Jarum jam terus beranjak meninggalkan detik. Kepakan si Jago
yang disusul kokok lantangnya menggantikan suara jengkerik dan katak yang
sebelumnya asyik bersimphoni, menandakan subuh mulai menjelang. Di antara
sunyi, ada sepasang mata yang sedetik pun tak mampu terpejam. Sesekali
terdengar helaan nafas panjang, berat..
“Ass. Boleh diganggu
nggak? Kalau boleh saya mau telepon. Minta nomor telepon kantor dong. Kalau
sudah nggak sibuk, kasih tahu ya, jam berapa bisa diganggu, Terimakasih.”
Sebuah sms dari seseorang yang sangat ia kenal, untuk yang
kesekian kalinya mampir di inbox ponsel Bima, suaminya. Ya,
sejak pemilik wajah bulat telur itu menemukan kembali sosok yang pernah begitu
dekat dengannya melalui sebuah buku yang ia baca. Luapan kegembiraan membuat
hobi lamanya menjahili orang kumat, ia ekspresikan kebahagiannya dengan menyapa
sahabat yang turut membidani pernikahannya itu melalui ponsel suaminya.
Sengaja, biar penasaran.
Tapi siapa yang menyangka jika pada akhirnya apa yang dulu digagasnya
justru membuatnya resah akhir-akhir ini. Padahal awalnya ia terkekeh-kekeh
ketika Bima menceritakan betapa sahabat yang kini menjadi seorang penulis
ternama itu begitu penasaran dengan sms yang ia kirim (bekerja sama dengan Bima
tentunya).
“Ass. Hari ini di
harian Sindanglaya ada info buku menarik...bla...bla...Kalau ada waktu mampir
ya.”
Lagi, masih dari sosok yang sama, di hari yang sama pula. Ada
sesak yang kembali menghimpit dadanya. Bagaimana mungkin seorang Alia, penulis
muda produktif yang punya seabrek kegiatan dengan sangat “murah” melewatkan
waktunya hanya untuk mengirim beberapa sms dalam sehari dengan isi pesan
yang....ah tidak masuk di akal Kinanti. Alia gitu lho, aktivis dakwah kampus
mau berhalo-halo dengan laki-laki yang bukan mahramnya. Atau karena sekarang
dia sudah menjadi seorang penulis popular sehingga dia merasa sah-sah saja
menyapa Bima yang kebetulan menjadi salah satu pengagum tulisannya? Dengan
melupakan apa yang pernah ia nasihatkan dulu kepada penghuni kos untuk senantiasa
menjaga jarak dengan siapa pun yang bukan mahram?
Seandainya saat ini permainan belum selesai, mungkin Kinanti
akan kembali terbahak-bahak membaca sederet sms yang isinya lebih mirip curhat
Alia kepada suaminya. Tapi, bukankah permainan yang digagasnya telah usai
beberapa minggu yang lalu ketika Bima memutuskan untuk membuka identitasnya
sehingga akhirnya Alia pun tahu bahwa yang selama ini menjadi mistery
guest dalam hari-harinya adalah suami Kinanti, sahabat lamanya. Waktu
itu ia terbahak dan meminta Kinanti untuk mentraktrirnya atas permainan yang
hampir saja membuat hatinya biru.
“Dek, sudah bangun? Kok nggak bangunin Mas?” suara Bima memutus
lamunannya. “Jam berapa sekarang? Masih ada waktu untuk lail kan?” Kinanti diam
memandang sosok suaminya yang beranjak ke kamar mandi. Ah. Ada kemarahan yang
tiba-tiba menyeruak di dalam hatinya. Ya, kemarahan atas sikap diam suaminya,
atas ketidak terusterangan lelaki berperawakan tinggi kurus itu bahwa ternyata
ia masih saling berkirim sms bahkan bertelepon dengan sahabatnya, Alia,
setelah semua permainan dianggapnya selesai. Kenapa? Tidakkah dia bisa
mengatakan “Maaf Alia, sebaiknya kamu telepon saja ke rumah, pasti Kinanti akan
lebih senang, dan kamu bisa tanyakan perkembangan anak-anak kami kepadanya bla....bla...bla...”
Atau setidaknya dia juga bisa mengatakan, “Maaf Alia, sebaiknya kamu tidak
kirim sms lagi ke saya. Kalau kamu ingin berkirim kabar, kamu bisa hubungi
Kinanti di rumah atau kamu bisa sms dia di nomor xxxxx....Bagaimanapun kita
bukan mahram, kurang ahsan. Saya tidak ingin menyakiti perasaannya.”
Sebuah penolakan yang bagus dan cukup beralasan bukan? Dan ia
rasa Alia akan mengerti karena Alia bukanlah sembarang gadis. Kinanti tahu
betul bagaimana komitmen ke-Islaman sahabatnya. Selama kurang lebih tiga tahun
mereka berdua berkutat dengan dakwah kampus dengan beragam permasalahannya.
Tapi kenapa Bima tidak melakukan itu, tidak enak hati, atau...hei, apakah
diam-diam dia menikmatinya? Argh...kemarahan semakin menyelimuti Kinanti.
Dibekapnya bantal menutup dua telinganya demi menghindari panggilan suaminya
yang mengajaknya sholat malam.
“Lho kok malah tidur lagi. Bangun dong sayang, bentar lagi adzan
tuh. Nggak mau jadi tamu pertamanya Allah?” Huh, sayang....gombal, batin
Kinanti sebel dan bergeming.
“Dek, ayo tho. Sudah adzan itu lho. Ada apa sih, kamu sakit?”
kali ini Bima merenggut bantal yang menutup wajah istrinya. Dipegangnya dahi
wanita yang telah dinikahinya jelang enam tahun itu lembut. Satu hal yang biasa
ia lakukan sebenarnya, tapi kali ini sikapnya membuat Kinanti jengah dan
memutuskan untuk bangkit. Tanpa banyak kata wanita itu membentuk huruf ”M” dari
tiga jarinya sekadar memberitahu suaminya bahwa ia sedang haid.
“Oh... lagi cuti tho. Yo wis bobok lagi kalau gitu.” Masih
dengan senyum Bima beranjak meninggalkan Kinanti dengan gondok di hati.
‘’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’
Langit mendung tak menyisakan awan.
Semendung hati yang terus bertanya.
Bila asa kan menjelma?
(Alia, sore ditengah asa yang meredup)
Hmh... Kinanti menghempas ponsel suaminya gemas. Puisi (atau
curhat?) dari Alia entah untuk yang keberapa kalinya. Yang pasti sejak ia
mendapati sms sahabatnya bertebaran di inbox Bima, wanita itu
selalu mencuri-curi waktu untuk membaca ponsel suaminya. Dan yang membuat
hatinya berdarah-darah, tiada hari tanpa kiriman sms Alia di sana plus reply dari
belahan jiwanya.
Biarkan mendung menutup awan
Karena ia hanya sekedar turuti kehendak-Nya
Pasti kan ada pelangi sepeninggalnya
Agar insan tak senantiasa berduka
(Sabar ya ukhti, tak
ada alasan meredupkan asa, karena Dia Maha Pengabul segala doa)
“Huek....sempurna sekali kedengarannya, Islami but nggilani,”
batin Kinanti sebal. Tiba-tiba ia seperti tak mengenali sahabat yang sudah
seperti saudara kandungnya sendiri. Sahabat yang selalu menemani hari-harinya
dulu, bersama-sama jatuh bangun membenahi keimanan yang seringkali porak
poranda. Sahabat yang wajahnya selalu menghiasi benaknya saat wirid robithoh.Ya
Robbi mengapa rasa sayang itu kini berubah menjadi benci yang amat sangat?
Tidakkah rasa cinta dan benci hendaknya ditempatkan pada timbangan keimanan
kepada-Mu? Mungkin tidak pada tempatnya hamba membencinya Ya, Robb. Tapi
setidaknya tidak bolehkah hamba cemburu?
Kinanti tersungkur dalam tangis. Segala rasa yang coba ia pendam
tumpah sudah. Ini pekan kedua ia memendam semua rasa yang berkecamuk di
hatinya, sendiri, tanpa sedikitpun Bima tahu gundah yang melanda dirinya. Malam
melarut, sunyi, tanpa iringan serangga malam yang biasanya berkonser bersama
komunitasnya. Tak ada niat Kinanti untuk mengakhiri sujud panjangnya. Tertumpah
tangis dan kesah yang selama ini menyesak dadanya dan membuat hari-harinya tak
lagi seindah purnama. Ya Robb, rengkuh hamba yang ringkih ini, berikan
jalan keluar yang terbaik bagi kami, pintanya sungguh.
Jam dinding berdentang tepat tiga kali ketika ponsel Bima
berbunyi. Kinanti tergeragap dari munajatnya. Diraihnya ponsel keluaran Korea
di sampingnya, 1 message received, gumamnya. Pelan jarinya menekan keypad.
Al-Muzzammil 1-3
Bangun Saudaraku waktunya menyapa Allah lewat lail.
(Alia before munajat)
Duh Gusti, sabar, batin Kinanti ngenes. Tapi kali
ini wajahnya tidak lagi bersungut seperti hari-hari ketika ia membaca sms Alia
sebelumnya. Munajat panjang yang baru saja dilaluinya, telah
membawanya pada sebuah kesadaran bahwa ia harus menyelesaikan masalah ini
segera, dengan lapang dada. Tidak dengan amarah Kin, karena amarah adalah
hembusan setan, bisiknya pada dirinya sendiri. Perlahan ia bangunkan Bima yang
memang tengah berselimut.
“Mas, ada sms masuk, nih. Bangun,” sapanya selembut mungkin. Ia
sadari dua pekan ini mukanya tak enak dipandang bila bertatap dengan Bima.
Belum lagi sikap acuh tak acuhnya yang membuat kening suaminya berkerut heran.
Hari ini Kinanti bertekad untuk mengakhiri semuanya. Setidaknya dia ingin
penjelasan Bima. Sekali lagi digoyangnya bahu Bima yang bergeming.
“Dari siapa?” tanyanya sambil mengucak mata.
“Dari Alia,” jawab Kinanti tertahan.Ya, Robb, please....jangan
biarkan air mata ini mendulu jatuh.
“Oh...eh... ada apa dia sms jam tiga malam begini,”
“Membangunkan mas supaya sholat lail.”
“Oh...” Menit berikutnya Bima beranjak meninggalkan istrinya.
Ada perasaan tidak enak diam-diam menyusupi hatinya.
“Mas tidak ingin membalasnya?” seru Kinanti begitu melihat bapak
kedua anaknya itu ngeloyor ke kamar mandi. “Boleh Kinan yang membalasnya?”
tanyanya begitu tidak ada jawaban dari Bima.
“Jawab aja, Dek. Terima kasih sudah dibangunin,” kali ini Bima
setengah berteriak dari kamar mandi. Saat yang tepat, batin Kinanti.
“Terimakasih telah meluangkan waktu untuk membangunkan Mas Bima,
Alia.
Tapi tidakkah kau ingin membangunkan aku pula, agar aku pun bisa
menyapa Allah lewat
lail bersama suamiku tercinta?Ini nomor hpku, Non. Sori, mas Bima lagi nggak
punya pulsa, jadi dia nyuruh aku yang balas.”
Kinanti memandang sederet tulisan di layar sebelum memutuskan
untuk mengirimkannya kepada Alia. Dia hanya ingin tahu apakah sahabatnya itu
sudah benar-benar mati rasa atau memang benar-benar lupa bahwa sahabatnya
adalah Kinan, bukan Bima.
“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””
masih ada tepi pantai
yang tergores indah di pasirnya
suatu kata tentang cinta
antara nyala hatiku dengannya
namun sapuan ombak sore
selalu bergegas untuk menghapusnya
hingga tak ada sedikitpun tersisa
menjadi serpihan mimpi penghias malam
sungguh tak tahukah engkau?
sedang aku masih terduduk di sini
memandang cakrawala di ufuk barat
dengan percikan air laut yang meratap
di ujung jemari kakiku
dengan tangan yang menggenggam takdir adanya ia
tersadar engkau masih di sana
bersama sekelebat warna yang lain
atau memang kau belum temukan pula
hati penuh rajah cinta yang terlahir
hanya untukmu?
*)
Gerimis turun satu-satu, mengganti mendung yang sedari pagi
menggantung. Sepasang mata luka menerawang di sudut jendela. Sesekali jemari
lentiknya menghampiri kelopak yang belakangan sering tergenang. Ada bermacam
rasa menyesak hatinya saat ini, mencoret moret bening angan yang telah
dibangunnya dari tahun ke tahun tentang sebuah bahtera. Dan wanita itu masih
mematung di sudut jendela, tak hirau dengan petir yang mulai saling menyapa,
dengan angin yang terus menampar-nampar wajah ayunya. Ia tak tahu lagi apa yang
mesti diperbuat atas bahteranya.
Jawaban atas 1001 pertanyaan yang mengganggu syaraf berpikirnya
belakangan ini terjawab sudah. Sebuah kenyataan yang tidak pernah ia sangka
terhampar tiba-tiba tanpa mampu dihindarinya. Ya, sebuah pengakuan dari sahabatnya
bahwa ia memendam hasrat terhadap Bima, suaminya. Kinanti limbung. Hatinya tak
henti bertanya, mengapa?
“Maaf kalau ini ternyata menyakiti perasaanmu, Dek. Tidak
ada niatan apa pun pada awalnya. Mas hanya ingin menemaninya bertukar kata,
mencoba membuka matanya bahwa ia tak harus bersedih dengan kesendiriannya
sampai saat ini, dengan kegagalan demi kegagalan yang menghampirinya menuju
penyempurnaan setengah din.” Bima menarik nafas berat. Nuraninya menghentak,
ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan. Pada awalnya memang tidak ada niatan
apa pun selain sekadar menghormati teman kental istrinya. Tapi siapa yang
menyangka jika akhirnya timbul perasan lain di hatinya. Perasaan ingin
melindungi yang membuahkan rasa. Ya, sebuah rasa yang dulu hanya menjadi milik
Kinanti, istrinya. Sebenarnya ia hanya tengah menunggu waktu yang tepat untuk
mengungkapkan gejolak hatinya. Tapi setiap melihat tulus pengabdian Kinan,
lidahnya menjadi kelu untuk berkata-kata.
“Pada awalnya…., bagaimana dengan akhirnya?” mata Kinanti lurus
menerobos malam. Sedikit pun tak ada keinginan untuk melihat bagaimana ekspresi
Bima ketika menutur kata. Rasanya dia mulai tahu muara dari semua. Hati
kecilnya bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang dipendam Bima, lelaki yang
pernah memintanya untuk menggenapkan separuh jiwanya.
“Mas mencintainya?” lagi-lagi pertanyaan Kinan menohok rasa hati
Bima yang paling dalam. Bagaimana pun ia paham ketegaran istrinya, tapi
mendengar cinta di hati suaminya telah terbagi dengan sahabatnya sendiri,
masihkah ia mampu tegar? Bima menghela nafas, sejurus kemudian dihembusnya
kuat-kuat. Ya, Robb sungguh aku tak ingin membuat noda di bening matanya, tapi
terus menyembunyikan gejolak yang terpendam, tidakkah justru menjurus kepada
zina? batinnya perih.
“Jika adek ikhlas……..,” kalimat Bima menggantung. “Ya Robb
ampuni hamba atas terlukanya sepotong hati,” batinnya.
“………Mas ingin membawanya ke dalam bahtera kita, menyandingkannya
di sampingmu, di antara buah hati kita,” lanjut Bima berat.. Memang ada yang
tersakiti, tapi setidaknya dia tidak ingin terus mengotori hatinya dengan
bayangan Alia yang belum halal untuknya. Bagaimanapun ia ingin semuanya tetap
di dalam jalur yang di ridhoi-Nya walaupun mungkin terlambat.
“Prang…” pecah sudah cermin bernama cinta di hati Kinanti. Sesak
yang tak terbendung memaksa bening di matanya turun disusul lainnya, tanpa
suara. Ketegaran yang telah dibangunnya ternyata runtuh juga. Bukan karena
keinginan Bima untuk menjadikan Alia madunya, karena sejak awal menikah ia
memang sudah mempersiapkan dirinya untuk berbagi dengan wanita lain. Tapi
kenyataan bahwa ada cinta antara Bima dan Alia tanpa sepengetahuannya, itu yang
mencabik perasaannya. Dan rasanya luka yang ditinggalkan tak mampu lagi
membuatnya bertahan dalam bahtera.
“Saya ikhlas, Mas,” jawab Kinan setelah sesaat hening. Bima
terperangah. Diburunya tubuh mungil Kinan dan menjatuhkannya dalam pelukan.
Matanya basah, sungguh di antara luka, Kinan masih menomorsatukan dirinya.
“Tidak ada hak saya untuk menghalangi niat Mas, karena Allah memang
membolehkan. Tapi………..,” Kinan terdiam sejenak, mencoba mengumpulkan kekuatan
hatinya yang tersisa. Bagaimanapun ia harus memutuskan.
“Izinkan saya untuk pergi dari bahtera kita,” lanjutnya lirih.
Sontak Bima melepas pelukannya. Kepalanya menggeleng lemah. Tidak mungkin ia
menjalankan bahteranya tanpa Kinanti.
“Adek tidak ikhlas,” ucap Bima dalam. Batinnya kembali
bergejolak.
“Saya ikhlas Mas. Tetapi saya juga tidak mau membohongi diri
sendiri bahwa luka di hati saya terlalu dalam untuk bertahan di bahtera itu.
Seandainya Mas mengungkapkan keinginan untuk menikahi Alia sejak awal, tanpa
menebar hasrat secara diam-diam di belakang saya, mungkin saya akan lapang dada
bahkan bahagia bersanding dengan sahabat saya sendiri. Tapi...apa yang terjadi
membuat saya merasa tertikam, oleh orang-orang yang selama ini saya sayangi.”
“Tidakkah adek bisa memaafkan kami?” Bima menghiba.
“Jika Allah saja memberi ampunan, kenapa saya tidak? Tapi maaf,
Mas. Jangan paksa saya untuk bertahan karena luka ini telah melenyapkan
sebagian besar rasa hormat saya kepada Mas. Dan bagaimana mungkin saya mampu
memberikan yang terbaik untuk bahtera ini jika hati saya untuk Mas perlahan
beku. Tolong, Mas, jangan biarkan saya menjadi istri durhaka.”
“Bagaimana dengan anak-anak? Apakah kamu tidak memikirkan
perasaan mereka?” Bima masih mencoba meraih celah iba di hati istrinya.
“Apakah Mas juga memikirkan perasaan mereka ketika Mas membagi
bunga kepada penghuni lain di luar taman kita? Apakah Mas juga menyiapkan jawab
atas sejumlah tanya kenapa tiba-tiba ‘Tante Al’ menjadi bagian dari mereka?”
Hmh, Kinanti mendengus kesal namun bergegas beristighfar. Bagaimanapun ia sudah
bertekad untuk mengakhiri pengabdiannya tidak dengan amarah agar ia masih tetap
bisa merasai manisnya bahtera yang pernah dikemudikannya.
Sementara Bima tergugu. Tak terbayang di benaknya bagaimana ia
akan melewati hari-harinya tanpa gelak Kinan dan anak-anaknya, tanpa rengkuhan
lembut yang siap menyambutnya berbagi keresahan. Teringat olehnya kata-kata
Kinan di awal mengayuh biduk,”Kalau Mas mau menikah lagi bilang ya. Biar jangan
sampai zina hati. Kinan bahagia bisa menjadi istri pertama Mas. Tapi ingat,
Kinan tidak pernah bercita-cita menjadi istri satu-satunya meskipun itu
sebenarnya membuat Kinan lebih berbahagia,” ungkapnya diselingi tawa. Sebegitu
baiknya, tapi apa yang yang telah dilakukannya? Oh tidak, betapa kini ia
menyadari kebodohannya telah menyakiti hati bening pelipur laranya. Dan hei,
ada ragu yang tiba-tiba menggantung di hatinya, mampukah kehadiran Alia
menggantikan semuanya.....
“Maafkan saya, Kin. Beri saya kesempatan untuk menebus
segala kekhilafan dan memulai semuanya dari awal, membangun bahtera kita
berdua, tanpa Alia. Please........” pinta Bima tiba-tiba. Tapi
Kinan bergeming.
“Tidak mas, luka itu sudah terlanjur menganga. Tebuslah
kekhilafan dengan menikahi Alia. Bantu dia menggenapkan setengah din-nya
seperti niat Mas semula. Dan beri saya kesempatan untuk menyembuhkan luka yang
tidak akan saya biarkan terus mendera, karena ada dua Bima yang akan selalu
memberikan cintanya kepada saya. Maafkan Kinan, Mas.”
Malam melarut. Bulan redup menjadi saksi menerbangnya separuh
hati dua manusia yang terluka. Kinanti meraih tangan Bima, menciumnya dengan
sisa cinta yang dimilikinya. Bila ia akan melakukan hal yang sama? tak ada yang
bisa menjawab karena wanita itu telah meyakini bahwa esok Bima bukan lagi
miliknya.
Juli 2005 dengan sedikit revisi
----hanya sebuah coretan-----
*)Rajah Cinta by Riza.A