Matanya sembab. Sesekali tangan mungilnya menyusut air matayang mengalir tanpa suara. Bibirnya bergetar, seperti mencoba menahan panas yang memenuhi rongga dadanya. Sementara aku hanya menatapnya iba. Tak semestinya ia menanggung beban itu.
“Kinan sedih ya?” tanyaku sambil membelai rambut halusnya. Wajah bulat dengan pipi chuby itu tak menjawab. Hanya derai air mata yang semakin deras mengalir. Segera kuraih tubuh mungilnya, menjatuhkannya di pelukanku.
Ya, malam itu mungkin menjadi malam yang paling berat untuk Kinan, putri kecilku. Mbak Nur yang membersamainya sejak usia 2 bulan itu pulang kampung. Jika mengingat hari-hari yang telah mereka lalui bersama, aku bisa merasakan sedih yang dirasakan Kinan. Baginya, mbk Nur bukan lagi sekedar pengasuh, dia adalah kakak, teman, bahkan sesekali menjadi tempatnya berlindung ketika aku tidak ada. Itulah mengapa ketika aku dan suami menunaikan ibadah ke tanah suci, tak ada rasa cemas sedikitpun meninggalkan ia yang saat itu masih berusia 3 tahun. Alhamdulillah, Kinan semakin gemuk dan tak kurang suatu apapun ketika kami tinggal. Sekali lagi, itu semata karena Kinan merasa nyaman bersama mbaknya, disamping ada sepupu juga yang mendampingi saat itu.
Bagiku, sosok Mbak Nur mungkin memang tidak terlalu ideal untuk menjadi asisten rumah tangga, tapi tidak begitu dengan Kinan. Baginya mbak Nur adalah teman yang asik dan menyenangkan. Diajak main apa pun oke. Saking dekatnya mereka, beberapa kali aku sempat merasa cemburu. Tapi kebahagiaan Kinan mengalahkan semuanya. Itu sebabnya aku membiarkan saja ketika Kinan ingin tidur bersama mbaknya, beberapa minggu menjelang kepulangan perempuan 20 tahun itu ke kampung. Barangkali Kinan “feeling” kalau mbaknya akan pulang. Aku memang sengaja menyuruh mbaknya untuk merahasiakan hari kepulangannya. Semata hanya untuk menjaga psikologi Kinan supaya tidak terganggu. Alhamdulillah, Kinan tetap ceria hingga hari yang tak diinginkannya itu tiba.
Berangkat dari rumah sekitar pukul 16.30, kami berempat mengantar mbaknya ke stasiun Senen. Meski badan tak terlalu berkompromi, alhamdulillah, aku berhasil membujuk abinya Kinan untuk ikut mengantar mbaknya hingga stasiun. Ini bentuk penghargaan kami kepadanya, setelah hampir 4,5 tahun ia habiskan waktunya untuk membantu kami. Perjalanan yang semula santai, mendadak jadi tergesa ketika kami memastikan kembali jadwal keberangkatan kereta si mbak. Alhamdulillah, setelah berpacu dengan waktu, dan diiringi dengan jantung yang berdegup kencang, kami sampai di stasiun Senen beberapa menit sebelum jadwal keberangkatan tiba. Setelah tanya sana sini, tepat di injury time, kami melepas mbaknya sendiri menuju peron tempat kereta yang akan membawanya ke Jogja.
Aku meyakini bahwa semua memang sudah diskenariokan oleh Allah dengan cermatnya, demi kebaikan semua. Dalam ketergesaan itu, tak ada lagi waktu bagi mbak Nur dan Kinan untuk tangis-tangisan. Cukup cipika cipiki, lambaian tangan, dan ucapan salam. Alhamdulillah, tak serumit dan sesulit yang terbayang di benakku, mengingat Kinan dan mbaknya memang tak terpisahkan. Jika beberapa menit setelah itu Kinan jadi melow, itu wajar. Karena empat setengah tahun bukanlah waktu yang sebentar.
Akhirnya, di sudut mushola kecil di stasiun Senen, kupanjatkan serangkaian pinta kepadaNya, berharap Ia segera menyembuhkan luka hati Kinan akibat perpisahan ini. Memohon yang terbaik untuk mbak Nur yang sudah tulus menyayangi dan menemani hari-hari Kinan dengan cintanya, semoga Allah memberinya jodoh yang sholeh. Dan tak lupa memohon dengan permohonan yang sangat agar Allah menggantikan mbak Nur dengan megirimkan orang yang lebih baik, yang menyayangi dan mencintai Kinan. Karena dari setiap yang pergi pasti akan ada yang datang. Semoga.....
Pabuaran, di antara sunyi
Robbana, anugrahkan kepada anak-anakku orang-orang yang menyayangi dan membawa mereka kepada kebaikan dunia dan akhirat, di manapun mereka berada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar