajakan mereka untuk melanjutkan perjalanan ke kantor  mengalahkan niat saya untuk pulang. Ya sudahlah, bismillah saya ikuti langkah mereka.

Banjir Yang Mengepung

Perjalanan saya awali dengan metromini (nomornya saya lupa, he..he...) menuju gang kelor. Menurut supirnya, dari sana kami bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mikrolet 01 menuju lapangan banteng. Ketika melewati jalan yang sudah mulai digenangi air yang tidak bisa dibilang rendah itu, saya bersyukur tidak menggunakan jasa ojek ataupun bajaj, karena beberapa ruas jalan memang tidak bisa dilalui dengan dua moda angkutan itu.
Sesampai di gang kelor, hujan kembali turun. Bress.....waduh, kami mulai berlarian menuju sebuah pohon rindang. Meski ada seorang ibu yang berbaik hati untuk berbagi payung, tak urung basah juga sebagian jilbab dan blazer yang saya pakai. Tak apalah, ini resiko yang harus saya tanggung karena kecerobohan saya mengabaikan arti penting payung dan jaket di saat-saat seperti ini. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya kebagian juga naik Mikrolet 01. Alhamdulillah, setidaknya saya tidak kehujanan lagi. Tidak seperti yang saya duga sebelumnya, rupanya banjir kali ini benar-benar serius. Beberapa ruas jalan yang biasanya lancar, mulai terkepung banjir sehingga menimbulkan kemacetan yang luar biasa. Dari dalam mikrolet inilah saya kemudian menaruh harap diantara rasa cemas (jadi ingat materi khouf dan roja’).
Satu demi satu simpul kemacetan berhasil saya lalui. Sholawat ternyata cukup ampuh mengantarkan saya pada kepasrahan yang sangat kepadaNya.  Mikrolet terus merayap hingga akhirnya benar-benar  tak bisa bergerak di atas fly over  Senen. Saya putuskan untuk turun bersama rombongan. Beriringan kami berjalan menuju gedung Dhanapala. Saya yang seringkali gagap jalan, mengikuti saja langkah kaki mereka. Yang penting sampai Dhanapala. Kalau sudah di situ insya Allah sendiripun saya berani. Langkah saya mulai gamang ketika di depan sebuah apartemen yang akan kami lewati terlihat air setinggi lutut orang dewasa. Waduh... bagaimana ini? Beberapa orang bapak sempat meneriaki kami, “Angkat celananya, Bu.”
Lah, bagaimana dengan saya yang mengenakan rok? beruntung ada seorang bapak yang mencarikan jalan yang cukup ramah untuk saya. Alhamdulillah, akhirnya terlewati juga genangan air itu tanpa harus membasahi rok saya, hanya merelakan ujung  celana panjang yang sering saya pakai sebagai dalaman saja.

Ojek Gendong vs Ojek Avanza

Gedung Dhanapala terlewati sudah. Sampai di sini saya berpisah dengan rombongan. Sendiri saya susuri gedung Bapepam, DJKN, Kantor Pusat DJPBN, hingga sampai pada sebuah tangga penyebrangan. Bergegas saya naiki tangga yang menghubungkan lokasi ini dengan kantor saya. KPPN.... I’m coming....sorak hati saya. Tapi apa lacur. KPPN Jakarta II yang sedianya bisa ditempuh dengan sedikit hitungan langkah itu  ternyata tak bisa saya sambangi  begitu saja. Urung saya turun tangga melihat tingginya air yang menggenangi halaman kantor tercinta ini. Kembali nyengir, he....he....tidak mungkin saya nekat. Dari atas gedung beberapa teman tertawa dan meneriaki saya.
“Pakai getek, RI....”
“Pakai tali .....”
“Ojek gendong mbak Ri.....”
Saya hanya cengar cengir saja menanggapi teriakan mereka. Masalahnya harus sampai kapan saya cengok di tangga ini ???? Lagi-lagi saya ingat suami.
“Baca sholawat di saat sulit, mudah-mudahan Allah mudahkan urusan kita,” begitu pesan yang kerap diulangnya.
Oh iya, tentang ojek gendong, ini beneran ada, bukan sekedar dongeng (jyah, apa coba). Di tengah kegalauan orang yang hendak menyebrangi genangan air menuju kantor, teman saya ini termasuk yang beruntung. Melihat raut keraguan atau lebih tepatnya ketakutan diwajahnya demi melihat air setinggi lutut orang dewasa, suaminya sigap menggendong dan mengantarkannya hingga teras kantor kami. O...so sweet.... (cerita ini saya dengar sesaat setelah saya sampai di kantor) Semoga Allah melanggengkan mereka hingga akhirat.
Bagaimana dengan saya? Alhamdulillah, Allah Maha Baik. Di saat yang lain menggunakan gerobak dorong untuk menerjang banjir, Allah justru mengirimkan gerobak mewah untuk menyebrangkan saya ke tempat tujuan. Sebuah Avanza Veloz direlakan pemiliknya untuk mengangkut kami yang terjebak di tangga penyebrangan. Semoga Allah berikan keberkahan kepada pemiliknya.
Memasuki kantor, sorak sorai yang diiringi tepuk tangan teman-teman di ruang front office menyambut kedatangan saya laiknya menyambut seorang pahlawan. Ha...ha... ada-ada saja teman-teman saya ini. Suasana bertambah riuh ketika saya menanggapi mereka dengan lambaian tangan.
Maklum, dari sekian roker (rombongan kereta) di kantor saya yang terjebak di stasiun Manggarai, sepertinya cuma saya yang nekat menerobos banjir hingga sampai ke kantor. Yang lainnya memilih balik kanan alias pulang ke rumah.

Man Jadda Wa Jadda
Ah, tak ada yang perlu dibanggakan atas itu semua, karena hakikatnya segala puji hanya bagi Allah. Allah lah yang berkehendak menyampaikan saya ke kantor dengan selamat. Bagaimana halnya dengan teman-teman yang tidak sampai ke kantor? Saya yakin mereka semua sudah berusaha semaksimal mungkin yang mereka mampu usahakan. Dan pada akhirnya Allah juga yang menentukan apakah mereka akan disampaikan ke kantor  masing-masing atau tidak. Yang jelas Allah tidak pernah melihat hasil akhir, akan tetapi Dia melihat sejauh mana usaha kita dalam mengerjakan  sesuatu. Yang pasti tidak akan sama mereka yang duduk-duduk dengan mereka yang berjuang bukan? Loh kok? Jadi inget materi  tentang berjuang di jalan Allah yang baru saja dibahas di lingkaran kecil saya.
 Selalu ada ibroh atau pelajaran di setiap peristiwa. Begitupun dengan apa yang saya alami hari ini. Bagi saya, perjalanan panjang dan penuh liku dari rumah menuju kantor kali ini mengingatkan saya bahwa ketika kita sudah mempunyai satu tujuan, maka ikhtiar dan tawakallah yang akan mengantar kita untuk mencapai tujuan tersebut. Masalah hasil, lagi-lagi itu adalah hak  prerogatifNya. Dan tidak ada satu pun dari kita yang mampu mengubah kehendakNya.

Pabuaran, 24 Januari 2013.
Cukup banjir ini di sini, semoga tidak di matamu 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar