Senin, 24 Maret 2014

Antara Rindu dan Sesal



20 Januari 2014

Barangkali inilah hari yang tidak akan pernah kulupakan dalam hidupku. Ada apakah gerangan di hari itu? Promosi? Mendapat undian? Mendapat rezeki nomplok? Bukan, bukan itu yang membuatku selalu mengingatnya. Tapi demi Allah tidak pernah aku merasakan penyesalan selayaknya penyesalanku di hari itu.

Senin, seperti biasa aku bergegas untuk berangkat ke kantor. Sejenak menghentikan langkah, terbersit niat untuk menelpon ibu dulu. Tapi niat itu tertunda demi melihat jarum jam yang menunjuk angka 6.00. Nanti deh di kantor, pikirku dalam hati. Ya, hari itu memang aku berniat menelepon ibu yang tinggal bersama kakak di Semarang. Kondisi ibu sedang kurang sehat, itu yang kutangkap dari sms beruntun yang dikirim kakak ipar sehari sebelumnya. Kabar yang membuatku resah, tapi tak mampu berbuat apa-apa. Saat itu kami terpisah jarak. Ibu di Semarang, aku sedang dalam perjalanan menuju Lido, Sukabumi untuk menengok Mas Haqi yang beberapa minggu belum sempet tertengok. Sinyal hape yang lemah menjadi kendala komunikasi antara aku dan kakak iparku siang itu. Akhirnya kusampaikan pesan bahwa aku akan menelpon ibu sesampainya di rumah.

Sejujurnya, ada yang tidak enak di hatiku ketika kakak mengabarkan ibuku pup di tempat tidur. Tak biasanya beliau begitu. Jangan-jangan, ah aku segera menepis prasangka buruk dalam hatiku. Tenang Ria, ibu’e hanya masuk angin biasa, tidak akan terjadi apa-apa, hiburku dalam hati. Namun ingatanku terhempas ke tahun 1990, tahun di mana aku mendampingi saat-saat sakaratul maut mbah putriku. Lagi, yng membuatku berpikir jauh tentang ibu adalah, detik-detik menjelang wafatnya, mbahku pun pup di ditempat tidur.  Hatiku pun melega ketika di sore itu kakak mengabarkan bahwa bu’e terkena diare. Hufh, syukurlah pikirku, tak separah yang aku bayangkan. Mungkin bu'e hanya tidak keburu ke kamar mandi.

Pekerjaan yang belum terselesaikan di pagi 20 Januari itu lagi-lagi membuatku menunda niatku untuk menelepon ibu. Begitu sibuknya hingga tak sempat kuangkat sebuah panggilan yang ternyata berasal dari kakak sulungku. Sebuah sms masuk menyusul tak lama kemudian. Sebuah “forward massage” tampak di layar smartphone lawas yang kupunya.

“Pak, kayak’e ibu’e wes ga ada nafas,”

Jantungku terasa berhenti berdetak. Nanar kubaca huruf demi huruf yang membentuk satu kalimat yang kuingin itu salah, “ga ada nafas”

Bergegas kutelpon kakak sulungku. Mencoba mengkonfirmasi kabar yang kuterima dan berharap ia akan menjawab bahwa kabar itu ternyata tidak benar. 

“Itu sms dari mbakyumu (ipar), aku belum ngecek kebenarannya. Sebentar lagi aku pulang,” hanya itu jawaban yang kuterima dari kakak sulungku yang ketiban sampur untuk mengurus ibu beberapa tahun belakangan ini.

Lagi aku menghela nafas, masih berharap berita yang kuterima salah. Masih banyak yang belum kulakukan  untuk memenuhi ingin ibuku. Dan satu hal yang pasti sangat akan aku sesali jika itu memang benar terjadi adalah, kelalaianku menemani ibu di akhir hidupnya, padahal beberapa minggu yang lalu beliau mengungkap harap bahwa ia ingin menghabiskan waktunya di rumahku. Segera kupintal doa kepada yang menguasai jiwa ibuku, Robbi,,,jangan ambil dulu, rintihku pedih. Dadaku mulai sesak, seiring setumpuk penyesalan atas abaiku padanya, termasuk menunda menelponnya sejak kemarin.

Kucoba menelpon kakak iparku, sekali lagi mencoba memastikan bahwa berita yang ia kirimkan tidak benar. Kudengar nada dingin di sana.

“Ibu’e wes ra ono,” ucapnya datar, terdengar menyimpan marah
“Sudah dibawa ke dokter?,” tanyaku. Suaraku mulai meninggi begitu kudengar ibuku belum tertangani dokter. Kenapa tak terpikir di benak iparku untuk segera menghubungi dokter, sesalku dalam hati.

 Ah, tak layak aku menyalahkan istri kakakku. Ibuku hanyalah mertuanya. Semestinya memang aku lah yang lebih wajib berada di samping ibuku di hari tuanya.
Beberapa sms kembali memenuhi layar handphone ku. Isi beritanya sama, mengabarkan bahwa ibuku memang benar telah berpulang. Lunglai, sesak, panas, bercampur jadi satu. 

Bergegas kulangkahkan kaki menuju mushola di ujung kantor. Hal pertama yang harus kulakukan tidak bisa tidak adalah menemui Sang Pemilik Jiwa ibuku. Kulakukan dua rokaat sholat di ujung dhuha. Memohon ampun kepadaNya atas ketidakmampuanku menjadi anak yang baik untuk ibuku, orang tuaku satu-satunya. Perempuan terkuat dan terhebat yang kukenal di sepanjang hidupku. Yang tak pernah mengeluh dalam puluhan tahun kesendiriannya mendidik 8 putra putri setelah ayahku mendahuluinya di pertengahan tahun 1985. 

Semarang, masih di 20 Januari 2014

Argo Sindoro menjadi pilihan untuk mengantarku melihat jasad ibuku. Kutunggu anak-anak dan keluarga adikku di Stasiun Gambir. Sengaja aku tidak pulang dan langsung berangkat dari kantor karena waktu memang tak memungkinkan. Dalam sendiri kucoba untuk menahan air mata agar tidak tumpah. Bukan waktunya lagi berandai-andai, karena semua memang sudah terjadi. Kali ini aku benar-benar merasakan bahwa Allah memang akan selalu mempergilirkan siang dan malam, sedih dan gembira secara bergantian.

Sepanjang perjalanan, tak bisa tidak kuingat kembali saat-saat terakhir perbincanganku dengan ibuku. Tak lama setelah libur lebaran, aku sempat meminta pendapatnya, apakah aku harus menandatangani surat pernyataan kesanggupan untuk mengikuti assessment eselon 4 di unit kerjaku. Ya, hal biasa yang kulalukan ketika aku hendak memutuskan sesuatu yang kuanggap penting.  Tak lama setelah itu aku mengabarkan kepindahan suamiku dan meminta doanya agar kami diberi kemudahan untuk melalui semuanya dengan mudah. 

“Bismillah, tak doakan lancar, barokah, sukses, “ itulah sedikit dari rentetan doa ibuku ketika kupinta restunya sesaat sebelum aku mengikuti assessment eselon 4. Dlm gamang kuikuti rangkaian assessment saat itu karena di hari yang sama aku harus melepas kepergian suamiku. Tapi Alhamdulillah, Allah memberi kemudahan. Dan lagi-lagi aku meyakini semua berkat doa ibu dan ridho suami.

Pun ketika kukabarkan bahwa aku akan mengikuti serangkaian tes terkait beasiswa yang akan kuikuti, ibu pun antusias menjawabnya dengan doa-doa panjangnya. Dan lagi-lagi, doanya mampu menembus langit dan menggetarkan arsy-Nya. 
Awal tahun 2014, Allah berikan kesempatan kepadaku untuk mendapat beasiswa itu. Sebuah kado indah di hari ulang tahunku. Engkau tahu ibu? Ada banyak rencana yang telah kususun dibalik inginku mendapatkan beasiswa itu. Selain berharap aku bisa lebih punya banyak waktu di rumah untuk Kinan dan Ayyasy cucumu, aku juga berharap akan berkesempatan mendampingimu lebih lama , seperti inginmu untuk menghabiskan sisa umurmu di rumahku.

Malam itu, aku hanya bisa tertunduk penuh sesal di depan jasadmu yang beku. Inginku hanya tinggal ingin yang tak sempat terwujud.  Terlalu banyak aktivitas yang membuatku menunda semua inginmu. Terlampau banyak egoku hingga abai dengan pintamu yang sederhana. Ya, pintamu yang tak pernah banyak. Hanya ingin ditemani di sisa usiamu. 

Jika saat ini dadaku sesak dan tak mampu sembunyikan tangis, maka bukan kepergianmu ibu yang menjadi sebab. Karena kematian adalah sebuah kemestian yang setiap jiwa pasti mengalaminya bukan? seperti firmanNya," Kullu nafsin da iqotul mauut."
Jika saat ini dadaku sesak dan tak mampu sembunyikan tangis, maka sungguh aku sedang menangisi hilangnya kesempatan untuk berbakti kepadamu, menyesali egoku yng lebih memperhatikan keluarga kecilku dibandingkan engkau. Dan kau tau ibu, tangisku mewujud karena tak akan ada lagi doa untukku yang akan menggetarkan arsyNya. Doa yang seperti tak terhijab karena seringnya Ia kabulkan doamu untukku. Lulus assesment, dimudahkan Allah dalam kesendirian di Citayam, dan lulus beasiswa di sebuah PTN ternama di negri ini, adalah jawaban Allah atas doa sungguh-sungguhmu untukku. Jazakillah khoiron jaza.

Bu’e, semestinya Senin ini Hendri akan menjemputmu untuk tinggal di Citayam bersamaku. Tapi rupanya Allah lebih sayang, hingga Dia lebih dulu menjemputmu. Allah lebih tahu bila saat yang tepat kau bisa rehat dari lelahmu. Selamat jalan Bu’e. Semoga kau maafkan kami yang tak ada di sampingmu saat Izroil menjemputmu. Akan kutebus abaiku, dengan menjadi amal yang tak berkeputusan untukmu dan untuk ayah. Allahummaghfirlaha, warhamha, wa afihi wa’ fuanha. Semoga bertemu dengan ayah di sebaik baik tempat di sisiNya. Semoga kelak kita kembali dikumpulkan di surganya, tanpa lelah dan air mata. Aamin.

Pabuaran, di hening malam
Masih dengan rindu dan sesal

4 komentar:

  1. Aamiin, allaahumma aamiin. Masya Allah ummi, br tau smua kbar ttg ummi drsni, ttg skolah lg, ttg mutasi suami ummi smp ibu yg brpulang. :'( innalillaahi..
    Allaahummaghfirlaha warhamha wa'afiha wa'fu'anha..
    Jazakillah khoyr ummi atas sharingnya :'{

    BalasHapus
    Balasan
    1. waiyaki ukhti...alhamdulillah bertemu di sini ya...:)

      Hapus
  2. mkasih ya ria udah mengingatkan...maaf baru tau kbr tsb padahal waktu itu kt sering ketemu :-(...btw turut berduka ya...(telat bgt nih...hiks...)

    BalasHapus