Pagi yang tak biasa. Bumi pertiwi kembali kehilangan salah
satu putra terbaiknya. Ya, Ustadz yang menjadi inspirasi banyak orang untuk
tidak berputus asa dengan rahmat dan ampunan Allah ini telah berpulang. Ustadz
yang dikenal dengan julukan UJE, atau Ustadz Gaul itu telah meyakinkan kita
akan janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.
Banyak orang dikejutkan dengan peristiwa ini. Kematian yang
tiba-tiba, itulah yang muncul di benak banyak manusia. Tapi kawan, sesungguhnya
peristiwa kematian beliau bukanlah sesuatu yang tiba-tiba di sisi Allah. Karena
bagi Allah, tidak ada sesuatu pun yang terjadi, kecuali semua telah tertulis
rapi dalam “kitab besar”Nya. Semua telah direncanakan dengan sedetil-detilnya oleh
Allah, dzat yang tak pernah ingkar janji, yang tak akan pernah memajukan
ataupun memundurkan apa yang sudah ditentukanNya.
Mengingat almarhum Ustadz Jefry Al Buchori atau UJE, terlepas dari pro dan kontra masyarakat atas gaya dakwah beliau, ada
pelajaran penting yang bisa saya petik dari sosok beliau. Memaknai kilas balik
kehidupan beliau pada saat remaja yang tidak bisa dibilang “lurus-lurus” saja, saya
sontak mengagumi kedua orang tua beliau, khususnya ibu beliau yang lebih sering
dipanggil “ummi”. Loh kok? Apakah saya mengenal orang tua beliau? Tentu tidak
kawan, saya sama sekali tidak.
Sebagian besar dari kita tentu pernah mendengar bagaimana
perjalanan hidup beliau ketika remaja. Dan subhanallah, pada akhirnya beliau
mampu melewati masa-masa suram kehidupannya dengan baik, bahkan tidak hanya
bertaubat dari maksiat yang pernah dilakukannya, beliau pada akhirnya justru
mampu mengajak orang lain kepada jalan kebenaran. Siapakah yang mampu merubah
beliau hingga pada akhir hidupnya (mudah-mudahan beliau khusnul khotimah)
masyarakat lebih mengenal beliau sebagai seorang da’i, daripada sebagai ahlul maksiat
sebagaimana yang pernah beliau lakukan di masa lalunya. Hidayah Allah sudah
pasti. Lalu siapakah yang menjadi sebab turunnya hidayah Allah kepada beliau?
Kawan, saya meyakini salah satu penyebab dari perubahan
beliau adalah karena kasih sayang dan
doa yang tak pernah putus dari kedua orangtuanya kepada beliau, wabil khusus
umminya. Kesabaran orang tua beliau menghadapi “kenakalan” beliau yang bisa
dibilang serius ini nyatanya mampu meruntuhkan kesombongan dan ke “aku” an Uje muda. Doa dan keyakinan bahwa anaknya pasti bisa
berubah menjadi anak yang sholeh, ternyata mampu mengetuk pintu langit sehingga Allah
berkenan mengubah kenakalan menjadi kesholihan.
Duh kawan, ada sesak yang tiba-tiba memenuhi rongga dadaku
saat membayangkan bagaimana rasa, doa, dan airmata ummi beliau pada saat itu.
Ada panas yang memenuhi kerongkonganku, saat menemukanku sangat jauuuuh berbeda
dengan beliau. Dan mengingat "kenakalan" UJE ketika remaja membuatku teringat kepada sosok sulungku yang mulai menginjak masa baligh. Namun berbeda dengan umminya UJE, beberapa kenakalan khas remaja yang sulungku lakukan seringkali
membuatku tak mampu menahan amarah. Beberapa kali bahkan aku merasa seperti tak
berdaya dan habis akal menghadapinya, padahal yang ia lakukan tidaklah separah
yang pernah dilakukan UJE muda (berharap tidak akan pernah melakukan hal yang sama).
Kawan, ada rasa malu ketika menemukanku cepat berputus asa
dengan kondisi anakku. Semestinya aku mewarisi kesabaran dan keyakinan orang
tua UJE dalam mendoakan anaknya. Yakin
bahwa kenakalan anak-anak itu ada masanya. Yakin bahwa dengan doa kita sebagai
ibunya, Allah berkenan mengubah perilaku buruknya menjadi perilaku yang baik.
Yakin, yakin, dan yakin. Insya Allah itulah kunci yang akan
mengubah anak kita menjadi anak yang sholeh, bagaimanapun dan apapun yang dia
lakukan saat ini. Selama kita tidak pernah salah mendidiknya, selama kita tidak
pernah salah memberikan teladan baik kepadanya, selama kita selalu menanamkan
keimanan dalam dirinya, insya Allah anak kita akan mampu melewati masa
transisinya dengan baik.
Kawan, tak semua kita
mendapat kesempatan dititipi amanah putra-putri yang lurus-lurus saja.Tetapi ada
beberapa di antara kita yang diamanahkan putra putri yang membutuhkan ekstra
doa dan tenaga untuk menuntunnya kembali ke jalan yang lurus. Andai boleh memilih, tentu kita semua akan memilih diamanahi anak sholeh yang lurus-lurus saja. Namun apa daya jika ternyata kita tidak
pernah diberikan kesempatan oleh Allah untuk memilih.
Semua sudah ditentukanNya, tentunya sesuai dengan kadar kesanggupan kita
masing-masing.
Oleh karena itu, bagi mereka yang diamanahkan anak-anak yang lurus-lurus
saja, maka bersyukurlah. Lalu bagaimana dengan mereka yang diamanahkan
anak-anak yang “luar biasa” ? kembali kepada janji Allah, bahwa Ia tak akan
memberi cobaan diluar batas kemampuan hambaNya, maka yakinlah bahwa jika itu menimpa kita, itu berarti kitalah
yang memang sanggup menerima amanah/ujian itu menurut Allah. Bukankah semakin
sulit ujian, semakin banyak pahala yang akan diraih?
Maka, bagaimanapun kondisi anak kita saat ini, jangan pernah
menyerah kawan, harapan itu masih ada, selama kita masih bisa berdoa. Selama
kita yakin bahwa anak kita akan menjadi anak sholeh yang akan membanggakan kita
didunia dan akhirat. Bukankah Allah tergantung pada persangkaan hambaNya? Maka
jangan pernah berpikir anak kita akan selamanya nakal. Mari kita ubah cara
berpikir kita, bahwa anak kita hanya sedang mencari kebenaran dengan caranya, dan
tugas kita adalah meluruskan kembali jalannya yang bengkok. Mungkin butuh
kesabaran menunggunya berproses menjadi pemuda sholeh idaman semua orang tua.
Tapi mari kita rajut keyakinan, bahwa insya Allah kita bisa. Kuatkan genggaman
tangan antara kita dengan suami. Karena mengantar anak menjadi pemuda pemudi
dambaan surga tidaklah mungkin bisa kita lakukan sendiri.
Pelajaran selanjutnya dari ibunda UJE adalah ketegarannya menghadapi "kenakalan" UJE muda. Beliau tak pernah "membuang" seberapapun anaknya telah membuat malu keluarga. Bahkan beliau yang aktif di majlis ta'lim tak sungkan meminta doa dari jamaah majlis ta'lim yang beliau pimpin. Penerimaan yang baik terhadap anak inilah yang insya Allah bisa merubah kemaksiatan menjadi kesholihan. Karena dengan penerimaan yang baik, anak tidak akan pernah merasa dibuang. Jika kenakalan anak diibaratkan dengan sayap yang terluka, maka menerima mereka dengan kekurangannya ibarat mengobati luka itu dan tidak membiarkannya patah. Dan dengan kesabaran menanti luka di sayapnya pulih, kita telah memberinya kesempatan untuk bisa terbang kembali dengan sayap yang utuh. Meski dia tertinggal dan tertatih, setidaknya dia masih berpeluang untuk mengangkasa dan menyusul dengan segenap kemampuannya. Dengan sayap yang kembali utuh, bukan dengan sayap patah.
Sekali lagi, bagaimanapun kondisi anak kita saat ini, mari kita jaga mereka dengan segenap kekuatan yang kita punya. Dengan doa, tenaga, dan airmata, demi menjaga agar sayap mereka tak menjadi patah. Semoga tidak pernah ada
kata terlambat untuk memulai.
Pabuaran, 26/4/13
Ustadz, sungguh, saat pergimupun Engkau masih berdakwah kepada kami, bahwa ajal tak pernah ada yang bisa memprediksi. Semoga khusnul khotimah
Teruntuk anakku yang sedang tumbuh, maafkan ummi atas ketidaksabaran ummi menunggumu berproses menjadi lebih baik. Tapi insya Allah, mulai saat ini, umi akan belajar bersabar, belajar berdoa tanpa putus asa, karena ummi yakin, engkau akan tumbuh menjadi anak yang sholeh pada saatnya. Dan mampu mensholihkan orang lain, insya Allah. Sesuai dengan doa kami pada saat menamaimu Idzhharul haq, penjelas kebenaran.
matur nuwun jeng.....iso ta nggo tambahan sangu dadi ibu sing tansah sabar lan akeh donga nggo ngiringi lakune "amanah ALLAH" ben dadi kholifah ing bumi sakinah. aamiin
BalasHapussama-sama mbakyu. semoga Allah berikan kesabaran dan menguatkan kesabaran kita.
Hapus