Gerbong tak bernama
Aku bergegas mengemasi bawaanku. ''Pulang dulu ya," pamitku pada dua
kawan laki-lakiku yang masih asyik menatap layar komputer. Malam ini untuk yang
kesekian kalinya aku pulang agak larut. Deadline laporan yang tinggal hitungan
hari memaksaku untuk meninggalkan buah
hatiku lebih lama. Tidak ada pilihan lain. Ini konsekuensiku memilih pekerjaan ini.Hff,
kuhembuskan nafas kuat-kuat, mencoba menepis resah yg beberapa hari menggumpal.
''Gambir, Bang. Ngebut ya,'' pintaku. Ini biasa kulakukan
kalo aku terburu-buru mengejar kereta. Dan untungnya mereka mengerti. Setengah
berlari kususuri lantai 1 Stasiun Gambir. Aku tdk ingin ketinggalan Pakuan yang
terakhir, jam 9. Jam berapa lagi aku hrs pulang kalau kereta ini pun
tertinggal.
Tidak banyak orang yg terlihat menunggu di peron. Beruntung tak lama pakuan yg kumaksud datang. Bergegas kusongsong bangku kosong yg masih tersisa.
Alhamdulillah, dapat duduk. Setidaknya aku bisa memejamkan mata sampai stasiun yg kutuju. Tp entah kenapa, malam ini rasa kantukku hilang tiba-tiba. Kucoba memejamkan mata, tapi tak ingin juga. Kuedarkan pandangan ke sekeliling, hal biasa yang kulakukan. Kulihat semua diam, wajah-wajah yang kulihat asing. Jarang naik Pakuan ini barangkali, pikirku.
Tidak banyak orang yg terlihat menunggu di peron. Beruntung tak lama pakuan yg kumaksud datang. Bergegas kusongsong bangku kosong yg masih tersisa.
Alhamdulillah, dapat duduk. Setidaknya aku bisa memejamkan mata sampai stasiun yg kutuju. Tp entah kenapa, malam ini rasa kantukku hilang tiba-tiba. Kucoba memejamkan mata, tapi tak ingin juga. Kuedarkan pandangan ke sekeliling, hal biasa yang kulakukan. Kulihat semua diam, wajah-wajah yang kulihat asing. Jarang naik Pakuan ini barangkali, pikirku.
Kereta terus melaju,entah sampai mana aku tidak tahu,
karena pemandangan di luar gelap. Kusiapkan tiket yang biasa kubeli tiap pagi,
barangkali petugas siap2 memeriksa. Sekilas kulihat keterkejutan di wajah
wanita paruh baya di depanku. Berulangkali dia melihat tiketku. Aku tersenyum
heran. ada apa rupanya?
“Ada apa, Bu? Ada yg salah? Ini kereta jurusan Bogor
kan?” tanyaku penasaran. Yang kutanya semakin memandangku heran. Sejenak
kemudian dia menggeleng.
''Apa yang menyebabkanmu terbawa di gerbong ini?''. Kali
ini aku yang heran. Ah, ibu ini pikun barangkali, pikirku.
''Yang menyebabkan saya terbawa di gerbong ini adalah
kaki saya,'' candaku. Berharap wajah itu tersenyum. Tapi ternyata tidak. Dia
malah mengulangi pertanyaan yang sama.
''Ibu, yang mnyebabkan saya terbawa di gerbong ini adalah
karena saya mau pulang lebih cepat. Rumah saya di Citayam. Ci-ta-yam, jawabku
geli. Ibu itu mengangguk angguk, Tapi lagi-lagi tatapannya dingin, tanpa senyum.
………………………………………………………………………………………………………………..
Kereta
terus melaju, tanpa kutahu sampai di mana ia. Di luar gelap. Tak kuhiraukan
lagi perempuan aneh di sampingku. Lebih baik segera kuhubungi suamiku, supaya
bisa segera menjemput di stasiun yang kutuju. Segera kuambil E63-ku. Ck, mati,
keluhku pelan.
''Tak
akan bisa,'' lagi-lagi suara itu, perempuan aneh di sampingku.
''iya,
Bu, Hp saya mati, baterainya habis barangkali,'' jawabku. Tidak enak juga klo
aku tak menanggapinya.
''Bukan.
Bukan karena baterainya, tapi memang tidak bisa, tak akan bisa. Barang itu
tidak berguna, tidak bisa menolongmu,'' suaranya trdengar semakin berat seolah
ingin menegaskan sesuatu. Argh, kucoba untuk menahan marah, bagaimanapun aku tak
boleh, dia hanya seorang perempuan paruh baya. Mungkin wanita seusianya memang
gemar meracau. Meracau? tunggu, seingatku, HP ini baru saja aku charge, kenapa
tidak bisa. Apa maksudnya dengan tidak akan bisa. Ah, kucoba menepis resah yang
mulai merayap. Kulongok jendela kereta dibelakangku. Gelap, tak satupun titik
terang kulihat. Ups, aku terperangah, perempuan itu ............ Aku semakin
resah, kulihat jarum jam di tanganku seolah tak bergerak. Mati jugakah? Kenapa
barang-barangku mati semua? Tak berguna?
Sementara
kereta terus melaju, tanpa kutahu sampai di mana.
……………………………………………………………………………………………………………………
Kucoba
memejam mata, dan berharap semua baik-baik saja saat aku membukanya. Ya Robbi,
kereta apa ini? Kenapa kereta seolah berjalan pada jalur yang tak biasa.
Semalam-malamnya perjalanan, biasanya tetap terlihat ia sudah sampai di mana.
Pasar Minggu kah? Depok kah? atau jangan-jangan kereta ini sudah melewati
Citayam? Ah,aku tidak boleh tertidur,aku tidak mau terbawa sampai Bogor,
mengerikan sekali. Segera kulongok jendela di belakangku, tapi lagi-lagi tak
satu pun terang yang bisa kulihat. Mati lampu kah jalur di sepanjang Jakarta
Bogor sehingga di luar begitu gelap gulita.
"Sriiiink............"
derit rem kereta mengagetkanku. Kenapa tiba-tiba masinis mengerem mendadak? Ada
apa lagi ini? mogokkah? kenapa tak terlihat satu pun petugas dari tadi. Mau
bertanya pada siapa? Pada perempuan di sampingku? Ah, malas aku mendengar
ceracaunya, hanya menambah kegelisahan. Tapi tunggu, kenapa pintu kereta
dibuka. Kulihat hampir semua penumpang beranjak turun, termasuk perempuan di
sampingku. Anehnya tak sedikitpun terdengar kegaduhan layaknya penumpang jika
kereta bermasalah. Hampir semua diam. Atau jangan-jangan bukan mogok, tapi
sudah sampai stasiun akhir, Bogor.
"Ayo,"
ajak perempuan itu.
"
Sudah sampai mana ini, Bu?" tanyaku terpaksa. Bagaimanapun orang terdekat
denganku saat ini hanya dia.
"Sudah
sampai akhir," jawabnya lirih.
"Bogor,
maksud Ibu?" tanyaku penasaran. Yang kutanya hanya diam sambil terus
melangkah menuruni tangga kereta. Sempat kulihat perban yang membebat kepala
bagian belakangnya, masih basah dengan darah. Barangkali itu yang membuat
wajahnya pucat. Kasian juga ibu itu, kenapa tidak ada yang mengantarnya.
Bergegas kukemasi barangku, tidak ada pilihan lain kecuali turun dan mencoba
mencari informasi yang lebih jelas.
Aku
berjalan dalam gelap, di antara orang-orang yang diam tak bersuara, tanpa
kutahu ini di mana. Yang kutahu rombongan ini menuju ke satu titik, seperti ada
yang mengarahkan. Dan aku terus berjalan, meski berjuta pertanyaaan bergelayut
di benakku.Kutajamkan penglihatan, berharapa ada seorang yang kukenal. Tapi
usahaku sia-sia. Tak ada satu pun.
Mataku
nanar menatap sebuah layar lebar di depanku. Seperti melihat sebuah sinetron,
tapi anehnya aku kenal betul pemerannya. Dingin mulai merayapi tubuhku, semakin
lama semakin menusuk tulang. Aku menggigil, tapi bukan semata-mata dingin.
……………………………………………………………………………………………………………….
Sebuah
layar besar terus memutar gambar demi gambar. Ada satu wajah yang sangat
kukenal. Kau tahu, wajah siapa dia? Itu wajahku, ya, itu aku. layar besar itu
sedang memutar perjalanan hidupku. Tapi tunggu, apa maksud semua ini?
Kenapa tiba-tiba perjalanan hidupku di putar.Untuk apa? kuedarkan
pandanganku ke sekeliling. Tak satupun ikut menonton layar lebar di depanku. Masing-masing terlihat sibuk di depan layar
lebar layaknya di depanku. Tak satu pun bersuara, barangkali mereka juga heran,
sama sepertiku. Aku harus bertanya. Pada siapa? Perempuaun itu, ya, perempuan
itu, barangkali dia tahu. Ada sesuatu yang
tidak biasa sedang menimpaku. Tapi apa? Aku harus cari tahu jawabnya.
Mataku
mencari perempuan berperban di kepala yang sejak tadi bersamaku, tapi nihil,
tak ada, entah di mana ia. Tubuhku mulai berpeluh jagung,sementara layar
lebar di depanku belum berhenti memutar episode kehidupanku. Tidak ada pilihan
lain, selain melihatnya dengan seksama, sampai dimana akhir semuanya. apa yang
membuatku terbawa gerbong tak jelas itu pasti ada di situ.
Tubuhku
semakin mengigil. Rasanya aku mulai mengerti di mana aku saat ini. gerbong itu,
orang-orang yang diam membisu itu, layar lebar yang membuat setiap yang
melihatnya terpaku. Ya Robbana, ini kah akhir dari semua? Aku mulai tergugu.
Terbayang pagi yang buru-buru karena aku harus mengejar kereta, tanpa sempat
mencium si bungsu yang terlelap di sampingku. Terbayang dua lagi putraku yang
belum juga rapi berpakain ketika aku meninggalkan mereka, hingga tersadar
ketika si tengah berteriak,
"Umi....belum
saliim..."
Ya
Robb, masih adakah kesempatan untuk mengulang semua? Jika memang ini adalah malam
terakhirku, sungguh, masih banyak PR yang belum kuselesaikan. Jika memang ini
adalah malam terakhirku,sungguh, aku merugi karena aku menghadapMu dengan bekal
yang sangat tidak memadai.Terbayang betapa buru-burunya aku menyelesaikan 2
rokaat sholat dhuha, teringat mata yang lelap terpejam hingga subuh datang,
teringat Al-Qur'an pojok yang sepekan terakhir memandangku iba di sudut ruangan
karena tidak kusentuh.Ya Robbana, masihkah ada kesempatan untuk mengulang
semua, pintaku sungguh di antara isak tangisku.
Rasanya
aku mulai tahu muara dari semua. Gerbong yang membawaku memang bukan gerbong
biasa. Gerbong ini tidak hanya mengantar kami penumpangnya hingga stasiun
tujuan.Lebih dari itu ia mengantar kami pada ahir dari kehidupan kami di dunia.
Dan sekarang kami sedang diperlihatkan apa saja yg sudah kami lakukan selama
ini. Aku kembali tergugu. Di depanku tampak wajah suamiku, tampak ruang tamu
kami yang tak luas, tampak tangannya sedang memegang tanganku. Masih terekam
jelas di ingatanku, apa yang kami perbincangkan saat itu.Saat itu dia hanya
memmintaku u menyajikan teh di setiap pagi dan petang, dengan tanganku sendiri,
bukan lewat tangan si mbak, khodimatku. Dia juga memintaku untuk menemaninya
saat dia bersantap makan. Sebuah pinta sederhana yang belum mampu sepenuhnya
kupenuhi karena kesibukanku sebagai wanita pekerja.
Ya
Robbana, benarkah ini malam terahirku? kenapa tak Kau beri kesempatan aku untuk
bertemu dulu dengan suami dan anak-anakku. Minimal untukk meminta maaf kepada
mereka atas ketidakmampuanku menjadi ibu dan istri yang baik untu mereka.
Minimal untuk mengatakan kepada mereka bahwa aku mencintai mereka .
Dingin
semakin terasa menusuk. Aku lunglai dalam ketidak berdayaanku. Telah datang
saat di mana semua nikmat terputus. Telah datang saat di mana angan-angan untuk
beramal sholeh tak berguna lagi. Kupaksa lisanku untuk terus menyebut namaNya,
berharap aku menghadapNya secara baik. Tak kuhiraukan lagi lalu lalang orang di
sekitarku, tak kuhiraukan lagi hiruk pikuk yang semakin lama semakin jelas
terdengar di telingaku. Aku terus memejam mata hingga sebuah tepukan
menyadarkanku.
Ruangan
yang serba putih, inikah tempat peristirahatanku yang terakhir? tapi tunggu,
ada suara yang sepertnya aku tak asing. Kucoba membuka mata, mencoba menjawab
rasa penasaranku. Robbana....ada suami dan anak2ku. Apa arti semuanya? Aku
terbaring di atas ranjang putih, di sebuah kamar ukuran 3x4, dengan aroma obat
yang kuat menusuk. Aha, aku di rumah sakit. So? Aku tidak jadi mati? Aku
tidak jadi mati? Aku hampir berteriak
kegirangan. Tapi tunggu, siapa perempuan
di sudut ruangan itu? Sepertinya aku juga kenal. Bukankah dia perempuan di
gerbong itu? Ah, apa maksud semua ini? Apakah dia sedang menungguku u
berpamitan dengan suami dan anak-anakku dan selanjutnya membawaku pergi lagi? Ah
sudahlah, ta akan kusia-siakan kesempatan ini. Aku akan meminta maaf kepada
suami dan anak-anakku. Kucium anak2ku sepenuh hati sementara perempuan itu
terus memandang dan berjalan ke arahku. "Beri kesempatan padaku untuk
menjawab satu pertanyaan suamiku yg belum sempat kujawab," pintaku pada perempuan
itu. Aku khawatir kali ini benar-benar menjadi saat terakhirku. Kugenggam
tangan suamiku, bersiap u menjawab tanyanya bahwa aku juga mencintainya.
Perempuan itu semakin mendekatiku, kali ini dia tersenyum, manis.
“Belum
waktunya bagimu," bisiknya pelan dan perlahan pergi. Tidak ada yang tau,
hendak kemana ia. Dan entah kenapa tiba2 lidahku kembali kelu ketika suamiku bertanya, "Apakah umi
mencintai abi?"
Cerita ini pernah di upload di Fb medio 2011
sebuah upaya mengumpulkan tulisan yang tercecer :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar