Senin, 16 Juni 2014

Jodohku dan jodohnya

Sebuah notifikasi muncul pada G-talk-ku tak lama setelah aku sign up. Ada yang ingin menjadi temanku rupanya. Sejenak kucoba untuk mengingat, barangkali aku pernah berinteraksi dengannya, tapi nihil. User Id yang dipakainya tak mengingatkanku pada siapa pun. Tanpa banyak berprasangka, kuterima saja permintaan pertemanannya. untuk menghilangkan rasa penasaranku, segera kusapa yang bersangkutan, sekedar ingin tahu siapa gerangan beliau ini. Tapi dasar belum rezeki, hingga akhir kumatikan komputerku untuk segera pulang ke rumah, si mystery guest belum juga menjawab tanyaku.

“Maaf Bu Ria, saya baru sadar kalau ada pesan masuk,” sebuah pesan muncul di layar kotak ajaibku. Aha, rupayanya dari si mystery guest yang kemarin. Sesaat kemudian dia menyebut nama dirinya, plus pertemuannya denganku. Sebegitu lengkapnya perempuan itu mendeskripsikan dirinya, sementara aku mencoba melukis gambar wajahnya di benakku.

 “Saya pernah ikut mentoring kantor bersama bu Ria waktu itu. Saya lulusan 2010,” tulisnya.
Oh, iya,” jawabku cepat sembari mencoba menebak pemilik nama itu diantara bayangan beberapa wajah gadis kisaran dua puluh tahunan yang berjejer di sana.

Waduh, yang mana ya, he...he... Agak susah juga membedakan wajah polos dengan balutan jilbab panjang mereka. Dulu waktu masih bertemu saja aku sering salah mengingat nama mereka, apalagi sekarang. Tapi tentu tidak kukatakan hal ini kepadanya.

Aha, akhirnya setelah sekian lama chatting, ingatanku tertuju pada bayangan seorang gadis hitam manis yang lebih sering berbalut jilbab panjang dengan warna putih. Teringat pada sosoknya  yang begitu bersemangat mempelajari agamanya. Teringat pada kesungguhannya ketika dia menyetor hafalan hadits arba’in ke dua yang panjangnya luar biasa dan dengan tartil ia lafalkan. Teringat pada kebersahajaannya yang membuatku-mentornya- serasa terhempas ke kedalaman bumi yang paling dalam. Maluuuuu dengan hafalannya yang luar biasa.

Ya, sebut saja namanya Lili. Saat ini dia ditugaskan di Watampone. Ketika aku menanyakan  keadaannya, lugas dia menjawab, “ Alhamdulillah, tarbiyah masih jalan Bu.” Aku menyambut jawabannya dengan syukur yang luar biasa, alhamdulillah, semoga tidak hanya Lili yang istiqomah, tapi mudah-mudahan begitu juga dengan yang lainnya.

“Sebenarnya di sini ramai, Bu. Teman juga banyak. Tapi tidak bisa seperti dulu lagi karena mereka sudah berkeluarga. Nggak enak saya, takut mengganggu,” curhatnya kemudian. Tanpa perlu bertanya rasanya aku sudah mulai bisa merasakan gundah hatinya.
“Terkadang saya merasa sedih juga....”lanjutnya.
“Insya Allah, sedang dipersiapkan seorang sholih yang luar biasa untuk Lili. Allah hanya sedang menunggu waktu yang tepat saja untuk menyandingkannya denganmu,” hiburku cepat.
“Aamiin, terimakasih Bu,” jawabnya memungkasi percakapan kami siang itu.

 Hfh, kuhembus nafas kuat, teringat perbincanganku lewat dunia maya dengan Lili. Beberapa hari sebelumnya, teman seangkatannya juga berbicara hal yang sama. Sebut saja Meta. Gadis yang ditempatkan di Jakarta ini masih lebih beruntung (menurutku) di banding Lili. Setidaknya dia masih dekat dengan keluarga besarnya dalam masa penantiannya. Berbeda dengan Lili yang harus menghadapinya seorang diri di sebuah kota kecil di luar pulau jawa, dan jauh pula dari orang tuanya.

Ah, jodoh memang tidak bisa ditebak. Datangnya tak bisa disangka, tak bisa kita rencanakan sekehendak hati kita. Terkadang ia seperti jauuuhhhh, tak kunjung datang kepada mereka yang sangat menantinya. Tetapi terkadang juga  sebaliknya,  dia begitu dekat, bahkan terasa tiba-tiba mendatangi mereka yang sebenarnya tidak terlalu siap menghadapinya, seperti aku, he...

Aku tidak pernah menyangka kalau jodohku akan datang secepat itu. Jika dibandingkan dengan teman-teman mengajiku yang lain, aku merasa paling tidak siap sebenarnya. Dibandingkan dengan mereka yang sudah mulai membaca buku-buku tentang pernikahan, mulai dari “Kupinang Kau dengan Hamdalah” yang spektakuler itu, sampai dengan “Taman Orang-orang Yang Jatuh Cinta” dari Ibnu Qoyyim Al- Jauzi, aku lebih gemar membaca “Annida” dan beberapa novel islami atau pun kumpulan cerpen. Tapi entah kenapa guru spiritualku waktu itu justru memilihku untuk menerima sebuah amplop berisi data seorang ikhwan. Alasannya, aku sudah waktunya menikah. Menikah lebih baik bagiku dan lebih menjagaku. Waduh, padahal saat itu aku sendiri sebenarnya belum terlalu ingin menikah he... Tapi karena tidak ingin mengecewakan perempuan yang sudah kuanggap sebagai ibuku sendiri ini, aku hanya mengiyakan dengan catatan keluarga besarku membolehkan.

Singkat cerita, proses ta’aruf pun berjalan. Bisa dibilang proses kami begitu cepat, tak ada tatap muka antara aku dengan suami waktu itu. Aku sendiri berprinsip, yang penting keluarga besar setuju. Itu adalah modal awal. Teringat petuah guru ngaji waktu itu, kalau prosesnya dimudahkan oleh Allah, insya Allah itu sinyal bahwa Allah ridho kalian bersatu. Dan menurutku waktu itu, proses tersulit adalah pada restu keluarga besar. Kalau untuk aku sendiri, aku cukup mempercayakan semuanya pada guru ngaji. Percaya bahwa beliau tidak akan sembarangan memilih orang untukku. Maka bermodal foto dan biodata, kuperkenalkan calon suami waktu itu. Alhamdulillah hampir semua setuju. Satu proses terlampaui sudah.
Bagaimana dengan perasaan? Apakah sudah ada rasa cinta? Ah, waktu itu aku tidak terlalu memikirkan. Bismillah saja, berharap Allah akan menumbuhkan seiring dengan kebersamaan yang akan terjalin nantinya. Penghasilan? Waktu itu pun tak terpikir. Yang penting beliau bekerja, pikirku waktu itu. Entah kenapa aku berfikir semua seolah mudah saja. Apakah itu muncul tiba-tiba? Tentu tidak, Allah lah yang membuat hati kami berdua menjadi ringan menjalani semua. Tak kenal, tak pernah melihat secara langsung, tapi mantab menjalani. Semua karena Allah pasti.

Jika Allah memberiku banyak kemudahan, ternyata tidak semua memperoleh hal yang sama. Termasuk adek-adekku yang tersebut di atas. Mereka harus bersabar di sela usia yang terus bertambah, menanti bila saatnya tiba Allah kirimkan pangeran yang tepat untuk mereka.
Ah,perihal jodoh memang misteri yang disimpan rapi oleh Allah. Kita tidak pernah tahu siapa yang akan dipilihkanNya untuk menemani pahit manis hidup kita nantinya. Pun kita tidak pernah tahu bila saat pertemuan dengan orang yang dipilihkan Allah untuk kita tiba. Bahkan mereka yang melalui proses pacaran bertahun tahun pun tak bisa memastikannya. Yang ada terkadang cinta membara berujung kecewa, karena orang yang dikiranya jodohnya ternyata tak seperti itu adanya.

Aku jadi teringat masa-masa awal mengenal Islam di usia 17. Dulu, tak begitu mengerti kalau dalam Islam tidak dikenal istilah pacaran. Setahuku, pacaran itu tak mengapa sepanjang tidak melewati batas susila dan norma. Tapi perkenalanku dengan Islam dalam sebuah kajian di sekolah, membuatku mengerti bahwa yang kulakukan adalah salah. Maka bertepatan dengan saat kukenakan jilbab di medio November 1994, kuputuskan juga untuk mengakhiri hubungan yang tak seharusnya terjalin. Sakit? Iya, tapi aku remaja waktu itu tidak ingin menjadi orang yang pura pura tidak tau atas sesuatu yang sudah kutahu tidak boleh dilakukan. Yang kuingat waktu itu aku harus menyudahi semuanya walaupun setelahnya menangis di hamparan sajadah( geli juga kalau mengingat waktu itu). Mengadu kepada Allah bahwa tak mudah untuk memutuskan hubungan yang sudah terjalin dalam bilangan tahun. Tapi aku juga tidak mau mendua, mengaku mencintai Allah di satu sisi, tapi melakukan hal yang tidak disukai Allah di sisi yang lain. Tak mudah untuk seorang remaja usia 17 tahun, tapi Alhamdulillah Allah berikan kekuatan. Dan aku selalu meyakini bahwa kemudahan demi kemudahan yang Allah berikan setelah keputusan itu adalah hadiah yang Allah beri untuk menguatkanku bahwa keputusanku tak salah. Dimudahkan lulus sekolah menengah dengan nilai istimewa, kuliah tanpa biaya, dimudahkan mendapat pekerjaan, di mudahkan mendapat suami, di mudahkan mendapat anak, dan sederet kemudahan lainnya yang tak bisa disebut.

Hal inilah yang kemudian sering kusampaikan kepada anakku yang mulai ABG, semata agar ia bisa mengelola rasa cinta dengan baik dan menempatkannya dengan tepat hingga saatnya tiba. Tak ada yang bisa menolak ketika Allah sudah memberi jodoh, pun sebaliknya tak ada yang bisa meraih ketika Allah belum berikan jodoh, sekuat apa pun kita mengupayakannya.

Jodohku dekat, dan mudah mudahan Allah langgengkan hingga akhirat. Jodohmu semoga demikian juga adanya sahabat. Jodoh mereka (Lili dan Meta) sampai saat ini belum Allah beritahukan, siapa dan bila waktunya tiba. Berharap mereka bersabar dalam masa penantian dengan sebaik baik kesabaran. Beberapa kali kusampaikan, agar mereka mengisi masa penantian itu dengan sibuk memperbaiki dan menghias diri dengan akhlak dan ibadah yang baik, hingga bila tiba saatnya nanti, pangeran yang telah Allah persiapkan untuk menjemput mereka tak kecewa melihat bidadari yang dijemputnya. Bahwa mereka adalah sebaik baik perempuan yang layak dijemput oleh sebaik baik laki-laki yang masih dirahasiakan oleh Allah keberadaannya.Karena Allah telah menjanjikan, “Laki-laki baik untuk perempuan perempuan baik, dan laki-laki buruk untuk perempuan perempuan buruk.”

Teriring doa semoga Allah segerakan Lili dan Meta bertemu jodohnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar