13 April 2000
Kamu tahu sayang, hari yang paling membahagiakan kami adalah
hari itu. Hari di mana Allah takdirkan kamu lahir di dunia. Ya, 13 April tahun
2000, jam 11 malam, di sebuah rumah sakit bersalin di Semarang, yaitu RSB Panti
Siwi. Kalau tidak salah, waktu itu malam Jumat.
Kamu lahir setelah beberapa jam lamanya umi menahan sakit
yang luar biasa. Ah, sudahlah. Tak perlu diceritakan bagaimana rasanya
detik-detik kamu dilahirkan. Karena betapapun sakit yang umi rasa, tak ada
apa-apanya jika dibandingkan dengan karunia Allah yang diberikan kepada umi
yaitu kamu. Meski harus melalui proses yang agak lama, alhamdulillah kamu lahir
dengan semangat.
Oh, iya. Waktu itu umi tidak didampingi abi, karena abimu
masih ada jadwal kuliah. Jadilah mbah ibu yang menerimamu dari dokter dan para
perawat untuk kemudian beliau kumandangkan adzan di telingamu. Esok harinya,
sekitar jam 4 pagi, seorang perawat membangunkan umi. Ada seseorang yang ingin
bertemu.
Olala…ternyata abimu datang dari Jakarta. Kamu tahu? Langkah tertatih umi yang menahan
sakit karena jahitan, ternyata membuat wajah
abimu memucat pasi. Beruntung ada suster jaga di sekitar kami waktu itu,
sehingga sebelum abimu benar-benar pingsan, suster berhasil menangkap tubuh
kurusnya (waktu itu ya…, kalau sekarang mah bukan kurus, tapi kuru alias
kurugan daging, he…he…) dan mendudukkannya di samping umi. Secangkir teh manis
hangat membuat abimu berangsur membaik. Ah, abimu memang tidak bisa melihat
umimu ini kesakitan rupanya.
Boyongan ke rumah
kontrakan
Setelah masa cuti umi habis, kami memboyongmu kembali ke
Jakarta. Tiga bulan begitu cepat berlalu rasanya. Kamu tahu gak mas? Banyak sekali
yang ingin mengantarmu ke tempat kontrakan kita. Setelah berdiskusi panjang,
akhirnya diputuskan kami memboyongmu dengan menggunakan moda Kereta Api, karena
kalau naik mobil, khawatir kamu tidak nyaman. Akhirnya berangkatlah umi, mbah
ibu, budhe Mar, pakdhe Sam, dan satu orang pengasuhmu menuju Jakarta. Loh abi
mana? Abi tinggal di Jakarta, menyiapkan segala sesuatunya di sana.
Tak ada ruangan khusus yang kami siapkan untukmu laiknya
para artis itu menyambut buah hati mereka. Tak ada, karena memang waktu itu kondisi
ekonomi kita seperti itu adanya. Tapi percayalah sayang, ruangan khususmu ada
di dalam diri umi dan abi. Bahkan tak hanya sebatas ketika kamu bayi, tapi
insya Allah sampai akhir hayatmu nanti.
Di rumah kontrakan yang tak berkamar itu, kamu tidur bersama
umi dan abi di sebuah ruangan yang akhirnya kami sekat dengan sehelai kain gordyn yang memanjang. Yah, minimal mbak
yang ngasuh kamu gak langsung melihat aktivitas kita di “kamar” kita. Mbak Eti,
pengasuhmu, alhamdulillah mau ditempatkan di ruangan belakang dekat dapur,
lagi-lagi abimu mengakalinya dengan menjadikan lemari baju dan lemari piring
sebagai sekat antara tempat tidur pengasuh dengan dapur.
Wah….seru , itulah kondisi kita di awal-awal kelahiranmu. Kita
berdesakan di rumah kontrakan yang mungil itu. Tapi alhamdulillah, umi bahagia.
Meski beberapa teman abi mengerut kening, begitupun dengan teman-teman dan saudara
umi. Mereka bilang abimu kan orang pajak, masak tinggal di kontrakan petak
seperti ini. Aha, itulah yang ada di pikiran mereka sayang, bahwa abi dan umimu
pegawai Departemen Keuangan, apalagi abimu ditempatkan di Direktorat yang
terkenal dengan banjir duit pada saat itu, aneh bagi mereka melihat kita masih
bertahan tinggal di kontrakan yang hanya berukuran 3 kali 10 meter itu. Tapi
sekali lagi, umi bahagia. Karena abimu tidak sembarangan membawa rizki yang
tidak jelas untukmu dan umi. Praktis, kita hidup dengan gaji dan tunjangan saja.
Tapi alhamdulillah, Allah beri kecukupan sehingga pada akhirnya umi dan abi
mampu mencicil sebuah rumah di bilangan Citayam, Kabupaten Bogor.
Kenangan di rumah
kontrakan
Masih lekat di benak umi waktu umi membawamu ke puskesmas
untuk imunisasi. Sedikit tergopoh karena umi juga harus bersiap untuk berangkat
kerja. Mbak Eti, pengasuhmu waktu itu ikut tergopoh mengikuti langkah cepat umi. Sesampainya di puskesmas Rawajati , umi
langsung mendaftar dan menunggu tak terlalu lama karena kamu adalah pasien
pertama ^_^. Seorang bidan segera
menghampiri kita begitu umi menggendongmu masuk ruang periksa. Kamu tahu apa
yang dikatakan bidan itu?
“Ini ibunya mana? Duh, urusan penting begini kok diserahin
ke kakaknya. Besok-besok kalo mau imunisasi
harus sama ibunya ya Dek,”tuturnya sambil menjentik-jentikkan jemarinya
pada jarum suntik.
“Saya ibunya, Bu,” jawab umi setengah bingung waktu itu.
Bidan itu terperangah, melihat umi dari atas sampai ke bawah. Umi nyengir serba
salah.
“Oh… jadi kamu ibunya….kirain kakaknya. Kecil-kecil udah punya anak kecil ya,”
tuturnya polos, tanpa dosa, tanpa melihat muka umi yang tersenyum malu-malu.
Padahal perasaan umi, waktu itu umur umi gak muda-muda amat, sudah 23
tahun. Tapi sudahlah, yang penting pagi
itu kamu sukses dibuatnya menangis karena jarum suntik yang menembus kulit
halusmu.
Oh, ya. Ada lagi kenangan yang umi juga tak akan lupa. Waktu itu tengah malam. Kita bertiga sedang lelap-lelapnya tidur. Tiba-tiba ada bunyi yang sangat keras. "Brakkk..." Setengah merem umi terbangun. Kamu tahu apa yang terjadi? Tempat tidur yang kita tempati patah. Rupanya kayu ringkihnya tak mampu menahan bobot kita bertiga, ha...ha...Untungnya kamu tidak kenapa-napa. Jadilah sejak saat itu kita menggelar kasur saja di bawah, tanpa dipan alias tempat tidur. Tak mengapa, lagi-lagi umi tetep bahagia.
Akhir September 2000
Ini adalah saat di
mana kita mulai merenda cerita di rumah baru kita. Alhamdulillah, kamu tak
harus berlama-lama tinggal di rumah kontrakan sempit itu. Meskipun rumah kita
mungil juga, tapi alhamdulillah sudah rumah sendiri. Di depan dan belakang
bangunan rumah kita juga masih tersisa tanah yang bisa didirikan lagi bangunan
di atasnya. Dan yang penting, rumah type 36 ini ada 2 kamar. Umi tidak harus memasang tirai lagi supaya
mbak Eti tidak melihat aktivitas kita di kamar, he...he…Begitupun mbak Eti, dia
bisa tidur di kamar sendiri dan tidak bersebelahan dengan dapur. Lucu ya waktu kamu kecil. Masih putih, bersih.
Umi dan abi juga masih kurus, he…he…. Masih kliatan imutnya ya….ea…. Secara umi
wktu itu masih 23 tahun, abi? Ya 24 tahun lah. Kan umi sama abi Cuma beda 1
tahun, siapa juga yang nanya ya…
Di sinilah sejarah hidupmu banyak tertulis. Termasuk nasibmu
yang harus berganti-ganti pengasuh setelah mbak Ety pulang pada saat lebaran
dan tidak kembali lagi. Saat itu usiamu 9 bulan, alhamdulillah setelah mbak
Ety, ada pengganti yang juga tak kalah sayangnya sama kamu. Namanya mbak Siti.
Dengan mbak Siti inilah kakimu terkena setrikaan yang hingga kini bekasnya
masih ada. Duh, maafkan umi ya Mas.
Setelah Mbak Siti menikah, kamu sempat mengalami 3 kali
ganti pengasuh. Dan tiga-tiganya eror alias galak. Mungkin itu sebabnya
diantara anak-anak umi, kamu yang agak mudah marah, sebab kamu ditemani pengasuh
yang juga tidak sabaran.
Pada masa kecilmu juga umi sempat terpikir untuk resign,
karena tidak tega melihatmu tiap pagi menangis dan menarik-narik rok umi setiap
umi mau berangkat kerja. Kamu inget
nyanyian (baca tangisan) wajib kamu setiap pagi? “ummiii….jangan kerjaaaaa….ummiii
jangan kerjaaaa…..” Hfh, jadilah umi setiap pagi meninggalkan rumah dengan
perasaan yang tak karu-karuan. Rupanya itu pertanda ada yang tidak beres dengan
pengasuhmu. Alhamdulillah satu tahun setelah adekmu M. Yahya Ayyasy lahir,
kondisimu mulai stabil. Bulikmu bersedia menemani kalian untuk mengawasi
pengasuhmu. Seiring dengan stabilnya keadaan, keinginan umi untuk resign pun
mulai melemah ( dasarrr… ya…)
Saat-saat sekolah
Saat umurmu 4 tahun, kami mendaftarkanmu ke sebuah TK Islam
Terpadu. Namanya TKIT Adilla. Meski sedikit jauh dari rumah,tak apalah. Karena
kami ingin mendapat guru dan lingkungan yang tepat. Hari pertama sekolah, hampir semua isi rumah
antusias. Umi, abi, Bulik Endah, termasuk Mbak Nur pengasuh adekmu. Lucunya,
kamu sendiri malah kurang semangat. Jadilah umimu ini cuti 3 hari untuk
menemani hari-hari pertamamu di sekolah. Alhamdulillah dua tahun berlalu, dan
kamu bisa melalui semuanya dengan baik. Bahkan pada tahun pertama di TK A, kamu
mendapat peringkat II. Terharu dan bangga. Di TK A kamu juga sudah sangat
lancar membaca, alhamdulillah. Perilakumu juga mendapat apresiasi dari para
guru. Kata mereka kamu santun dan mengayomi temanmu, terutama teman putrimu
(ehem,,,,ada turunan abimu rupanya ^_^)
Berlanjut ke Sekolah Dasar, kami kembali mendaftarkanmu ke
SDIT Al-Hikmah, Cipayung, Depok.
Pertimbangannya lagi-lagi sama. Kami ingin kelak kamu tidak bersebrangan pemikiran
dengan kami. Apalagi beberapa teman dan guru ngaji umi mengajar di sana.
Lumayan kan, bisa sering-sering konsultasi tanpa sungkan ke mereka. Jazakillah
ustdzh Rani, Ustdzh Lillah, Ustdzh Lisa, yang sering digangguin umi, he…he…
Awal masuk hingga kelas 3 SD semua berjalan lancar. Bahkan
hingga kelas IV semester I, kamu tidak pernah beranjak dari ranking II,
alhamdulillah. Kelas IV semester II, seorang ustdzah pernah bercerita kalau
kamu mulai sering menjadi bahan pembicaraan teman-teman perempuanmu. Sampai-sampai
guru ngaji umi yang juga mengajar di sekolahmu, mengungkapkan keheranannya kepada
umi.
“Perasaan Haqi tuh gak
ganteng-ganteng amat, tapi kenapa akhwat-akhwat kecil itu pada ngomongin Haqi
melulu ya…”
Ha…ha… umi cuma tertawa mendengar itu. Pun ketika walasmu
bilang, bahwa kamu tak segan membantu guru dan temanmu. Padahal kalau di rumah,
hadehhh…. ^_^
Kelas V kamu sudah mulai berubah. Nilaimu tak lagi
secemerlang dulu lagi. Meski masih di bilangan 10 besar. Tak apa, buat umi tak menjadi masalah. Yang
menjadi pemikiran umi justru perubahan akhlakmu. Mungkin karena kamu sudah
besar ya Mas. Jadi umi sering
terkaget-kaget ketika melihatmu berbicara dengan teman-temanmu. Terlebih ketika
pembinamu di sebuah lembaga pendidikan luar sekolah bercerita ke umi.
“Maulvi itu jiwa leadershipnya kuat, BU.” Seperti halnya
abimu, umi pun tersenyum, tapi agak was-was.
“ Perlu dipupuk dan diarahkan,” lanjut lelaki paruh baya itu..
“Maksud bapak bagaimana?” tanya Umi deg-degan.
“Pada saat pelajaran di mulai, kalau Maulvi bilang ayo
keluar, maka semua teman sekelasnya akan ikut dia semua,” tuturnya sambil
tertawa. Sementara umi tersenyum kecut. Tapi untunglah tidak ada kenakalan lain yang
kamu buat ketika umi menanyakan kepada beliau. Berterimakasih kepada beliau
yang dengan sabar mau memahamimu.
Kamu sekarang
Saat ini kamu sudah semakin besar sayang. Tahun ini usiamu
sudah masuk angka 13 seperti tanggal lahirmu. Maaf jika tak ada kado spesial
dari umi dan abi. Lagi-lagi hanya doa yang bisa umi dan abi berikan agar
hidupmu selalu dalam bimbingan dan perlindungan-Nya. Agar hidupmu selamat dunia
dan akhirat.
Kamu sekarang bukan anak SD lagi sayang. Saat ini kamu sudah
tercatat sebagai santri di Pesantren Terpadu Al-Kahfi. Bersyukur kepada Allah,
karena tidak semua anak seusiamu mendapat kesempatan yang sama. Tak apa umi dan
abi harus bersakit-sakit dan mengabaikan keinginan pribadi kami demi membiayai
sekolahmu. Tak apa. Karena lagi-lagi kami ingin memberikan yang terbaik
untukmu, meski pada awalnya kamu mungkin sulit untuk mengerti.
Kamu sekarang bukan lagi anak-anak yang dosanya
ada dalam tanggunan kami orang tuamu. Karena kamu sudah baligh, sayang. Beberapa sms dan chat yang menunjukkan bahwa
kamu mulai tertarik dengan lawan jenis membuat umi tersadar bahwa kamu memang
sudah besar. Umi bisa memaklumi meskipun umi tidak ingin kamu terlibat hubungan
yang lebih jauh. Umi yakin kamu tahu
hukum dari setiap perbuatan yang kamu lakukan. Dan umi akan dengan sabar
menunggumu berproses menjadi pribadi yang sholeh seperti harapan umi dan abi.
Karena umi yakin, dengan kesabaran dan doa kami, kamu mampu menjadi anak sholeh
yang bisa kami banggakan di dunia dan di hadapan Allah nantinya. Amiin
Anak umi, Maulvi Izhharulhaq Almanfaluthi, terimalah kado kecil ini dari umi yang selalu mencintaimu.
Wahidin, 17 Mei 2013
Insya Allah besok sore kita bertemu, boy




Seneng baca ceritanya.slm buat maulvy
BalasHapusterima kasih mb enny
Hapus