20 Januari 2014
Barangkali inilah hari yang tidak akan pernah kulupakan
dalam hidupku. Ada apakah gerangan di hari itu? Promosi? Mendapat undian?
Mendapat rezeki nomplok? Bukan, bukan itu yang membuatku selalu mengingatnya.
Tapi demi Allah tidak pernah aku merasakan penyesalan selayaknya penyesalanku
di hari itu.
Senin, seperti biasa aku bergegas untuk berangkat ke
kantor. Sejenak menghentikan langkah, terbersit niat untuk menelpon ibu dulu.
Tapi niat itu tertunda demi melihat jarum jam yang menunjuk angka 6.00. Nanti
deh di kantor, pikirku dalam hati. Ya, hari itu memang aku berniat menelepon
ibu yang tinggal bersama kakak di Semarang. Kondisi ibu sedang kurang sehat,
itu yang kutangkap dari sms beruntun yang dikirim kakak ipar sehari sebelumnya.
Kabar yang membuatku resah, tapi tak mampu berbuat apa-apa. Saat itu kami
terpisah jarak. Ibu di Semarang, aku sedang dalam perjalanan menuju Lido,
Sukabumi untuk menengok Mas Haqi yang beberapa minggu belum sempet tertengok.
Sinyal hape yang lemah menjadi kendala komunikasi antara aku dan kakak iparku
siang itu. Akhirnya kusampaikan pesan bahwa aku akan menelpon ibu sesampainya
di rumah.
Sejujurnya, ada yang tidak enak di hatiku ketika kakak mengabarkan
ibuku pup di tempat tidur. Tak biasanya beliau begitu. Jangan-jangan, ah aku
segera menepis prasangka buruk dalam hatiku. Tenang Ria, ibu’e hanya masuk
angin biasa, tidak akan terjadi apa-apa, hiburku dalam hati. Namun ingatanku terhempas
ke tahun 1990, tahun di mana aku mendampingi saat-saat sakaratul maut mbah
putriku. Lagi, yng membuatku berpikir jauh tentang ibu adalah, detik-detik menjelang
wafatnya, mbahku pun pup di ditempat tidur. Hatiku pun melega ketika di sore itu kakak
mengabarkan bahwa bu’e terkena diare. Hufh, syukurlah pikirku, tak separah yang
aku bayangkan. Mungkin bu'e hanya tidak keburu ke kamar mandi.
Pekerjaan yang belum terselesaikan di pagi 20 Januari itu
lagi-lagi membuatku menunda niatku untuk menelepon ibu. Begitu sibuknya
hingga tak sempat kuangkat sebuah panggilan yang ternyata berasal dari kakak
sulungku. Sebuah sms masuk menyusul tak lama kemudian. Sebuah “forward massage”
tampak di layar smartphone lawas yang kupunya.
“Pak, kayak’e ibu’e wes ga ada nafas,”
Jantungku terasa berhenti berdetak. Nanar kubaca huruf demi
huruf yang membentuk satu kalimat yang kuingin itu salah, “ga ada nafas”
Bergegas kutelpon kakak sulungku. Mencoba mengkonfirmasi
kabar yang kuterima dan berharap ia akan menjawab bahwa kabar itu ternyata
tidak benar.
“Itu sms dari mbakyumu (ipar), aku belum ngecek
kebenarannya. Sebentar lagi aku pulang,” hanya itu jawaban yang kuterima dari
kakak sulungku yang ketiban sampur untuk mengurus ibu beberapa tahun belakangan
ini.
Lagi aku menghela nafas, masih berharap berita yang kuterima
salah. Masih banyak yang belum kulakukan
untuk memenuhi ingin ibuku. Dan satu hal yang pasti sangat akan aku
sesali jika itu memang benar terjadi adalah, kelalaianku menemani ibu di akhir
hidupnya, padahal beberapa minggu yang lalu beliau mengungkap harap bahwa ia ingin
menghabiskan waktunya di rumahku. Segera kupintal doa kepada yang menguasai
jiwa ibuku, Robbi,,,jangan ambil dulu, rintihku pedih. Dadaku mulai sesak,
seiring setumpuk penyesalan atas abaiku padanya, termasuk menunda menelponnya
sejak kemarin.
Kucoba menelpon kakak iparku, sekali lagi mencoba memastikan
bahwa berita yang ia kirimkan tidak benar. Kudengar nada dingin di sana.
“Ibu’e wes ra ono,” ucapnya datar, terdengar menyimpan marah
“Sudah dibawa ke dokter?,” tanyaku. Suaraku mulai meninggi
begitu kudengar ibuku belum tertangani dokter. Kenapa tak terpikir di benak
iparku untuk segera menghubungi dokter, sesalku dalam hati.
Ah, tak layak aku
menyalahkan istri kakakku. Ibuku hanyalah mertuanya. Semestinya memang aku lah
yang lebih wajib berada di samping ibuku di hari tuanya.
Beberapa sms kembali memenuhi layar handphone ku. Isi
beritanya sama, mengabarkan bahwa ibuku memang benar telah berpulang. Lunglai,
sesak, panas, bercampur jadi satu.
Bergegas kulangkahkan kaki menuju mushola di
ujung kantor. Hal pertama yang harus kulakukan tidak bisa tidak adalah menemui
Sang Pemilik Jiwa ibuku. Kulakukan dua rokaat sholat di ujung dhuha. Memohon
ampun kepadaNya atas ketidakmampuanku menjadi anak yang baik untuk ibuku, orang
tuaku satu-satunya. Perempuan terkuat dan terhebat yang kukenal di sepanjang
hidupku. Yang tak pernah mengeluh dalam puluhan tahun kesendiriannya mendidik 8
putra putri setelah ayahku mendahuluinya di pertengahan tahun 1985.
Semarang, masih di 20 Januari 2014
Argo Sindoro menjadi pilihan untuk mengantarku melihat jasad
ibuku. Kutunggu anak-anak dan keluarga adikku di Stasiun Gambir. Sengaja aku
tidak pulang dan langsung berangkat dari kantor karena waktu memang tak
memungkinkan. Dalam sendiri kucoba untuk menahan air mata agar tidak tumpah.
Bukan waktunya lagi berandai-andai, karena semua memang sudah terjadi. Kali ini
aku benar-benar merasakan bahwa Allah memang akan selalu mempergilirkan siang
dan malam, sedih dan gembira secara bergantian.
Sepanjang perjalanan, tak bisa tidak kuingat kembali
saat-saat terakhir perbincanganku dengan ibuku. Tak lama setelah libur lebaran,
aku sempat meminta pendapatnya, apakah aku harus menandatangani surat
pernyataan kesanggupan untuk mengikuti assessment eselon 4 di unit kerjaku. Ya,
hal biasa yang kulalukan ketika aku hendak memutuskan sesuatu yang kuanggap
penting. Tak lama setelah itu aku
mengabarkan kepindahan suamiku dan meminta doanya agar kami diberi kemudahan
untuk melalui semuanya dengan mudah.
“Bismillah, tak doakan lancar, barokah, sukses, “ itulah
sedikit dari rentetan doa ibuku ketika kupinta restunya sesaat sebelum aku
mengikuti assessment eselon 4. Dlm gamang kuikuti rangkaian assessment saat itu
karena di hari yang sama aku harus melepas kepergian suamiku. Tapi Alhamdulillah,
Allah memberi kemudahan. Dan lagi-lagi aku meyakini semua berkat doa ibu dan
ridho suami.
Pun ketika kukabarkan bahwa aku akan mengikuti serangkaian
tes terkait beasiswa yang akan kuikuti, ibu pun antusias menjawabnya dengan
doa-doa panjangnya. Dan lagi-lagi, doanya mampu menembus langit dan
menggetarkan arsy-Nya.
Awal tahun 2014, Allah berikan kesempatan kepadaku untuk
mendapat beasiswa itu. Sebuah kado indah di hari ulang tahunku. Engkau tahu
ibu? Ada banyak rencana yang telah kususun dibalik inginku mendapatkan beasiswa
itu. Selain berharap aku bisa lebih punya banyak waktu di rumah untuk Kinan dan
Ayyasy cucumu, aku juga berharap akan berkesempatan mendampingimu lebih lama , seperti
inginmu untuk menghabiskan sisa umurmu di rumahku.
Malam itu, aku hanya bisa tertunduk penuh sesal di depan
jasadmu yang beku. Inginku hanya tinggal ingin yang tak sempat terwujud. Terlalu banyak aktivitas yang membuatku
menunda semua inginmu. Terlampau banyak egoku hingga abai dengan pintamu yang
sederhana. Ya, pintamu yang tak pernah banyak. Hanya ingin ditemani di sisa usiamu.
Jika saat ini dadaku sesak dan tak mampu sembunyikan tangis,
maka bukan kepergianmu ibu yang menjadi sebab. Karena kematian adalah sebuah
kemestian yang setiap jiwa pasti mengalaminya bukan? seperti firmanNya," Kullu nafsin da iqotul mauut."
Jika saat ini dadaku sesak dan tak mampu sembunyikan tangis,
maka sungguh aku sedang menangisi hilangnya kesempatan untuk berbakti kepadamu,
menyesali egoku yng lebih memperhatikan keluarga kecilku dibandingkan engkau.
Dan kau tau ibu, tangisku mewujud karena tak akan ada lagi doa untukku yang akan
menggetarkan arsyNya. Doa yang seperti tak terhijab karena seringnya Ia kabulkan doamu untukku. Lulus assesment, dimudahkan Allah dalam kesendirian di Citayam, dan lulus beasiswa di sebuah PTN ternama di negri ini, adalah jawaban Allah atas doa sungguh-sungguhmu untukku. Jazakillah khoiron jaza.
Bu’e, semestinya Senin ini Hendri akan menjemputmu untuk
tinggal di Citayam bersamaku. Tapi rupanya Allah lebih sayang, hingga Dia lebih
dulu menjemputmu. Allah lebih tahu bila saat yang tepat kau bisa rehat dari
lelahmu. Selamat jalan Bu’e. Semoga kau maafkan kami yang tak ada di sampingmu
saat Izroil menjemputmu. Akan kutebus abaiku, dengan menjadi amal yang tak berkeputusan
untukmu dan untuk ayah. Allahummaghfirlaha, warhamha, wa afihi wa’ fuanha.
Semoga bertemu dengan ayah di sebaik baik tempat di sisiNya. Semoga kelak kita
kembali dikumpulkan di surganya, tanpa lelah dan air mata. Aamin.
Pabuaran, di hening malam
Masih dengan rindu dan sesal
Aamiin, allaahumma aamiin. Masya Allah ummi, br tau smua kbar ttg ummi drsni, ttg skolah lg, ttg mutasi suami ummi smp ibu yg brpulang. :'( innalillaahi..
BalasHapusAllaahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wa'fu'anha..
Jazakillah khoyr ummi atas sharingnya :'{
waiyaki ukhti...alhamdulillah bertemu di sini ya...:)
Hapusmkasih ya ria udah mengingatkan...maaf baru tau kbr tsb padahal waktu itu kt sering ketemu :-(...btw turut berduka ya...(telat bgt nih...hiks...)
BalasHapusiya mbak rima, mksh ya....
Hapus