''Aku ini sudah tua, sudah semakin tidak punya tenaga, tapi
kenapa ujian yg diberikan Allah semakin berat.''
Ucapan itu meluncur dari seorang perempuan jelang 60 tahunan
di ujung telepon. Terbayang tubuh ringkihnya. entah kenapa tiba-tiba beliau
mengeluhkan itu kepadaku. Padahal selama ini aku mengenalnya sbg perempuan yg
nyaris tak pernah mengeluh hatta kepada anak-anaknya. Sdh tdk kuatkah ia? Atau
memang semakin berat ujian hidup yg saat ini beliau hadapi.
Yang kutahu selama hampir 26 tahun beliau mampu menghadapi
pahitnya hidup sendiri, setelah suaminya meninggal dlm sbuah kecelakaan. Sendiri
beliau besarkan 8 org anak, sendiri beliau hadapi cemoohan org saat 2 orang
anaknya beberapakali mjd pghuni rumah sakit jiwa, sendiri saat 1 diantara
anaknya kemudian pergi dan tak pernah kembali, sendiri saat ia mendapati bercak
darah di sela batuknya.Perempuan itu tak prnah mengeluh selama 26 thn tertatih
mngais rizki demi anak2nya, tak malu ketika satu persatu perhiasan dan
perabotnya terjual demi menebus rapot anaknya yg hanya brjarak setahun-dua
tahun.
Saat ini, di 26thn kesendiriannya menghadapi pahitnya hidup,
Allah berikan lagi ujian untuknya. Satu diantara anaknya kembali hilang hingga
akhirnya ditemukan terkapar di ruang ICU sebuah RS di Jakarta. Saluran
uretranya putus, tulang belakangnya remuk tak beraturan. Sekarang aku mulai
mngerti keluhannya. Di usia yg tak lg muda, dia hrs menimba air untuk mandi
anaknya, membuang air pipisnya. Duh terkadang aku brtnya kpd Allah, kenapa tak
putus2 memberi beliau ujian, bahkan sampai di senja usianya. Hingga akhirnya
aku menemukan jawabnya. Beliau adalah perempuan terkuat yg dipilih Nya utk
menanggung beban itu. Dengan menahan air mata kubisikkan firmanNya : Laa
yukallifullahu nafsan illa wusaha. Teriring doa smoga Allah mngganti derita dan
airmatanya di dunia dengan senyum dan tawa di akhirat. Smoga khusnul khotimah
Bu.
19
Januari 2011 pukul 19:53
Dengan
mata yang memanas
fakta kah ini? Allah menguji sesuai kekuatan hambanya....
BalasHapus