Kamis, 01 Januari 2015

Berprasangka Baik Pada Takdirmu (2): Ketika Orang Meremehkanmu



“Selepas SMEA mau kuliah di mana?” sebuah pertanyaan datang dari seorang senior di tempat tinggalku. Aku yang tak siap dengan pertanyaan itu tak langsung menjawab.
“Pengennya masuk STAN, mas,” jawabku malu-malu. Waktu itu sebenarnya aku tidak terlalu tahu STAN itu bagaimana. Yang aku tahu STAN itu sekolah gratis. Semua dibiayai negara. Ditambah iming-iming langsung bekerja setelahnya. Pokoknya yang ada di otakku gratis…gratis…gratis…he..he…
“Wah, masuk STAN itu susah lho. Yang dari SMA favorit aja susah, apalagi dari SMEA,” sahutnya sambil memandangku… ah, tak usah lah kuingat lagi pandangan itu. Kalau ingat bagaimana cara dia memandangku waktu itu, sakitnya tuh di sini, hiks…hiks… Yang jelas waktu itu aku memang merasa down. Badanku seperti menyusut, mengerut, tetiba merasa keciillll tak berharga. Aih, tega banget ya dia mengatakan itu di tengah keramaian, di antara kerumunan teman-teman dan senior lainnya. Beruntung aku segera ingat cerita kakak kelas yang sudah sukses kuliah di STAN. Beberapa bahkan kudengar sudah lulus dan bekerja di Departemen Keuangan. Perlahan aku mulai membesarkan hatiku sendiri.
“ Alhamdulillah beberapa alumni berhasil kok, mas. Mudah-mudahan ada rezeki saya di sana,” jawabku mengakhiri perbincangan sebelum kuputuskan untuk pulang. Meski masih nyesek, tapi aku mulai bisa mengatasi rasa rendah diriku malam itu.
Sahabat, barangkali di antara kalian ada yang pernah mengalami hal yang sama. Di pandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitar kita. Entah dari ucapan, atau dari cara mereka memandang. Yang jelas dengan cara apa pun mereka merendahkan kita, pasti terasa tidak mengenakkan. Terus bagaimana dong? Apa yang harus kita lakukan ketika itu terjadi pada kita? Aku  meyakini bahwa setiap orang pasti mempunyai cara yang berbeda. Biasanya dalam posisi seperti ini, muncul dua sikap ekstrim. Yang pertama minder, yang kedua takabur hi…hi…
Aku sendiri waktu itu memilih untuk tidak larut dalam rasa rendah diri yang berlebihan, tapi tidak juga sesumbar bahwa aku pasti bisa masuk STAN, takut malu kalau ternyata memang ga bisa masuk ha..ha.. Aku hanya berusaha menyemangati diriku sendiri bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama kita berusaha dan berdoa. Satu hal yang menjadi penyemangat waktu itu adalah tekad untuk membuktikan kepada keluarga bahwa jilbab yang kupakai tidak menghalangiku untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Masuk STAN berarti sekolah gratis dan mendapat tiket untuk menjadi PNS di Departemen Keuangan. Wuih, dalam sejarah keluargaku belum ada yang jadi PNS sebelumnya. Waktu itu tidak pernah terpikir berapa gaji yang akan diterima plus resiko ditempatkan di seluruh Indonesia. Pokoknya sekolah gratis dulu deh, he..he.. Alhamdulillah, dengan doa dan dukungan orang-orang tercinta, bisa juga masuk STAN. Aku sendiri merasa bisa tembus STAN bukan karena pinter, tapi lebih karena beruntung saja.
Sahabat, jangan pernah berpikir bahwa aku dengan tiba-tiba bisa menjadi pribadi yang tidak rendah diri ketika dipandang remeh oleh orang lain. Sebelumnya, aku pernah mengalami rasa minder atau merasa rendah diri akut lho. Alhamdulillah, seiring waktu dan persentuhanku dengan teman-teman yang faham agama, aku mulai belajar untuk tidak terjebak dalam rasa rendah diri yang berlebihan. Mencoba memahami bahwa Allah menyukai orang-orang yang rendah hati, bukan orang yang rendah diri. Karena rendah diri seringkali membuat kita menjadi kontra produktif. Tidak banyak berbuat sesuatu karena merasa minder atau malu yang tidak jelas. Padahal Allah sendiri yang mengatakan bahwa Ia menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk. Ketika kita mengimani hal ini, insya Allah akan terbentuk keyakinan dalam diri bahwa kita pun diciptakan Allah dalam sebaik baik penciptaan. Allah sudah membekali kita dengan jasad, akal, dan ruh yang sempurna menurutNya. So, dengan bekal yang sudah Allah beri, rasanya tidak ada alasan bagi kita untuk merasa lebih rendah dari orang lain. Karena pada dasarnya Allah memberikan bekal yang sama pada setiap manusia. Yang menjadikannya berbeda ada pada seberapa besar usaha kita untuk memelihara dan mengembangkan ketiganya agar berkembang lebih baik.
Bagaimana agar bekal yang sudah Allah beri dapat berkembang lebih baik? Di sinilah konsep tawazun diperlukan sahabat. Jasad, akal, dan ruh, yang sudah Allah beri, berhak mendapat porsi asupan yang sama, sehingga kita tumbuh menjadi manusia yang seimbang. Jasad kita butuh asupan makanan yang halal dan baik untuk kesehatan, akal kita butuh asupan ilmu, sementara ruh kita butuh asupan dzikrullah. Pasti inget ya…ayat Allah yang mengatakan bahwa  hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenang. Sahabat, ketika jasad, akal, dan ruh sudah terpenuhi hak-haknya, maka ketika itulah kita akan menjadi manusia seimbang. Manusia yang kuat jasmani, cerdas akal, dan religius. Lebih jelasnya tentang konsep tawazun atau keseimbangan bisa dilihat di buku “Kepribadian Muslim” karya ustdz Irwan Prayitno ya sahabat :)
Last, kita mungkin tidak bisa meminta orang lain untuk tidak merendahkan kita, sahabat. Tapi insya Allah kita bisa meminta diri kita sendiri untuk tidak merendahkan orang lain. Karena pada dasarnya tak layak seorang manusia merendahkan manusia lainnya, bukan? Allah tak pernah melihat rupa, harta, pangkat, jabatan, atau pun kepandaian manusia untuk menyematkan derajat yang tinggi di sisiNya, tapi Dia melihat seberapa tinggi ketaqwaan yang ada pada hati manusia kepadaNya. Dan kita tak pernah tahu siapa gerangan yang mendapat keistimewaan itu di antara orang-orang yang ada di sekitar kita. Wallahu a’lam.

Pabuaran, membuka tahun 2015
Bersama tabungan masa depanku: Haqi, Ayyasy, Kinan.
-Masih tanpa abi-