Sabtu, 03 Mei 2014

Gerbong Tak Bernama


Gerbong tak bernama

Aku bergegas mengemasi bawaanku. ''Pulang dulu ya," pamitku pada dua kawan laki-lakiku yang masih asyik menatap layar komputer. Malam ini untuk yang kesekian kalinya aku pulang agak larut. Deadline laporan yang tinggal hitungan hari memaksaku untuk  meninggalkan buah hatiku lebih lama. Tidak ada pilihan lain. Ini konsekuensiku memilih pekerjaan ini.Hff, kuhembuskan nafas kuat-kuat, mencoba menepis resah yg beberapa hari menggumpal. 
''Gambir, Bang. Ngebut ya,'' pintaku. Ini biasa kulakukan kalo aku terburu-buru mengejar kereta. Dan untungnya mereka mengerti. Setengah berlari kususuri lantai 1 Stasiun Gambir. Aku tdk ingin ketinggalan Pakuan yang terakhir, jam 9. Jam berapa lagi aku hrs pulang kalau kereta ini pun tertinggal. 
Tidak banyak orang yg terlihat menunggu di peron. Beruntung tak lama pakuan yg kumaksud datang. Bergegas kusongsong bangku kosong yg masih tersisa.
Alhamdulillah, dapat duduk. Setidaknya aku bisa memejamkan mata sampai stasiun yg kutuju. Tp entah kenapa, malam ini rasa kantukku hilang tiba-tiba. Kucoba memejamkan mata, tapi tak ingin juga. Kuedarkan pandangan ke sekeliling, hal biasa yang kulakukan. Kulihat semua diam, wajah-wajah yang kulihat asing. Jarang naik Pakuan ini barangkali, pikirku.
Kereta terus melaju,entah sampai mana aku tidak tahu, karena pemandangan di luar gelap. Kusiapkan tiket yang biasa kubeli tiap pagi, barangkali petugas siap2 memeriksa. Sekilas kulihat keterkejutan di wajah wanita paruh baya di depanku. Berulangkali dia melihat tiketku. Aku tersenyum heran. ada apa rupanya?
“Ada apa, Bu? Ada yg salah? Ini kereta jurusan Bogor kan?” tanyaku penasaran. Yang kutanya semakin memandangku heran. Sejenak kemudian dia menggeleng.
''Apa yang menyebabkanmu terbawa di gerbong ini?''. Kali ini aku yang heran. Ah, ibu ini pikun barangkali, pikirku.
''Yang menyebabkan saya terbawa di gerbong ini adalah kaki saya,'' candaku. Berharap wajah itu tersenyum. Tapi ternyata tidak. Dia malah mengulangi pertanyaan yang sama.
''Ibu, yang mnyebabkan saya terbawa di gerbong ini adalah karena saya mau pulang lebih cepat. Rumah saya di Citayam. Ci-ta-yam, jawabku geli. Ibu itu mengangguk angguk, Tapi lagi-lagi tatapannya dingin, tanpa senyum.
………………………………………………………………………………………………………………..
Kereta terus melaju, tanpa kutahu sampai di mana ia. Di luar gelap. Tak kuhiraukan lagi perempuan aneh di sampingku. Lebih baik segera kuhubungi suamiku, supaya bisa segera menjemput di stasiun yang kutuju. Segera kuambil E63-ku. Ck, mati, keluhku pelan. 
''Tak akan bisa,'' lagi-lagi suara itu, perempuan aneh di sampingku.
''iya, Bu, Hp saya mati, baterainya habis barangkali,'' jawabku. Tidak enak juga klo aku tak menanggapinya.
''Bukan. Bukan karena baterainya, tapi memang tidak bisa, tak akan bisa. Barang itu tidak berguna, tidak bisa menolongmu,'' suaranya trdengar semakin berat seolah ingin menegaskan sesuatu. Argh, kucoba untuk menahan marah, bagaimanapun aku tak boleh, dia hanya seorang perempuan paruh baya. Mungkin wanita seusianya memang gemar meracau. Meracau? tunggu, seingatku, HP ini baru saja aku charge, kenapa tidak bisa. Apa maksudnya dengan tidak akan bisa. Ah, kucoba menepis resah yang mulai merayap. Kulongok jendela kereta dibelakangku. Gelap, tak satupun titik terang kulihat. Ups, aku terperangah, perempuan itu ............ Aku semakin resah, kulihat jarum jam di tanganku seolah tak bergerak. Mati jugakah? Kenapa barang-barangku mati semua? Tak berguna? 
Sementara kereta terus melaju, tanpa kutahu sampai di mana.
……………………………………………………………………………………………………………………
Kucoba memejam mata, dan berharap semua baik-baik saja saat aku membukanya. Ya Robbi, kereta apa ini? Kenapa kereta seolah berjalan pada jalur yang tak biasa. Semalam-malamnya perjalanan, biasanya tetap terlihat ia sudah sampai di mana. Pasar Minggu kah? Depok kah? atau jangan-jangan kereta ini sudah melewati Citayam? Ah,aku tidak boleh tertidur,aku tidak mau terbawa sampai Bogor, mengerikan sekali. Segera kulongok jendela di belakangku, tapi lagi-lagi tak satu pun terang yang bisa kulihat. Mati lampu kah jalur di sepanjang Jakarta Bogor sehingga di luar begitu gelap gulita.
"Sriiiink............" derit rem kereta mengagetkanku. Kenapa tiba-tiba masinis mengerem mendadak? Ada apa lagi ini? mogokkah? kenapa tak terlihat satu pun petugas dari tadi. Mau bertanya pada siapa? Pada perempuan di sampingku? Ah, malas aku mendengar ceracaunya, hanya menambah kegelisahan. Tapi tunggu, kenapa pintu kereta dibuka. Kulihat hampir semua penumpang beranjak turun, termasuk perempuan di sampingku. Anehnya tak sedikitpun terdengar kegaduhan layaknya penumpang jika kereta bermasalah. Hampir semua diam. Atau jangan-jangan bukan mogok, tapi sudah sampai stasiun akhir, Bogor.
"Ayo," ajak perempuan itu.
" Sudah sampai mana ini, Bu?" tanyaku terpaksa. Bagaimanapun orang terdekat denganku saat ini hanya dia.
"Sudah sampai akhir," jawabnya lirih.
"Bogor, maksud Ibu?" tanyaku penasaran. Yang kutanya hanya diam sambil terus melangkah menuruni tangga kereta. Sempat kulihat perban yang membebat kepala bagian belakangnya, masih basah dengan darah. Barangkali itu yang membuat wajahnya pucat. Kasian juga ibu itu, kenapa tidak ada yang mengantarnya. Bergegas kukemasi barangku, tidak ada pilihan lain kecuali turun dan mencoba mencari informasi yang lebih jelas.
Aku berjalan dalam gelap, di antara orang-orang yang diam tak bersuara, tanpa kutahu ini di mana. Yang kutahu rombongan ini menuju ke satu titik, seperti ada yang mengarahkan. Dan aku terus berjalan, meski berjuta pertanyaaan bergelayut di benakku.Kutajamkan penglihatan, berharapa ada seorang yang kukenal. Tapi usahaku sia-sia. Tak ada satu pun.
Mataku nanar menatap sebuah layar lebar di depanku. Seperti melihat sebuah sinetron, tapi anehnya aku kenal betul pemerannya. Dingin mulai merayapi tubuhku, semakin lama semakin menusuk tulang. Aku menggigil, tapi bukan semata-mata dingin.
……………………………………………………………………………………………………………….
Sebuah layar besar terus memutar gambar demi gambar. Ada satu wajah yang sangat kukenal. Kau tahu, wajah siapa dia? Itu wajahku, ya, itu aku. layar besar itu sedang memutar perjalanan hidupku. Tapi tunggu, apa maksud semua ini? Kenapa  tiba-tiba perjalanan hidupku di putar.Untuk apa? kuedarkan pandanganku ke sekeliling. Tak satupun ikut menonton layar lebar di depanku.  Masing-masing terlihat sibuk di depan layar lebar layaknya di depanku. Tak satu pun bersuara, barangkali mereka juga heran, sama sepertiku. Aku harus bertanya. Pada siapa? Perempuaun itu, ya, perempuan itu,  barangkali dia tahu. Ada sesuatu yang tidak biasa sedang menimpaku. Tapi apa? Aku harus cari tahu jawabnya.
Mataku mencari perempuan berperban di kepala yang sejak tadi bersamaku, tapi nihil, tak ada, entah di mana ia. Tubuhku  mulai berpeluh jagung,sementara layar lebar di depanku belum berhenti memutar episode kehidupanku. Tidak ada pilihan lain, selain melihatnya dengan seksama, sampai dimana akhir semuanya. apa yang membuatku terbawa gerbong tak jelas itu pasti ada di situ.
Tubuhku semakin mengigil. Rasanya aku mulai mengerti di mana aku saat ini. gerbong itu, orang-orang yang diam membisu itu, layar lebar yang membuat setiap yang melihatnya terpaku. Ya Robbana, ini kah akhir dari semua? Aku mulai tergugu. Terbayang pagi yang buru-buru karena aku harus mengejar kereta, tanpa sempat mencium si bungsu yang terlelap di sampingku. Terbayang dua lagi putraku yang belum juga rapi berpakain ketika aku meninggalkan mereka, hingga tersadar ketika si tengah berteriak,
"Umi....belum saliim..."
Ya Robb, masih adakah kesempatan untuk  mengulang semua? Jika memang ini adalah malam terakhirku, sungguh, masih banyak PR yang belum kuselesaikan. Jika memang ini adalah malam terakhirku,sungguh, aku merugi karena aku menghadapMu dengan bekal yang sangat tidak memadai.Terbayang betapa buru-burunya aku menyelesaikan 2 rokaat sholat dhuha, teringat mata yang lelap terpejam hingga subuh datang, teringat Al-Qur'an pojok yang sepekan terakhir memandangku iba di sudut ruangan karena tidak kusentuh.Ya Robbana, masihkah ada kesempatan untuk mengulang semua, pintaku sungguh di antara isak tangisku.
Rasanya aku mulai tahu muara dari semua. Gerbong yang membawaku memang bukan gerbong biasa. Gerbong ini tidak hanya mengantar kami penumpangnya hingga stasiun tujuan.Lebih dari itu ia mengantar kami pada ahir dari kehidupan kami di dunia. Dan sekarang kami sedang diperlihatkan apa saja yg sudah kami lakukan selama ini. Aku kembali tergugu. Di depanku tampak wajah suamiku, tampak ruang tamu kami yang tak luas, tampak tangannya sedang memegang tanganku. Masih terekam jelas di ingatanku, apa yang kami perbincangkan saat itu.Saat itu dia hanya memmintaku u menyajikan teh di setiap pagi dan petang, dengan tanganku sendiri, bukan lewat tangan si mbak, khodimatku. Dia juga memintaku untuk menemaninya saat dia bersantap makan. Sebuah pinta sederhana yang belum mampu sepenuhnya kupenuhi karena kesibukanku sebagai wanita pekerja.
Ya Robbana, benarkah ini malam terahirku? kenapa tak Kau beri kesempatan aku untuk bertemu dulu dengan suami dan anak-anakku. Minimal untukk meminta maaf kepada mereka atas ketidakmampuanku menjadi ibu dan istri yang baik untu mereka. Minimal untuk mengatakan kepada mereka bahwa aku mencintai mereka .
Dingin semakin terasa menusuk. Aku lunglai dalam ketidak berdayaanku. Telah datang saat di mana semua nikmat terputus. Telah datang saat di mana angan-angan untuk beramal sholeh tak berguna lagi. Kupaksa lisanku untuk terus menyebut namaNya, berharap aku menghadapNya secara baik. Tak kuhiraukan lagi lalu lalang orang di sekitarku, tak kuhiraukan lagi hiruk pikuk yang semakin lama semakin jelas terdengar di telingaku. Aku terus memejam mata hingga sebuah tepukan menyadarkanku.
Ruangan yang serba putih, inikah tempat peristirahatanku yang terakhir? tapi tunggu, ada suara yang sepertnya aku tak asing. Kucoba membuka mata, mencoba menjawab rasa penasaranku. Robbana....ada suami dan anak2ku. Apa arti semuanya? Aku terbaring di atas ranjang putih, di sebuah kamar ukuran 3x4, dengan aroma obat yang kuat menusuk. Aha, aku di rumah sakit. So? Aku tidak jadi mati? Aku tidak  jadi mati? Aku hampir berteriak kegirangan. Tapi tunggu,  siapa perempuan di sudut ruangan itu? Sepertinya aku juga kenal. Bukankah dia perempuan di gerbong itu? Ah, apa maksud semua ini? Apakah dia sedang menungguku u berpamitan dengan suami dan anak-anakku dan selanjutnya membawaku pergi lagi? Ah sudahlah, ta akan kusia-siakan kesempatan ini. Aku akan meminta maaf kepada suami dan anak-anakku. Kucium anak2ku sepenuh hati sementara perempuan itu terus memandang dan berjalan ke arahku. "Beri kesempatan padaku untuk menjawab satu pertanyaan suamiku yg belum sempat kujawab," pintaku pada perempuan itu. Aku khawatir kali ini benar-benar menjadi saat terakhirku. Kugenggam tangan suamiku, bersiap u menjawab tanyanya bahwa aku juga mencintainya. Perempuan itu semakin mendekatiku, kali ini dia tersenyum, manis.
“Belum waktunya bagimu," bisiknya pelan dan perlahan pergi. Tidak ada yang tau, hendak kemana ia. Dan entah kenapa tiba2 lidahku kembali kelu  ketika suamiku bertanya, "Apakah umi mencintai abi?"



Cerita ini pernah di upload di Fb medio 2011
sebuah upaya mengumpulkan tulisan yang tercecer :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar