“Selepas
SMEA mau kuliah di mana?” sebuah pertanyaan datang dari seorang senior di tempat
tinggalku. Aku yang tak siap dengan pertanyaan itu tak langsung menjawab.
“Pengennya
masuk STAN, mas,” jawabku malu-malu. Waktu itu sebenarnya aku tidak terlalu tahu
STAN itu bagaimana. Yang aku tahu STAN itu sekolah gratis. Semua dibiayai
negara. Ditambah iming-iming langsung bekerja setelahnya. Pokoknya yang ada di
otakku gratis…gratis…gratis…he..he…
“Wah,
masuk STAN itu susah lho. Yang dari SMA favorit aja susah, apalagi dari SMEA,”
sahutnya sambil memandangku… ah, tak usah lah kuingat lagi pandangan itu. Kalau
ingat bagaimana cara dia memandangku waktu itu, sakitnya tuh di sini, hiks…hiks…
Yang jelas waktu itu aku memang merasa down. Badanku seperti menyusut,
mengerut, tetiba merasa keciillll tak berharga. Aih, tega banget ya dia
mengatakan itu di tengah keramaian, di antara kerumunan teman-teman dan senior
lainnya. Beruntung aku segera ingat cerita kakak kelas yang sudah sukses kuliah
di STAN. Beberapa bahkan kudengar sudah lulus dan bekerja di Departemen
Keuangan. Perlahan aku mulai membesarkan hatiku sendiri.
“
Alhamdulillah beberapa alumni berhasil kok, mas. Mudah-mudahan ada rezeki saya
di sana,” jawabku mengakhiri perbincangan sebelum kuputuskan untuk pulang.
Meski masih nyesek, tapi aku mulai bisa mengatasi rasa rendah diriku malam itu.
Sahabat,
barangkali di antara kalian ada yang pernah mengalami hal yang sama. Di pandang
sebelah mata oleh orang-orang di sekitar kita. Entah dari ucapan, atau dari cara
mereka memandang. Yang jelas dengan cara apa pun mereka merendahkan kita, pasti
terasa tidak mengenakkan. Terus bagaimana dong? Apa yang harus kita lakukan ketika
itu terjadi pada kita? Aku meyakini
bahwa setiap orang pasti mempunyai cara yang berbeda. Biasanya dalam posisi
seperti ini, muncul dua sikap ekstrim. Yang pertama minder, yang kedua takabur
hi…hi…
Aku
sendiri waktu itu memilih untuk tidak larut dalam rasa rendah diri yang berlebihan,
tapi tidak juga sesumbar bahwa aku pasti bisa masuk STAN, takut malu kalau
ternyata memang ga bisa masuk ha..ha.. Aku hanya berusaha menyemangati diriku
sendiri bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama kita berusaha dan berdoa.
Satu hal yang menjadi penyemangat waktu itu adalah tekad untuk membuktikan
kepada keluarga bahwa jilbab yang kupakai tidak menghalangiku untuk mendapatkan
pekerjaan yang layak. Masuk STAN berarti sekolah gratis dan mendapat tiket
untuk menjadi PNS di Departemen Keuangan. Wuih, dalam sejarah keluargaku belum
ada yang jadi PNS sebelumnya. Waktu itu tidak pernah terpikir berapa gaji yang
akan diterima plus resiko ditempatkan di seluruh Indonesia. Pokoknya sekolah
gratis dulu deh, he..he.. Alhamdulillah, dengan doa dan dukungan orang-orang
tercinta, bisa juga masuk STAN. Aku sendiri merasa bisa tembus STAN bukan
karena pinter, tapi lebih karena beruntung saja.
Sahabat,
jangan pernah berpikir bahwa aku dengan tiba-tiba bisa menjadi pribadi
yang tidak rendah diri ketika dipandang remeh oleh orang lain. Sebelumnya, aku
pernah mengalami rasa minder atau merasa rendah diri akut lho. Alhamdulillah,
seiring waktu dan persentuhanku dengan teman-teman yang faham agama, aku mulai
belajar untuk tidak terjebak dalam rasa rendah diri yang berlebihan. Mencoba
memahami bahwa Allah menyukai orang-orang yang rendah hati, bukan orang yang
rendah diri. Karena rendah diri seringkali membuat kita menjadi kontra
produktif. Tidak banyak berbuat sesuatu karena merasa minder atau malu yang tidak
jelas. Padahal Allah sendiri yang mengatakan bahwa Ia menciptakan manusia dalam
sebaik-baik bentuk. Ketika kita mengimani hal ini, insya Allah akan terbentuk
keyakinan dalam diri bahwa kita pun diciptakan Allah dalam sebaik baik
penciptaan. Allah sudah membekali kita dengan jasad, akal, dan ruh yang
sempurna menurutNya. So, dengan bekal yang sudah Allah beri, rasanya tidak ada
alasan bagi kita untuk merasa lebih rendah dari orang lain. Karena pada
dasarnya Allah memberikan bekal yang sama pada setiap manusia. Yang
menjadikannya berbeda ada pada seberapa besar usaha kita untuk memelihara dan mengembangkan
ketiganya agar berkembang lebih baik.
Bagaimana
agar bekal yang sudah Allah beri dapat berkembang lebih baik? Di sinilah konsep
tawazun diperlukan sahabat. Jasad, akal, dan ruh, yang sudah Allah beri, berhak
mendapat porsi asupan yang sama, sehingga kita tumbuh menjadi manusia yang
seimbang. Jasad kita butuh asupan makanan yang halal dan baik untuk kesehatan,
akal kita butuh asupan ilmu, sementara ruh kita butuh asupan dzikrullah. Pasti
inget ya…ayat Allah yang mengatakan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi
tenang. Sahabat, ketika jasad, akal, dan ruh sudah terpenuhi hak-haknya, maka
ketika itulah kita akan menjadi manusia seimbang. Manusia yang kuat jasmani,
cerdas akal, dan religius. Lebih jelasnya tentang konsep tawazun atau
keseimbangan bisa dilihat di buku “Kepribadian Muslim” karya ustdz Irwan
Prayitno ya sahabat :)
Last,
kita mungkin tidak bisa meminta orang lain untuk tidak merendahkan kita,
sahabat. Tapi insya Allah kita bisa meminta diri kita sendiri untuk tidak
merendahkan orang lain. Karena pada dasarnya tak layak seorang manusia merendahkan
manusia lainnya, bukan? Allah tak pernah melihat rupa, harta, pangkat, jabatan,
atau pun kepandaian manusia untuk menyematkan derajat yang tinggi di sisiNya,
tapi Dia melihat seberapa tinggi ketaqwaan yang ada pada hati manusia
kepadaNya. Dan kita tak pernah tahu siapa gerangan yang mendapat keistimewaan
itu di antara orang-orang yang ada di sekitar kita. Wallahu a’lam.
Pabuaran,
membuka tahun 2015
Bersama
tabungan masa depanku: Haqi, Ayyasy, Kinan.
-Masih
tanpa abi-