November
yang padat. Diawali dengan deadline proposal yang harus terkumpul di hari ke
tujuh.Belum lega benar rasanya bernafas setelah menjalani UTS di pertengahan
hingga penghujung Oktober. Diam ber jam jam di depan laptop, menunggu pangsit
eh wangsit apa yang mau ditulis. Tulis, hapus, tulis hapus, hingga dua-tiga jam
berlalu tanpa progress yang berarti. Galau
November
yang padat, tu proposal akhirnya jadi juga. Diawali dengan begadang selama
beberapa malam, sebuah judul yang membuatku tersenyum geli ketika seorang kawan
berkomentar, “wuih judulnya ngeri sekali.” Dia tak tahu kalau judul itu hasil
ramuan dari beberapa contoh tesis yang kutemui di perpustakaan MAKSI yang
seringkali membuatku menggigil kedinginan. Tak pernah terbayang bahwa aku akan
menyusun tesis seperti ini. Tak pernah terbayang, karena tak pernah ada niat
untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bagiku, bisa kuliah
di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dan selanjutnya bisa bekerja di salah satu
Kementrian yang banyak diminati orang sudah cukup. Sudah lebih dari apa yang
dulu kucita citakan, he..he..
Berbicara tentang
cita-cita, seperti halnya anak-anak pada umumnya, aku kecil juga punya banyak
cita-cita. Dari mulai perawat, guru, sampai bankir. Hal yang sama juga dengan
gadis kecilku, Kinan. Di usia 6 tahun, dia sudah mengungkapkan beberapa profesi
yang dia inginkan. Diawali dengan ceritaku tentang dokter yang bisa menolong
banyak orang, dia kemudian bercita-cita jadi dokter. Tak lama, cita-citanya
berubah menjadi guru. Terakhir, entah karena pengaruh siapa, di suatu petang
selepas maghrib, dia mendekatiku dan berkata,” Kinan ingin jadi penghafal qur’an,
Mi.” Masya Allah, meleleh tiba-tiba.
Lain Kinan,
lain lagi mas-masnya. Haqi si sulung
sampai dengan usia 13 kemarin mengungkapkan keinginannya untuk menjadi masinis.
Sebuah cita-cita yang membuatku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku. “Pilot,
kali,” sanggahku waktu itu. Tapi penegasan darinya membuatku tersenyum dan
menghargai keputusannya. Entah apa yang membuatnya ingin jadi masinis. Sementara
itu Ayyasy, si tengah bercita-cita menjadi peternak. Ternak ayam? Ternak kambing?
Atau ternak sapi? Semuanya tidak. Ternyata dia ingin menjadi peternak kuda saudara saudara, hi…hi… Dari semua yang
mereka cita-citakan, aku hanya bisa mengiringi mereka dengan doa semoga jadi
apa pun mereka, mereka tetap menjadi sholih dan sholihat. Menjadi dokter yang
sholihat, menjadi masinis, pun menjadi peternak yang sholeh. Apa pun cita-cita
mereka, sepanjang itu baik dan manfaat, tugasku sebagai orang tua adalah
mendukung dan tidak mematahkannya. Aih, jadi inget saat-saat aku harus mengubur
sebagian dari cita-citaku dulu.
Ya, beranjak
remaja, aku nyaris tak berani bercita-cita. Kondisi keluarga membuatku tak
berani bermimpi banyak. Ketika teman-teman dekat berbondong bondong mendaftar
di SMA favorit, aku yang waktu itu sempat ikut mendaftar, akhirnya harus
mencabut kembali daftar NEM dan ijazah SMP ku. Meski pada awalnya tak ingin, akhirnya
aku mengikuti saran kakakku untuk masuk ke sekolah menengah kejuruan yang waktu
itu bernama SMEA. Alasannya simple, kalau masuk SMA, belum tentu aku bisa
kuliah. Sementara kalau tidak kuliah, dengan cuma lulus SMA dan tidak mempunyai
ketrampilan apa pun, tidak banya peluang pekerjaan yang bisa kudapat. Hal
berbeda jika aku masuk SMEA, minimal aku mempunyai ketrampilan yaitu akuntansi.
Berharap dengan itu aku bisa mempunyai peluang lebih untuk bekerja. Sedih? itu
pasti. Berpisah dengan teman-teman baik semasa SMP dan melupakan janji untuk
melanjutkan sekolah di SMA yang sama. Tapi untunglah aku yang waktu itu belum
genap 15 tahun tak mau larut dalam sedih yang berkepanjangan. Istilah anak
zaman sekarang, aku bersegera untuk move on, he..he…. Berusaha menyadari realita
bahwa hidupku tidak sama dengan hidup teman-teman SMP ku yang rata-rata memang “punya”
Di SMEA ini kemudian aku membangun kembali cita-cita. Tak semuluk cita-cita awal untuk
kuliah di sini dan di situ. Di sekolah itu aku hanya berkeinginan untuk
menambah ketrampilan sebanyak mungkin, supaya aku bisa bekerja selepasnya. Tak
ada lagi cita-cita kuliah. Semua terkubur bersama takdir yang menempatkanku
pada situasi yang sepertinya memang tidak memungkinkan. Tapi siapa yang
menyangka bahwa di sekolah yang awalnya tak kuinginkan inilah Allah menyusun skenario
luar biasa untukku. Berbagai kesempatan untuk mengikuti beberapa lomba telah
mengantarkanku masuk tv lho. Kesempatan untuk mengikuti lomba ketrampilan siswa
bidang akuntansi juga telah membawaku ke Jakarta dan bersaing dengan
teman-teman di seluruh Indonesia di awal tahun 1995. Meski tak mampu menyabet
juara 1, hadiah yang kuperoleh saat itu lumayan lah. Piagam penghargaan yang
bertanda tangan Abu Rizal Bakri (ARB) masih kusimpan rapi sampai sekarang. Dulu
sih gak kenal siapa tuh ARB he…
Di sekolah
yang awalnya tak kusuka ini juga lah Allah mempertemukanku dengan orang-orang
yang akhirnya membawaku untuk menjemput hidayah-Nya. Meski sejak kecil aku
sudah terbiasa mengaji di masjid, sejak SMP sudah tahu kewajiban menutup aurot,
tapi baru di sekolah ini lah Allah mantabkan hati untuk menutup aurat. Di usia ke-17,
bersama adik kelas yang menjadi perantara hidayah Allah-semoga dia
istiqomah-perlahan aku mulai mengkaji ilmu Allah lebih intens. Sebuah karunia
yang lebih bernilai dari apa pun. Alhamdulillah, ternyata benar firman yang
Allah sampaikan. “Boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal sesuatu itu tidak
baik bagimu, dan boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu padahal sesuatu itu
baik bagimu.” Dari semua yang telah Allah berikan, telah membuka mata hatiku
bahwa banyak kebaikan yang kudapat dari sesuatu yang semula tidak kusukai. Dalam sepi, sering kubisikkan pada diriku sendiri,"Maka
ni’mat Allah mana lagi yang kamu dustakan?"
Pabuaran, ba'da ashar
menikmati libur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar