“Buat tulisan tandingan mbak, judulnya istri kamu itu….”
Pesan ini disampaikan kepada saya sesaat setelah saya membagikan tulisan
Pak Riza Almanfaluthi yang berjudul “Suami Kamu itu….” di sebuah grup WhatsApp.
Saya tersenyum, sebuah reaksi yang wajar karena tulisan Abu Kinan itu memang
mengajak kami para istri untuk mensyukuri keberadaan suami, terlepas dari
kekurangan yang mereka miliki. Tapi malam ini saya tak hendak atau belum
terpikir untuk membuat tulisan yang dimaksud. Tak mudah menuliskan tema pesanan
selayaknya tak mudah bagi saya ketika ada seseorang yang meminta untuk
dibuatkan bros dengan model begini dan begitu hehe.
Malam ini saya hanya ingin menuliskan sesuatu yang sudah beberapa hari
ini mengendap di pikiran dan belum sempat tertuang dalam rangkaian tulisan. Ya,
sebuah pembelajaran yang saya dapat dari Allah lewat percakapan dengan seorang
teman di sepanjang perjalanan pulang stasiun Juanda-Citayam. Percakapan yang
tak menghadirkan fisik, tapi melibatkan emosi. Ya, emosi saya, emosinya, emosi
kami berdua. Sebuah percakapan via dunia maya yang saya yakini tak terjadi
tanpa maksud. Betapa saya merasakan Allah ingin mentarbiyah saya lewat beliau.
Sehingga setelah petang itu, ada sebuah pertanyaan di benak saya tentang satu
hal. Maa ma’na mahabbah? Apa arti
mencintai.
“Suamiku katanya mencintaiku….tapi aku kehilangan makna tentang cinta.
Apa itu cinta…dan aku tidak yakin dengan hatiku sendiri. Apakah aku mencintai,
atau aku hanya kasihan.”
Saya terperangah dengan kalimat demi kalimat yang diungkapkan seorang
teman (sebut saja Aisyah ya…) via wa petang itu. Tak menyangka bahwa kalimat
itu akan mengalir dari seseorang yang selama ini terlihat bahagia dengan pernikahannya,
tenang dalam rumah tangganya. Saya bisa merasakan kepedihan yang ia rasakan saat
itu.
Maa ma’na mahabbah? Tak mudah untuk mendefinisikan arti mencintai.
Sebab tiap orang mungkin mempunyai definisi sendiri tentang cinta. Sebab
perbedaan dalam mendefinisikan cinta itulah yang mendorong seseorang
mengekspresikan cintanya dengan cara yang tak sama. Apa yang dirasakan Aisyah
bukan tak mungkin dirasakan pula oleh banyak wanita lainnya. Barangkali kita
pun termasuk salah satu di antaranya.
Gamang dengan cinta yang ia miliki. Sebab apa? Sebab cara pasangan
mencintai tak seperti cinta yang terdefinisi dalam dirinya.
“Suamiku membelikan handphone mahal. Barang-barang branded aku punya. Mungkin baginya ngasih duit itu cinta, ngasih
ini dan itu juga cinta. Padahal bagiku cinta itu sederhana saja. Melindungi
sudah lebih dari cukup buat seorang wanita,” ia masih dalam keluhnya.
Itulah arti mencintai bagi seorang Aisyah. Dia tak perlu barang mewah,
dia juga tak berminat dengan handphone mahal. Dia hanya ingin dilindungi. Karena
baginya mencintai adalah melindungi orang yang dicintai dari luka lahir dan
batin. Karena baginya mencintai adalah melindungi orang yang dicintai dari
dihinakan oleh orang lain, siapa pun itu.
Ah, saya kenal betul Aisyah. Ia bukan perempuan yang tidak tahu agama.
Ia bukan pula perempuan yang ingin menguasai harta suami untuk diri dan
keluarga kecilnya sendiri. Saya tahu betul dunia bukan tujuan akhirnya. Aisyah
selalu mengingatkan saya bahwa akhirat adalah lebih utama. Karenanya ia tak
pernah melarang suaminya untuk berbagi harta kepada keluarga besarnya. Karenanya pula Ia selalu mendorong suaminya
untuk berbuat baik kepada mertuanya, sebab ia mengerti bahwa suaminya punya
kewajiban untuk berbakti kepada ibu dan bapaknya.
“Suamiku bilang dia mencintaiku. Tapi di mana cinta ketika aku
dihinakan, ketika aku dianggap tak berharga dan hanya menumpang mulia oleh
orang tuanya. Maka di mana cinta ketika ia menyuruhku turun dari mobil dan membiarkanku
bersama anak-anak di sebuah jalan di malam hari tanpa bekal uang yang cukup
demi menolong harga diri saudaranya yang hendak pergi ke sebuah pesta?”
Aisyah tak pernah mengungkit
bagaimana ia jatuh bangun pada saat mendampingi suaminya merintis sebuah usaha.
Ia juga tak hendak disebut pahlawan meski pada awal pernikahan mereka, dialah
yang menanggung semua beban rumah tangganya. Karenanya Ia hanya bertanya
masygul, jika saat ini suaminya berhasil, maka benarkah tak ada sedikitpun
perannya di sana? Aisyah tak ingin dimuliakan berlebihan, ia hanya ingin
suaminya mengerti bahwa ia hanya perempuan biasa yang butuh dilindungi fisik
dan perasaannya.
Maa ma’na mahabbah? Apa arti mencintai? Barangkali tak ada yang bisa
mendefinisikannya secara pasti layaknya kita menjawab satu ditambah satu adalah
dua. Sebab tiap orang punya definisi sendiri tentang cinta. Petang itu Aisyah
tak lagi mengerti apakah saat ini ia masih punya cinta atau hanya sekedar
keterpaksaan. Apakah ia masih punya cinta atau hanya sekedar ketaatan karena
ikatan pernikahan. Tapi apa yang diucapkannya petang itu membuat saya mengerti
apa yang dirasanya saat ini.
Dan malam ini saya hanya ingin berkata kepada kalian duhai para suami,
bertanyalah kepada istrimu apakah ia merasa bahwa engkau mencintainya.
Bertanyalah kepada istrimu apakah yang telah engkau berikan adalah sesuatu yang
memang dibutuhkan dan diinginkannya, bukan sesuatu yang menurutmu membuatnya
bahagia.
Duhai para suami, malam ini saya hanya ingin berkata kepadamu,
bertanyalah kepada istrimu, apakah ia ingin bersamamu di akhirat kelak
selayaknya ia bersamamu di dunia saat ini. Sebab jawabannya akan menunjukkan apakah
istrimu memang mencintaimu ataukah ia hanya terpaksa bersamamu sebab ketaatan
yang dibebankan kepadanya sesaat setelah kamu menikahinya. Malam ini saya hanya
ingin mendoakanmu agar istrimu tak mengatakan apa yang Aisyah katakan kepada
suaminya, bahwa ia tak ingin bersamamu lagi di akhirat sebab ia tak merasakan
bahagia bersamamu di dunia.
Pabuaran,
penghujung Januari 2016,
Selaksa doa
untuk Aisyah, semoga bahagia dengan cintanya.
Dalam rintik
hujan dan alunan Tetap dalam Jiwa---Masih tak mengerti tentang arti mencintai,
seperti tak mengertinya aku bagaimana memulai mengilustrasikan perhitungan
realized /unrealized selisih kurs dalam perdirjen----