Sebuah
notifikasi muncul pada G-talk-ku tak
lama setelah aku sign up. Ada yang ingin menjadi temanku
rupanya. Sejenak kucoba untuk mengingat,
barangkali aku pernah berinteraksi dengannya, tapi nihil. User Id yang dipakainya tak mengingatkanku pada siapa pun. Tanpa banyak berprasangka, kuterima saja
permintaan pertemanannya. untuk menghilangkan rasa penasaranku, segera kusapa
yang bersangkutan, sekedar ingin
tahu siapa gerangan beliau ini. Tapi dasar belum rezeki, hingga akhir kumatikan komputerku untuk
segera pulang ke rumah, si mystery guest
belum juga menjawab tanyaku.
“Maaf
Bu Ria, saya baru sadar kalau ada pesan masuk,” sebuah pesan muncul di layar
kotak ajaibku. Aha, rupayanya dari si mystery
guest yang kemarin. Sesaat kemudian dia menyebut nama dirinya, plus
pertemuannya denganku. Sebegitu lengkapnya perempuan itu mendeskripsikan
dirinya, sementara aku mencoba melukis gambar wajahnya di benakku.
“Saya pernah ikut mentoring kantor bersama bu
Ria waktu itu. Saya lulusan 2010,” tulisnya.
“Oh, iya,” jawabku cepat sembari mencoba menebak
pemilik nama itu diantara bayangan beberapa wajah gadis kisaran dua puluh
tahunan yang berjejer di sana.
Waduh,
yang mana ya, he...he... Agak susah juga membedakan wajah polos dengan balutan
jilbab panjang mereka. Dulu waktu masih bertemu saja aku sering salah mengingat
nama mereka, apalagi sekarang. Tapi tentu tidak kukatakan hal ini kepadanya.
Aha,
akhirnya setelah sekian lama chatting, ingatanku tertuju pada bayangan seorang
gadis hitam manis yang lebih sering berbalut jilbab panjang dengan warna putih.
Teringat pada sosoknya yang begitu
bersemangat mempelajari agamanya. Teringat pada kesungguhannya ketika dia
menyetor hafalan hadits arba’in ke dua yang panjangnya luar biasa dan dengan
tartil ia lafalkan. Teringat pada kebersahajaannya yang membuatku-mentornya- serasa terhempas ke
kedalaman bumi yang paling dalam. Maluuuuu dengan hafalannya yang luar biasa.
Ya,
sebut saja namanya Lili.
Saat ini dia ditugaskan di Watampone. Ketika aku menanyakan keadaannya, lugas dia menjawab, “
Alhamdulillah, tarbiyah masih jalan Bu.” Aku menyambut jawabannya dengan syukur
yang luar biasa, alhamdulillah, semoga tidak hanya Lili yang istiqomah, tapi
mudah-mudahan begitu juga dengan yang lainnya.
“Sebenarnya
di sini ramai, Bu. Teman juga banyak. Tapi tidak bisa seperti dulu lagi karena
mereka sudah berkeluarga. Nggak enak saya, takut mengganggu,” curhatnya
kemudian. Tanpa perlu bertanya rasanya aku sudah mulai bisa merasakan gundah
hatinya.
“Terkadang
saya merasa sedih juga....”lanjutnya.
“Insya
Allah, sedang dipersiapkan seorang sholih yang luar biasa untuk Lili. Allah
hanya sedang menunggu waktu yang tepat saja untuk menyandingkannya denganmu,”
hiburku cepat.
“Aamiin,
terimakasih Bu,” jawabnya memungkasi percakapan kami siang itu.
Hfh, kuhembus nafas kuat, teringat
perbincanganku lewat dunia maya dengan Lili. Beberapa hari sebelumnya, teman
seangkatannya juga berbicara hal yang sama. Sebut saja Meta. Gadis yang
ditempatkan di Jakarta ini masih lebih beruntung (menurutku) di banding Lili.
Setidaknya dia masih dekat dengan keluarga besarnya dalam masa penantiannya.
Berbeda dengan Lili yang harus menghadapinya seorang diri
di sebuah kota kecil di luar pulau jawa, dan jauh pula dari orang tuanya.
Ah,
jodoh memang tidak bisa ditebak. Datangnya tak bisa disangka, tak bisa kita
rencanakan sekehendak hati kita. Terkadang ia seperti jauuuhhhh, tak kunjung
datang kepada mereka yang sangat menantinya. Tetapi terkadang juga sebaliknya,
dia begitu dekat, bahkan terasa tiba-tiba mendatangi mereka yang
sebenarnya tidak terlalu siap menghadapinya, seperti aku, he...
Aku
tidak pernah menyangka kalau jodohku akan datang secepat itu. Jika dibandingkan
dengan teman-teman mengajiku yang lain, aku merasa paling tidak siap
sebenarnya. Dibandingkan dengan mereka yang sudah mulai membaca buku-buku
tentang pernikahan, mulai dari “Kupinang Kau dengan Hamdalah” yang spektakuler
itu, sampai dengan “Taman Orang-orang Yang Jatuh Cinta” dari Ibnu Qoyyim Al-
Jauzi, aku lebih gemar membaca “Annida” dan beberapa novel islami atau pun
kumpulan cerpen. Tapi entah kenapa guru spiritualku waktu itu justru memilihku
untuk menerima sebuah amplop berisi data seorang ikhwan. Alasannya, aku sudah
waktunya menikah. Menikah lebih baik bagiku dan lebih menjagaku. Waduh, padahal
saat itu aku sendiri sebenarnya belum terlalu ingin menikah he... Tapi karena
tidak ingin mengecewakan perempuan yang sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri
ini, aku hanya mengiyakan dengan catatan keluarga besarku membolehkan.
Singkat cerita, proses ta’aruf pun berjalan. Bisa
dibilang proses kami begitu cepat, tak ada tatap muka antara aku dengan suami
waktu itu. Aku sendiri berprinsip, yang penting keluarga besar setuju. Itu
adalah modal awal. Teringat petuah guru ngaji waktu itu, kalau prosesnya
dimudahkan oleh Allah, insya Allah itu sinyal bahwa Allah ridho kalian bersatu.
Dan menurutku waktu itu, proses tersulit adalah pada restu keluarga besar.
Kalau untuk aku sendiri, aku cukup mempercayakan semuanya pada guru ngaji.
Percaya bahwa beliau tidak akan sembarangan memilih orang untukku. Maka
bermodal foto dan biodata, kuperkenalkan calon suami waktu itu. Alhamdulillah
hampir semua setuju. Satu proses terlampaui sudah.
Bagaimana dengan perasaan? Apakah sudah ada rasa
cinta? Ah, waktu itu aku tidak terlalu memikirkan. Bismillah saja, berharap Allah
akan menumbuhkan seiring dengan kebersamaan yang akan terjalin nantinya.
Penghasilan? Waktu itu pun tak terpikir. Yang penting beliau bekerja, pikirku
waktu itu. Entah kenapa aku berfikir semua seolah mudah saja. Apakah itu muncul
tiba-tiba? Tentu tidak, Allah lah yang membuat hati kami berdua menjadi ringan
menjalani semua. Tak kenal, tak pernah melihat secara langsung, tapi mantab
menjalani. Semua karena Allah pasti.
Jika Allah memberiku banyak kemudahan, ternyata tidak
semua memperoleh hal yang sama. Termasuk adek-adekku yang tersebut di atas.
Mereka harus bersabar di sela usia yang terus bertambah, menanti bila saatnya
tiba Allah kirimkan pangeran yang tepat untuk mereka.
Ah,perihal jodoh memang misteri yang disimpan rapi
oleh Allah. Kita tidak pernah tahu siapa yang akan dipilihkanNya untuk menemani
pahit manis hidup kita nantinya. Pun kita tidak pernah tahu bila saat pertemuan
dengan orang yang dipilihkan Allah untuk kita tiba. Bahkan mereka yang melalui
proses pacaran bertahun tahun pun tak bisa memastikannya. Yang ada terkadang
cinta membara berujung kecewa, karena orang yang dikiranya jodohnya ternyata
tak seperti itu adanya.
Aku jadi teringat masa-masa awal mengenal Islam di
usia 17. Dulu, tak begitu mengerti kalau dalam Islam tidak dikenal istilah
pacaran. Setahuku, pacaran itu tak mengapa sepanjang tidak melewati batas susila dan norma. Tapi
perkenalanku dengan Islam dalam sebuah kajian di sekolah, membuatku mengerti
bahwa yang kulakukan adalah salah. Maka bertepatan dengan saat kukenakan jilbab
di medio November 1994, kuputuskan juga untuk mengakhiri hubungan yang tak
seharusnya terjalin. Sakit? Iya, tapi aku remaja waktu itu tidak ingin menjadi
orang yang pura pura tidak tau atas sesuatu yang sudah kutahu tidak boleh
dilakukan. Yang kuingat waktu itu aku harus
menyudahi semuanya walaupun setelahnya menangis di hamparan sajadah( geli juga
kalau mengingat waktu itu). Mengadu kepada Allah bahwa tak mudah untuk
memutuskan hubungan yang sudah terjalin dalam bilangan tahun. Tapi aku juga
tidak mau mendua, mengaku mencintai Allah di satu sisi, tapi melakukan hal yang
tidak disukai Allah di sisi yang lain. Tak mudah untuk seorang remaja usia 17
tahun, tapi Alhamdulillah Allah berikan kekuatan. Dan aku selalu meyakini bahwa
kemudahan demi kemudahan yang Allah berikan setelah keputusan itu adalah hadiah
yang Allah beri untuk menguatkanku bahwa keputusanku tak salah. Dimudahkan lulus
sekolah menengah dengan nilai istimewa, kuliah tanpa biaya, dimudahkan mendapat
pekerjaan, di mudahkan mendapat suami, di mudahkan mendapat anak, dan sederet
kemudahan lainnya yang tak bisa disebut.
Hal inilah yang kemudian sering kusampaikan kepada
anakku yang mulai ABG, semata agar ia bisa mengelola rasa cinta dengan baik dan
menempatkannya dengan tepat hingga saatnya tiba. Tak ada yang bisa menolak
ketika Allah sudah memberi jodoh, pun sebaliknya tak ada yang bisa meraih
ketika Allah belum berikan jodoh, sekuat apa pun kita mengupayakannya.
Jodohku dekat, dan mudah mudahan Allah langgengkan
hingga akhirat. Jodohmu semoga demikian juga adanya sahabat. Jodoh mereka (Lili
dan Meta) sampai saat ini belum Allah beritahukan, siapa dan bila waktunya
tiba. Berharap mereka bersabar dalam masa penantian dengan sebaik baik
kesabaran. Beberapa kali kusampaikan, agar mereka mengisi masa penantian itu dengan
sibuk memperbaiki dan menghias diri dengan akhlak dan ibadah yang baik, hingga
bila tiba saatnya nanti, pangeran yang telah Allah persiapkan untuk menjemput
mereka tak kecewa melihat bidadari yang dijemputnya. Bahwa mereka adalah sebaik
baik perempuan yang layak dijemput oleh sebaik baik laki-laki yang masih
dirahasiakan oleh Allah keberadaannya.Karena Allah telah menjanjikan, “Laki-laki
baik untuk perempuan perempuan baik, dan laki-laki buruk untuk perempuan
perempuan buruk.”
Teriring doa semoga Allah segerakan Lili dan Meta
bertemu jodohnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar